
Dion menatap tajam dengan kedua tangan yang mengepal. Ingin rasanya menghantam wajah Vano yang sudah membuat Celina menangis berulang kali karna hinaan dan tuduhan yang dilontarkan padanya.
Vano bahkan sempat menghina anak yang ada didalam kandungan Celina. Tapi setelah tau kebenarannya, sikapnya berubah 180 derajat dan kini memohon untuk meminta Celina darinya.
"Sudah terlambat.! Aku tidak akan membiarkan Celina jatuh ke tanganmu.!" Seru Dion tegas. Keputusannya sudah bulat untuk menikahi Celina dan menerima anak dalam kandungan Celina dengan sepenuh hati.
"Lupakan anak itu.! Aku yang akan menjadi ayah untuknya."
"Anggap saja kamu tidak pernah menitipkan benih dirahimnya.!" Geram Dion. Dia berbalik badan, melangkahkan kaki untuk beranjak dari sana.
"Bagaimana jika kamu ada di posisiku.!" Teriak Vano. Suaranya menggema di ruang VIP itu.
"Apa kamu akan menjadi pecundang dengan membiarkan anak dan orang yang kamu cintai jatuh ke tangan orang lain.?!"
"Bagaimana kamu akan hidup tanpa mereka.!" Teriak Vano frustasi. Dia sudah kehilangan harapan untuk bisa menebus dosanya pada Celina dan darah dagingnya. Dion terlihat tidak mau melepaskan Celina untuknya.
Dion berhenti sejak setelah mendengarkan teriakan Vano, sorot matanya terlihat menerawang jauh. Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya dengan tegap.
"Aarrggghhh.!!!" Geram Vano dengan sesak di hati. Sesaat kemudian dia menangis histeris. Tangis yang hampir 3 tahun pernah dia alami saat kehilangan Jasmine. Tangis yang terdengar begitu memilukan dan menyayat hati. Dion bahkan sempat memaku di depan pintu, tapi kemudian bergegas keluar dan menutupnya kasar.
Ada kekesalan dan amarah yang tertahan, namun tidak bisa diperlihatkan di depan Vano.
Cukup lama Vano berada berada di ruangan itu seorang diri. Tangisnya tak kunjung mereda meski tanpa suara. Begitu besar penyesalan yang dia rasakan akibat keangkuhan dan kesombongannya terhadap Celina. Andai dapat memutar waktu, andai dapat menyadari lebih awal perasaannya terhadap Celina, andai bisa menghargai Celina sejak awal, mungkin saat ini Celina masih berada di sisinya.
Tapi dari kesalahan yang dia buat, Vano jadi bisa belajar untuk lebih menghargai orang lain dan tidak memandang orang lain dengan sebelah mata. Vano juga bisa mengerti bahwa keangkuhan dan kesombongan hanya akan menghancurkan dirinya.
Vano merogoh ponsel dari saku jasnya. Dia terlihat menghubungi seseorang kemudian beranjak meninggalkan restoran. Tidak ada lagi yah bisa dia lakukan di restoran itu seorang diri. Dion memilih pergi, enggan berbicara baik - baik dan tetap mempertahankan Celina. Apa yang di lakukan Vano terlihat sia - sia.
...*****...
Celina duduk di ruang tamu. Sesekali melirik pintu yang sampai sekarang belum berbunyi. Dia sedang menunggu Dion yang 1 jam lalu menghubunginya akan datang untuk makan siang bersama. Tapi sampai sekarang yang di tunggu tidak menampakkan dirinya. Celina terlihat sudah bosan menunggu, terlebih dia sudah rapi sejak Dion menyuruhnya untuk bersiap.
Ponsel milik Dion juga tiba - tiba tidak aktif.
Suara bel membuat Celina segera beranjak. Dengan senyum yang mengembang, dia membukakan pintu.
"Kak Dion lama se,,kaliii,,," Suara Celina semakin pelan saat tau bahwa bukan Dion yang datang ke apartemennya.
"Papa,,? Ada apa.?" Celina terlihat bingung dengan kehadiran sang Papa yang tiba - tiba datang tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Sayang, kamu sedang menunggu Dion.?" Tanya Papa Adiguna. Raut wajahnya membuat Celina berfikir negatif.
Celina mengangguk cepat.
"Kak Dion akan mengajakku makan siang Pah,," Jawab Celina. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Sudah 1 jam lebih tapi belum datang. Apa kak Dion masih di kantor.?"
"Ayo ikut Papa, Dion sedang menunggu kamu,," Papa Adiguna merangkul pundak Celina. Rangkulan yang terasa berbeda dari biasanya. Perasaan Celina semakin tidak menentu, dia merasa ada sesuatu yang tidak beras namun sulit untuk menanyakan hal itu pada sang Papa.
"Tapi Pah,, kenapa kak Dion menyuruh Papa.?" Celina menatap bingung, tapi dia tetap mengikuti perintah sang Papa dengan meninggalkan apartemen.
"Bukan Dion yang menyuruh Papa, tapi Papa sendiri yang ingin menjemput kamu,," Papa Adiguna mengulas senyum tipis.
"Mama juga sudah aada di sana." Ujarnya memberi tau.
"Ya ampun, jadi kita akan makan siang bersama.? Aku pikir hanya berdua." Celina mencebik kesal.
__ADS_1
Bayangan makan siang romantis harus di singkirkan jauh - jauh dari pikirannya.
Melihat putrinya merajuk, Papa Adiguna hanya tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan, Celina terus diam. Selain kesal karna tidak jadi makan siang berdua, dia juga bingung dengan perasaannya sendiri yang tidak karuan. Perasaan yang tiba - tiba membuatnya ingin menangis.
"Pah.!" Pekik Celina dengan mata yang membulat sempurna. Dia begitu terkejut saat sang Papa membelokan mobilnya ke rumah sakit.
"Ke,,kenapa ke rumah sakit.?" Tanyanya terbata. Jantungnya tiba - tiba bergemuruh. Rasa takut menghampirinya dengan perasaaan yang semakin kacau. Dia terlihat cemas, takut kalau ternyata sang Papa sudah mengetahui kehamilannya dan membawanya ke rumah sakit untuk memastikan hal iyu.
Lalu bagaimana jika nantinya mereka menyalahkan Dion.?
Celina bertanya - tanya dengan dirinya sendiri.
"Nanti kamu akan tau sendiri." Papa Adiguna hanya menjawab singkat. Jawaban yang sama sekali tidak mengurangi rasa penasaran Celina.
Entah apa yang akan di lakukan sang Papa setelah mengetahui kehamilannya.
Sudah di pastikan dia tidak akan bersama dengan Dion.
Celina mengikuti langkah sang Papa dengan perasaan was - was. Dion juga tak kunjung menghubunginya sejak tadi. Entah bagaimana harus menghadapi situasi di sana setelah ini.
Celina dibuat frustasi memikirkannya.
Langkah Celina melemah. Dari kejauhan dia melihat sang Mama tengah duduk dalam keadaan menunduk. Diseberangnya ada seorang wanita dan anak laki - laki. Wanita itu menangis sambil mendekap anak itu.
"Ada apa.?" Gumam Celina bingung. Dia menatap sang Papa untuk meminta jawaban, tapi tidak ada respon sama sekali.
"Ruang operasi.?" Celina membaca tulisan yang tertera di depan ruangan itu. Sang Mama langsung beranjak dari duduknya begitu mendengar suara Celina.
"Mah, ada apa ini.?" Kali ini Celina meminta penjelasan dari sang Mama, berharap dia akan mendapatkan jawaban.
"Duduk dulu sayang,,," Mama membawa Celina untuk duduk di tempat tadi.
Tangis wanita itu kembali mencuri perhatian Celina.
"Dia siapa mah.? Lalu siapa yang ada di dalam.?"
Celina merasa hanya dirinya yang tidak tau apapun disini. Disaat semua orang terlihat sedih dan terpukul, dia hanya bisa menatap semua orang dengan kebingungan.
"Di,,dion,," Suara Mama terbata. Dia kembali menangis kemudian memeluk Celina dalam posisi duduk.
"Kak Dion.? Ada apa dengan kak Dion.?!" Celina melepaskan diri dari pelukan Mamanya. Dia menatap lekat wajah sang Mama untuk meminta penjelasan.
"Dion kecelakaan,," Tuturnya lirih. Saat itu juga Celina langsung diam. Dia seperti orang yang kehilangan raganya.
"Sayang,,," Mama menggoncang pelan bahu Celina yang tak kunjung memberikan respon. Dia terus diam dengan tatapan kosong.
"Jangan khawatir, percaya Dion akan baik - baik saja."
Kali ini Celina bisa memberikan respon, namun dia langsung menangis dalam pelukan sang Mama.
"Kenapa jadi seperti ini." Ucap Celina di tengah isaknya.
Mama dan Papanya hanya bisa berusaha menenangkan Celina yang tak kunjung berhenti menangis. Hampir satu jam dia menangis, sesekali memeluk sang Mama.
Saat pintu terbuka, semua orang beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter yang baru keluar dari sana. Celina sempat melirik wanita dan anak laki - laki tadi yang juga ikut menghampiri dokter.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Dion.?"
"Bagaimana keadaan kak Dion.?"
Ucap Celina dan wanita itu bersamaan. Keduanya saling pandang, tapi kemudian beralih menatap dokter yang sedang menjawab pertanyaan mereka.
"Operasinya berjalan lancar, tapi kondisi pasien mengalami kritis karna kehilangan banyak darah."
"Tidak perlu khawatir, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien."
Penjelasan dokter membuat Celina kembali terdiam. Dia hampir saja ambruk namun Papa Adiguna langsung mendekapnya.
"Saya permisi,," Pamit sang dokter pada mereka.
"Terima kasih dok,," Ucap Papa Adiguna.
Dokter itu mengangguk dengan mengulas senyum tipis, lalu beranjak pergi.
"Mama,, jangan menangis. Apa Papa meninggal.?"
Suara anak laki - laki itu membuat Celina langsung menoleh.
"Papa.?!" Pekik Celina kaget.
"Mah, Pah, siapa mereka.?" Celina menatap Papa dan Mamanya bergantian.
Sejak awal Celina memang menyadari ada sesuatu yang disembunyikan kedua orang tuanya. Terlebih saat melihat wanita itu dan anaknya yang tak kunjung pergi dari sana. Sejak tadi Celina hanya bisa mengubur rasa penasarannya karna dia masih terpukul mengetahui keadaan Dion.
"Kemari sayang,," Mama mengajak Celina kembali duduk.
"Saat ini yang paling penting adalah kesembuhan Dion, jangan pikiran apapun selain itu." Ujarnya.
"Tapi mah,,,
"Celina,,," Potong sang Mama cepat.
"Biarkan Dion yang menjelaskan padamu nanti." Ucapnya lembut.
"Semuanya akan baik - baik saja, jangan khawatir."
Celina hanya bisa diam, dia tidak lagi bertanya pada Mama ataupun Papanya. Tapi tatapan matanya tak bisa lepas dari dua orang yang asing baginya.
Celina terus bertanya - tanya dengan dirinya sendiri. Dia coba mencari jawaban untuk mengetahui siapa wanita dan anak laki - laki itu.
Celina sempat mengira kalau mereka bagian dari masa lalu Dion. Tapi yang Celina tau, Dion tidak memiliki anak karna istrinya mengalami keguguran.
...****...
Udah hari senin aja, jangan lupa vote yah😊
bisa yuk 1000 vote lagi minggu ini.
Dukung terus novel ini.
Maap belum prnah crazy up, seharian bikin 1 bab aja udah pusing ngerangkai kata sama dialognya. 🤣
pengen bikin banyak tapi takut nanti asal - asalan kata² sama dialognya, nanti malah ga maksimal isi babnya.
__ADS_1