
Selama tiga hari berlanjut, Jean masih sibuk mengatur pola makan dan olahraga Margaret.
Mungkin karena luka Margaret tidak terlalu dalam ditambah diobati dengan obat yang manjur karena itu buatan tangan elf, jadi luka Margaret sudah mulai sembuh menampakkan keropeng cokelat kehitaman kering.
Setelah Margaret melakukan olahraga kardio dan mengeluarkan banyak keringat, keropeng di dahinya jatuh untuk di bagian pipi masih ada, tapi juga tampak akan jatuh.
"Nyonya luka anda sembuh, keropengnya jatuh." Laura memberitahu majikannya dengan menunjuk keropeng di lantai.
"Benarkah, aku sembuh? Ayo-ayo ambilkan aku cermin." Margaret sangat bersemangat dia menyuruh Laura mengambil cermin, tapi dia juga ikut di belakangnya menuju kamar.
Dia melupakan rasa lelah dan nyeri kaki setelah olahraga barusan.
Jean tersenyum dan berjalan santai mengikuti di belakang.
Dia kini berstatus sebagai pelayan Margaret, dia sendirilah yang meminta hal tersebut.
Tapi dia bukan pelayan yang bisa ditindas dan perlakukan seenaknya oleh majikan, dia hanya mengurusi Margaret agar penampilannya menjadi lebih aduhai dan mampu menarik perhatian Tuan Tanah.
Ketika sampai di dekat pintu kamar yang tidak tertutup, dia mendengar teriakan.
"Aaaah aku sembuh, lukaku sembuh. Ini mulus sekali tidak ada bekas luka." Margaret berteriak kesenangan setelah melihat dahinya yang mulus tanpa keropeng di cermin.
Masih ada keropeng di bagian pipi, tapi itu tidak masalah karena sebentar lagi akan sembuh juga.
Jean mendekat dan melihat memang benar dugaannya jika obat Vedis sangat ampuh mengobati luka tanpa meninggalkan bekas luka.
"Obatmu sangat manjur Jean, lihat kulitku mulus lagi. " Margaret begitu senang dan bahagia, saking senangnya dia sampai lupa akan rasa nyeri otot di kakinya.
"Iya nyonya Margaret, kau akan menjadi lebih cantik lagi setelah berat badanmu turun." Jean menurunkan rasa senang Margaret.
"Huh kapan aku bisa kurus, ini sudah tiga hari lamanya, tidak ada tanda-tanda tubuhku lebih ramping." Margaret menjadi lesu.
"Sabar nyonya, memang butuh waktu agak lama untuk menurunkan berat badan, bukankah aku sudah bilang jika butuh enam bulan, ini masih tiga hari jadi masih lama. Nyonya tidak perlu menghitung, cukup nikmati saja." Jean tersenyum dan menjelaskan dengan sabar.
Kurus secara instan, itulah keinginan dari banyak wanita gemuk yang malas melakukan banyak usaha menurunkan berat badan, padahal tidak semudah dan secepat itu untuk mengurangi massa lemak di dalam tubuh.
Semua butuh waktu dan kesabaran.
Setelah mengurusi Margaret, Jean kemudian menuju ke ladang di dekat kediaman Margaret.
__ADS_1
Di ladang itu kini banyak buruh laki-laki sedang membangun gubuk lumayan besar hampir menempati sebagian besar lahan di ladang itu.
Luas ladang itu juga tidak terlalu besar, mungkin hanya satu hektare saja.
Ladang itu diminta oleh Jean pada Margaret.
Dia memiliki alasan dan tujuan yang bagus serta sejalan dengan rencana balas dendamnya.
Tuan tanah membagi tanah miliknya menjadi sepuluh area, karena istrinya ada 9 tiap istri diberikan satu area tanah untuk dikelola dibantu dengan bawahannya.
Ini semacam wujud pelitnya tuan tanah, dia tidak mau istri-istrinya yang sudah membosankan baginya hanya makan tidur di rumah secara cuma-cuma, mereka setidaknya harus bekerja ikut mengurus sedikit properti tanahnya.
Biasanya setiap area tanah mendapat pemasukan dari uang sewa rumah di pemukiman yang ada di tanah itu dan juga hasil dari pertanian padi.
Setelah memeriksa, ternyata tanah dan properti yang ditempati Margaret adalah daerah yang paling menghasilkan pemasukan dibandingkan dengan daerah lain tempat istri tuan tanah yang lain.
Margaret juga pernah bercerita jika dia bisa meningkatkan pendapatan di wilayah ini, maka Tuan Tanah akan mempertimbangkan kembali untuk memaafkan perbuatan jahatnya dan kemungkinan besar dia bisa kembali ke ruang utama.
Oleh karena itu Jean berencana meningkatkan produksi dan penghasilan di wilayah tanah yang ditempati Margaret.
Jadi Jean saat ini akan membuat pertanian dalam ruangan.
Tanaman yang akan dia kembangkan bukanlah tanaman biasa melainkan tanaman obat.
Rumput Paila adalah tanaman yang tidak bisa dibudidayakan, itu adalah pendapat dari orang-orang di kota manusia.
Jadi rumput Paila hanya bisa didapatkan dari luar tembok besar oleh pemetik.
Harga dari rumput Paila sendiri tergolong rendah tapi lebih tinggi tiga kali lipat dari harga beras.
Jadi rumput Paila termasuk obat mahal bagi kalangan buruh panen padi.
Rumput Paila tidak bisa dibudidayakan manusia karena pernah dicoba dan selalu gagal, biji rumput Paila tidak pernah mau tumbuh di tanah kota manusia.
Jean mengamati dan mencerna apa yang menjadi penyebab rumput Paila tidak bisa tumbuh, padahal di hutan rumput Paila sangat melimpah.
Seteleh berpikir dan mengingat karakteristik rumput Paila akhirnya Jean mengetahui jawabannya.
Rumput Paila biasa tumbuh di bawah akar pohon raksasa, mereka tumbuh subur di bawah pohon-pohon hutan yang rindang.
__ADS_1
Dari sini Jean mengetahui jika kemungkinan besar rumput Paila tidak bisa tumbuh terkena sinar matahari secara langsung, mungkin lebih miripnya cara hidup mereka seperti jamur yang tidak tahan panas matahari.
Di kota manusia, tidak ada pohon rindang dan orang-orang terbiasa menanam padi di hamparan luas, semakin lapang dan banyak cahaya maka semakin subur padi, yang mana hal itu adalah kebalikan dari rumput Paila.
Dugaan itu bisa lebih dibenarkan karena Jean pernah memiliki ingatan dari Jean asli.
Dulu ketika ayah Jean masih hidup dia sering membawakan rumput Paila beserta akar dengan tanah yang lumayan melindungi akar.
Jadi kondisi rumput Paila masih segar dan masih hidup.
Ayah Jean sengaja melakukan hal itu memang bertujuan agar rumput Paila masih segar ketika sampai di rumah.
Ketika di rumah, Jean pernah usil ingin menanam rumput Paila di taman kecil rumahnya.
Saat itu dia mengambil sebagian rumbut, alhasil keesokan harinya rumput Paila di taman bukannya hidup malah layu kemudian mati mengering.
Berbeda dengan rumput Paila yang masih ada di pojokan ruang tamunya. Meski tidak ditanam dalam tanah sepenuhnya, hanya dengan siswa tanah yang tidak seberapa di akarnya. Rumput itu masih tampak segar, tidak layu sama sekali.
Saat itu Jean asli penasaran tapi dia tidak mencoba menanam di dalam rumah lebih jauh karena rumput Paila itu dipakai ibunya untuk membuat salep obat.
Tapi dari ingatan itu, Marrissa bisa yakin jika rumput Paila suka hidup di tempat gelap tidak langsung terkena sinar matahari dan lembab.
Orang di dunia ini belum tahu cara bertanam di dalam ruangan seperti di dunia asalnya.
Dari pengetahuan di dunia asalnya, Jean bisa menentukan jika dia butuh membangun sebuah gubuh dengan atap memakai kain jaring hitam tipis.
Kain jaring hitam tidak ada di dunia itn, tapi itu tidak masalah bisa diganti dengan jerami tapi intensitas kerapatannya lebih renggang dari atap jerami biasa.
Sinar matahari masih bisa masuk, tapi juga terhalangi dan tidak langsung menyorot ke tanaman di bawahnya.
Jean bisa jamin dia akan bisa mengembangkan pertanian rumput ini, ketika usahanya berhasil maka keuntungan besar akan dia dapatkan.
"Jean apa kau yakin akan menanam tanaman obat rumput Paila?" Dean bertanya.
"Ya tentu saja, ini sangat menguntungkan kau tahu." Jean menjawab dengan mantap.
"Tapi Jean, di daerah tanah subur saja rumput Paila tidak bisa tumbuh apalagi di daerah tanah tandus kita?" Dean masih tidak yakin.
"Tanah tandus ya, kau memang benar tanah di sini memang tandus, tapi itu mudah diatasi kita hanya perlu membangun toilet umum?"
__ADS_1
Dean: "..."
"Hah, toilet umum? Emmn aku tidak mengerti, apa hubungannya?"