
Hari pertama di luar tembok, Jean dan kelompoknya menyusuri hutan pinggiran.
Jean dengan wajah takjub mengamati hutan lebat di sekitarnya, Marrissa pernah ke hutan di dunia asalnya tapi hutan itu sangat berbeda dengan hutan di dunia ini.
Pepohonan raksasa menjulang tinggi bagai menara Eiffel. Banyak tanaman aneh dengan bentuknya yang tidak pernah ditemui Marissa maupun Jean asli, karena itu adalah kali pertama Jean keluar dari tembok besar.
Wajar saja dia merasa asing sebab tanaman yang dihafal dan dipelajari Jean adalah tanaman yang dicari di papan aula misi pemetik.
Wilayah hutan dibagi menjadi hutan pinggiran dekat dari tembok, hutan luar, hutan dalam dan hutan X. Semakin jauh hutan dari tembok semakin berbahaya karena binatang buasnya lebih banyak dan lebih kuat.
Para pemburu dan pemetik kebanyakan hanya berani menyusuri sampai ke hutan dalam itupun tidak pasti semua orang bisa kembali dengan selamat, apalagi di hutan X hanya beberapa orang tertentu yang berani menjelajahi hutan itu.
Memang semakin dalam hutan semakin banyak tumbuhan atau hewan yang berharga tinggi jika dijual, tapi di hutan X bahayanya sangat tinggi dan banyak hal diluar nalar yang bisa terjadi. Dikabarkan ras Elf ada di hutan X sebelah barat tembok.
Kelompok Marco biasanya langsung menuju hutan luar, tapi kali ini mereka menyusuri hutan pinggiran karena ada pemula dalam kelompok itu dan pemula itu adalah Jean.
Jean berterima kasih pada kelompok Marco yang mau membantunya belajar dan beradaptasi di hutan pinggiran terlebih dahulu.
"Tidak masalah, pekerjaan ini bukan pekerjaan biasa. Nyawa bisa hilang jika kita mengabaikan hal kecil. Belajarlah dengan cepat dan besok kita akan ke hutan luar." Marco tersenyum ramah.
'Beruntung sekali aku bertemu orang-orang baik seperti ini.' batin Jean.
Kelompok itu menyusuri hutan pinggiran sambil berpencar dengan jarak yang berjauhan tapi tidak terlalu jauh, gunanya jika mereka mengalami masalah atau bahaya, anggota kelompok terdekat bisa membantu.
Untuk pemburu di depan, mereka berkeliling dan mencari binatang buas untuk diburu.
Jika ada anggota kelompok pemetik yang bertemu binatang buas, mereka hanya perlu meniup peluit dengan bunyi tertentu. Para pemburu akan datang dan mengatasi binatang buas itu.
Jadi ini adalah bentuk kerjasama yang menguntungkan. Kelompok pemetik aman dari serangan dan kelompok pemburu mendapat buruan mereka.
Namun, di hutan pinggiran serangan binatang buas jarang ditemui, paling-paling hanya bintang buas tingkat rendah seperti kelinci bulu merah yang mudah dihadapi.
Setelah setengah hari penyusuran, 2 kelompok itu beristirahat di dekat batu besar.
__ADS_1
Jean memeriksa isi tas kainnya, dia sudah menemukan beberapa tanaman obat harga rendah. Itupun jumlahnya tidak banyak.
Wajar saja karena wilayah hutan pinggiran sudah banyak di berantas oleh kelompok pemetik lain. Sebelumnya Jean bahkan menemui beberapa kelompok lain yang sedang menyusuri hutan pinggiran.
Jika Jean menghitung mungkin sekitar 30 tembaga yang dia peroleh, jumlah 30 keping tembaga setara dengan hasil bekerjanya selama 10 hari di ladang padi. Jadi usahanya selama setengah hari saat ini menghasilkan 10 kali lipat dari pekerjaan sebelumnya.
Namun jumlah itu masih jauh untuk bisa melunasi hutang Jean. Dia berharap kedepannya dia bisa menemukan tanaman harga tinggi.
"Tenang saja Jean, di daerah hutan luar kita pasti menemukan tanaman yang lebih baik." Mia menepuk pundak Jean setelah melirik isi di dalam tas kain Jean.
Rencana perjalanan mereka hanya 3 hari, satu hari di hutan pinggiran, hari kedua di hutan luar dan hari ketiga mereka kembali ke kota.
Tidak ada yang mau tinggal di hutan lebih lama, karena bahaya selalu mengintai mereka.
Beberapa saat kemudian terlihat kelompok pemburu dengan pakaian terbuat dari bulu binatang buas berjalan melewati kelompok Jean beristirahat, mereka sepertinya baru kembali dari berburu.
Tampilan Mereka tampak garang memberikan tekanan yang menyesakkan dilihat dari binatang buas seukuran gajah yang mereka angkat bersama-sama.
Dari situ Jean tahu jika kelompok pemburu yang lewat adalah pemburu tingkat menengah dan hewan buruan yang mereka tangkap merupakan Badak Batu yang sangat kuat, berkulit tebal dan tentunya berharga tinggi.
Jean juga menatap penasaran pada hewan yang katanya adalah Badak Batu, memang itu sepeti hewan badak namun ukurannya sebesar gajah dewasa dengan duri-duri tajam di tulang punggungnya.
Terlihat juga ada banyak bekas luka sabetan pedang di tubuh Badak Batu tersebut dan yang paling besar ada di daerah perut.
Banyak anggota pemburu dari kelompok itu yang tampak terluka, ada yang lengannya patah dan beberapa luka gores.
Jean tidak bisa membayangkan seberapa sulit pertarungan yang dihadapi untuk mengalahkan hewan itu.
Rasa takut memenuhi hati Jean,
'Semoga saja kelompokku tidak menemui binatang buas seperti itu.' Batinnya.
Tiba-tiba dari arah kelompok pemburu yang lewat, Jean melihat ada seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pipi kanannya tengah berjalan mendekati arah Jean duduk.
__ADS_1
Dahi Jean berkerut karena pria paruh baya itu sudah berhenti tepat di hadapannya. Diapun berdiri.
"Jean? Kau Jean bukan? " tanya pria paruh baya tersebut.
"Y,ya maaf kau siapa? " Jean bertanya balik, dia tidak ingat penah mengenal pria tersebut.
"Sepertinya aku tidak salah lihat, aku rekan kelompok pemburu ayahmu. Apa kau ingat, panggil aku paman Ben." Pria itu mengaku sebagai rekan ayah Jean.
"Oh paman Ben, maaf aku tidak mengenalimu." Jean mengingat memang ada rekan ayahnya yang bernama Ben, tapi dia tidak ingat seperti apa wajahnya.
"Itu tidak masalah, jadi kau sekarang menjadi pemetik?" Tanya paman Ben setelah melihat lencana pemetik pemula di pakaian Jean.
"Ya paman, aku baru saja mendaftar dan ini hari pertamaku di luar tembok." jelas Jean memegangi lencana di dadanya.
Paman Ben memperhatikan orang-orang di kelompok Jean dengan pandangan tidak normal.
"Jean ayo bicara sebentar di sana oke." ajak paman Ben menunjuk ke tempat kosong agak jauh dari kelompok Jean beristirahat.
Jean setuju saja, mengingat paman Ben adalah rekan remburu ayahnya.
"Jean, karena kau menjadi pemetik, aku akui kau memang memiliki keberanian yang tinggi seperti ayahmu. Aku mengajakmu ke mari karena ingin memperingatkanmu." Paman Ben berbicara cepat sambil sesekali menoleh ke belakang.
Jean tersenyum kecil,
"Ya, paman terima kasih. Paman memperingakanku tentang apa?" Jean bertanya penasaran.
Paman Ben berbisik, "Kulihat kau pergi dengan kelompok Marco, asal kau tahu saja mereka bukan kelompok yang baik. Sebaiknya kau waspada dengan mereka. Aku tidak bisa berbicara banyak, jika kau butuh sesuatu kau bisa mencariku di kota, cari saja di rumah lelang Ben. Oke hati-hati Jean, sampai jumpa lagi."
Mata paman Ben terus melirik ke belakang waspada jika ada orang yang menguping, setelah mengatakan itu dia melambaikan tangan dan pergi kembali ke barisan kelompoknya yang sudah berjalan agak jauh.
Jean ingin bertanya lebih lanjut tapi paman Ben sudah pergi. Dia hanya bisa memandang kepergian paman Ben dengan wajah bingung.
"Apa yang dikatakan paman Ben benar?" gumam Jean penasaran.
__ADS_1