Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Flashback 2


__ADS_3

Dua hari berlalu, wanita yang ditolong oleh Vin akhirnya sadar.


Dia menatap bingung dan tampak rasa takut di matanya ketika melihat Vin.


"Hey, kau sudah bangun? jangan takut, aku Vin, aku yang menolong mu." Vin tersenyum seramah mungkin supaya wanita didepannya tidak lagi takut padanya.


Sangat normal jika wanita manusia itu takut karena baru saat itulah dia melihat penampilan ras lain yaitu ras Elf.


"Terima kasih." Wanita itu membalas singkat sambil menundukkan kepala.


Vin masih bisa merasakan rasa ketakutan dari gerak-gerik wanita di depannya.


Dia paham rasa takut dan waspada dengan orang asing apalagi berbeda ras tidak mudah untuk dihilangkan hanya dengan beberapa kata baik.


"Minum ini dulu, masih ada racun di tubuhmu." Vin mengulurkan gelas kayu berisi ramuan hijau penangkal racun binatang buas yang menyerang wanita itu.


Dengan tatapan ragu, wanita itu tetap menerima gelas obat dan menelannya dengan cepat.


Wajahnya mengernyit kepahitan merasakan mulutnya yang penuh rasa pahit dari obat yang dia minum.


"Ugh." Saking pahitnya dirinya sampai ingin muntah karena tidak tahan.


Vin memberikan buah merah kecil seperti buah berry untuk menetralkan rasa pahit.


Setelah rasa pahit itu hilang oleh buah berry, wanita tersebut mulai lebih santai tidak sewaspada sebelumnya.


"Siapa namamu?" Vin bertanya.


Wanita itu menjawab, "Julia."


"Julia ya, nama yang bagus." Vin tersenyum memuji.


Wajah tampan dan ruapawan Vin ditambah dengan senyumnya membuat penampakan Vin tampak menyilaukan di mata Julia.


Kegiatan itu diganggu oleh elf lain yang berkunjung.


Elf itu adalah Valir.


"Kudengar dari Vedis kau menyelamatkan wanita dari ras manusia, sepertinya itu benar." Valir telah mengintip memang ada manusia wanita di rumah temannya itu.


"Ya, itu memang benar. Ada apa?" Vin tidak menyembunyikan hal itu.


"Tidak-tidak hanya saja jangan melakukan hal aneh-aneh dengan wanita itu, sebaiknya setelah dia sembuh segera mungkin kau harus mengantarkannya kembali." Valir memberi


Saran.


"Iya aku mengerti." Setelah perbincangan singkat Valir pergi.


Vin tidak marah sudah dua orang teman baiknya yang menyuruh dirinya untuk segera membawa wanita yang dia tolong pergi.

__ADS_1


Alasannya tentu saja, menghindari terkena kutukan Elf.


Vin tertawa tanpa suara, dia tidak terlalu percaya dengan adanya kutukan elf dari cerita kuno yang belum tentu benar adanya.


Menurutnya itu hanya akal-akalan dari para tetua elf untuk membatasi para generasi muda.


Setelah kepergian Valir, Vin merawat Julia dengan baik.


Dia selalu tersenyum ramah membuat Julia semakin tidak takut padanya.


Beberapa hari berlalu Vin memberikan berbagai macam buah untuk dikonsumsi oleh Julia.


"Ini lezat sekali baru kali ini aku memakan buah ini, apa namanya tadi?" Julia bertanya sambil mengunyah daging buah pipih yang pernah dikenali Jean memiliki rasa mirip dengan buah mangga.


"Buah Mares, makanlah yang banyak, jika kau suka aku bisa mengambilkan buah ini lebih banyak nanti." Vin ikut menggigit buah Mares itu.


Buah itu memiliki banyak kandungan air sehingga akan menjadtuh kan tetes air buah ketika di gigit.


"Segar sekali, ada yang lebih manis dan menyegarkan sebenarnya kau pasti suka ,tapi buah itu...x" Vin mengoceh menjelaskan banyak hal.


Kebanyakan tentang makanan dan bahan obat, dan beberapa topik tentang Elf.


Julia penuh banyak pertanyaan mengenai ras Elf dan Vin menjawabnya dengan antusias.


Mereka menjadi akrab dan Julia juga banyak bicara pada Vin.


Hal itu adalah peningkatan yang bagus.


Sensasi adrenalin yang terpacu karena meluncur di udara adalah hal yang menyenangkan dan membuat Julia melupakan hal-hal buruk yang pernah dia alami sebelumnya.


Semakin lama waktu berlalu Vin dan Julia menjadi semakin dekat.


Vedis telah dua kali mendatangi Vin,


"Dia sudah sembuh bukan? Cepat bawa dia pergi, hutan Elf bukan tempat untuk manusia." Wajah Vedis cemberut mengingatkan sahabatnya.


"Ya, aku akan membawanya kembali ke kota manusia, tapi tidak sekarang." Vin menolak.


"Kenapa kau masih menunda?" Vedis menatap mata Vin dengan tatapan menyelidik.


Vin tidak menghindari tatapan temannya,


"Apa kau tidak tahu, saat ini adalah musim kawin. Para binatang buas sangat agresif, waktu-waktu seperti ini tidak bagus untuk mengantar Julia kembali. "


Alasan Vin cukup logis, Vedis menjadi lebih tenang, tapi wajahnya masih menunjukkan ekspresi tidak puas.


"Ya ya, sebaiknya setelah musim kawin binatang buas kau harus secepat mungkin membawa manusia itu kembali." Vedis kemudian pergi.


Ada alasan lain sebenarnya yaitu telah tumbuh benih cinta di hati Vin untuk Julia.

__ADS_1


Dia merasa tidak rela jika Julia pergi dengan cepat.


Dan hal yang lebih mengejutkan, ketika Julia ternyata juga menyukainya setelah Vin jujur mengutarakan perasaannya.


Sampai suatu hari kemudian, Vin tidak terlihat lagi beberapa hari di hutan Elf.


Vedis merasa penasaran, dia mengajak Valir mengunjungi rumah pohon Vin, niatnya sekalian untuk mengingatkan Vin agar dia mengantar Julia kembali karena musim kawin segera berakhir.


Sayang sekali ketika mereka sampai yang membuka pintu adalah Julia bukan Vin.


"Di mana Vin?" Vedis bertanya cepat.


Julia tampak berwajah panik.


"Dia, dia di dalam, tapi..."


Belum selesai kalimatnya, Vedis yang merasa ada sesuatu yang salah segera menerobos masuk memeriksa ke dalam.


Terlihat Vin terbaring di ranjang dengan nafas lemah, yang mengejutkan adalah penampilan Vin tidak seperti biasanya.


Rambut Vin kini menjadi kuning pucat, tidak lagi putih perak berkilau, aura di tubuhnya juga menghilang.


"Apa yang terjadi?" Valir bertanya setelah mengikuti masuk ke dalam rumah Vin.


Vedis segera meraih kerah baju Julia.


"Apa yang kau lakukan pada Vin?! Manusia apa ini balasan mu pada penolong mu? Jawab!" Vedis melotot dan berteriak, wajah cantiknya menjadi menakutkan.


Julia menangis dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


Vedis menginterogasi lagi, akhirnya Julia mau bicara,


"Ak-aku t-tidak tau, Vin pingsan dan rambutnya berubah warna."


Valir memeriksa kondisi Vin, napas Vin sangat lemah, berbeda sekali dengan waktu biasanya penuh dengan vitalitas dan semangat.


"Melihat ciri-ciri ini, sepertinya dia terkena kutukan Elf." Valir mengutarakan dugaannya.


Vedis melepas kerah Julia membuat Julia jatuh terduduk masih menangis.


"Apa kau bilang? Kutukan Elf! Jangan bicara omong kosong Valir, Vin tidak mungkin melakukan hal itu dengan manusia bodoh itu. " Vedis menggelengkan kepala tidak percaya.


"Kau lihatlah sendiri, tidak ada fluktuasi energi sihir di tubuh Vin. Dia tidak sadar pasti karena tubuhnya mengalami syok karena tidak lagi bisa menyerap energi bumi." Valir menerangkan lebih jelas lagi.


Meski tidak ingin percaya tapi itulah adanya.


Vedis menggosok kepalanya kasar, wajahnya tampak frustrasi, dia menoleh pada Julia dengan tatapan membunuh.


"Kau manusia sialan, harusnya dari awal ku bunuh kau!" Jari telunjuk Vedis menunjuk Julia menyalahkan seluruh kesalahan pada Julia.

__ADS_1


Vedis bergerak cepat mencoba menyerang Julia, namun dihentikan oleh Valir.


"Tenanglah, tenang, Vedis jangan bertindak seperti ini, aku tahu kau marah, tapi jangan lakukan itu. " Valir menenangkan dan membujuk Vedis.


__ADS_2