
Di hadapan cermin setinggi tubuh, sosok wanita berusia 25 tahunan dengan wajah penuh bedak tebal asik mengaca, memeriksa apa dirinya sudah cantik.
Rambut coklat gelapnya disanggul ke belakang dengan perhiasan rambut cantik.
Dia mengenakan pakaian kuning cerah dengan bagian dada menonjolkan belahan dari buah kembar dan bawahan rok yang tampak mengembang besar yang panjangnya sampai menyentuh ubin lantai, khas nuansa abad pertengahan dari dunia asal Marrissa.
"Marry bagaimana penampilanku, sudah bagus bukan?" Dia bertanya pada pelayan paruh baya di belakangnya.
"Penampilan anda sangat sempurna Nyonya Keempat, Tuan Tanah pasti tidak bisa memalingkan wajah darimu." Marry memuji dan menyanjung majikannya.
Roselia itulah nama istri keempat Tuan Tanah, dia tersenyum senang mendengar pujian Marry pelayan yang selama ini dia beri tugas mengurusi Juno.
Meski pujian Marry terdengar menyenangkan, Rosalia juga sadar jika Tuan Tanah sudah dua tahun mengabaikannya, dia tidak lagi datang ke tempatnya di malam hari, bahkan menyuruhnya pindah dari rumah utama seperti istri lama Tuan Tanah lainnya.
Itu semua karena Tuan Tanah saat ini lebih peduli dengan istri terbarunya yang kesembilan yaitu Paula.
Dia sangat benci dengan Paula, hanya karena lebih muda dan memiliki buah kembar lebih besar darinya sehingga bisa mendominasi perhatian dari Tuan Tanah.
Untung saja baru-baru ini ada kabar dari Tuan Kota yang memberitahukan jika tamu istimewa dari ras lain sedang mencari budak.
Permintaannya semakin rupawan budak semakin baik.
Seluruh Tuan Tanah di kota itu diperintah mencari budak-budak yang rupawan, jika budak yang mereka ajukan terpilih maka Tuan Kota akan menjanjikan manfaat tertentu.
Itulah sebab kenapa Roselia yang saat itu sedang menagih hutang pada Jean dipanggil oleh Tuan Tanah beserta seluruh Nyonya yang lain.
Barto, pria paruh baya dengan perut buncit alias tuan tanah dan sekaligus suami Roselia, Dia menjanjikan akan mengijinkan istri pertama sampai ketujuh kembali tinggal di rumah utama, sedangkan istri kedelapan sampai yang kesembilan akan mendapat keuntungan lain yang menggiurkan, hanya jika mereka bisa mendapat budak dengan wajah rupawan dan budak itu berhasil dipilih oleh tamu istimewa dari ras lain.
Ini adalah kesempatan besar untuk menggaet kembali perhatian suaminya dari sisi Paula.
Wajah Jean dan Juno terpintas di otak Roselia, kakak beradik itu memiliki wajah rupawan di atas rata-rata.
Pertama kali melihat wajah mereka Roselia merasa iri dan ingin menyingkirkan keindahan yang menyainginya. Dia takut jika Barto akan terpikat pada Roselia.
Itulah kenapa dia membuat uang sewa yang lebih tinggi pada Kakak beradik tersebut, juga memberikan pinjaman bunga tinggi ketika Jean mengajukan pinjaman darinya.
__ADS_1
Roselia berhasil membuat Jean pontang-panting bekerja sampai kondisi mereka kurus dekil menyedihkan.
Keindahan dari wajah rupawan Jean dan Juno menjadi turun beberapa tingkat karena kesusahan hidup yang disengaja oleh Roselia.
Sayangnya Roselia menyesali perbuatannya, karena kakak beradik itu menjadi kurus dan dia juga mendengar berita kepergian Jean yang menjadi pemetik.
"Bodoh, gadis bodoh itu hanya melempar nyawanya ke hutan. Sial kandidat budakku hilang satu!" Roselia mengumpat emosi.
Untungnya masih ada Juno. Meski dia harus memperbaiki penampilan bocah itu.
Tidak masalah, Roselia yakin dengan wajah rupawan dan mata indah Juno, tamu istimewa dari ras lain itu akan memilihnya.
"Apa bocah itu sudah siap? cepat bawa dia ke mari Marry." Roselia memberi perintah selagi tangannya menambahkan bedak lagi di bagian wajah yang menurutnya kurang rata.
Marry mengangguk, "Baik Nyonya."
Dia segera undur diri melaksanakan perintah majikan.
Setelah sepuluh menit berlalu, Marry datang menggandeng lengan Juno.
"Nyonya dia sudah siap." Marry mundur setelah mengatakan itu.
Penampilan Juno saat ini lebih mirip anak bangsawan daripada calon budak.
Hal itu dilakukan untuk memenuhi permintaan tamu istimewa yang mengatakan semakin rupawan semakin baik, jadi Juno didandani semaksimal mungkin agar terlihat lebih sempurna.
"Hmmm, kau sangat tampan bocah tengik, yah meski agak kurus." Roselia menepuk-nepuk pipi kanan Juno.
Juno membuang muka menghindari tepukan tangan Roselia di pipinya.
Melihat perilaku Juno, Roselia memegang rahang Juno dan mengarahkan wajahnya ke arahnya.
"Kau bilang ingin tau berita kakakmu, jangan memalingkan wajahmu seperti tadi jika tamu-tamu istimewa nanti melihatmu, mengerti!" Roselia berkata dengan nada penekanan.
Juno menatap benci pada wanita ular di depannya, tapi dia hanya bisa mengangguk lemah.
__ADS_1
"Apa keretanya sudah siap? Ayo kita berangkat ke rumah utama."
Mereka pun pergi ke rumah utama.
Di ruang utama para budak bermuka rupawan dari nyonya-nyonya lainnya dikumpulkan di satu kereta dan diberangkatkan ke kediaman Tuan Kota.
Sedangkan Roselia bergabung dengan istri-istri Barto yang lain dalam kereta yang sama, mereka berangkat ke kediaman Tuan Kota juga.
Total ada tiga kereta kuda dalam rombongan itu.
Kereta terdepan ditempati Barto dan Paula istri kesembilan nya.
Tampak Paula di pelukan Barto sedang berwajah sedih.
"Suami, berjanjilah jika budakku tidak terpilih kau jangan membuangku, aku akan sangat sedih jika kau melakukan itu padaku." Mata Paula tampak berlinang air mata yang akan jatuh.
Barto meremas buah kembar milik Paula dan berucap,
"Jangan khawatir, kau akan tetap jadi favoritku sayang, Aku mencintaimu."
Jika Marrissa melihat dua sejoli itu dia pasti akan berkomentar buruk,
"Satu ****** menjijikan bin munafik dengan satu pria tua hidung belang, oh drama yang tidak layak ditonton."
Di kereta lain yaitu kereta terakhir. Juno duduk di bagian tengah dari 8 budak lain.
Juno melihat budak-budak di sekelilingnya, ada yang seumuran kakaknya, ada juga bocah seumurannya bahkan ada yang lebih muda darinya mungkin masih bocah seumur 7 tahun.
Namun, kebanyakan adalah budak wanita daripada budak laki-laki sepertinya.
Hanya ada 3 laki-laki dari 9 budak di kereta itu.
Kesemua budak memakai pakaian ala bangsawan, mereka tampil rapi. Ada yang tampak sedih seperti Juno juga ada yang terlihat senang karena akan dijadikan budak kalangan atas.
Juno bingung, apa baiknya menjadi budak kalangan atas, bahkan yang dimaksud kalangan atas adalah ras lain, bukankah mereka tetap saja budak.
__ADS_1
Mata Juno beralih melihat kedua tangannya sendiri yang saat ini tampak saling menggenggam.
Juno membatin, "Kak Jean, semoga kau baik-baik saja. Kembalilah dengan selamat."