Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 43


__ADS_3

"Seenaknya saja menyebutku istri.!" Geram Celina begitu Vano menyingkirkan tangan dari mulutnya.


"Aku lupa menambahkan kata 'calon'." Vano menjawab datar, berbeda dengan ekspresi Celina yang semakin dibuat kesal oleh celotehan Vano yang menurutnya tidak lucu sama sekali.


"Calon istri.?!"


"Memangnya siapa juga yang mau menjadi istrimu.!" Balas Celina kesal.


"Cepat turunkan aku.!" Pintanya dengan mata melotot.


Perubahan sikap Vano yang drastis nyatanya tidak membuat Celina berbelas kasihan pada laki - laki itu. Pandangannya terhadap Vano masih sama saat terakhir kali Vano datang padanya hanya untuk menghina dan meminta tanda tangannya.


"Oke, tapi jangan coba - coba untuk kabur,," Vano mengalah. Dia tidak mau melihat Celina terus mengeluarkan tenaga hanya untuk berbicara kencang padanya.


"Apa masalahnya.?!" Seru Celina begitu Vano menurunkannya.


"Aku bukan buronan. Lepasin.!" Celina mengibas tangannya yang sedang di gandeng erat oleh Vano.


Perlakuan Vano hanya semakin membuat Celina geram.


"Mobilku ada di sana Celina,,," Vano menarik tangan Celina yang berbelok ke arah jalan keluar rumah sakit.


"Aku tidak menanyakan hal itu. Tolong lepas, aku mau pulang,," Kali ini Celina meminta dengan suara lirih. Hatinya semakin kacau karna meladeni Vano. Saat ini Celina hanya butuh ketenangan setelah kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya.


Dia ikhlas melepaskan Dion agar bisa kembali bersatu dengan keluarganya, hanya saja hatinya belum siap untuk merasakan sakit itu.


Vano begitu terpaksa melepaskan tangan Celina dan membiarkan Celina pulang sendiri menggunakan taksi. Dia tidak tega melihat raut sendu Celina yang meminta padanya agar mau membiarkannya pergi.


Tak ingin melepas Celina begitu saja, Vano segera masuk ke mobilnya dan mengikuti taksi itu.


Dia ingin selalu memastikan jika Celina dan darah dagingnya baik - baik saja.


"Kamu sudah lihat aku sampai dengan selamat. Sekarang pergi, biarkan aku sendiri." Seru Celina yang tengah berjalan di Koridor apartemen. Meski dia tidak menoleh ke belakang, tapi dia tau kalau sejak tadi Vano membuntutinya.


Vano keluar dari persembunyiannya. Dia sudah seperti penguntit yang ingin terus memantau gerak gerik Celina dan memastikan dia baik - baik saja.


Keadaan benar - benar terbalik saat ini. Kini Vano terlihat begitu menginginkan Celina, sama halnya dengan yang dirasakan oleh Celina dulu.


"Tapi kamu akan membuatku tidak tenang." Vano berjalan cepat hingga berhasil mengejar langkah Celina dan berhenti depannya.


"Ayolah Celina, maafkan aku. Biarkan aku bertanggung jawab atas anak itu." Vano memohon.


"Mari kita menikah,," Ajakan Vano langsung mendapat tawa sinis dari Celina.


"Kamu sendiri yang menyuruhku pergi dari kehidupanmu, bahkan menuduh aku hamil dengan orang lain. Lalu bagaimana bisa dengan mudahnya mengajakku menikah.?" Tutur Celina dengan senyum miris.


"Jika ingin bertanggung jawab, tunggu saja sampai dia lahir. Kamu bisa ikut mengurus dan membahagiakannya tanpa perlu menikahiku."


"Terlalu banyak luka yang aku rasakan, membuat hati ini terasa mati. Jadi jangan berharap lebih untuk bisa mendapat belas kasihan dariku."


Celina menahan tangis. semua luka yang sejak dulu dia rasakan seakan sedang berkumpul menjadi satu dan mencabik - cabik hatinya tanpa sisa.

__ADS_1


"Permisi,,," Celina berlalu begitu saja dari hadapan Vano. Meninggalkan Vano yang sedang memaku dengan segala perasaan sesal dan bersalah.


Tapi kali ini dia benar - benar sudah berubah dan ingin memperbaiki semuanya.


Siapapun pasti pernah melakukan kesalahan, tapi kenapa harus sesulit ini untuk mendapatkan kesempatan agar bisa memperbaikinya.


"Tunggu Celina,,!" Vano berjalan cepat mengejar Celina.


"Berhenti di tempat atau aku tidak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya sampai kapanpun." Ancam Celina.


Tak mau mengambil resiko, Vano membiarkan Celina pergi dari sana dan masuk dalam apartemennya.


Keadaan Celina yang sedang terluka juga memaksa Vano harus membuang egonya dengan membiarkan Celina menenangkan diri tanpa ada gangguan dari siapapun.


Kini Vano semakin sadar jika perjuangannya untuk bisa mendapatkan hati Celina akan sangat berat.


Bersikap bijak dan dewasa di usia muda terasa begitu sulit bagi Celina. Remaja yang belum genap berusia 19 tahun itu harus dipaksa dewasa dengan keadaan yang rumit dan berat.


Setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, Celina harus menerima kenyataan bahwa ayah dari anak yang dia kandung justru memperlakukannya dengan sangat buruk.


Kehadiran Dion yang mau menerimanya dengan tulus, membuat luka di hati Celina perlahan mulai mengering. Tapi lagi - lagi takdir kembali menyeretnya dalam luka yang sama.


Celina harus merelakan Dion untuk orang yang lebih berhak atas Dion.


Kini seakan sudah tak tersisa lagi cinta dan kepercayaan yang bisa dia berikan pada laki - laki.


Hal itu membuat Celina berfikir untuk hidup sendiri dan membesarkan anaknya tanpa harus ada laki - laki disisinya.


Ya, Celina memutuskan untuk menjadi single parent.


...****...


"Maafkan Celin Mah, Pah,,," Celina menangis di hadapan kedua orang tuanya. Dia bahkan berlutut didepan mereka.


Kehamilannya memang sudah menjadi aib yang memalukan bagi kedua orang tuanya. Celina bisa mengerti kenapa reaksi kedua orang tuanya sangat syok dan terpukul. Mereka bahkan terus bungkam, mengatur nafas yang terlihat begitu sesak.


"Apa Dion ayah dari anak itu.?!!" Bentak Papa Adiguna dengan nafas tersenggal. Kenyataan bahwa putri semata wayangnya hamil di luar nikah, menjadi tamparan keras baginya sebagai orang tua yang sudah gagal melindungi sang anak.


Celina menggeleng cepat.


"Kak Dion tidak pernah melakukan apapun padaku." Jawab Celina di sela isak tangisnya.


"Lalu siapa laki - laki brengsek itu.! Katakan Celina.!!" Papa Adiguna mengguncang keras bahu Celina.


"Jangan seperti ini Pah, kasian Celina." Tegur sang Mama. Dia menatap iba pada putrinya meski sudah membuatnya kecewa.


"Celina tidak tau Pah,," Jawabnya bohong. Dia tau seperti apa resikonya jika menyebutkan nama Vano. Papa Adiguna pasti tidak akan membiarkan Vano hidup tenang dan membuat Vano tidak akan pernah melihat darah dagingnya. Sedangkan, Celina sudah mengambil keputusan untuk memberikan ruang bagi Vano agar bisa melihat dan ikut merawat darah dagingnya.


"Celina.!! Jangan membuat Papa kehilangan kesabaran.! Katakan siapa laki - laki itu.?!! Jangan coba - coba untuk melindunginya.!" Geramnya penuh amarah.


Celina tetap bersikeras tidak memberitahukan siapa ayah dari anak yang dia kandung itu. Berulang kali mengakui kalau dia tidak tau.

__ADS_1


"Celina pergi ke club beberapa bulan lalu, tidak ingat siapa laki - laki itu." Tuturnya meyakinkan. Celina tak kalah terisak seperti Mamanya yang sejak tadi hanya bisa menangis.


Kedua orang tua Celina nampak kebingungan, tidak tau harus bagaimana menerima kehamilan putrinya. Jika kabar kehamilan Celina menyebar sampai ke perusahaan, bisa dipastikan akan menjadi masalah besar.


"Jadi itu alasan kamu ingin cepat - cepat menikah dengan Dion.?!" Tanya Papa Adiguna dengan suara tegas. Celina mengangguk cepat.


"Jangan salahkan kak Dion, Celina yang memaksanya untuk segara menikah agar anak ini tidak lahir tanpa ayah."


Celina bertutur sendu.


"Kalau begitu jangan batalkan pernikahan kalian, biarkan Dion yang menjadi ayah anak itu." Serunya meminta. Mungkin hanya itu satu - satunya jalan agar aib keluarganya tidak di ketahui oleh rekan bisnis.


"Tidak Pah, kak Dion lebih berhak bersama anaknya." Celina menolak keras.


Dia lebih memilih sakit hati di awal, dari pada harus merasakan sakit hati setelah menikah nanti.


Celina bisa membaca jika masih ada permasalahan yang belum selesai di antara Dion dan mantan istrinya yang sengaja membuat kebohongan besar demi bisa meninggalkan Dion dalam keadaan terpuruk saat itu. Ada kemungkinan besar jika perceraian mereka sebenarnya tidak pernah diinginkan oleh keduanya.


"Tapi Dion bersedia menerima anakmu bukan.? Apa salahnya menikah dengan Dion. Dia akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian."


Berdebatan itu terus berlanjut namun tidak menemukan titik terang. Papa Adiguna masih bersikeras menikahkan Celina dengan Dion, namun Celina bersikeras menolaknya.


"Sebaiknya kamu istirahat." Mama mengantar Celina ke kamarnya. Mama yang akhirnya menghentikan perdebatan mereka karna tidak tega melihat Celina terus menangis.


"Maafkan Celin Mah,," Celina menghambur kepelukan sang Mama.


"Celina mohon, jangan meminta kak Dion untuk menikahi Celina lagi."


"Anak dan matan istrinya sudah kembali, Celina tau kak Dion tidak pernah menginginkan perceraian itu terjadi. Celina yakin suatu saat cinta diantara mereka akan tumbuh kembali di tengah - tengah anak mereka."


"Jika Mama dan Papa malu, Celina akan tinggal di apartemen tanpa kembali lagi ke rumah ini."


Mama tampak tidak setuju. Dia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Celina.


"Bagaimana bisa Mama membiarkanmu hidup sendiri dalam keadaan seperti ini. Tetap disini, tidak masalah jika kabar ini sampai di perusahaan. Papa pasti bisa mengatasinya." Tuturnya lembut.


Celina tidak setuju begitu saja. Dia tau dampak apa yang akan diperoleh oleh perusahaan nantinya.


"Celina tidak selemah yang Mama pikirkan. Kami bisa hidup dengan baik nantinya."


"Jika Mama khawatir, Mama bisa membawakan 1 pekerja untuk menemani Celina disana."


Celina mengulas senyum. Dia ingin menunjukan pada sang Mama kalau di bisa hidup dengan baik meski harus menjadi orang tua tunggal nantinya.


"Kita bicarakan nanti, sekarang istirahat dan jangan pikirkan apapun."


"Maaf karna selama ini Mama dan Papa tidak mengawasimu. Kami sudah gagal menjaga kamu." Mama memeluk dan memberi kecupan di kening Celina.


"Mama akan bicara dengan Papa,," Pamitnya kemudian. Celina hanya memberi anggukan kecil.


...*****...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel "Jangan Rubah Takdirku"



__ADS_2