
Kebanyakan Elf baru bisa menyerap energi bumi dan memancarkan energi sihir ketika sudah dewasa atau telah mengalami peristiwa yang memeras emosi.
Emosi itu seperti kesedihan, kecewa, patah hati ataupun ketakutan akan masalah hidup dan mati yang sangat ekstrim.
Tidak semua Elf bisa menyerap energi bumi dan menjadikannya energi sihir, apalagi dalam kasus Half Elf.
Baru kali ini Valir menemui ada Half Elf yang bisa memancarkan energi sihir dan orang itu adalah Jean di depannya.
Meski energi sihir itu rendah, tetap saja dia mampu memancarkan energi sihir yang mana mengungkapkan jika dia termasuk orang dengan darah Elf ditubuhnya berarti dia memiliki talenta atau bakat yang baik dalam hal sihir.
Faktanya tidak banyak Half Elf yang lahir, karena pada dasarnya Elf dilarang untuk menikahi ras lain selain ras Elf, entah itu manusia, Vampire, demon atau yang lainnya.
Hanya ada beberapa kasus pelanggaran yang mana Elf menikahi ras lain dan melahirkan keturunan Half Elf, tapi biasanya Half Elf yang lahir tidak bisa hidup lama, sebelum mereka dewasa mereka sudah mati lebih dahulu.
Valir menyimpan kembali batu kristal energi ke balik jubahnya.
Yang tidak diketahui oleh Valir, sebenarnya ini bukan kali pertama Jean menggunakan energi bumi, ketika dia lumpuh dan dijadikan umpan kelompok Marco untuk menangkap bintang buas Mrun.
Ketika binatang buas Mrun mendekati Jean yang lumpuh, timbul emosi Jean yang begitu takut akan kematian dan keinginan kuatnya untuk hidup membuatnya bisa menyerap energi bumi, sehingga dia mampu menggerakkan tubuhnya dan berlari memasuki celah di dinding tanah.
Sayang sekali fluktuasi energi sihir yang dipancarkan Jean dari penyerapan energi bumi menghilang begitu saja, saat dia merasa telah selamat ketika berhasil keluar dari celah.
Wajar saja jika Valir tidak mengetahui kemampuan Jean ketika menolong dan membawanya ke tempat Vedis.
Di saat Jean sadar, dan melakukan perjalanan kembali ke kota manusia dengan Valir, energi sihir itu tidak pernah muncul lagi.
Baru saat inilah Energi itu muncul kembali, mungkin karena emosi kesedihan Jean sangat kuat setelah kehilangan Juno adiknya. Jean tidak menyadari bahwa dirinya telah memancarkan energi sihir.
Jean tiba-tiba berbalik, dia menatap Valir dengan mata sembab namun terlihat sangat serius penuh dengan tekad kuat.
__ADS_1
"Aku harus menyelamatkan adikku, apa kau tahu di mana ras Vampire berada?" Jean bertanya pada Valir yang sepertinya paham banyak hal.
Yang diketahui Jean Ras Elf memiliki umur panjang, wajar jika mereka memiliki kenangan hidup, pengalaman dan informasi yang lebih banyak dibanding manusia.
"Ras Vampire? Kau ingin ke tempat mereka? Sebaiknya kau hentikan niatmu Jean. Dengan dirimu saja, sangat mustahil menyelamatkan Juno dari tangan ras Vampire. Bahkan untuk mencapai wilayah ras Vampire saja kau tidak mungkin bisa, jika sendirian." Valir menasehati Jean agar tidak berbuat hal yang membahayakan dirinya.
Jean menunduk, dia paham dengan apa yang dikatakan Valir.
"Kau benar, aku memang hanya wanita lemah, tapi aku tidak akan menyerah hanya karena itu. Aku akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Juno dan juga membalas dendam pada mereka yang telah menyakitiku."
Valir menatap mata merah Jean yang kini penuh dengan niat balas dendam dan bertekad menyelamatkan adiknya bagaimanapun caranya.
Tekad kuat seperti itu mengingatkan Valir dengan temannya yaitu Vin alias ayah Jean. Sekali keputusan diambil, Vin dengan tekad kuat dan keras kepalanya, tidak akan mengubah haluan meski itu menantang maut.
Valir melihat hal yang sama pada Jean.
"Haaaah, sungguh ayah dan anak sama saja." batin Valir sambil menghela nafas.
Mata Jean melebar mendengar ucapan Valir, dia bertanya,
" Kau mau membantuku? Kenapa kau mau membantuku yang hanya wanita lemah, aku selalu merepotkanmu dan tidak bisa membalas perbuatan baikmu, bisalah kau jelaskan alasanmu mau membantuku?"
Jean merasa tidak enak pada Valir yang sangat baik padanya.
"Tidak ada alasan, aku hanya ingin membantumu. Apakah salah jika ingin membantu orang lain?" Valir bertanya balik membuat Jean terdiam.
Setelah beberapa waktu sepi, Valir menambahi.
"Jangan pikirkan itu dulu karena Aku punya sebuah informasi untukmu Jean, mungkin kau akan terkejut, tapi kau selayaknya harus mengetahui hal ini." Valir membahas topik lain yang lebih serius.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau beritahu padaku, katakan saja." Jean menjadi penasaran.
"Kau pasti hanya tahu jika ayahmu bernama Ethan bukan, sebenarnya dia memiliki nama lain." Valir mulai mengungkap kebenaran.
Jean menganggukkan kepala membenarkan, dia rasa ayahnya memang hanya bernama Ethan.
"Ayahmu memiliki nama lain yaitu Vin, jika kau bertanya bagaimana aku tahu, karena aku adalah teman ayahmu." Valir menjelaskan.
"Vin? Jadi kau teman ayahku, kenapa aku tidak pernah tahu jika ayahku pernah berteman dengan Elf sepertimu?" Jean memiringkan kepalanya, dia tidak menemukan ingatan jika ayahnya pernah berteman dengan Elf.
"Mungkin karena ayahmu tidak pernah menceritakan tentang pertemanannya denganku padamu." Valir berjalan mendekati Jean.
"kenapa ayahku menyembunyikan hal itu?" Jean sangat penasaran akan hal itu.
Ketika jarak mereka semakin sempit, Valir dapat melihat wajah Jean yang kini tak pucat dengan bibir kebiruan, kedua matanya tampak merah sembab, bahkan masih ada Basar air mata di pipi Jean.
Valir mengambil sapu tangan di sakunya dan mengelap air mata di wajah Jean.
Mata Jean melebar, dia mundur, "Kau tidak perlu melakukan itu." Jean mengusap wajahnya dengan lengan bajunya, tapi bukannya kering malah seluruh wajah Jean menjadi basah semua karena pakaiannya saat ini masih basah sisa dari air hujan.
Wajah Jean memerah karena tindakan konyolnya.
"Sebaiknya kau ganti baju dulu, baru aku akan menceritakan tentang ayahmu nanti." Valir kemudian berjalan ke arah pintu, dia keluar tidak lupa menutup pintu membiarkan Jean berganti pakaian.
Hujan di luar sudah berhenti, Valir berjalan di sekitar sambil memperhatikan gubuk kecil dan bobrok yang ditinggali Jean.
Jika dilihat, pakaian Valir tidak ada tanda basah sama sekali padahal dia juga kehujanan seperti Jean, tapi pakaiannya tetap kering.
Itu adalah efek dari jubah yang dia kenakan, jubah itu memiliki efek tahan air hujan.
__ADS_1
Jean di dalam rumah sedang mencari pakaian ganti dengan wajah memerah sampai ke akar telinga juga memerah karena malu.
Setelah Jean mendapatkan baju ganti yaitu pakaian lamanya yang berkain tipis dan tampak sangat kuno, tapi dia tidak bisa memilih karena dia juga kedinginan karena terlalu lama memakai pakaian basah.