
"Aku dulu juga sepertimu Jean, aku sangat takut ketika pertama kali melihat binatang buas, bahkan aku hanya bisa menangis tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Untung saja waktu itu ada Marco yang menggendongku pergi menjauh." Cerita masa lalu Mia membuat Jean agak tenang.
Lima anggota kelompok pemburu lainnya juga datang membantu tiga orang tadi.
Ular bertanduk itu menyerang lebih ganas, tampak ujung dua taringnya yang tajam meneteskan cairan racun, daun atau tanaman yang terkena tetesan racun itu tampak terkorosi seperti meleleh.
Hewan buas ular bertanduk memang berbahaya dan racunnya mampu membunuh orang dalam waktu satu hari. Tapi para pemburu tingkat rendah tampak bersemangat tanpa rasa takut menghadapi ular itu.
Apalagi jika bukan karena kulit, daging dan racunnya bisa ditukar dengan harga yang memuaskan.
Di malam harinya, kelompok Marco sekali lagi membangun tenda dan membuat api unggun, tapi kali ini mereka membangunnya di wilayah hutan luar.
Ini adalah hari terakhir mereka menginap di hutan, besok pagi semua orang harus bergegas kembali ke tembok kota karena mereka sudah mendapat apa yang mereka cari.
Jean memeriksa hasil panennya, ada 6 tanaman dengan harga rendah dari hutan pinggiran bernilai 30 keping tembaga, lalu ada daun grek empat lembar, 1 buah kuncup bunga Bit, beberapa tumbuhan lain harga rendah dan yang paling tinggi adalah 1 buah beri Mers.
Setelah menghitung, Jean memperkirakan total keseluruhan yang dia dapat sekitar 17 keping perak.
Itu adalah jumlah yang tinggi bagi Jean, tapi termasuk rendah untuk Mia dan Marco.
Jean tidak peduli hasilnya rendah atau tidak menurut orang lain, yang jelas dengan 17 keping perak, dia sudah bisa melunasi hutang beserta bunganya sekalian.
Jika dihitung hutang Jean adalah 5 keping perak ditambah bunganya 7 keping perak lebih 25 tembaga, lalu dengan tunggakan tempat tinggal selama tiga bulan sebanyak 3 keping perak.
Jadi total hutang Jean sebanyak 15 keping perak lebih 25 tembaga, jumlah itu bahkan masih menyisakan hampir dua keping perak dari total pendapatannya saat ini.
Jean tidak sabar untuk segera kembali dan melunasi semua hutang itu. Dia tidak ingin Juno menantinya lebih lama.
"Tunggu sebentar lagi Juno." gumam Jean pelan.
__ADS_1
Karena hari ini adalah hari terakhir, kelompok pemburu membakar daging hewan buruan berharga rendah untuk makan malam. Jean dan anggota kelompok pemetik Marco juga mendapat bagian daging panggang itu.
Meski hanya sepotong tipis, Jean yakin jika Juno ada di sampingnya, mata birunya akan berbinar bahagia.
Terakhir kali Jean dan Juno memakan daging binatang buas adalah ketika ayah mereka masih hidup, jadi sudah lama sekali mereka tidak memakan daging.
Marissa bukan penyuka daging, tapi karena dia belum pernah mencoba daging binatang buas, dia penasaran untuk mencoba bagaimana rasanya.
Ketika menggigit satu potong daging panggang, wajah penasaran Jean berubah menjadi wajah tidak puas.
Daging panggang itu keras, sulit digigit, mengunyah daging itu bagaikan mengunyah ampas permen karet karena daging itu hambar tidak ada rasa sama sekali, malah ada bau amis yang tercium oleh Jean.
Rasanya Jean ingin muntah, tapi dia menelan paksa daging itu. Bagaimanapun dia harus menghargai pemberian orang lain. Apalagi daging adalah makanan mahal di dunia ini.
Jean membungkus daging itu dengan daun lebar dan memasukkannya ke dalam tas kain.
Jean memandang orang-orang terlihat sangat nikmat memakan daging panggang seolah mereka memakan makanan yang sangat lezat.
Jean menghela nafas, mungkin karena di dunia asalnya, Marrissa telah mengkonsumsi makanan bercitarasa tinggi jadi ketika memakan makanan tanpa bumbu, lidahnya terasa sangat tidak cocok.
Karena sekarang mereka berada di hutan luar, tugas jaga malam dilakukan oleh 4 orang, dua dari kelompok pemetik dan dua dari kelompok pemburu.
Masih sama seperti sebelumnya Jean dibangunkan oleh Mia untuk jaga malam.
"Air hangat." Mia menawari 1 gelas air hangat.
Jean menerimanya dengan senyum, "Ya, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri kau tidak perlu terus melakukan itu untukku Mia."
" Tidak masalah Jean. Sebagai gantinya minum saja sampai habis, agar tubuhmu hangat. Masih satu hari lagi perjalanan kembali yang harus kita tempuh, kau jangan sampai sakit." Mia memberi nasehat, tangannya menuang air hangat ke gelas lain.
__ADS_1
"Mia beri aku air hangat juga." Salah satu dari dua pemburu yang bertugas jaga malam di dekat api unggun meminta juga.
"Oke, tunggu sebentar." Mia menuang lagi ke gelas lainnya.
Setelah Mia duduk di sampingnya, Jean menyesap air hangat di gelasnya dengan mata terpejam menikmati rasa hangat yang memasuki perut.
Jean menaruh gelas yang sudah kosong, dia menoleh pada Mia.
Dengan suara pelan Jean berbicara," Mia, kau sangat baik padaku, apa kau tidak bisa memberitahuku juga tentang Paman Ben? Ayolah Mia, kau bilang aku harus menjauhinya, tapi jika aku tidak mengetahui alasannya, aku tidak bisa menjauh begitu saja."
Mia hanya memandang Jean tanpa berbicara.
Setelah beberapa napas akhirnya dia membuka mulut.
"Jean, aku tidak bisa malanggar perintah Marco. Dia melarangku untuk bercerita, jadi tolong jangan bertanya tentang hal itu padaku lagi."
"Mia kumohon." Jean bertanya dengan wajah memohon, dia tidak menyerah.
Mia memandang Jean dengan mata bersalah,
"Kau sebaiknya tidak perlu memikirkan orang itu Jean, maafkan aku. Aku punya saran untukmu, jangan mudah percaya pada orang lain di kehidupanmu selanjutnya." Mia berdiri, matanya melirik Jean masih dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Hah, maksudmu ap...."
Tiba-tiba Jean merasa lemas, tubuhnya menjadi sangat berat, dia jatuh tertidur ke samping.
"Marco dia sudah tidak sadar." Mia memanggil Marco yang ternyata tidak tidur sama sekali di dalam tenda.
"Bagus, ayo kita mulai rencananya." Marco tersenyum miring.
__ADS_1