
Pepohonan lebat menutup akses cahaya matahari dari langit, membuat bagian bawah hutan tampak lebih gelap, salahkan saja pohon-pohon raksasa yang serakah akan cahaya mentari.
Jean sudah setengah hari berjalan mengikuti langkah Valir.
Jean sempat bertemu dengan kawanan lintah seukuran kucing dewasa, wujud mereka sangat menyeramkan, dengan kulit hitam botak tanpa bulu dan mulut bulat penuh dengan gigi tajam melingkari mulut mereka.
Yang lebih menyeramkan kawanan lintah-lintah itu menggeliat menuju ke arah Jean.
Rambut kepala Jean menjadi tegang, dia bingung apa yang harus dilakukan, kawanan lintah itu sangat banyak tidak mungkin dia bisa mengalahkan mereka dengan belati kecil di tangannya.
Namun untungnya Valir memberi Jean botol kecil berisi cairan hijau bening, dia menyuruh Jean mengusapkan cairan tersebut ke seluruh tubuh, guna menutupi bau badan dan menyamarkannya dengan bau tanaman yang sangat menyengat dan dibenci serangga.
Jadi cairan itu juga berfungsi untuk pengusir serangga, jika di dunia Marrissa itu seperti obat nyamuk.
Ketika istirahat sebentar untuk makan, di sela-sela makan buah bekal dari Vedis Jean bertanya,
"Sampai di hutan mana kita?"
Jean tidak bisa membedakan hutan atau mengenali hutan tempatnya berada karena dia baru pertama kali melewatinya.
"Kita masih di hutan X, makanlah dengan cepat dan kita akan berjalan lagi." Valir menjawab dilanjut memasukkan buah mirip anggur namun transparan bagai tetesan air.
Cara makan Valir begitu rapi dan nampak elegan sangat sesuai dengan wajahnya yang rupawan.
Apalagi mata biru Valir mengingatkan Jean akan mata Juno yang juga berwarna biru. Bedanya milik Valir berwarna biru gelap sedangkan Juno berwarna biru terang.
Jean tidak menyadari jika warna pupil biru hanya dimiliki oleh ras Elf lantaran di dunia asal Marrissa tidak jarang orang bermata biru baik warna asli atau lensa buatan.
Seusai makan mereka berjalan lagi melanjutkan perjalanan, di hutan X Jean banyak melihat tanaman atau buah-buahan aneh.
Jean tidak berani mengambil karena dia tidak tahu apakah tanaman itu beracun atau memiliki bahaya tertentu, ditambah dia juga belum bisa membuat jalur terobosan untuk penukaran benda-benda dari hutan X di kota manusia.
Jadi saat ini Jean fokus untuk berjalan secepat mungkin agar bisa segera keluar dari wilayah hutan X.
Tiba-tiba Valir berhenti, Jean belum menyadari berhentinya orang di depan sehingga dia menabrak punggung lebar pria di depannya.
"Ouh, maaf, maaf." Jean menyentuh keningnya.
"Shhht." Valir menoleh memberi isyarat diam.
Jean penasaran, apa yang terjadi, tapi melihat isyarat Valir dia sadar jika ada yang berbahaya.
__ADS_1
Jean mendengar langkah kaki berat yang semakin dekat ke arah Meraka.
Valir kemudian meraih pinggang Jean,
"Tutup matamu." Setelah mengatakan itu satu tangan Valir yang lain mengarah ke atas dari dalam lengan bajunya keluar sulur hijau yang merambat ke atas dan menarik tubuh Valir beserta Jean ke atas.
Jean yang syok dengan pelukan Valir tidak sempat menutup matanya, yang terjadi selanjutnya adalah sensasi ringan kehilangan pijakan, pohon-pohon di hadapannya seolah bergerak ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Hal itu mirip seperti perasan ketika Marrissa menaiki wahana turbo drop di taman Hiburan yang mana penumpang naik ke atas dengan cepat dan bergerak jatuh ke bawah dengan kecepatan lebih tinggi.
Namun kali ini Jean hanya merasakan perasaan naik saja, tapi dengan kecepatan yang berkali-kali lipat dari wahana yang pernah dia naiki.
Karena takut, Jean menolehkan kepalanya memilih memandang wajah Valir yang kini leher dan dagu bagian bawahnya terlihat jelas karena dia mendongak fokus dengan sulur dan pepohoan di atas.
Karena kedekatan jarak dari Jean dan Valir, Jean bisa mencium aroma seperti bau pohon Pinus yang khas dari tubuh Valir.
Pemandangan itu membuat Jean melongo, bahkan sempat menelan ludah akibat melihat jakun Valir yang tampak jelas meningkatkan nilai maskulinitasnya.
Tanpa disadari kaki Jean kembali merasakan pijakan.
Baru setelah Valir menatap Jean, wanita itu mendapat kembali kesadarannya, dia segera menjauh dari pelukan Valir, namun kali Jean tidak menemukan pijakan lain di langkah berikutnya.
Tubuh Jean akan jatuh, tapi Valir dengan sigap menangkap tangan Jean dan menariknya mendekat, sampai posisi Jean stabil.
Mendengar itu Jean yang ingin melihat ke bawah mengurungkan niatnya.
Jean mencengkeram lebih kuat pada lengan Valir.
Menyadari ketakutan Jean akan ketinggian, Valir sekali lagi masa ragu apakah Jean benar-benar putri Vin.
"Jangan panik, tenanglah, sampai binatang buas di bawah pergi kita baru bisa turun." Valir menenangkan Jean masih dengan nada bisikan.
Jika didengarkan memang terdengar bunyi langkah kaki berat dari bawah, tapi karena ketinggian Jean dan Valir berada sehingga bunyi langkah berat itu tidak sekeras sebelumnya.
Mendengar itu Jean tidak berani membuat gerakan berisik sekecil apapun, dia diam kaku bagai patung.
Ada rasa penasaran seperti apa bintang buas berbahaya di dalam hutan X, tapi Jean tidak berani melihat ke bawah.
Valir terus melihat ke bawah mengawasi gerak-gerik dari binatang buas di bawah sana.
Setelah suara langkah berat itu semakin kecil, dan kemudian hilang, Valir mendongak dan mengatakan,
__ADS_1
"Dia sudah pergi, kita bisa turun."
Jean merasa lega tapi menegang kembali mendengar kata turun.
Valir mengulangi proses menurunkan Jean seperti pertama kali, Jean menutup mata dan melangkah mengikuti arahan dari tangan Valir dan tidak berapa lama meraka sudah menapak kembali di tanah.
Sebenarnya sebagai wanita karir yang mandiri di dunia asal Marrissa sangat malu dan merasa tidak berdaya karena tidak bisa apa-apa di dunia ini, dia hanya bisa mengandalkan pertolongan dari Valir.
"Ini sangat memalukan, aku tidak bisa seperti ini teru, aku harus berani." Marrissa membatin untuk memperkuat mentalnya.
Sekarang dia ada di dunia yang penuh dengan bahaya, jadi dia juga perlu menyesuaikan diri dan lebih berani pada hal-hal yang dia takuti di dunia asal salah satunya adalah takut pada ketinggian.
Proses naik turun pohon sering diulangi karena banyak binatang buas yang berbahaya.
Namun Jean pelan-pelan mulai berani membuka sedikit celah di matanya menyaksikan proses naik dan turun dari pohon dengan ketinggian yang tak bisa dibayangkan.
Meski tangannya masih tidak bisa dia kendalikan untuk tidak mengetat mencengkeram lengan Valir.
Penghindaran dengan naik turun pohon tidak selalu berjalan dengan mulus karena mereka juga sempat bertemu dengan binatang buas yang hidup di pepohonan.
Saat itu Jean dan Valir bertemu dengan ular raksasa berwarna hijau mirip dedaunan pohon, sehingga Valir tidak menyadarinya dari awal.
Untung saja Valir bergerak cepat dengan sulur yang dia kendalikan mampu menjatuhkan ular itu dari batang pohon.
"Bum...." Bunyi badan ular yang jatuh.
Namun beberapa saat kemudian terdengar bunyi teriakan keras dan hantaman-hantaman yang sangat menakutkan.
Jean memberanikan diri melihat ke bawah, dia menguatkan dirinya jika dia aman di atas pohon.
Jadi dengan lengan berpengabg erat pada lengan Valir, Jean akhirnya melihat ke bawah.
Karena ketinggian pohon, ular hijau raksasa di bawah terlihat lebih kecil.
Tampak saat ini ular itu sedang melilit badan hewan besar mirip dinosaurus tyrex namun dinosaurus itu memiliki banyak duri di punggungnya.
Binatang buas itu seperti perpaduan tyrex dengan landak.
Karena duri-duri tajam di tubuh tyrex, ular hijau raksasa tadi bukan lawannya, dia mati terbunuh oleh gigitan tajam dari Tyrex landak juga karena tubuh ular tertusuk-tusuk oleh duri tajam.
Jean merasa ngeri dan membantin,
__ADS_1
"Dunia ini benar-benar berbahaya."