
Hari berikutnya dari pagi hari ketika matahari masih baru menampakkan secuil sinar, Jean sudah membangunkan Valir agar mereka segera berangkat.
Dia tidak sabar kembali ke aula misi, menukarkan barang di tas kainnya menjadi uang, melunasi hutang dan kemudian berjumpa lagi dengan adiknya Juno, sudah ada rencana panjang untuk memanjakan Juno yang telah Jean pikirkan semalam.
Setelah Jean pernah menginjakkan kaki di hutan X dan kini dia berjalan di hutan pinggiran, dia mengetahui perbedaan besar yang sangat kontras.
Di hutan pinggiran pepohonannya tidak sebesar dan selebat hutan X, tidak banyak binatang buas, yang ada hanya beberapa binatang buas kecil.
Untuk tanaman obat atau buah-buahan malah lebih jarang lagi ditemui Jean di hutan pinggiran. Mungkin karena banyak pemburu dan pemetik yang mengeksploitasi hutan pinggiran yang tidak terlalu berbahaya.
Di hutan pinggiran, Jean dan Valir sering menjumpai kelompok pemburu dan pemetik sedang menyisir hutan atau sekedar melintas menuju hutan luar.
Setiap kali ada kelompok pemburu maupun pemetik, Valir selalu mengajak Jean bersembunyi atau menghindari mereka.
Jean paham, bagi mereka yang hanya dua orang, jika berhadapan dengan sekelompok orang pasti memicu niat jahat dari kelompok terbanyak untuk merampas barang bawaan mereka dan hal buruk lainnya.
Namun ketika di atas pohon, Jean melihat kelompok yang dia hindari kali ini adalah kelompok pemetik Marco dan pemburu Frank.
Kelompok itu terlihat lebih sedikit, dan banyak yang terluka, bahkan Frank pemimpin kelompok pemburu kehilangan satu kakinya dan dia dibawa di atas tandu sederhana.
Setelah mengamati tiap orang, Jean menemukan keberadaan Mia kondisinya tidak terlalu buruk, tapi Marco di sampingnya berwajah pucat dengan satu lengannya dibalut kain dan digantung ke bahu, sepertinya lengan kanannya patah.
Jean menggertakkan gigi, belati di tangannya menusuk batang pohon lebih dalam.
Siapa yang tidak marah jika bertemu dengan orang-orang yang telah mencelakainya.
Orang-orang berhati busuk seperti itu, Jean tidak akan melepaskannya. Dia pasti akan membalas mereka.
"Ada apa?" Valir bertanya menyadari keanehan Jean.
"Tidak ada, ayo turun mereka sudah lewat." Jean tidak ingin membicarakan masalahnya.
Setelah mereka berdua sampai di dekat gerbang tembok besar kota manusia dengan lancar, Valir berpisah dengan Jean.
"Terima kasih kau sudah mengantarku selamat sampai di sini. Semoga kita bisa bertemu lagi." Jean tersenyum enggan.
__ADS_1
Valir hanya mengangguk dan pergi. Jean tidak bisa melihat jelas wajah Valir karena sebagian tertutup tudung kepala.
Sebenarnya Jean ingin mengajak Valir ke kota, setelah menukar uang dia bisa mengajak Valir jalan-jalan atau sekedar menikmati makanan manusia sebagai wujud terima kasih.
Namun Jean berpikir, Valir adalah elf yang hidup menyendiri, mungkin dia tidak suka suasana kota manusia yang ramai dan lagi, Jean juga belum tahu apakah Ras Elf bisa memasuki gerbang kota manusia?
Itulah kenapa ketika Valir mengatakan "Kita berpisah di sini." Kemudian berbalik ke hutan, Jean hanya bisa merelakan, berharap suatu hari dia bisa berjumpa lagi dengan elf baik itu.
Setelah memasuki tembok besar, Jean segera bergegas ke bangunan Aula Misi untuk menukar hasil petikannya sepanjang perjalan dari mulai hutan dalam.
Jean memetik sedikit tanaman harga tinggi dan lebih banyak tanaman harga menengah, karena dia takut hasilnya terlalu berlebihan ketika di tukarkan sebagai pemetik pemula, namun jumlah yang dia dapat masih sangat tinggi.
Setelah tanaman dan buah di tas kain Jean dihitung nilainya. Jean mendapat total 72 perak lebih 56 tembaga, bahkan petugas yang mengurusi penukaran Jean sempat ragu dengan lencana pemula Jean.
Jumlah pendapatan seperti itu biasanya didapatkan pemetik tingkat menengah ke atas yang biasa mengikuti pemburu dari kelas yang lebih tinggi dan lebih kuat.
Jumlah itu seperti bumi dan langit bagi Jean asli yang biasanya berpenghasilan 90 keping tembaga perbulan, tapi Jean juga sadar semua itu tidak akan dia dapatkan tanpa bantuan dari Valir.
Setelah mengantongi uang, rencananya Jean akan membayar hutang, namun setelah membeli sekantong apel merah, dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, dia sudah rindu dengan Juno.
Baik Jean dan Juno tidak pernah membiarkan pintu terbuka selebar itu meski mereka ada di rumah.
"Juno, kakak pulang. " Jean menyingkirkan perasaan tidak enak di hatinya dan berjalan masuk ke rumah.
Begitu masuk, jean menjatuhkan kantung apel di tangannya, dia membiarkan buah-buah apel menggelinding ke segala arah.
Yang dilihat Jean kondisi rumahnya sudah berantakan, meja kayu tua juga tampak terguling patah satu kakinya dan Juno tidak ada di sana.
"Juno! Tidak, Junoooo...." Jean berlari keluar, dia berteriak memanggil nama adiknya.
Langkah Jean lebih cepat, dia mencari keberadaan Juno ke tempat yang biasa dituju adiknya.
Wajah Jean kini penuh kepanikan, segala macam dugaan buruk memenuhi otaknya.
Tidak mungkin Juno meninggalkan rumah dalam kondisi pintu terbuka, apalagi semua tampak berantakan di dalamnya.
__ADS_1
Oleh sebab itu Jean berlari secepat dia bisa ke arah sungai, karena Juno biasa mencari biji rumput di pinggiran sungai.
Begitu sampai, Jean melihat banyak anak remaja seumuran Juno bahkan lebih muda, juga banyak terlihat sedang berjongkok memunguti biji rumput.
"Juno, Juno, Juno apa kau melihat Juno." Jean berteriak memanggil nama Juno membuat remaja-remaja di tepi sungai menoleh ke arah Jean.
"Apa kau melihat Juno? Rambutnya kuning pucat, matanya biru." Jean bertanya dengan mengatakan ciri-ciri Juno.
Namun, kebanyakan jawaban hanya kata tidak tahu atau gelengan kepala.
Sampai langkah Jean mencapai remaja terakhir, dia tidak menemukan keberadaan Juno.
"Juno di mana kau?" Jean masih berteriak menyusuri tepi sungai mencari keberadaan Juno.
Mata Jean sudah basah, air matanya berjatuhan. Dia duduk di pinggiran sungai melempari sungai dengan batu kerikil di sekitarnya.
Baru kemudian dari arah belakang tampak sosok remaja laki-laki dengan rambut keriting mendekati Jean dengan wajah takut.
Mendengar langkah di belakang, Jean menoleh melihat remaja itu.
Wajah remaja itu sempat terkejut ketika Jean menoleh padanya, langkahnya terhenti, ragu tetap maju atau tidak.
Jean mengusap air mata di wajahnya dengan kasar.
"Siapa kau? Apa kau teman Juno? Apa kau tahu Juno ada di mana?" Jean bertanya secara beruntun.
Bocah remaja itu mengangguk masih dengan wajah takut.
"A-ak-aku aku tahu, ta tapi tolong jangan bilang siapapun jika jika aku yang memberitahumu." Bocah remaja itu menjawab sambil terbata-bata.
Jean langsung memegang kedua pundak remaja tadi, karena terlalu bersemangat ingin menemukan keberadaan Juno.
"Tentu saja, katakan di mana dia!"
Bocah remaja itu menggigit bibir takut dengan tindakan Jean.
__ADS_1
"Dia...."