Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Membunuh Atau Dibunuh


__ADS_3

Setelah Ular hijau mati, binatang buas Tyrex Landak mulai memakan tubuh lawannya.


Suara kecapan dan kunyahan tulang terdengar renyah dan membuat Jean merinding di sekujur tubuhnya, berbeda dengan Valir yang wajahnya tampak acuh sepertinya dia sudah terbiasa menyaksikan hal semacam itu.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya Tyrex Landak pergi meninggalkan sisa setengah tubuh ular, mungkin dia sudah kenyang dan tidak bisa menghabiskan semuanya.


"Kapan kita turun?" Jean bertanya karena meski Tyrex Landak itu sudah pergi, Valir masih diam seolah tidak berniat turun.


"Tidak masih belum, bahaya masih belum hilang, lihat itu." Valir menunjuk ke bawah.


Jean memandang ke bawah, dari beberapa arah terlihat banyak kawan hewan yang kecil mendatangi sisa daging ular hijau.


Mereka memakan daging itu bahkan sampai ada yang berebut.


Dari atas memang mereka terlihat kecil namun sebenarnya ukuran mereka sebesar sapi dan kambing.


Daging ular dimakan habis oleh mereka bahkan sampai tulangnya tidak tersisa sama sekali.


Untung saja Jean dan Valir tidak langsung turun, menurut Jean kawanan hewan kecil tadi lebih menyeramkan daripada Tyrex Landak.


Setelah suasana di bawah kembali sepi, Valir mengajak Jean turun.


Mereka berjalan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


Jean di sini mulai bertanya,


"Binatang buas dengan banyak duri di tubuhnya tadi apakah kau tahu namanya?"


"Kami para Elf menyebutnya Wrax, dia salah satu binatang buas yang suka berburu di siang hari, untuk binatang buas kecil pemakan sisa buruan Wrax disebut Xebs mereka selalu mengikuti Wrax guna mendapat jatah sisa makanan yang tidak dihabiskan Wrax. Dua jenis bintang buas itu sama-sama berbahaya." Valir menjelaskan sambil terus berjalan.


Jean mengangguk mengerti setelah mendapat pengetahuan baru.


Lebih mudahnya dengan perumpamaan lain, Wrax seperti pembuat kekacauan dan Xebs bagian yang membereskan bekas kekacauan sampai bersih.


Perjalanan berlanjut sampai di sore hari Jean dan Valir tidak beruntung bertemu dengan kawanan binatang buas kecil mengeluarkan suara mirip serigala, tapi tidak memiliki bulu di sekujur tubuhnya.


Jean menganggapnya Serigala Botak, gigi taring mereka sepuluh centi lebih panjang dari milik serigala di dunia Marrissa, ukuran tubuh mereka juga dua kali lipat lebih besar.


Menurut Jean segala hal di Dunia ini memang beberapa memiliki kesamaan dengan dunia asalnya, namun di sini menjadi lebih besar dan lebih kuat, sayangnya kenapa manusia tetap sama tidak ikut membesar agar bisa lebih imbang dengan dunia ini.


Kawanan serigala botak itu mengelilingi Jean dan Valir, mencegah mereka kabur.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak naik ke atas pohon seperti biasanya?" Jean bertanya dengan satu jarinya menunjuk ke atas.


Valir menggelengkan kepala,


"Tidak bisa, di atas ada yang lebih berbahaya."


Jean mendongak ke atas, tidak terlihat binatang buas besar sama sekali, tapi ketika Jean melihat lebih teliti, Jean melihat banyak pergerakan di antara pepohonan.


Ternyata ada banyak lebah seukuran kepalan tangan manusia dewasa, sepertinya ada sarang lebah di dekatnya.


Memandang hal itu, Jean begidik ngeri, disengat lebah seukuran kacang saja sudah sakit, apalagi yang berukuran kepalan tangan.


Karena lebah ada di atas, Jean dan Valir tidak bisa menghindar naik ke pohon, mereka hanya bisa melawan serigala botak di bawah.


Ada total 11 serigala botak yang memutari Jean dan Valir. Mereka menggeram memperlihatkan gigi tajamnya sebagai bentuk ancaman agar mangsa mereka merasa takut dan panik.


Ketika serigala botak mulai menyerang secara bersamaan, Valir mengendalikan sulur tanaman dari lengannya untuk menghalangi pergerakan mereka.


Saat serigala-serigala itu terganggu, Valir membunuh mereka dengan anak panah.


Dalam sekali tembak tiga serigala jatuh karena Valir mampu menembakkan tiga panah sekaligus dengan busurnya.


Serigala itu menuju ke arah Jean, berniat menyerang Jean.


Valir belum sempat mengurus serangan dari arah belakang karena serigala di depan juga ikut melompat langsung menghindari jerat tanaman rambat.


Jean mengetatkan pegangan pada belati di tangan, dia sadar dia tidak bisa selalu dilindungi.


Jadi ketika serigala ingin menerkam leher Jean, belati tajam lebih dulu menyerangnya dan menusuk tepat ke jantungnya.


Ketika ayah Jean asli masih hidup selain dia pernah mengajari Jean asli tehnik dasar menggunakan pedang, dia juga sempat mengajari titik-titik lemah hewan kecil dan cara melawannya dengan belati.


Jadi, berbekal ingatan Jean asli, belati, dan keberanian, Marrissa mampu membunuh serigala botak yang menyerangnya.


Masih ada dua serigala lain yang berlari menuju ke arah Jean, tapi panah Valir menyelesaikan mereka di tempat.


Setelah membunuh serigala botak, tangan dan belati di pegangan Jean kini penuh darah.


Tangan Jean gemetar tak terkendali, bahkan belatinya sampai terjatuh.


"Aku ak-aku membunuh...." Muka Jean tampak syok melihat darah di tangannya.

__ADS_1


Baru kali ini Jean membunuh sebuah kehidupan.


Meski itu dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri, tetap saja bagi Marrissa membunuh adalah hal yang buruk.


Menyadari ada yang salah dengan Jean, Valir mengambil belati di tanah dan menggendong Jean untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin, sebelum binatang buas lain datang karena terpancing bau darah.


Setelah sampai di bawah pohon yang aman, Valir menurunkan Jean.


Sambil duduk di akar pohon besar yang menonjol dari tanah, Valir menanyakan kondisi Jean, tapi Jean masih terpaku menatap dua tangannya yang berlumuran darah.


Valir kemudian mengambil daun berbentuk cekung ke dalam dari tanaman merambat di batang pohon besar.


Dengan air dari daun cekung tadi, Velir membantu Jean membilas bersih darah di tangan Jean.


"Tenangkan dirimu Jean, minum ini." Valir memberikan daun cekung lain berisi air jernih.


Jean meminum air tersebut dibantu Valir yang memegangi daun itu karena tangan Jean masih gemetar.


Setelah air dingin membilas tenggorokannya, Jean akhirnya bisa tenang dan berbipir Jernih.


Di dunia ini, membunuh adalah hal biasa. Apalagi saat ini dia di hutan belantara, dia di hutan X.


Hanya ada membunuh atau dibunuh.


Jean masih ingin ingin hidup, apalagi di dunia ini dia adalah seorang kakak, dia masih memiliki Juno yang perlu dia lindungi.


Dia tidak bisa berhenti di sini, mentalitasnya tidak boleh kacau hanya karena pembunuhan pertamanya.


Jean kemudian mendongak memandang mata biru gelap Valir dan berkata,


"Terima kasih sudah membantuku, maaf aku merepotkan mu. Aku sudah baik-baik saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini."


"Tidak masalah, tapi lain kali jangan berhenti seperti tadi, itu bisa berakibat fatal jika aku tidak ada di sisimu." Valir menasehati.


Jean memang salah, jika Valir tidak memanah dua serigala terakhir yang akan menyerang Jean ketika kondisinya masih syok, mungkin dia sudah berpindah alam sekali lagi.


Sadar akan hal itu Jean tersenyum manis dengan sangat tulus,


"Valir, Terima kasih."


Mata biru gelap Valir tampak sedikit bergetar melihat senyuman Jean.

__ADS_1


__ADS_2