
Ketika Jean membuka matanya kembali sadar, bukan pemandangan hutan lebat yang dia lihat, tapi terlihat ruangan berdinding dan beratap kayu.
Anehnya dinding, lantai, dan atap kayu tersebut tampak sangat halus tanpa ada celah penyambungan. Jean tidur di ranjang yang terbuat dari bahan seperti kapas putih yang empuk.
Jean mencoba untuk duduk, rasa nyeri menjalari bahunya, namun tidak sesakit sebelum dia pingsan.
Setalah melihat pundaknya, Jean mendapati jika lukanya telah dibalut, kemejanya tidak lagi dia kenakan. Sekarang dia hanya memakai kemben dengan kain coklat yang tidak dia ketahui jenis bahannya.
Jean juga mencium bau obat dari mulutnya, sepertinya ada orang yang menyelamatkannya juga menyuapkan obat ketika dia tidak sadar, tidak heran jika mulutnya terasa pahit.
Dari arah bahunya yang terluka pun tercium bau tanaman yang menyengat, sepertinya lukanya juga dilaburi obat sebelum dibalut.
Tubuhnya terasa ringan, tapi masih lemah. Buktinya dia hanya bisa duduk dan tidak kuat untuk berdiri.
Jean hanya bisa mengamati interior ruangan kayu di sekelilingnya.
Di ruangan itu tidak ada banyak barang, hanya ranjang, meja kayu bundar serta rak dan lemari yang tampak menyatu dengan dinding kayu.
Terlihat benda bulat yang ditanam di sekeliling dinding kayu bagian atas, benda-benda bulat tersebut mengeluarkan cahaya oranye seperti lampu pijar kuno yang ada di dunia asal Marrissa.
Terdapat banyak toples kaca berisi tanaman atau biji-bijian kering di rak tersebut. Tampak di atas meja juga ada vas kayu berisi bunga-bunga cantik, di sampingnya juga ada daun-daun tanaman yang masih segar dan alat seperti penumbuk.
Sepertinya obat untuk mengobatinya ditumbuk langsung menggunakan daun dan tanaman obat segar di atas meja.
Jean mengenali salah satu jenisnya yaitu daun Giju yang berwarna kuning kemerahan di atas meja.
Daun itu adalah tanaman obat yang mahal. Salep buatan ibunya dulu juga terbuat dari tanaman itu. Semasa ayahnya masih hidup, dia selalu membawakan daun Giju ketika pulang dari hutan.
Katanya daun Giju hanya didapat di Hutan Dalam, itupun jarang ditemukan karena daun Giju adalah makanan favorit banyak hewan, tidak heran jika harganya mahal.
Namun untungnya ayah Jean selalu bisa membawa pulang satu ikat daun Giju.
Kali ini ketika menyadari penolongnya mau mengobati dengan tanaman obat yang mahal, Jean merasa sangat berterima kasih dan rasa memiliki hutang budi padanya, tapi di ruangan itu tidak ada siapapun selain dia seorang.
Sepertinya orang yang menolong Jean sedang pergi.
Setelah duduk lama, Jean mengumpulkan energi untuk bangun. Dia jalan-jalan kecil melihat apa saja yang ada di ruangan itu, terutama pada benda-benda kering di dalam toples kaca.
__ADS_1
Jean tidak tahu jenis tumbuh-tumbuhan apa di dalamnya, jadi dia merasa penasaran.
Perhatian Jean beralih pada dinding kayu di ruangan itu, dari awal dia heran bagaimana orang bisa menyambungkan kayu sehalus itu. Tidak ada celah penyambungan sama sekali, seolah kayu itu tumbuh langsung membentuk ruangan tersebut.
Ketika Jean menyentuh dinding kayu di depannya, dinding itu terdorong ke depan, cahaya menyeruak dari celah dinding menerpa wajah Jean.
Jean terkejut, dinding kayu di depannya ternyata merupakan sebuah pintu.
Pintu itu masih terbuka sedikit, dia mendorongnya sekali lagi dan pintu kayu terbuka sepenuhnya.
"Sling... Jeb" Jean dikejutkan dengan panah yang datang secara tiba-tiba menancap tepat di bawah tangan Jean yang memegang pintu kayu.
Spontan Jean menarik kembali tangannya.
"Manusia, kau sudah bangun ternyata." Suara halus terdengar dari luar pintu.
Jean mendongak, dia melihat sosok wanita cantik menatapnya dengan wajah sinis.
Wanita di depan Jean tampak berbeda, selain wajahnya sangat cantik, dia memiliki rambut panjang berwarna perak mengkilau dengan telinga yang sangat pajang meruncing.
Dari ingatan Jean asli, dia pernah mendengar jika ras yang memiliki telinga panjang dan rambut berwarna perak adalah ras Elf yang hidup di pedalaman hutan X.
Dari sapaan pertama wanita itu menyebut Jean dengan sebutan Manusia, memperkuat dugaan Jean jika wanita di depannya bukan manusia melainkan ras Elf.
"Ya, emn apa kau yang menyelamatkanku?" Jean bertanya.
Elf wanita mencabut anak panah yang tertancap di pinggiran pintu lalu menutup pintu itu, kemudian dia berjalan ke tengah ruangan.
Dia menyandarkan busurnya di samping lemari lalu menaruh keranjang berisi buah-buahan berbagai jenis ke atas meja.
Rambut perak panjangannya yang diikat ekor kuda bergoyang-goyang mengiringi gerakannya.
Elf wanita menoleh dan menjawab, "Bukan aku yang menyelamatkanmu."
"Lalu siapa yang menyelamatkanku?" Jean bertanya dan berjalan mendekat.
"Kau akan segera tahu, makanlah buah-buah ini, agar lukamu cepat sembuh." Setelah mengatakan itu Wanita elf mengambil satu buah berwarna ungu dan memasukkannya ke alat penumbuk.
__ADS_1
Jean tersenyum canggung, "Ya, meski kau bilang kau bukan penolongku, tapi kau memperbolehkan aku menumpang di rumahmu dan makan buah yang kau dapatkan, jadi aku juga menganggap ku sebagai penolongku. Aku hanya ingin berteri..."
"Sudah makan saja itu, jangan banyak bicara, manusia sangat memuakkan." Wanita Elf itu memotong dengan kata-kata ketus.
"Eh, yah terima kasih." Melihat wanita Elf di depannya begitu ketus dan tidak menyukai keberadaannya, Jean mengambil buah kuning gelap berbentuk pipih seperti piring dan menjauh duduk di ranjang untuk memakannya.
Wanita Elf menoleh pada Jean, matanya seperti ingin membunuh.
"Jangan sampai kau kotori ranjang itu, atau kubunuh kau!"
Jean: "..."
Diapun berdiri dari kasur dan duduk di lantai kayu. Sebelumnya dia duduk di ranjang karena tidak ada tempat duduk lain, hanya ada satu tempat duduk, namun itu ada di dekat manita Elf.
Berhubung Jean ada di rumah orang, dia hanya mengangguk dan tersenyum sopan berusaha tidak memancing kemarahan tuan rumah.
Melihat perilaku Jean, wanita Elf itu menarik tatapan membunuhnya, dia kembali fokus pada benda-benda di tangannya.
"Cluk cluk cluk.." Buah ungu ditumbuk dengan campuran tanaman di atas meja oleh wanita Elf.
Jean duduk manis mengigit buah aneh di tangannya. Matanya melebar, ternyata rasa buah itu manis asam sangat menyegarkan, rasanya mirip seperti buah mangga tapi dengan bau yang berbeda.
Setelah buah ditangan Jean habis, wanita Elf menyodorkan gelas kayu berisi cairan hijau keunguan padanya.
"Minum itu."
Jean menerima gelas itu, "Terima kasih, apa ini obat?"
"Hmm," Pertanyaan Jean dibalas anggukan ringan.
Mengetahui hal itu, Jean dengan senang hati meminum cairan kehijauan tersebut karena obat adalah hal yang baik dan sangat mahal di dunia ini.
"Blaaah...." Seperti yang dia duga rasa obat itu sangat pahit.
Jean berdiri mencoba mengambil buah dengan rasa mangga di meja, sayang sekali bahunya yang terluka diremas oleh elf wanita.
"Setelah minum obat kau tidak bisa makan atau minum apapun lagi." Tutur wanita Elf menghentikan Jean.
__ADS_1
"Ah, aw... Sakit." Jean mundur, dia memegangi pundaknya dengan wajahnya menunjukkan ekspresi kepahitan dan nyeri, dia menatap bingung pada tindakan wanita Elf di depannya.
Kini Jean yakin jika wanita Elf itu memang tidak suka padanya.