Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Ancaman


__ADS_3

Menahan rasa sakit dari luka, Jean terus berjalan maju meski jalan itu sangat sempit.


Ada harapan jalan keluar yang menunggunya di depan sana, jadi Jean tidak bisa menyerah di sini.


Luka di bahunya terasa sakit dan perih, awalnya hanya di bagian bahu kanan saja, tapi entah kenapa kini seluruh tangan kanannya ikut sakit, bahkan dada kanannya juga, seolah luka itu menyebar.


Jean tidak tahu apa yang terjadi, tempat itu gelap membuatnya tidak mampu melihat kondisi lukanya.


Cahaya bulan akhirnya sampai di matanya, dia melihat jalan keluar tidak jauh di depan, karena hal itu Jean menggigit bibir menahan rasa sakit sambil melangkah maju lebih cepat.


Akhirnya Jean berhasil keluar, udara tidak lagi menyesakkan seperti di dalam celah, sayangnya baru beberapa langkah di luar celah, Jean jatuh pingsan.


Dari arah hutan lebat terdengar langkah kaki mendekati Jean, saat itu Jean masih sedikit sadar, dia merasakan sentuhan lembut tapi dingin menyentuh pipinya lalu turun ke bawah menyentuh lukanya, kemudian semuanya lenyap. Jean sepenuhnya tidak sadar.


***


Di tempat lain, di sebuah ruangan berukuran dua kali lipat dari gubuk Jean. Tampak Juno sedang dipaksa makan oleh pelayan wanita paruh baya.


"Ayo cepat makan, cepat habiskan! Pekerjaanku masih banyak, sungguh buang-buang waktu untuk mengurusmu. Jika saja nyonya keempat tidak menyuruhku, aku tidak sudi menunyuapimu makan." omel pelayan itu tidak puas dengan Juno yang kemarin pernah menolak makan sehingga dia harus menyuapi paksa memastikan bocah itu makan sampai habis.


Juno mengunyah makanan di mulutnya dengan kesulitan karena pelayan itu menyuapinya dalam jumlah besar, ketika makanan itu baru tertelan separuh, si pelayan menyuapinya lagi.


Jika Juno tidak mau membuka mulut, pelayan itu akan mengancam untuk mengadu pada istri keempat Tuan Tanah.


Juno tidak takut dengan wanita jahat itu, hanya saja kemarin wanita itu datang ketika dia mogok makan.


"Jadi kau mogok makan hah? Tidak masalah, aku bisa menggantikan posisimu dengan kakakmu. Biarkan dia yang jadi budak, dan kau bisa bebas hidup sendirian di luar sana." Istri keempat tuan tanah mengancam.


"Tidak jangan jadikan kakakku budak!" Juno berteriak tidak terima, dia tidak mau kakaknya menjadi budak.


"Kau yang jadi budak, atau kakakmu yang menjadi budak, tentukanlah. Kau makan atau tidak!"

__ADS_1


Juno tidak kuasa menahan tangis, kepalanya menunduk.


"Baik aku mau makan, jangan jadikan kakakku budak."


Jean adalah satu-satunya keluarga Juno yang tersisa, dialah orang terdekat dan terbaik padanya selama ini. Tentu saja Juno tidak tega jika kakaknya menjadi budak.


Jadi dari situ Juno mau makan kembali, tapi pelayan paruh baya tetap masih harus menyuapi dan memastikan makanannya habis.


Air matanya terus jatuh, menyadari dia akan menjadi budak, meski makanan yang dia makan saat ini adalah nasi dan daging yang dia sukai, entah kenapa saat ini rasanya menjadi hambar.


Dulu ayah Juno sering mengatakan jika laki-laki tidak boleh menangis, tapi Juno tidak bisa berhenti menangis, saat ini dia takut, sedih dan bingung harus berbuat apa, dia tidak ingin menjadi budak.


Setelah makanan habis, pelayan itu pergi.


Juno duduk meringkuk memeluk kakinya di pojokan ruangan, ubin mengkilap berwarna coklat terasa halus dan dingin ketika menyentuh kulit kakinya.


Pandangannya tertuju pada jendela kecil di dinding atas ruangan, sangat mustahil jika dia ingin kabur lewat jendela tersebut karena ada teralis besi terpasang di sana.


Dia juga diberi makan enak tiga kali sehari dengan jumlah yang besar.


Juno telah terbiasa makan sehari sekali bersama kakaknya, jadi ketika dia harus makan tiga kali sehari dengan porsi besar, dia merasakan perutnya seperti ingin meledak.


Makanan lezat menjadi tidak enak, ditambah sebuah fakta jika saat ini dia sedang menjadi domba yang digemukkan sebelum dipotong, itulah kenapa Juno menolak makan.


Dia tidak ingin menjadi domba gemuk yang berakhir dipotong-potong. Biar saja dia tetap kurus agar tidak ada yang mau membelinya sebagai budak.


Namun, rencana bodohnya gagal karena ancaman istri keempat Tuan Tanah.


"Kakak apa yang harus aku lakukan?" Juno memanggil kakaknya dengan suara lirih.


Dia berharap sang kakak akan datang untuk menyelamatkannya, tapi apakah bisa? kakaknya hanya wanita lemah.

__ADS_1


Juno juga tidak tahu, apakah Jean berhasil kembali dengan selamat, dia pernah mendengar jika pekerjaan sebagai pemetik atau pemburu sangat berbahaya, banyak yang tidak bisa kembali hidup-hidup.


Mendiang ayah merekapun mati karena pekerjaannya sebagai pemburu. Mengingat itu Juno merasa menyesal tidak mencegah lebih keras kepergian kakaknya sebagai pemetik.


"Ini salahku, kumohon jangan mati kak Jean." Juno memukuli lantai menyalahkan dirinya sendiri begitu bodohnya dia baru menyadari jika kakak perempuannya yang lemah sangat tidak cocok dengan pekerjaan berbahaya itu.


Dia menyesal, kenapa bukan dia yang pergi, dia adalah anak laki-laki, dia yang harus melindungi kakaknya, tapi kini dia malah menangis karena akan dijual menjadi budak.


Setengah hari kemudian.


"Brak" pintu ruangan itu terbuka, sosok wanita dengan bedak tebal berjalan masuk, pelayan paruh baya juga mengikuti di belakangnya.


"Bangun!" Pelayan paruh baya menarik lengan Juno, memaksanya untuk bangun.


Istri keempat Tuan Tanah memperhatikan wajah dan tubuh Juno.


"Hmmn, lebih berisi dari sebelumnya, tapi masih kurus, juga masih ada bekas lebam sedikit. Beri dia obat lebih banyak."


"Iya nyonya." Pelayan paruh baya mengangguk.


" Jika saja ada waktu seminggu, penampilanmu akan lebih baik dari ini. Sayang sekali besok kau sudah harus tampil." Istri keempat Tuan Tanah menepuk-nepuk pelan satu pipi Juno.


Dia menatap tidak suka pada mata indah Juno yang berpupil sebiru langit, tapi ekspresinya melega mengingat bocah pemilik mata indah itu akan menjadi budak.


"Apa kakakku sudah kembali dari hutan?" Juno bertanya secara tiba-tiba.


"Kakakmu yah, hmmm aku akan memberitahumu dia sudah kembali atau tidak asalkan besok kau tidak memberontak." Istri keempat Tuan Tanah berjalan memutari Juno.


"Besok kau akan mengikuti pemilihan budak kalangan atas, jadi bersikaplah baik atau kau tidak akan tahu kabar dari kakakmu, mengerti." Istri tuan tanah memanfaatkan rasa penasaran Juno sebagai ancaman.


Juno hanya bisa mengangguk dan berdoa atas keselamatan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2