
"Kenapa di tahan.?" Bisik Vano.
"Lepaskan saja, aku ingin mendengar des*han indahmu."
Sambil berbisik, Vano terus memberikan rangsangan pada daerah sensitif Celina. Vano masih ingat bagian mana saja yang mampu membuat Celina mendes*h saat di sentuh.
Wajah Celina semakin merona dibuatnya. Tentu saja dia malu jika harus mengeluarkan des*han erotis itu. Des*han yang dulu selalu membuat Vano bertambah semangat setiap kali bercint* dengannya.
Jika sudah begitu, tenaganya jadi tidak sebanding dengan Vano.
Entah apa jadinya jika saat ini harus melepaskan des*han. Celina tentu saja merasa cemas, takut berpengaruh pada kehamilannya.
"Ayolah sayang,, nikmati saja." Pinta Vano. Raut wajahnya sedikit memohon, namun sudah berkabut gairah. Menyentuh bagian tubuh Celina, membuat gairahnya seketika menggebu. Terlebih, Vano bisa merasakan jika kedua aset kembar Celina semakin bertambah besar dan padat.
"Kenapa tidak sabaran dan harus memaksa." Keluh Celina dengan bibir yang mencebik.
Dia malu untuk menikmati setiap sentuhan Vano, tapi sulit untuk menolak hingga akhirnya berpura - pura kesal.
"Aku tidak akan sanggup kalau harus menunggu kamu menyerahkan diri."
"Apa kamu tau,? sejak mengakhiri kencan gila denganmu, aku tidak pernah lagi meniduri wanita lain." Tuturnya.
Setelah mengakhiri hubungan dengan Celina, Vano memang tidak lagi memikirkan untuk mencari kehangatan diluar sana dengan wanita malam. Saat itu dia sadar jika hanya ada Celina yang terus terlintas dalam ingatannya sampai enggan untuk mengulangi kebiasaan buruknya yang selalu tidur dengan wanita bayaran.
"Itu sudah sangat lama. Jadi jangan menyiksanya terlalu lama." Vano menuntun tangan Celina untuk menyentuh miliknya yang sejak tadi sudah tegak.
"Apa kamu tidak mau merasakannya lagi.?" Goda Vano. Dia meremas tangan Celina yang masih menempel di bawah sana.
Kedua bolat mata Celina membulat sempurna. Dia sedikit kesal karna Vano jadi membuatnya meremas batang yang sudah mekar sempurna.
"Aku akan bermain lembut karna harus menjaganya tetap aman di dalam." Vano meraba perut buncit Celina. Vano seolah mengerti kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata istrinya.
Dia juga mengerti, tidak akan mungkin bermain sekasar dulu saat Celina belum hamil.
Kedua tangan Celina meremas seprei, tangan Vano tiba - tiba masuk kebawah sana dan mengabsen setiap inci area intinya. Gerakan tangan Vano tentu saja membuat seluruh tubuh Celina menegang. Sensasi nikmat langsung menjalar, membuat dirinya mulai melayang.
"Basah,," Bisik Vano dengan suara serak.
"Kenapa harus pura - pura menolak." Ujarnya lagi.
Vano sengaja menyentuh daerah inti Celina untuk memastikan jika Celina memang menginginkan hal yang sama dengannya. Namun karna terlalu membesarkan ego, dia sampai harus menolak.
"Hentikan euugghh,,," Celina mencengkram erat tangan Vano yang tadi bergerak lembut di bawah sana.
Vano tersenyum melihat wajah Celina yang terlihat jelas sedang bergairah. Mata sayunya terlihat sensual.
"Bukan berhenti, tapi aku akan menggantinya dengan ini." Vano melepaskan sendiri celana pendek yang melekat di tubuhnya. Dia juga menanggalkan bajunya dan melemparnya sembarang arah.
Kini kain di tubuh Celina yang menjadi sasaran. Dengan tergesa, Vano melepaskannya satu persatu. Baju mereka sudah berserakan di lantai. Vano melemparnya jauh karna terlalu bersemangat.
Rasanya tidak sabar untuk membenamkan miliknya pada tempat yang seharusnya.
Vano meninggalkan kiss mark di bagian leher dan dada Celina. Dia masih bersemangat memberikan rangsangan di kedua aset Celina hingga membuat tubuh seksi itu terus menegang dan menggeliat.
Perlahan, des*han menggoda itu keluar dari mulut Celina tanpa harus di tahan lagi.
Celina bahkan mau membalas ciuman Vano. Tangannya juga tidak ragu lagi untuk memeluk Vano ataupun mengalungkannya di leher Vano.
Nafas Celina memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Sentuhan Vano membuatnya menggila.
__ADS_1
Kini sedikitpun tidak berfikir untuk mengeluarkan penolakan.
"Bersiap untuk melenguh baby,,," Bisik Vano. Dia sudah mengarahkan miliknya dan mendorong pinggulnya perlahan.
"Aku mau mendengar suara indahmu."
Bersamaan dengan itu, Vano melesakkan miliknya hingga tenggelam seluruhnya.
Des*han Celina seketika lolos begitu saja. Dia mencengkram kuat kedua lengan besar Vano.
Sudah lama tidak merasakan milik Vano, rasanya semakin membengkak di dalam hingga memenuhi daerah intinya.
Suasana kamar itu menjadi panas. Sepanas aliran darah di tubuh mereka saat ini. Rasa panas itu menciptakan buliran bening yang menetes di pelipis, leher dan bagian tubuh lainnya.
Des*han yang saling bersautan, menambah suasana kamar itu semakin memanas.
Keduanya sudah melayang tinggi. Hanyut dalam lautan kenimat*n dunia.
Rasa itu seketika menumbuhkan perasaan yang sempat terkubur dalam.
Erangan panjang mengakhiri kegiatan panas yang menguras tenang dan keringat.
Vano sudah berbaring di sebelah Celina. Nafas keduanya sama - sama memburu.
"Aku mencintaimu,," Ucap Vano sembari menarik Celina ke dalam dekapannya.
Suasana di kamar itu seketika hening. Hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang mulai teratur.
"Selamat tidur." Bisik Vano.
"Vano junior pasti bahagia karna daddynya menjenguknya."
Vano terkekeh sambil mengusap kepala Celina yang tengah membebankan wajah di dadanya, Vano bisa membayangkan seperti apa ekspresi wajah Celina yang menggemaskan ketika marah.
...****...
Vano bangun lebih awal. Dia akan pulang untuk mengambil baju dan beberapa mainan kesukaan Naura yang sudah di packing oleh Intan. Sekaligus mengambil baju miliknya yang harus di pindahkan sebagian ke rumah Celina.
Vano masih ingat raut wajah Papa mertuanya saat dia meminta ijin untuk tinggal di rumah itu.
Papa Adiguna terlihat bahagia. Matanya bahkan sampai berkaca - kaca. Vano bisa melihat jika Papa mertuanya berusaha untuk menahan tangisnya.
Vano bisa mengerti bagaimana perasaan Papa Adiguna saat ini. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan jika berada di posisi seberat itu.
Setelah membenarkan selimut Celina, Vano bergegas turun dari ranjang. Di meraih celana pendek dan memakainya, setelah itu memunguti baju yang berserakan di lantai dan memastikan tidak ada yang tersisa. Vano membawanya ke kamar mandi dan memasukannya kedalam keranjang baju kotor.
Vano keluar begitu selsai mandi. Manik matanya langsung berputar melirik Celina yang masih terlelap. Wajah cantiknya yang natural, begitu menggemaskan saat tertidur. Bibirnya merah mudanya begitu menggoda.
Setelah memakai baju, Vano menghampiri Celina. Dia berdiri di sisi ranjang kemudian mendaratkan kecupan di kening Celina.
"Aku pergi dulu,,," Ucapnya lirih. Dia tidak tega jika membangunkan Celina, jadi membiarkan Celina menikmati tidurnya.
Vano menitipkan Celina pada pekerja rumah, juga menyuruh pekerja itu untuk memberi tahu Celina jika dia sedang pulang ke rumahnya.
...****...
"Di mana Intan.?" Tanya Vano pada asisten rumah tangganya.
"Di kamarnya, Tuan."
__ADS_1
"Apa baju Naura sudah di siapkan.?" Vano bertanya sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar Intan.
"Sudah, Intan menaruhnya di kamar Naura." Jawabnya. Vano hanya mengangguk.
Belum sempat mengetuk pintu, Intan sudah lebih dulu keluar dari sana dengan menarik koper besar miliknya. Vano menatap dengan dahi berkerut.
Dia memang tau kalau Intan akan berhenti bekerja karna 2 minggu lagi sudah mulai kuliah, tapi Vano tidak mengira Intan akan secepat ini keluar dari rumahnya
"Kamu mau pergi sekarang.?" Tanya Vano. Intan mengangguk cepat. Sejak membuka pintu dan melihat Vano, raut wajah Intan seketika berubah. Ada perasaan yang sulit untuk di gambarkan saat melihat wajah Vano.
Jika dulu Vano tidak memintanya untuk menjadi istrinya, mungkin tidak akan seperti itu perasaannya.
"Bukankah kamu belum mencari tempat tinggal.?" Tanya Vano.
"Saya baru mendapatkannya kemarin." Jawab Intan.
"Baju - baju Naura sudah saya bereskan. Ada di kamarnya." Ujarnya memberi tau.
"Saya pamit, terimakasih untuk kebaikannya selama ini pada saya dan keluarga saya."
Intan membungkuk sopan pada Vano. Dia tulus berterimakasih karna memang selama ini Vano sangat baik pada keluarganya.
"Tunggu sebentar, biar saya antar."
"Saya harus memastikan kamu mendapatkan tempat tinggal."
Vano beranjak dari hadapan Intan, dia menyuruh pekerja rumahnya untuk membereskan baju dan barang - barangnya.
"Ayo.!" Ajak Vano setelah menghampiri Intan yang sejak tadi menunggu di ruang tamu.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam.
Vano memarkirkan mobil di depan kost yang akan di tempati Intan.
"Terimakasih,," Ucap Intan.
"Ambil ini, gunakan untuk keperluanmu." Vano menyodorkan amplop tebal. Intan reflek menggelengkan kepalanya. Dia enggan menerima uang lagi dari Vano. Sudah terlalu banyak uang yang diberikan Vano untuk membantu keluarganya.
"Tidak usah,," Tolak Intan halus.
"Ambil.! Saya tidak menerima penolakan.!" Ucap Vano tegas.
"Anggap saja bonus karna sudah menjaga Naura dengan baik." Vano meletakkan uang itu di tangan Intan.
Merasa tidak punya pilihan lain, Intan akhirnya menerima uang itu.
Apa lagi tatapan Vano terlihat menyeramkan.
"Sekali lagi terimakasih, maaf sudah banyak merepotkan."
Vano hanya mengangguk. Intan bergegas keluar dari mobil, disusul Vano yang menurunkan koper dari bagasi.
...****...
Langsung naik rangking 3. kalian the best 😁.
othor tepatin janji nih.
yang belum vote, kasih votenya dulu dong.
__ADS_1
Nicholasnya libur dulu, kecewa sama pihak NT 🧐