
Sakit memang membosankan, apalagi jika tanpa hiburan apapun, tanpa buku, komik, novel, televisi ataupun ponsel.
Itulah yang dirasakan Jean saat ini, ditambah lagi dia berada di ruang tertutup.
Jean ditinggalkan sendirian, Valir dan Vedis pergi entah ke mana.
Dia hanya membolak-balik tubuh di ranjang atau berkeliling ruangan yang tidak terlalu besar itu.
Valir bilang akan mengantarnya kembali besok, Jean tidak sabar menanti hari esok, tapi entah kenapa waktu berjalan lambat sekali.
Jean menjadi iseng meraba dan menekan dinding, siapa tahu ada pintu lain yang dia temukan.
"Klik." Benar ternyata dia berhasil membuka pintu, tapi ukurannya lebih kecil lebih mirip jendela.
Tangannya mendorong membuka jendela itu lebih lebar.
Dari situ Jean bisa melihat pemandangan yang ada di luar ruangan.
Sebelumnya Jean tidak bisa melihat apa yang ada di luar pintu karena terhalang oleh kedatangan Vedis, tapi kini dia bisa melihat semuanya dengan jelas.
"Oh my God...." Jean merasa takjub dengan apa yang dia lihat.
Di depannya tersuguh pemandangan seperti lukisan, ada pepohonan lebat yang tinggi dan luar biasa besar, di setiap pohon ada jembatan gantung yang terbuat dari sulur tanaman.
Terlihat beberapa elf sedang berlalu-lalang di jembatan gantung.
Banyak sekali tanaman merambat di pohon-pohon, kebanyakan sedang berbunga.
Terlihat juga banyak buah, bunga dan daun tanaman beraneka warna. Dia melihat dua sampai tiga jenis tanaman langka dengan harga fantastis jika ditukar di Aula Misi.
Jean kelimpungan seolah melihat surga.
Pandangannya berkelana liar sampai akhirnya dia melihat ke bawah.
"Iiiish, menakutkan sekali." Jean mundur menarik pandangannya.
Bagaimana tidak, Jean takut pada ketinggian, memandang ke bawah barusan rasanya seperti tampak jatuh dari ketinggian gedung bertingkat, bahkan lebih tinggi dari kantornya yang berjumlah 113 lantai.
__ADS_1
Jean menutup kembali jendela itu, dari hasil pengamatan singkatnya, Jean menyadari jika ruangan tempatnya berada adalah di dalam pohon.
Tidak heran jika dinding, atap dan lantai ruangan itu terdiri dari serat kayu yang sangat halus, dia tidak bisa membayangkan bagaimana para Elf menggali batang pohon untuk dijadikan rumah?
Mungkin tidak dengan menggali, bisa saja mereka menggunakan sihir aneh lainnya, Jean menggelengkan kepalanya bingung.
"Tunggu, bukannya tempat tinggal para Elf ada di hutan X, tapi aku sebelumnya masih di hutan luar?" Wajah Jean berkerut menyadari sebuah keanehan.
Hutan X bisa dicapai setelah melewati hutan dalam, sedangkan Jean masih berada di hutan luar sebelum melewati celah.
Apakah sisi lain celah tanah adalah hutan X? Bagaimana bisa? Seharusnya hutan dalam terlebih dahulu baru hutan X.
Kenapa Jean merasa celah yang dia lewati seperti pintu ke mana saja dari Doraemon? Entahlah dunia ini banyak hal aneh di luar nalar dan Jean tidak mau pikir pusing.
Jean membuka jendela sekali lagi, matanya tertuju pada buah dan tanaman langka yang berlimpah di luar sana.
Jari-jarinya gatal ingin memetik sebanyak mungkin dan membawanya kembali. Jika berhasil, dia dan Juno bisa hidup tentram selama beberapa tahun tanpa perlu pusing memikirkan makan atau tempat tinggal.
"Hus bodohnya aku punya pemikiran seperti itu." Jean menepis angan-angan indahnya.
Sekarang dia berada di wilayah ras Elf, dia tidak yakin jika para Elf akan memperbolehkannya memetik tanaman langka itu.
Beraninya Jean melewati jembatan sulur tanaman untuk meraihnya, mungkin sudah jatuh lebih dulu karena kurang keseimbangan.
Jembatan gantung dari sulur tanaman memang sangat indah dan luar biasa, tapi Jean tidak akan pernah berani melewatinya meski ada pegangan di dua sisi jembatan, tetap saja Jean tidak berani.
Melihat tanaman langka yang begitu dekat, tapi tak bisa dia miliki membuat Jean sakit hati.
Apalagi mengingat hasil petikannya yang bernilai 17 keping perak, tas kain dengan segala tanaman di dalamnya sudah tidak ada lagi, mungkin diambil oleh kelompok Marco ketika dia lumpuh.
Kesal sekali hati Jean, orang-orang dengan muka ramah seperti itu ternyata berhati busuk, benar kata Paman Ben, untung Jean waspada dan tidak sepenuhnya masuk dalam rencana mereka.
Namun bagaimana dengan 17 keping peraknya?
Jean menyadari masalah lain yang sangat menghawatirkan.
Dia tidak bisa kembali dengan tangan kosong, bagiamana dia melunasi hutangnya?
__ADS_1
Jean berpikir keras, apa dia perlu membawa buah aneh di atas meja? tapi seingat Jean, tidak ada permintaan buah seperti itu di papan misi atau mungkin buah itu masih belum diketahui jenisnya.
Pikirkan saja, dia ada di wilayah ras Elf yang letaknya mungkin di hutan X, banyak tanaman dan buah-buahan yang tidak dia lihat di papan misi, namun tanaman langka berlimpah di sini.
Dia yakin buah dengan rasa mirip mangga belum diketahui jenisnya akan berharga mahal.
"Iiiish tidak tidak, itu terlalu beresiko." Jean mengegelangkan kepala.
Memang harganya akan mahal, tapi pasti memancing banyak pertanyaan menyelidik di mana dia mendapat buah itu, incaran dari perbagai pihak.
Belum lagi identifikasi manfaat buah dan lain sebagainya pasti membuat semuanya menjadi ruwet.
"Arrrgh kenapa dunia ini sangat menyebalkan?" Jean pusing, dia membenturkan ringan kepalanya ke tembok kayu.
"Ayo berpikir Marrissa, di mana kecerdasanmu yang biasanya." Jean berputar-putar di ruang itu memikirkan solusi yang tepat.
Setengah hari berlalu, Vedis datang membawa keranjang buah baru.
Seperti sebelumnya Vedis menyuruh Jean makan dengan kata-kata tajam.
Jean sudah biasa, dia tidak peduli dengan kata-kata tajam Vedis.
Kali ini Jean mengambil dua jenis buah, satu seperti buah strawberry tapi bentuknya bulat sempurna seukuran kepalan tangan dengan warna putih berbintik hitam.
Buah yang satunya mirip buah anggur tapi berwarna hijau transparan, saking transparannya buah itu lebih seperti tetesan air yang bisa dipegang.
"Hmmn...." Rasa buah pertama sangat manis memang mirip dengan rasa strawberry, sedangkan buah kedua rasanya tidak terlalu manis tapi menyegarkan dan ada bau mint menyertainya.
Setelah menghabiskan dua buah tersebut, Vedis menyodorinya segelas cairan obat.
Jean menyipitkan mata memandang Vedis merasa janggal, seharusnya dia tidak perlu minum obat lagi karena lukanya sudah sembuh.
Namun karena obat pahit itu adalah hal yang baik dan mahal, Jean masih meminumnya.
Setalah puas memandang wajah kepahitan Jean, Vedis pergi sekaligus membawa keranjang buah lama, sementara keranjang buah baru dia biarkan di atas meja.
Melihat tindakan Vedis Mata Jean berkilat melebar,
__ADS_1
" Hmmn, ya begitu saja, seharusnya ini solusi yang paling tepat."