Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Target Kerjasama


__ADS_3

"Aku tahu kau diusir oleh Tuan Tanah dari kediaman utama karena Nyonya Rosela yang menggantikan posisimu di rumah utama, sedangkan kau menggantikannya tinggal di bekas rumahnya saat ini.


Apa kau tidak ingin balas dendam pada Nyonya Rosela? Jika ya, aku hanya ingin mengajakmu bekerjasama denganku dan...." Jean menjelaskan niatnya, tapi sebelum kata-katanya selesai Mean memotong.


"Tidak, aku tidak ingin membalas dendam pada Rosela atau siapapun. Tawaran kerjasamamu kutolak, lebih baik kau pergi dari keretaku!" Mean menolak ide kerjasama Jean, satu jarinya menunjuk pintu kereta yang pernah diterobos oleh Jean.


Jean heran, "Tapi, tunggu dulu, dengarkan aku dulu Nyonya. Kau mungkin tidak percaya padaku, tapi beri waktu aku sebentar, dengarkan aku sebentar saja." Jean menolak pergi, dia yakin dengan sedikit penjelasannya Mean akan mau bekerjasama denganya.


"Tidak perlu, apa kau tidak dengar, aku tidak ingin balas dendam atau apapun itu." Mean menolak sekali lagi.


Dia sangat bersyukur telah keluar dari rumah utama, dia telah lepas dari wajah menjijikkan Tuan Tanah, dan dia tidak memiliki rasa dendam karena telah diusir.


Bahkan sejujurnya Mean tidak ingin bertatap muka lagi dengan Tuan Tanah atau dengan istri-istri lain dari Tuan Tanah yang menurutnya mereka semua berhati belatung.


Itulah kenapa dia menolak mentah-mentah ide kerjasama Jean untuk membalas dendam, dia sudah nyaman dengan hidupnya saat ini.


Namun sebagai rasa terima kasih karena dari adik Jeanlah, Mean bisa mendapat kebebasan ini. Mean memberi saran pada Jean,


"Jangan meyakinkanku, aku tidak akan merubah pikiranku. Aku punya saran, jika kau ingin balas dendam pada Rosela, lebih baik kau datang ke kediaman Istri keenam Tuan Tanah, Margaret, meski dia orang yang sulit, tapi dia orang yang cocok untuk kau ajak kerjasama."


Mengapa Mean menyarankan agar Jean ke tempat Margaret adalah karena Margaret merupakan orang yang sangat pencemburu, dia begitu iri dan sangat membenci ketika Mean pertama kali dinikahi oleh Tuan Tanah.


Karena Tuan Tanah menikahinya, hal itu membuat Margaret sangat marah besar dan selalu menargetkan hal apapun padanya.


Saat itu juga masih ada istri ketujuh dari Tuan Tanah, namanya Reha. Reha dan Margaret dari sebelum Mean datang juga sudah berkonflik.


Ketika ada Mean, Margaret lebih agresif, mungkin karena dia stres, satu musuhnya belum usai dan kemudian ada lagi yang baru.


Beberapa waktu kemudain, Margaret dan Reha bertengkar keras di halaman, mereka saling hajar dan puncaknya Margaret menghantam Reha dengan pot keramik di kepalanya.


Para pelayan bersembunyi ketakutan, tidak ada yang berani mengehentikan. Takut jika mereka akan kena hajar dan Omelan pedas dari dua orang kucing garong tersebut.

__ADS_1


Saat itu Mean hanya menonton sambil menyusut di lantai dua.


Setalah kejadian itu, Reha mengalami pendarahan di kepalanya.


Tuan Tanah pulang karena mendapat laporan dari bawahan, jika dua nyonya di rumah sedang bertengkar keras.


Sayang ketika dia sampai Reha sudah tiada, Tuan Tanah marah besar karena kehilangan Reha.


Reha adalah wanita favorit keduanya setelah Mean saat ini.


Karena hal itu Tuan Tanah mengusir Margaret dari rumah utama, dia ditempatkan di kediaman paling jauh dari rumah utama yang ada di wilayah paling barat dari tanah properti Tuan Tanah.


Tanah daerah barat adalah lahan yang agak gersang dan tandus, di sana panen padi paling minim hasilnya dari tanah yang lain.


Margaret disuruh untuk mengurus daerah itu. Jika daerah itu bisa membaik tuan tanah akan mempertimbangkan untuk memaafkan tindakannya membunuh Reha.


Mendengar saran Mean, Jean saat ini berjalan menuju tanah barat yang agak jauh dari lokasinya saat ini. Butuh empat jam lamanya untuk sampai ke sana.


Jean sampai di gerbang kediaman Istri keenam Tuan Tanah yaitu Margaret.


Dari depan, penjaga pintu gerbang rumah hanya ada satu orang dan orang itupun saat ini sedang tidur dengan posisi duduk dan kepala miring ke samping.


Jean memanfaatkan hal ini, dia pelan-pelan melangkah mendekati pintu gerbang, dua tangannya mendorong dan pintu itu berhasil terbuka di satu sisinya.


Jean melewati pintu dengan langkah mengendap-endap berusaha berjalan seringan mungkin, agar tidak membangunkan penjaga.


Sampai di halaman tandus penuh dengan semak-semak yang tumbuh kacau dan rumput liar di setiap sudutnya menunjukkan rumah itu tidak terlalu diperhatikan oleh si pemilik.


Jean berjalan mengelilingi halaman, tujuannya adalah pintu belakang.


Di halaman yang tampak tak terlalu terawat terdapat taman kecil dengan bunga-bunga yang tumbuh tidak karuan melebihi garis tanam.

__ADS_1


Di tengah taman ada pelataran bulat berisi paviliun kecil, terdalat meja dan kursi kayu di sana.


Tempat itu tidak kosong, melainkan ada tiga sosok wanita di sana.


Satu wanita bertubuh jumbo mungkin seukuran dua kali lipat wanita biasa dan dua wanita lainnya perbakaian pelayan menunjukkan jika mereka adalah pelayan dari wanita gendut yang duduk di kursi kayu.


Wanita gendut itu adalah Margaret, Dia tengah menikmati memakan kue dan roti manis yang kini menumpuk penuh di atas meja.


"Huh, aku yakin Rosela tidak akan bertahan lama di rumah utama jika melawan Paula, wanita itu lebih licik dari rubah. Jika saja aku bisa kembali, dua orang itu akan binasa di tanganku." Margaret menusuk kue menggunakan garpu dengan wajah benci.


Dia benci kenapa dirinya terpuruk di tempat menyedihkan ini dan tubuhnya tidak berhenti membesar bagai babi.


Ketika dia menggigit biskuit, wajah Margaret menghitam, dia menamparkan biskuit di tangannya ke wajah salah satu pelayan di belakanganya.


"Kenapa biskuit ini gosong, beraninya kau memberiku makanan gosong. Masak lagi biskuit ini untukku, dan ingat jangan sampai gosong lagi atau wajahmu yang akan aku buat gosong." Margaret mengancam.


"Iya Nyonya Margaret, maafkan saya, baik saya akan membuat biskuit itu lagi." Pelayan itu berlari ke dapur sambil memegangi pipinya yang merah.


Sebenarnya biskuit itu tidak gosong, hanya saja warnanya sedikit lebih gelap dari biasanya.


"Huh bodoh, lanjutkan sampai mana tadi, oh ya dia lebih sering ke kamar siapa saat ini. Paula atau Rosela?" Margaret kembali memakan kue sambil melanjutkan topik gosipnya yang tidak lain adalah hasil laporan pelayan satunya yang dia suruh mencari info dan kabar Tuan Tanah dan penghuni rumah utama lainnya.


Jean yang mengintip dari semak-semak menatap wanita gendut yang kejam itu dengan wajah buruk.


"Dia itu wanita atau babi, tubuhnya sebesar itu. Hiiih, main tampar saja, sangat kasar sekali." Jean berhumam tidak suka dengan tindakan kasar Margaret.


Namun mendengar Margaret membicarakan Paula dan Rosela, wajah Jean bersinar.


Memang benar saran dari Mean, orang seperti Margaretlah yang cocok untuk dia ajak bekerja sama membalas dendam pada Rosela.


Namun Jean masih tidak percaya bagaimana bisa sosok Margaret segendut itu?

__ADS_1


__ADS_2