
Kediaman Papa Adiguna dibuat gaduh dengan kedatangan Vano. Papa Adiguna tau betul siapa Vano. Hampir semua pengusaha dan pendiri perusahaan mengenalnya. Laki - laki yang mendapatkan kesuksesan sejak usia muda. Pemimpin perusahaan ternama di Kota Surabaya namun memilih untuk memindahkan kantor pusat di Ibu Kota.
Papa Adiguna memang sempat memiliki rencana untuk bekerjasama dengan perusahaan Vano, tapi karna satu hal, membuat Papa Adiguna lebih memprioritaskan kepentingan perusahaannya lebih dulu.
Kedatangan Vano sempat mengagetkan Papa Adiguna dan istrinya, tapi ada hal lain yang justru membuat keduanya lebih kaget bahkan sulit untuk mempercayainya.
Entah bagaimana seorang pengusaha muda yang berpendidikan tinggi bisa melakukan perbuatan tak terpuji seperti itu.
Kedua orang tua Celina tidak habis pikir, Vano menghamili putri semata wayang mereka yang masih berusia belasan tahun.
Terlepas siapa yang memulai dan bagaimana itu bisa terjadi, kedua orang tua Celina tetap memberatkan perbuatan Vano yang menurutnya tidak terhormat sebagai laki - laki yang sudah dewasa.
"Bagaimana bisa kamu tega menghamili putriku.! Dia hanya seorang remaja, cara berpikirnya belum matang sepertimu.! Kenapa tidak berfikir panjang sebelum melakukannya.!" Kemurkaan seorang ayah meluap - luap di hadapan laki - laki yang sudah membuat putrinya hamil.
Papa Adiguna kembali melayangkan tinjuan di wajah Vano. Bercak darah dan lebam di wajah Vano seakan tidak sebanding dengan kehancuran yang di rasakan oleh orang tua karna putrinya dihamili oleh laki - laki tanpa adanya status pernikahan.
Vano hanya diam saja, dia tidak melakukan perlawanan meski Papa Adiguna terus melayangkan tinjuan padanya. Dia juga tidak memberikan pembelaan saat Papa Adiguna menyalahkannya.
Vano membiarkan orang tua Celina meluapkan kekesalan dan amarahnya lebih dulu. Dia memang sudah menebak akan seperti ini akhirnya.
Orang tua mana pun pasti akan marah.
"Maafkan saya." Vano berucap tulus. Sudah berkali - kali permintaan maaf itu keluar dari mulutnya, meskipun Papa Adiguna enggan memaafkannya, tapi Vano tidak menyerah untuk terus meminta maaf agar kedua orang tua Celina mengerti bahwa dia sangat menyesali perbuatannya.
"Saya tulus meminta maaf dan ingin mempertanggung jawabkan perbuatan saya."
"Saya menyesal sudah mengecewakan anda. Tapi bagaimanapun darah daging saya sudah tumbuh di rahim Celina, dan saja juga mencintainya."
Di tengah rasa sakit yang dia rasakan di bagian wajahnya, Vano masih berusaha untuk berbicara tegas agar kedua orang tua Celina bisa melihat kesungguhan dan keseriusan dalam permintaan maafnya.
"Ijinkan saya untuk menikahi Celina." Pinta Vano memohon.
Permintaan itu hampir membuat Papa Adiguna kembali meninju Vano, namun teriakan sang istri dan Celina membuat tinjuan itu tidak jadi mendarat ke wajah Vano.
"Pah, Mah, kenapaaaa.?"
Celina tidak meneruskan ucapannya. Dia terlihat bingung melihat kekacauan yang terjadi di ruang tamu. Celina berhenti tak jauh dari mereka, menatap ketiganya bergantian seakan meminta penjelasan.
Meski sudah memiliki dugaan tentang situasi yang terjadi, namun Celina tidak yakin dugaannya benar 100 persen.
"Jadi dia laki - laki brengsek yang mau kamu lindungi itu.?" Tanya Papa Adiguna dengan nada penuh kekecewaan. Serta ada kemarahan yang tersirat dari sorot matanya.
Tentu saja Papa Adiguna tidak habis pikir dengan putrinya yang memilih untuk membohonginya.
Mama menghampiri Celina dan memeluknya.
Dia bisa melihat jika putrinya sangat syok karna kekacauan yang terjadi. Ditambah, Celina terus menatap wajah Vano yang lebam dengan sudut bibir yang robek dan berdarah.
"Kenapa tidak bilang dari awal sayang.?" Mama berbisik lirih. Dia terlihat cemas dengan persoalan yang sedang menimpa putrinya.
"Aku tidak tega membuatnya tidak bisa bertemu darah dagingnya Mah,," Sahut Celina dengan suara yang bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Sekarang dia datang untuk menikahimu. Bagaimana bisa Papa menyerahkanmu pada laki - laki seperti itu.!" Seru Papa Adiguna.
Kemarahan Papa Adiguna tak juga mereda. Semua itu adalah bentuk kekecewaan yang dia rasakan.
"Pah, dia tidak bersalah. Celin yang sudah membuat semua ini terjadi." Celina memberikan pembenaran tanpa berniat sedikitpun untuk membela Vano di depan orang tuanya. Karna Celina sadar bahwa kehamilan itu disebabkan karna kelalaiannya sendiri.
"Maafkan Celin yang tidak bisa menjaga diri. Celin yang sudah membuatnya melakukan hal itu." Celina tertunduk lesu. Baru kali ini dia sangat menyesali apa yang sudah sudah pernah dia perbuat bersama Vano.
"Tidak, saya yang sudah memaksa Celina." Vano memberikan sanggahan atas pernyataan Celina. Namun sanggahan itu justru disengaja untuk memberatkan dirinya agar kedua orang tua Celina tidak terlalu kecewa pada putrinya.
Di sadari atau tidak, sebenarnya saat ini keduanya sedang melindungi satu sama lain.
"Keluar dari rumah saya.! Jangan pernah berharap bisa menikahi putri ku.!" Papa Adiguna mengusir Vano.
Jika sebagian orang tua akan menerima pertanggung jawaban dari laki - laki yang telah menghamili putrinya, tapi tidak dengan Papa Adiguna yang justru menolak pertanggung jawaban dari Vano. Baginya, laki - laki yang berani menyentuh wanita bahkan sampai membuatnya hamil sebelum menikah, adalah laki - laki yang tidak bisa menjaga dan melindungi.
Vano hampir saja kembali memohon, namun isyarat dari gelengan kepala Celina membuat Vano tidak jadi bersuara. Celina menyuruhnya pergi dengan tatapan memohon.
"Saya akan terus berjuang untuk bisa hidup bersama dengan anak dan wanita yang saya cintai." Ucap Vano lirih, namun penuh dengan kesungguhan.
"Sekali lagi, saya tulus meminta maaf."
"Permisi." Vano membungkuk hormat pada kedua orang tua Celina, kemudian beranjak pergi.
Sekilas menatap Celina dengan perasaan yang kacau karna merasa tidak berdaya.
"Mau kemana kamu.!" Papa Adiguna menegur Celina yang juga ikut meninggalkan ruang tamu.
"Ada yang harus Celin bicarakan padanya Pah,,"
"Sudahlah Pah, biarkan Celina menyelesaikan masalahnya. Biarkan dia dewasa dengan caranya sendiri. Celina bukan lagi anak kecil,"
"Kamu boleh menyusulnya sayang, tapi tidak keluar dari rumah," Kata sang Mama dengan suara lembut.
Celina mengangguk dan bergegas menyusul Vano.
Vano tidak jadi masuk kedalam mobil saat melihat Celina berjalan ke arahnya. Senyum bahagia seketika terbit si wajah lebamnya meski harus merasakan perih di sudut bibir.
"Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kamu datang ke rumah ini. Jangan pernah muncul lagi dihadapan Papa atau dia tidak akan membiarkanmu melihat anak ini.!" Ujar Celina mengingatkan.
Penuturan Celina hanya membuat Vano semakin lesu.
"Cepat pergi dan obati lukamu."
Celina bicara datar, dia akan beranjak namun ditahan oleh Vano.
"Kalau aku tidak menemui orang tuamu lagi, lalu bagaimana aku bisa memperjuangkan kalian.?" Tanya Vano frustasi.
"Aku terlalu buruk dan menjijikan untuk diperjuangkan."
Jawaban Celina begitu menancap di hati Vano. Lagi - lagi Celina mengingatkan dirinya bahwa dulu dia memandang Celina begitu rendah.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku akan memastikan kamu bisa melihat anakmu."
"Ternyata aku tidak cukup kejam untuk balas melukai hati seseorang." Celina tersenyum tipis, dia menyingkirkan pelan tangan Vano dan langsung bergegas masuk kedalam rumah.
Seluruh tubuh Vano seketika melemas. Dia tidak berfikir sebelumnya jika perkataan dan perbuatannya akan sangat melukai dan menghancurkan hati seorang wanita hingga mampu merubah sikapnya.
...****...
Sudah 2 minggu Celina tinggal di rumah orang tuanya. Hari ini dia memutuskan untuk kembali ke apartemen dan menjalani kehidupannya di sana sampai anaknya terlahir ke dunia.
Selain untuk menutupi kehamilan dari rekan bisnis orang tuanya yang sesekali datang ke rumah, Celina juga berniat untuk menghindar dari Dion yang hari sudah mulai bekerja lagi.
Hingga saat ini, Celina belum pernah bertemu dengan Dion. Dia tidak pernah mau ikut ke rumah sakit setiap kali kedua orang tuanya akan menjenguk Dion.
Karna keputusan Celina untuk membatalkan pernikahannya dengan Dion sudah bulat.
Mendengar bahwa anak dan mantan istrinya masih setia menemani Dion, membuat Celina yakin kalau hubungan mereka akan kembali seperti dulu.
Terkadang, menjauh untuk membuat semua orang bahagia itu sangat perlu.
"Maafkan Mama tidak bisa mengantarmu, ada rapat pagi ini." Mama berucap sendu.
Meskipun dia tidak tega membiarkan Celina tinggal di apartemen dalam keadaan hamil, namun pada akhirnya tetap menyetujui keinginan sang putri.
"Tidak masalah Mah, lagipula ada Mba Ida."
Celina tersenyum tenang.
"Hati - hati sayang. Mama pasti akan sering datang menemui kalian." Mama memeluk Celina dsn memberikan kecupan.
Hati seorang ibu tetap saja tidak tenang melepaskan anaknya tinggal terpisah dalam keadaan yang seharusnya membutuhkan banyak dukungan di sisinya.
Memerintahkan 1 pekerjanya untuk tinggal bersama Celina pun rasanya belum mampu membuatnya tenang.
Celina membuang pandangan ke arah jendela. Dia berharap keputusannya sudah tetap. Tinggal terpisah dari orang tua sampai waktu yang tidak di tentukan, dan juga memutuskan untuk tidak menerima cinta dari siapapun.
Hatinya sudah hancur karna terluka. Dan mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk menata hatinya kembali.
Sementara itu, Vano tersenyum lega saat mendapatkan informasi kalau Celina sudah kembali ke apartemen.
Dia terus menatap foto yang memperlihatkan Celina akan masuk ke dalam lift.
Tidak mau menyia - nyiakan kesempatan, Vano langsung beranjak meninggalkan ruang kerjanya untuk datang ke apartemen Celina.
2 minggu tidak melihat dan mengetahui kabar Celina, membuat rasa rindunya begitu menggebu.
Dia juga tidak sabar untuk menanyakan kondisi anak di dalam kandungan Celina.
Vano sudah pasti memiliki harapan yang besar pada darah dagingnya itu. Berharap baik - baik saja sampai terlahir ke dunia.
Saat ini, fokus Vano tidak lagi untuk cepat - cepat menikahi Celina. Tapi dia lebih fokus untuk membuat Celina percaya padanya bahwa dia sudah menyesali perbuatannya dan ingin memperbaiki kesalahannya.
__ADS_1
...****...
Yang belum Vote, jangan lupa vote dulu ya ☺