
Udara dipenuhi oleh bau tanaman obat yang bercampur dengan harumnya bunga-bunga cantik di atas meja.
Sayangnya bau-bau itu membuat Jean mual karena dia harus menahan rasa pahit di lidahnya menghilang secara perlahan.
Di dunia asal, Marrissa biasa minum obat pahit yang diakhiri makanan manis atau setidaknya dengan segelas air putih, tapi kali ini dia dipaksa menahan rasa pahit obat bahkan tanpa minum air putih.
Mata Jean berkaca-kaca, dia membatin betapa kejamnya Elf cantik di hadapannya.
Padahal baru kali ini dia melihat ras lain selain manusia, dia mengakui jika elf adalah mahluk yang cantik dan unik, tapi kenapa bisa sesinis itu padanya.
Jean heran apa Elf wanita itu punya masalah dengan manusia?
Elf wanita meraih busur di samping lemari, sepertinya dia akan pergi?
Jean hanya memperhatikan gerak-geriknya tanpa berani bertanya.
"Aku akan keluar, kau jangan pergi ke manapun apalagi berkeliaran di wilayah rasku." Elf wanita memeperingatkamn Jean masih dengan nada sinis.
"Ya, aku mengerti." Jean membalas dengan senyum ramah, tapi dalam hati dia sudah memaki-maki, 'Apa matamu tidak lihat aku sedang terluka? dasar elf pemarah!'
Setelah Elf wanita itu pergi, Jean bernafas lega. Sangat tidak menyenangkan satu ruangan dengan orang berbibir pedas seperti itu.
Jean kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, dia masih lemah dan perlu istirahat.
Ketika memandang langit-langit ruangan, Jean penasaran siapa yang menyelamatkannya, Elf wanita tadi berkata jika dia bukan penyelamatnya. Lalu siapa?
Dua jam kemudian pintu kembali dibuka, Elf wanita masuk, tapi dia tidak sendirian, ada Elf lain di belakanganya dan dia sepertinya Elf pria dinilai dari jakun yang sangat jelas menonjol dan dada bidang ratanya tidak seperti Elf wanita yang berdada besar.
Wajah Elf pria itu sangat tampan hidungnya mancung, memiliki alis tebal dan garis mata yang tegas. Rambutnya juga berwarna perak berkilau dan tergerai panjang.
Jean menelan ludah, baru kali ini dia melihat pria setampan itu. Menurutnya Elf pria di depannya bahkan melebihi aktor Hollywood yang terkenal sekalipun.
__ADS_1
Pupil biru gelap Elf pria itu terarah pada Jean, sementara Jean sendiri juga sedang menatapnya dengan pandangan takjub.
Elf pria itu mendekat dan berhenti di depan Jean,
"Hei, aku Valir. Aku yang membawamu ke mari saat kau pingsan."
Tak disangka Jean, Elf pria berwajah tegas itu berbicara dengan ramah padanya.
"Oh, hai aku Jean, terima kasih banyak sudah menyelamatkanku. Aku berhutang budi padamu, tapi aku tidak tahu bagaimana membayarnya. Aku hanya bisa berterima kasih." Jean berterima kasih dengan tulus.
Jika dia tidak diselamatkan Valir, mungkin saat ini dia sudah menjadi daging cincang di perut binatang buas.
"Aku tidak butuh balas budi, sekarang berbaringlah dulu aku akan mengobatimu." Valir menunjuk ranjang.
"Valir apa yang akan kau lakukan? Memberinya pengobatan dengan sihir penyembuh? Hey ingat dia itu manusia, dia tidak layak untuk sihir penyembuh kita." Elf wanita di belakang memprotes tindakan Valir.
"Vedis kau bilang tidak mau dia tinggal lebih lama di sini, jadi aku mengobatinya dengan sihir penyembuh. Itu mempercepat kesembuhannya, dan dia bisa lebih cepat pergi bukan?" Valir menjelaskan tindakannya.
Jean yang mendengarkan akhirnya tahu nama Elf wanita, Vedis seperti kata pedis, memang cocok dengan mulut pedasnya.
Namun Jean juga penasaran, kenapa sepertinya dua Elf rupawan itu seolah ingin dia segera pergi.
Mungkin rumor jika Elf adalah ras yang mengasingkan diri dan tidak menerima ras manapun untuk mengunjungi tempat mereka adalah benar.
Jean memutar bola matanya, dia menjadi muak dengan dua Elf di depannya. Jika mereka menolak kehadirannya di tempat ini, kenapa dari awal dia diselamatkan? Kenapa tidak dibiarkan saja. Oh, tapi itu hal yang buruk bagi Jean jika benar-benar terjadi.
Meski begitu Jean masih bekerjasama untuk berbaring agar bisa diobati yang katanya menggunakan sihir penyembuh.
Jujur Jean juga penasaran seperti apa sihir penyembuh? Apakah bisa langsung menyembuhkan luka secara sempurna?
Wajar Jean penasaran karena di dunia asal Marrissa tidak ada yang namanya sihir, yang ada hanyalah trik para pesulap untuk membingungkan mata penonton.
__ADS_1
Valir mengarahkan satu telapak tangannya di atas bahu Jean yang terluka, namun tangannya tidak sampai menyentuh melainkan berjarak beberapa inci dari pundak Jean. Bibirnya tampak mengucap mantra dengan berbisik, Jean tidak paham apa yang diucapkan Valir.
Mata Jean fokus pada tangan Valir, dari situ dia melihat cahaya hijau lembut tranparan keluar dari telapak tangan Valir.
Jean membatin 'hebat, sihir benar-benar ada di dunia ini!'
Cahaya itu mengarah ke pundak Jean, yang di rasakan Jean adalah rasa hangat dari pundaknya, rasa hangat itu perlahan menyebar ke seluruh tubuh.
Kehangatan itu membawa perasaan nyaman untuk Jean, bahkan pundaknya yang terluka seperti tengah dipijat.
'Inikah rasanya sihir penyembuh, oh nyaman sekali' Jean membatin sambil menutup mata merasa nyaman.
Sayangnya rasa nyaman itu hanya berlangsung sebentar, Jean membuka matanya kembali, tampak Valir sudah menurunkan tangannya.
"Sudah selesai, kau bisa membuka balutan di pundakmu." Ucapan Valir menegaskan pada Jean jika layanan sihir penyembuhnya sudah selesai.
Jean melihat Vedis tengah bersandar di dinding kayu menatapnya dengan muka yang masih tidak mengenakkan.
Dia tidak peduli, Jean kemudian membuka simpul kain yang membalut lukanya, dia membuka balutan itu dengan cepat.
Rasanya sangat hebat, sebelum mendapat sihir penyembuhan dari Valir, untuk mengangkat tangan kanannya saja terasa sakit, tapi kini tidak sakit sama sekali.
Jean penasaran apakah lukanya benar-benar sembuh. Setelah balutan itu lepas, Jean menyingkirkan lapisan tamanam obat yang awalnya menutupi luka.
Tampak kulit pundak Jean yang mulus, bahkan tidak ada bekas luka sama sekali.
"Wow, lukaku sudah sembuh." Jean takjub melihat keajaiban sihir dengan mata kepalanya sendiri.
"Mungkin lukamu terlihat sudah sembuh, tapi tubuhmu masih syok. Jadi kau perlu istirahat selama satu hari lagi, baru kemudian aku akan mengantarmu kembali." Valir menambahi.
Jean mengangguk setuju, lagi pula masih sisa 3 hari untuk melunasi hutangnya pada tuan tanah.
__ADS_1
Sayang sekali Jean tidak tahu nasip buruk telah menimpa adiknya.