
Vano merangkul bahu Celina, menjauhkan Celina dari wanita itu.
"Duduk. Aku tidak suka kamu mencampuri urusan mereka."
"Ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar mengurusi percintaan Dion. Dia sudah banyak pengalaman, jadi tidak perlu di arahkan." Ujar Vano lagi.
Awalnya Vano santai saja ketika melihat Celina menghampiri wanita yang datang bersama Dion. Apa yang diucapkan oleh Celina pada wanita itu juga masih terbilang wajar, namun lama kelamaan menjadi gaduh. Celina mendesak wanita itu untuk menjauhi Dion, lalu mengancam akan memberitahu Dion tentang siapa wanita itu sebenarnya.
Bahkan Celina berjanji akan membuat Dion meninggalkan wanita itu.
Akhirnya Vano mengajak Celina pergi dari sana. Vano bukan tidak mau mendukung kebaikan istrinya untuk menyatukan kembali Dion dan Keyla yang dulu terpaksa dipisahkan oleh keadaan. Tapi sikap Celina sudah di luar batas, keadaan Celina saat ini juga sedang mengandung, di tambah Papa Adiguna yang akan menjalani operasi.
Celina sudah terlalu banyak memikirkan segala permasalahan yang ada di depan mata. Vano tidak tega kalau harus membiarkan Celina juga memikirkan masalah percintaan Dion.
Bibir Celina sedikit mencebik, kesal karna belum puas berdebat dengan wanita itu dan menyudutkannya agar mau mengakui kalau sudah menarik Dion dalam perangkapnya.
Celina sudah cukup pandai membaca karakter seseorang hanya dengan melihat raut wajah, sorot mata dan gerak tubuh.
Lebih dari 2 tahun berkecimpung di dunia malam, tentu saja Celina sudah terbiasa berinteraksi dengan wanita - wanita semacam itu.
"Sayang,,," Ucap Celina sedikit merengek.
"Ini bukan soal mengurusi percintaan saja, aku tau wanita seperti apa yang dekat dengan kak Dion."
"Dia bukan wanita baik - baik, sama seperti ku."
"Hanya saja, aku yakin kalau wanita itu punya rencana yang belum di ketahui kak Dion."
"Lalu bagaimana aku bisa membiarkan kak Dion terjebak dengan wanita itu.?"
Celina terlihat cemas. Takut Dion hanya dimanfaatkan oleh wanitanya.
Vano terlihat menarik nafas dalam. Sedikit kecewa dengan sikap istrinya yang sulit di beri tau.
Selalu mengutamakan perasaan di banding dengan logika, karna mudah tersentuh hatinya.
"Kamu boleh peduli dengan orang di sekitar kamu, tapi bukan berarti bisa mencampuri urusan pribadi mereka." Tutur Vano lembut.
"Mulai detik ini, aku tidak mau lagi mendengar kamu ikut campur urusan pribadi Dion ataupun Keyla.
Vano merangkul pundak Celina, memberikan usapan lembut di bahunya.
"Kamu terlalu sibuk memikirkan kebahagiaan orang lain, sampai tidak memperdulikan kebahagiaan kamu sendiri."
"Kamu, aku, Naura dan baby boy. Bagaimana bisa kamu lupa kalau keluarga kecil kita juga butuh kebahagiaan."
Dahi Celina mengkerut mendengar protes dari Vano. Ucapannya seolah mengatakan jika keluar kecilnya tidak bahagia.
Padahal selama ini dia merasa sudah memberikan kebahagiaan pada keluarga kecilnya.
Naura saja sampai enggan jauh - jauh darinya karna terlalu bahagia memiliki ibu sambung sepertinya.
"Apa kamu dan Naura belum bahagia.?"
Tanya Celina memastikan. Dia merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak dan suaminya, berusaha membuat mereka bahagia.
__ADS_1
"Memiliki ibu dan istri sepertimu, mana mungkin Naura dan aku tidak bahagia.?" Vano berkata dengan senyum yang merekah, manik matanya bahkan berbinar. Raut wajah dan tatapan matanya yang dalam seolah ikut bicara bagaimana dia sangat bahagia memiliki istri seperti Celina.
"Tapi akan jauh lebih bahagia kalau kamu hanya fokus dengan keluarga kecil kita." Sambungnya lembut.
Akhir - akhir ini Vano merasa kalau Celina tidak memiliki banyak waktu luang untuk sekedar quality time bersama dia dan Naura.
Jika sedang berkumpul, selalu menyelipkan permasalahan Dion dan Keyla di dalamnya.
"Aku mengerti, maaf kalau apa yang aku lakukan jadi mengurangi kebahagiaan kamu dan Naura."
Celina menunduk sendu, dia jadi merasa bersalah pada Vano karna hampir mengabaikannya.
Vano mengukir senyum, dia merangkul Celina dan mendekapnya penuh cinta.
"Aku akan memaafkan mu, asal,,,,"
Ucapan Vano menggantung, disertai senyum penuh arti.
"Memuaskanmu malam ini.!" Sambung Celina cepat.
"Istriku pintar sekali." Puji Vano dengan nada menggoda.
Celina hanya berdecak kesal sembari mencubit pelan perut Vano.
Vano terkekeh, dia semakin erat memeluk tubuh Celina dan mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya berulang kali.
Pemandangan manis itu di saksikan oleh Arkan yang terlihat frustasi. Merasa iri pada bosnya yang bisa bermesraan di tempat umum.
Sementara dirinya hanya bisa melihat kemesraan orang lain tanpa bisa merasakannya.
Dia keluar dari kamar inap Leo, berjalan membuntuti Dion yang keluar lebih dulu.
Wajah Dion memerah, menahan amarah yang sejak tadi dia pendam di depan Leo. Berusaha di tahan agar tidak marah di dapan putranya.
"Menyesal.?!" Seru Dion dengan nada tinggi.
"Kenapa tidak memikirkan dampaknya akan seperti ini.?"
Nafas Dion memburu, dadanya naik turun sering amarah yang kian meluap.
Kecewa pada mantan istrinya karna tidak bisa menjaga putra mereka dengan baik, sampai akhirnya kejadian nahas itu harus terjadi.
Kedatangan mantan suami istri itu, menarik perhatian mereka yang berada di luar.
Kecemasan kembali muncul di wajah cantik Celina. Cemas sekaligus iba pada Keyla yang sedang berusaha menghadapi amarah Dion.
"Kamu tidak bisa menjaga Leo dengan baik.!" Bentak Dion ketus.
"Ibu macam apa kamu.?!" Serunya lagi.
Dion tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada putranya. Keyla sudah membawa pergi putranya selama bertahun-tahun. Dion enggan kehilangan Leo untuk kedua kalinya.
Keyla menunduk sedih. Dia sudah terluka dan merasa bersalah karna Leo tenggelam. Kini perasaannya semakin di buat hancur oleh perkataan Dion. Membuat Keyla merasa jahat pada putranya karna harus mengalami tenggelam dalam kolam renang untuk kedua kalinya.
"Maaf Di,, aku benar-benar menyesal atas kejadian ini."
__ADS_1
Suara Keyla bergetar. Air matanya perlahan tumpah, tangisnya pecah meski tanpa suara.
Keyla berjongkok, menangis penuh sesal dengan kedua tangan menekan kuat sisi kepalanya.
Ucapan Dion terus berputar di kepalanya.
Keyla membenarkan ucapan Dion. Sebagai ibu, Keyla memang merasa belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Leo. Tidak bisa memberikan Leo kebahagiaan seperti anak lain pada umumnya.
Kelalaiannya dalam menjaga Leo juga membuat nyawa putranya dalam bahaya.
Celina langsung beranjak dari duduknya. Dia tidak tahan lagi melihat pemandangan menyayat hati itu.
Sebagai ibu sambung yang bahkan akan memiliki anak kandung sendiri, Celina bisa merasakan sakitnya berada diposisi Keyla.
"Cukup kak.!"
"Apa seperti ini sifat asli kak Dion.? Bagaimana bisa kak Dion menyalahkan kak Keyla.!
"Jika kak Dion hancur melihat kondisi Leo saat ini, kak Dion harus ingat bahwa wanita yang sudah mengandung, melahirkan dan merawat Leo, perasaannya jauh lebih hancur dari kak Dion.!"
Seru Celina penuh amarah dan kekecewaan.
Dia tidak pernah menyangka, Dion bisa menyakiti hati seorang wanita hanya dengan lisannya.
Semudah itu mencaci maki wanita yang sudah mengandung darah dagingnya. Terlepas bagaimana perbuatan Keyla di masa lalu, tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membenci ibu dari anaknya.
"Lalu aku yang harus di salahkan.?" Dion tersenyum kecut.
"Dia sendiri yang ingin keluar dari apartemen dan tinggal bersamamu, tapi tidak bisa menjaga Leo dengan baik."
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Leo.?!" Seru Dion penuh penekanan.
"Kebersamaanku bersama Leo baru beberapa bulan yang lalu. Aku baru diberi kesempatan untuk memberikan kasih sayang dan perhatian pada Leo setelah usianya 4 tahun."
"Kalian tidak mengerti karna tidak merasakannya.!"
Dion melirik Keyla sekilas. Lirikan penuh kekecewaan dan amarah.
Sementara itu, Arkan tak tinggal diam. Dia menghampiri Keyla, membujuk Keyla untuk berhenti menangis dan memintanya untuk berdiri.
"Menangis tidak akan merubah apapun, kamu harus lebih kuat demi Leo." Ucap Arkan lirih.
Dia merangkul bahu Keyla, menuntunnya agar berdiri.
Setelah mendengarkan kekacauan itu, Arkan bisa membaca situasi yang ada.
Dia juga sudah mendapatkan jawaban tentang siapa Keyla dan Leo. Serta hubungan mereka dengan Dion.
"Sebaiknya pergi diri sini. Tenangkan dulu pikiran mu." Pinta Vano pada Dion. Vano menepuk pelan pundak Dion, serta memberikan tatapan agar menuruti ucapannya.
Vano bersikap netral, enggan membela Dion ataupun Keyla. Dia hanya berharap yang terbaik untuk permasalahan ini.
Sambil melirik tajam pada Keyla yang saat ini tengah di rangkul Arkan, Dion pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
Bahkan meninggalkan wanitanya begitu saja, kemudian berjalan cepat menyusul Dion.
__ADS_1