Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Pakai Otak Saja


__ADS_3

Ayah dan ibu di mata Jean asli mereka sangat rukun dan saling mencintai, Jean juga tidak pernah tahu bagaimana kisah pertemuan antara ayah dan ibunya dulu, yang ada hanya kata,


"Ayah sangat mencintai ibumu," dan juga "ibu sangat mencintai ayahmu." Hanya itu saja.


Jadi ketika Valir menceritakan kisah masa lalu ayahnya sebagai Elf, Jean merasa tidak percaya.


Orang tuanya memiliki kisah yang begitu berliku, butuh banyak pengorbanan untuk memperjuangkan cinta mereka.


"Kau tidak mengada-ada kan? Ini sulit dipercaya." Jean bertanya lagi untuk memastikan.


Namun melihat raut wajah Valir yang serius sepertinya dia tidak berbohong.


"Untuk apa aku berbohong padamu? Kau adalah keturunan elf dan manusia, bisa dibilang kau adalah darah campuran, kau adalah Half Elf Jean." Valir menjelaskan identitas Jean.


"Darah campuran, half El?" Jean bingung.


"Buktinya kau bisa memancarkan fluktuasi energi sihir tanpa kau sadari Jean, lihatlah baru ini, batu ini menyala menandakan ada energi sihir di sekitarmu." Valir mendekatkan Kristal energi ke lengan Jean dan memang tampak menyala redup.


Tidak mungkin energi sihir itu berasal dari Valir karena Valir bisa mengendalikan fluktuasi energi sihirnya, berbeda dengan Jean yang masih pemula dan belum paham cara mengontrol keluar masuknya energi di tubuhnya.


Melihat batu kristal di tangan Valir memang menyala redup, Jean mau tidak mau harus percaya jika dia adalah half Elf.


Sangat aneh mengetahui dirinya bukanlah manusia murni. Jujur Marrissa merasa dirinya telah berubah menjadi mahluk gaib sejenis siluman.


"Tunggu dulu, jika aku bisa mengeluarkan energi sihir bukankah hal menakjubkan seperi sihir tanaman bisa kulakukan." Jean membatin menyadari sesuatu.


Matanya membesar dan dia bertanya dengan antusias.


"Apa aku juga bisa menguasai sihir tanaman seperti yang kau dan vedis lakukan?" Mata Jean membesar seperi anak anjing yang menunggu majikan melempar tongkat.


Bagi Marrissa, sihir adalah hal yang tidak pernah dia lihat di dunia asalnya.


Meski ini bukan pertama kali Marrissa melihat sihir di dunia Jean, tapi beda lagi jika dia bisa menggunakan sihir.


"Ya kau bisa, tapi sihirmu tidak bisa sekuat milikku." Valir menjawab sambil memperagakan penggunaan sihir tanaman sederhana.


Dia menumbuhkan bibit dari tangannya menjadi tanaman setinggi tiga puluh centimeter.

__ADS_1


"Bisakah kau mengajariku?" Jean berharap Valir mau mengajarinya. Karena jika dia bisa berayun dari satu poho. Ke pohon lainnya menggunakan sulur tanaman maka dia bisa lebih mandiri, dia tidak perlu merepotkan Valir lagi di masa depan.


"Ya tentu, tapi sebelum itu ingatlah Jean, mengenai identitas mu, jangan sampai ada orang lain yang tau, cukup dirimu saja yang tahu." Valir memberi nasehat agar Jean tidak menjadi target banyak orang.


Jean mengangguk, dia paham akan hal itu adalah untuk kebaikannya sendiri.


"Mengenai adikmu, aku telah mencari berita, dia memamg telah dibawa ke tanah kota ras Vampire.


Ku rasa adikmu masih hidup karena tidak mungkin ras Vampire tidak mengetahui jika adikmu adalah half elf.


Para vampire itu tidak mungkin menyia-nyiakan darah half elf untuk sekali teguk, mereka pasti membiarkan adikmu hidup lebih selama mungkin sebagai suplai darah.


Jika kau memang mau menyelamatkan adikmu aku bisa membantumu, akan ku antar ke kau kota ras Vampire." Valir menawarkan bantuan.


Jean diam sejenak, dia berpikir banyak hal.


"Yah, terima kasih Valir, kau mau membantuku. Aku harap Juno memang masih hidup dan bisa bertahan. Jadi kapan kita bisa ke tempat ras Vampire?" Jean sedikit lega jika adiknya kemungkinan besar masih hidup.


"Terserah kau saja Jean, tapi kusarankan agar kau membawa bekal dan uang lebih banyak." Valir bisa mengantar Jean kapan saja karena urusannya di kota manusia sudah selesai.


"Kau bilang hidup Juno pasti dijaga dan tidak dibunuh oleh ras Vampire. Menurutku sebaiknya aku harus menyelesaikan masalahku dulu di kota manusia, jadi tunggu dulu. Kita tunda dulu untuk mencari Juno di kota ras Vampire." Jean memilih menunda.


Setelah perbincangan itu, Jean dan Valir membuat janji temu setiap sebulan sekali di hutan pinggiran.


Lagi pula mereka juga butuh rencana dan persiapan untuk menyelamatkan Juno.


Karena musuh yang harus dilawan adalah ras Vampire yang terkenal kejam dan tidak mudah dihadapi.


Kembali ke kota manusia, Jean tidak kembali dengan tangan kosong, tentu saja dia memetik tanaman-tanaman yang bernilai jual.


Itu juga dia lakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan, jika dia pergi keluar tembok dan kembali dengan tangan kosong.


Dia keluar tembok sendirian saja sudah mencurigakan apalagi kembalinya dengan tangan kosong.


Dunia ini berbahaya dan tidak bisa diremehkan.


Yang membuat Jean senang hari ini adalah berita tentang adiknya yang kemungkinan hidup lebih tinggi dan dia yang ternyata bisa menggunakan sihir.

__ADS_1


Sebelum kembali Valir sempat mengajarkan Jean sihir tanaman sederhana, yaitu menumbuhkan tanaman dari biji.


Ada mantra rumit yang harus dibaca.


Valir menuliskannya di kulit pohon yang teksturnya mirip kertas tapi juga mirip kulit binatang.


Pertama kali mencoba sihir sambil membaca mantra, tidak ada perubahan sama sekali pada biji tanaman di tangan Jean.


Tiga kali percobaan masih saja sama, tapi Jean tidak putus asa karena Valir mengatakan memang sulit untuk menguasainya.


Bukan hanya membaca mantra tapi di ajuga perlu mengalirkan energi sihir ke tangan dan masuk ke biji tanaman.


Sedangkan Jean saja tidak bisa merasakan energi sihir di tubuhnya.


Dia masih perlu belajar lebih lama.


Hanya saja Marrissa merasa kecewa kenapa sulit sekali belajar sihir?


Kenapa tidak seperi di dalam game, kita hanya perlu mengucap mantra dan segala sihir keluar dengan hebatnya.


Jean sadar dunia nyata tak semudah Game, tapi jika bisa semudah Game hidupnya pasti lebih mudah.


Dalam hati dia merasa iri dengan novel-novel yang pernah dia baca semasa kuliah.


Setiap tokoh utama seringkali memiliki cheat, seperti sistem, kemampuan spesial seperti ruang ataupun hal hal hebat lainnya.


Sedangkan dirinya,


"Huh, " dia hanya bisa tersenyum kecut tidak ada hal sepeti itu.


Meski dia bisa belajar sihir tapi sulit sekali perkembangannya begitu nihil.


"Ya sudahlah, gunakan saja otak dan balas dendam terlebih dahulu." Batin Jean tidak peduli lagi.


Dia kembali ke kota manusia dengan lancar, meski penjaga gerbang menatapnya dengan mata aneh.


Mungkin dia heran, kenapa wanita seperti Jean yang keluar tembok seorang diri masih bisa kembali hidup-hidup.

__ADS_1


Di kejauhan, di balik pepohonan terlihat Valir tengah menatap Jean yang sudah menghilang memasuki gerbang tembok kota manusia.


"Jean..." Valir berbisik menyebut nama Jean dengan mata rumit.


__ADS_2