Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 73


__ADS_3

Pagi itu, mereka terbang ke Bali pukul 7 pagi.


Banyaknya orang yang ikut, membuat suasana cukup riuh.


Mama sengaja membawa 3 pekerja rumahnya termasuk Ida untuk menjaga dan mengawasi Naura serta Leo.


Mengingat kondisi Celina yang sedang hamil besar, rasa tidak mungkin meluangkan banyak waktu untuk mengikuti kemanapun Naura melangkah. Sedangkan Naura sedang dalam masa aktif yang tidak bisa diam.


Begitu juga dengan Mama, di liburan kali ini hanya ingin fokus menghadirkan kebahagiaan dan menciptakan kenangan terindah yang tidak akan pernah bisa untuk di lupakan.


Dia seakan sudah pasrah untuk memberikan hal - hal indah pada suaminya sebelum pergi jauh dan tak akan pernah kembali.


"Sebaiknya kamu dan Naura duduk dulu,,"


Vano menyuruh Celina untuk duduk di ruang tamu, sedangkan dia menarik 2 koper besar untuk di bawa ke kamar.


Di villa besar itu, ada banyak kamar yang cukup untuk menampung mereka. Namun, Naura di tempatkan satu kamar dengan Celina dan Vano.


Kamar yang memiliki 2 tempat tidur itu, dirasa anam untuk kegiatan sepasang suami-istri yang selalu panas hampir setiap malam.


Semua orang sedang sibuk meletakkan barang bawaan di kamar masing - masing.


Hanya menyisakan Celina dan dua bocah yang tingkahnya selalu menciptakan gelak tawa bagi orang dewasa yang melihatnya.


"Kenapa tidak di bagi jadi 2 koper saja. Itu terlalu besar, kamu sendiri yang susah."


Teguran Dion membuat Keyla berbalik badan. Dia berhenti di tengah - tengah tangga. Sejak tadi kesulitan untuk membawa koper yang berisi baju miliknya dan Leo.


Keyla hanya tersenyum tipis. Dia tidak berniat untuk menanggapi ucapan Dion. Mulai detik ini, dia akan menjaga jarak dari duda tampan yang dulu pernah menjadi suaminya.


Keyla tidak mau menjadi penghambat kehidupan pribadi Dion. Terlebih, Keyla merasa ada wanita yang sedang dekat dengan mantan suaminya itu.


Karna semalam, dia tidak sengaja mendengar Dion berbicara dengan seorang wanita lewat telfon.


Bahkan mereka akan bertemu di tempat ini.


Langkah Keyla terhenti karna Dion menahan koper yang sedang dia bawa.


"Kenapa.?" Tanya Keyla bingung. Dia melirik tangan Dion yang akan mengambil koper dari tangannya.


"Butuh waktu lama kalau kamu yang membawa koper ini." Sahut Dion datar. Dia langsung mengambil paksa koper itu dari tangan Keyla.


"Kamarmu yang mana.?" Dion bertanya tanpa menatap wajah Keyla sedikitpun. Justru berjalan mendahului Keyla dengan membawa dua koper di tangannya.


"Kamar kedua,," Jawab Keyla singkat. Dia berjalan mengikuti Dion di belakang. Menatap punggungnya yang lebar.


Tubuh Dion lebih berbentuk dan berotot ketimbang dulu. Otot yang tercetak di lengan besar Dion bahkan sering kali menarik perhatian Keyla.


"Awww,,,!" Pekik Keyla kaget. Dia langsung mundur beberapa langkah untuk menjauh dari punggung yang baru saja dia tabrak.


Terlalu fokus memperhatikan punggung Dion, Keyla tidak tau kalau Dion sudah berhenti di depan kamarnya.


"Maaf,," Ucap Keyla dengan tertunduk malu.


Tidak ada jawaban dari Dion, namun Keyla bisa melihat kalau Dion masih berdiri di depannya karna kedua kakinya masih menapak di sana. Dan beberapa saat kemudian, kaki itu melangkah dari hadapannya. Saat itu juga, Keyla baru berani mengangkat wajahnya.


Dia masih berdiri di tempat, menatap Dion yang membuka kamar tepat di sebelah kamarnya.


Keyla langsung salah tingkah saat Dion melirik ke arahnya.


Kegugupan itu membuat keyla menjatuhkan kunci yang ada di tangannya.

__ADS_1


Dion hanya berdecak melihat tingkah Keyla.


Kembalinya Keyla dengan membawa Leo, telah merubah banyak hal dalam kehidupan Dion saat ini.


Adanya Leo, membuat Dion harus lebih bijak lagi memposisikan dirinya sebagai ayah bagi Leo, sekaligus partner bagi mantan istrinya untuk sama - sama membesarkan Leo.


Ternyata tidak mudah berada di posisi seperti itu.


Karna Leo yang tidak mengerti apapun dengan kondisi orang tuanya, seringkali meminta mereka untuk tinggal bersama dan tidur bersama dengannya.


Dion tentu saja kesulitan untuk menjelaskan semuanya pada bocah yang baru berusia 4 tahun itu.


Tidak mungkin juga dia akan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Leo juga tidak akan bisa untuk mengerti, apalagi memahaminya.


Kepergian Keyla 5 tahun lalu, telah merenggut semua kebahagiaannya. Membawa separuh nyawa dan hatinya yang dulu dia berikan seluruhnya untuk Keyla.


Wanita yang sangat dia cintai, bahkan sejak ia masih kecil.


Dion tersenyum kecut sembari menutup pintu kamar. Kenangannya terlalu menyedihkan untuk di ingat. Namun, dia tidak bisa menyesali apa yang telah terjadi pada hidupnya. Karna bagaimanapun, kehadiran Leo telah banyak membawa kebahagiaan dalam hidupnya saat ini.


Setidaknya kehancuran yang dulu dia rasakan, di gantikan dengan Leo yang tidak ternilai dengan apapun.


...*****...


"Sayang,,," Rengek Celina begitu melihat Vano berjalan Mendekat ke arahnya.


"Aku sudah pusing, tolong kamu urus mereka." Dengan wajah frustasi, Celina menunjuk Naura yang terus membuntuti Leo. Sedangkan Leo terus - terusan menegur Naura agar tidak mengikutinya.


"Astaga,, apa lagi yang mereka lakukan.?" Keluh Vano. Dia tak kalah frustasinya dengan Celina.


"Anak kita yang memulai. Kenapa dia sangat mirip denganmu,," Celina memutar bola matanya malas.


Saat ini, mungkin Celina belum bisa menasehati Naura karna masih terlalu kecil. Tapi saat sudah bisa di ajak untuk diskusi, Celina sudah banyak menyiapkan nasehat yang akan dia berikan pada anak sambungnya itu.


Celina tidak mau melihat Naura terlalu agresif dan pemaksa. Leo bahkan sampai kesal dengan sifat Naura. Lalu bagaimana Naura bisa mendapatkan cinta yang tulus dari laki - laki yang baik jika sifatnya seperti itu.


Celina sudah cemas sejak dini, padahal kehidupan percintaan Naura masih sangat panjang.


"Naura putriku, tentu saja dia mirip denganku." Sahut Vano.


"Aku tau sayang, tapi kenapa harus mengikuti sifat burukmu itu." Keluh Celina dengan nada mencibir.


"Buruk kamu bilang.?" Ucap Vano tak terima.


Dia tau itu tidak baik, tapi tidak terima dibilang buruk.


"Sifat seperti itu membuat kita tidak bisa ditindas, asal kamu tau saja." Tuturnya memberikan pembelaan.


Celina menarik nafas dalam.


"Iya benar, tidak bisa ditindas karna kamu yang selalu menindas." Ketusnya.


"Dan aku pernah menjadi korbanmu.!"


"Dasar meneybalkan.!" Celina melengos kesal. Wajahnya berubah cemberut.


Vano hanya bisa melongo. Dia sadar sudah salah berdebat dengan ibu hamil yang sensitif.


Bukannya menjauhkan Naura dari Leo, Vano justru duduk di samping Celina untuk membujuk istrinya.

__ADS_1


"Sayang, jangan marah,," Vano merangkul pundak istrinya. Membujuk dan menatapnya lembut.


"Lepas, kamu itu menyebalkan sekali."


Celina tidak mempan di bujuk oleh Vano.


Padahal hanya perdebatan sepele, tapi entah kenapa membuat moodnya rusak.


"Daddy, Mommy, kenapa bertengkar.?"


Tanya Naura dengan wajah polosnya. Dia menghampiri Daddy dan Mommynya yang sedang cemberut.


"Biarkan saja, mereka lucu." Seru Leo dengan wajah datarnya. Dia duduk santai di depan Celina dan Vano.


"Kau.!" Pekik Vano kesal.


Matanya melotot menatap Leo yang kurang ajar padanya.


"Berani sekali bicara seperti itu." Ujar Vano lagi.


"Sudah, kau ini kenapa.? Dia hanya anak kecil."


Tegur Celina. Dia tak habis pikir dengan suaminya yang menanggapi ucapan seorang anak kecil dengan emosi.


"Tapi dia menyebalkan." Geram Vano.


"Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkannya dekat dengan Naura kalau mereka sudah dewasa." Ucapnya penuh kekesalan.


"Ada apa ini.?"


Mama datang dan menatap heran pada mereka.


Di susul Papa Adiguna di belakangnya.


Dion dan Keyla juga baru saja turun ke lantai satu dan ikut bergabung di ruang tamu.


"Uncle dan aunty bertengkar, Oma,," Tutur Leo polos.


Mendengar Leo mengadu seperti itu, Vano semakin jengkel menatap anak Dion.


"Bertengkar.?" Mama mengulangi ucapan Leo sembari melirik Vano dan Celina.


"Tidak Mah, kami hanya sedang diskusi." Jawab Celina cepat.


"Jadi kita mau pergi kemana dulu.?" Tanya Celina antusias. Dia sengaja mengalihkan perhatian.


Kalau terus membahas hal tadi, kedua orang tuanya bisa mengira kalau ucapan Leo benar.


Bisa - bisa mereka akan menegur Vano nantinya.


"Mau ke pantai, Mommy,,,!!" Seru Naura.


"Ok, ayo pergi sekarang." Ajak Mama pada semua orang.


Mereka langsung bergegas meninggalkan villa dan pergi bersama ke pantai.


...******...


...Info Novel Baru...


Novel "Berawal Dari Dendam" di lanjut tapi ganti judul jadi "Luka Balas Dendam".

__ADS_1


Jangan lupa di favorit yah🥰



__ADS_2