Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Belajar


__ADS_3

Perjalanan tidak bisa berlanjut di malam hari, tapi untungnya Jean dan Valir sudah keluar dari wilayah hutan X sebelum kegelapan datang.


Mereka malam ini beristirahat di batang pohon, Valir telah menumbuhkan tanaman rambat berdaun raksasa sebagai pijakan dan tempat istirahat di atas pohon, sebagai pengaman dia juga menumbuhkan sulur tanaman yang keras dan kuat.


Valir memakai cara sulam yang sama seperti Vedis. Namun kali ini sulur tanaman dibuat setengah lingkaran mengelilingi mereka.


Sulaman itu lebih lebat dan lebih rapat sampai mereka tidak bisa terlihat dari luar.


Dengan alas daun tanaman yang empuk dan nyaman Jean masih tidak bisa tidur nyenyak.


Begitu banyak pikiran di benaknya, dia banyak berpikir tentang apa yang telah terjadi hari ini, ditambah hal lain yang sangat mengganggunya.


Bagaimana dia bisa tidur nyenyak di satu ruang sempit dengan seorang elf laki-laki setampan Valir?


Jean menoleh, dia melihat Valir sudah memejamkan matanya, nafasnya ringan dan teratur, sepertinya dia sudah tidur nyenyak.


Di mata Jean, Valir adalah sosok tampan yang sangat baik padanya.


Sudah berkali-kali dia diselamatkan oleh pria itu.


Jean sampai bingung harus balas Budi macam apa pada Valir.


Di dunia ini Jean tidak memiliki apapun yang berharga kecuali tubuhnya.


Sempat terlintas untuk memberikan hal berharga itu pada Valir, tapi Jean menepis pemikiran bodohnya itu.


Bagaimana mungkin ras Elf setampan Valir mau menerima balas budi seperti itu.


Apalagi di dunia ini manusia dianggap sebagai ras terendah dan terlemah.


Jean memilih memejamkan mata dan tidur.


Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan melintasi hutan dalam.

__ADS_1


Di hutan dalam sangat berbeda dengan hutan X, di sini tidak terlalu sering menemui binatang buas kuat.


Karena bekal makanan dari Vedis telah habis, Valir mengajak Jean mencari makanan di hutan.


"Ini buah Tar, buah ini memiliki sedikit kandungan air tapi mengenyangkan perut lebih lama. Buah ini juga bisa dijadikan obat diare." Valir menjelaskan kegunaan buah Tar yang berwarna merah cerah seukuran buah sawo mini.


"Jangan makan buah itu, memang terlihat lezat tapi itu beracun, kau bisa mati sesak nafas jika berani memakannya." Valir membantu Jean mengenali buah-buahan yang bisa di makan.


Entah kenapa Jean merasa Valir agak berbeda, dia tidak secuek dulu ketika berbicara dengannya.


Elf adalah mahluk yang dekat dengan alam dan terbiasa hidup di alam, di hutan-hutan.


Jean membutuhkan banyak pengetahuan untuk bertanam hidup di hutan, karena saat ini Valir terbuka dengan ilmu hutan, Jean begitu bersemangat.


"Apa kau pernah melihat tanaman bunga api?" Jean bertanya.


"Yah, kenapa dengan tanaman itu?"


"Kudengar tanaman itu banyak semut api disekitarnya, apa kau tau cara mengatasi semut api untuk bisa mengambil biji api lebih mudah?" Jean ingin mengorek ilmu yang berguna dari Valir.


Perjalan itu menjadi sesi tanya jawab yang aktif yang terkadang diselingi pertemuan dengan binatang buas.


Saat ini Jean sudah tidak takut lagi melihat ke bawah dari atas pohon, dia tidak lagi memejamkan mata ketika mereka naik atau menuruni pohon.


Karena mereka berjalan di hutan dalam, Jean sering menemukan tanaman atau buah harga tinggi di sana.


Tentu saja tangan Jean tidak akan melewatkan untuk memetik tanaman yang bisa dia bawa, namun untuk tanaman langka Jean tidak berani mengambilnya.


Ketika dia sudah memiliki jalur penjualan atau penukaran uang yang aman, akan ada saatnya dia bisa memetik tanaman langka sebanyak yang dia mau.


Perjalan mereka terbilang cepat dalam satu hari mereka sudah melintasi hutan dalam dan hutan luar.


Tinggal esok hari perjalan dilanjutkan lagi hanya tinggal melewati hutan pinggiran, maka mereka sudah sampai di gebang tembok kota manusia.

__ADS_1


Ketika Jean menunggu Valir membangun sarang sementara untuk istirahat mereka hari ini, terlihat suara berisik dari langit.


Meski malam hari penuh dengan kegelapan, dengan bantuan cahaya bulan Jean masih bisa melihat pemilik asal bunyi berisik dari langit.


Terlihat sekumpulan hewan mirip burung dengan sayap lebar sedang melintas di atas langit.


Bunyi-bunyi berisik itu seperti suara kelelawar yang sering didengar Marrissa di film-film horor.


"Valir, hewan apa itu?" Jean bertanya penasaran.


Wajah Valir tampak buruk,


"Loris, mereka hewan malam yang biasa ditumpangi Ras Vampire."


"Ras Vampire? " Jean melebarkan matanya.


Dalam ingatan Jean asli, dia hanya pernah mendengar cerita ras Vampire dari mendiang ayahnya.


Ras Vampire dikatakan sebagai ras pemakan darah. Mereka hanya bisa memakan darah mahluk hidup. Mereka mahluk yang ganas, berbahaya, dan suka bermain-main. Lebih baik menghindar jauh jika bertemu dengan mereka.


Yang Marrissa dari banyak film Vampire yang dia tonton, Vampire bisa terbakar jika terkena cahaya matahari dan orang yang mereka gigit lehernya akan menjadi Vampire juga. Tapi sepertinya hal itu berbeda dengan Vampire di dunia ini.


"Biarakan saja, tidak perlu melihatnya. Mereka hanya lewat." Valir akhirnya selesai membuat ruang istirahat mereka.


Jean memalingkan pandangannya dari pemandangan kumpulan Loris di langit dan masuk ke sarang yang dibangun Valir.


Jean harus segera tidur agar energinya penuh untuk perjalan terakhir mereka besok melewati hutan pinggiran.


Dia tidak sabar segera bertemu dengan Juno.


Jika tanaman yang Jean dapatkan sudah dia tukar dengan uang, Jean tidak sabar melihat wajah sumringah Juno yang akan dia ajak makan besar.


Anak remaja seumuran Juno di dunia asal Marrissa tidak ada yang sekurus Juno, menurutnya Juno bahkan kekurangan Gizi.

__ADS_1


Jadi Jean punya rencana untuk memperbaiki gizi dari Juno dan mengubah tingkat kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi.


"Juno, tunggu sebentar lagi Kakak kembali." Jean tersenyum dan memejamkan matanya tidur lelap.


__ADS_2