
Pohon-pohon di wilayah ras Elf memang sangat besar dan tinggi. Pohon-pohon itu menjadi rumah banyak hewan, juga rumah Elf itu sendiri.
Di antara pepohonan, tepatnya di salah satu bagian cabang pohon besar yang menghubungkan ke pohon lainnya, terlihat Valir berjalan diikuti Vedis di belakangnya.
"Kau benar-benar akan mengantar manusia itu?" Vedis bertanya memastikan.
"Ya, lagi pula aku masih ada urusan di kota manusia." Valir menjawab sambil terus berjalan.
"Untuk apa kau repot-repot melakukan hal itu? Biarkan saja dia kembali sendiri." Wajah cantik Vedis penuh dengan guratan penolakan.
Dengan suara lambat Valir menjawab, "Tidak bisa, bukankah kau sudah lihat sendiri, Jean hanya manusia wanita yang lemah. Jika kita biarkan dia kembali sendiri, dia tidak mungkin bisa melewati hutan."
"Maka biarkan saja dia mati dimakan binatang buas, mati atau hidupnya bukan lagi urusan kita." Vedis berkata ketus.
Valir berhenti berjalan, dia menoleh melirik ke belakang, "Vedis, kau jangan berkata sejahat itu."
Mendengar ucapan Valir, Vedis semakin emosi,
"Kenapa kau malah bilang aku jahat? dari awal aku menolak kau menolong manusia itu, tapi kau tidak menggubrisku. Seharusnya aku tidak mendengar bujukanmu untuk menerima manusia itu di rumahku, biar aku sepenuhnya jahat di pikiranmu."
Vedis sangat marah ,Valir mengatakan dia jahat padahal dia sudah berbaik hati menampung manusia sialan itu di rumahnya.
Valir berbalik karena kata-kata Vedis sudah bernada tinggi pertanda dia sangat marah.
"Tenanglah Vedis, dengarkan aku dulu ...."
Vedis memotong, "Dengar apa lagi!? Val, aku seperti ini juga demi kebaikanmu. Apa kau tidak ingat dengan Vin? Aku tidak ingin kau menjadi seperti dia."
Valir menutup mata dan menghirup nafas dalam, dia membuka mata lagi,
"Tentu saja aku ingat, aku tidak akan lupa dengan Vin. Jangan samakan aku dengan dia. Asal kau tau saja justru karena Vin-lah aku menolong Jean."
Vedis tampak terkejut, dia maju selangkah semakin dekat dengan Valir dan bertanya lebih lanjut,
"Apa maksudmu? Apa kaitannya manusia itu dengan Vin?"
Valir melirik kanan dan kiri sebelum berbisik,
"Kemungkinan besar Jean adalah putri Vin."
"Apa katamu? Benarkah itu?" Vedis bertanya balik, dia masih belum percaya.
Valir mengangguk,
__ADS_1
"Ya, aku sudah melihat dia memiliki pedang Vin."
"Pedang Vin? Apa kau tidak salah lihat? bisa saja pedang itu tidak di tangan keturunan Vin." Vedis khawatir temannya salah mengenali orang.
"Aku tidak salah lihat, dia memang memiliki pedang Vin, itulah kenapa aku mengantarnya kembali, agar aku bisa memastikan identitas Jean." Jelas Valir yang ternyata punya tujuan lain.
Mengetahui alasan Valir, wajah Vedis menjadi lebih baik.
"Ya sudah, aku lega kalau begitu. Jika saja aku bisa keluar hutan, aku akan ikut denganmu." Vedis berujar dengan wajah sendu.
Ada peraturan yang mana Elf wanita tidak bisa keluar dari hutan wilayah ras Elf, hanya Elf laki-laki yang bisa keluar dan menjelajahi wilayah lain seperti wilayah manusia.
Jika Marrissa si wanita kantoran yang bebas menentukan ke mana dia pergi mendengar peraturan seperti itu, dia pasti sudah mendecakkan lidah dan mengeluh.
"Ck ck ck, Ras Elf sepertinya belum mengerti emansipasi wanita."
Perbincangan itu usai karena hari sudah mau gelap.
Vedis kembali ke rumahnya, dia melihat Jean sedang berbaring di atas ranjang miliknya sambil memandang langit-langit ruangan.
Jean awalnya sedang mengamati berbagai hal dari jendela, namun dia bergegas menutup jendela dan berbaring di ranjang setelah mendengar pintu ruangan dibuka.
Tuan rumah datang jadi dia sudah bersiap menerima berbagai kata-kata tajam nan pedas darinya.
Benda bulat seukuran kacang polong ditempelkan Vedis menggunakan jari putihnya.
Bibir tipisnya tampak berbisik seperti mengucap mantra.
Jean melebarkan mata, penasaran dengan apa yang dilakukan Vedis.
Benda di tangan Vedis ternyata biji tanaman rambat, tanaman itu mulai tumbuh menjalar.
Tangan Vedis mengarahkan pertumbuhan tanaman agar membentuk jaring dan berakhir di sisi dinding yang lain.
Jean merasa takjub dengan pemandangan itu, ternyata Elf bisa menumbuhkan dan memanipulasi bentuk tanaman.
Bentuk tanaman rambat itu sangat unik, saling sulam membentuk jaring dari dinding satu ke dinding lain.
Vedis kemudian naik ke jaring itu dan merebahkan dirinya di sana.
Oh, ternyata tanaman rambat itu digunakan sebagai tempat tidur gantung.
Itu memang ide bagus, Jika Jean bisa memanipulasi tanaman dia akan mudah tidur di mana saja dengan ranjang gantung seperti itu, asal ranjang itu tidak menggantung terlalu tinggi.
__ADS_1
Namun lewat ranjang gantung itu, Jean menyadari jika Vedis memang tidak menyukainya.
Padahal ranjang kapuk yang ditiduri Jean sangat besar, masih cukup ditempati satu orang lagi, tapi Vedis malah membuat ranjang sendiri.
Jean tidak peduli, dia berbalik tidur menyamping membelakangi Vedis
"Apa kau memiliki ayah?" pertanyaan Vedis membiarkan segala pikiran Jean.
"Ya, tentu saja aku punya ayah." Jean menjawab dengan wajah bingung, kenapa Vedis bertanya topik ayah.
"Seperti apa ayahmu?" Vedis memandang punggung Jean.
Dari perkataan Valir yang mengatakan Jean adalah putri Vin, hal itu membuat Vedis gatal ingin bertanya sendiri pada Jean.
"Ayahku, dia sangat baik. Dia menjadi pemburu yang hebat, sangat menyayangi keluarganya, menurutku dia adalah orang paling tampan, hidungnya mancung, garis matanya tegas seperti mata elang, pupilnya sebiru langit, meski ada bekas luka vertikal di kelopak mata kanan ayahku, dia tetap tampan." Marrissa berkata jujur sesuai pemikiran dari Jean asli.
Tangan Vedis mengetat, dia membatin,
"Itu Vin, memang Vin."
Dalam ingatan Vedis, sebelum kepergiannya, mata kanan Vin memang terluka karena hukuman.
Vedis menatap Jean dengan tatapan rumit, hatinya bertanya-tanya apakah Jean memang putri Vin?
Jean menambahi, "Tapi itu dulu, sekarang aku tidak lagi memiliki ayah. Dia sudah tiada dari tiga tahun yang lalu."
Mata Vedis melebar,
"Apa! Bagaimana dia bisa mati?"
Jean heran kenapa Vedis begitu penasaran dengan ayahnya, tapi dia masih menjawab,
"Rekan pemburu ayahku mengatakan jika ayahku mati tertusuk duri tajam dari ekor binatang buas di hutan dalam."
Vedis menyahuti dengan cepat, "Dia tidak mungkin mati semudah itu!"
Hati Vedis terguncang dengan berita kematian Vin, dia tidak bisa menahan emosinya.
"Hmmn," Jean menoleh merasa aneh dengan tanggapan Vedis yang terlalu emosi.
Sadar jika tanggapannya terlalu janggal Vedis segera menambahi,
"Kau bilang ayahmu adalah pemburu yang kuat, seharusnya dia tidak mati semudah itu bukan."
__ADS_1
"Oh, ya, aku juga tidak mengerti karena aku tidak di samping ayahku ketika musibah itu terjadi." Ekspresi Jean menjadi kuyu mengingat peristiwa menyedihkan itu.