Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Pemilihan Budak


__ADS_3

Setiap 10 tahun ras Vampire selalu datang ke tempat ras manusia untuk mengambil budak manusia sebagi suplay darah, karena ras manusia adalah ras terendah dari ras lainnya dan juga berada di bawah kekuasaan ras Vampire.


Namun keuntungan yang didapat manusia adalah mereka mendapat perlindungan dari tembok besar yang dibangun oleh ras Vampire, meski ras manusia harus menyerahkan sejumlah besar manusia pada ras Vampire.


Kali ini berbeda, yang datang sebagai perwakilan adalah bangsawan vampire yang memberi permintaan khusus untuk kriteria calon budaknya, yaitu semakin tampan semakin baik.


Belinda, perwakilan dari ras Vampire, dia adalah wanita muda dengan penampilan yang seksi. Rambutnya berwarna merah bergelombang sepanjang punggung.


Selain berhidung mancung, bibirnya tebal dengan pewarna bibir merah cerah. Matanya dihiasi dengan bulu mata panjang nan lentik ditambah pupil yang juga berwarna merah khas dari ras Vampire.


Satu lagi yang paling membedakan dengan ras Vampire dengan ras manusia adalah mereka memiliki dua gigi taring panjang guna menghisap darah mahluk hidup.


Belinda adalah bangsawan di wilayah Vampire, sebenarnya bukan tugasnya mengurusi suplay darah, itu adalah tugas rendahan.


Namun karena rasa bosan melanda dirinya, dia ingin mencari sesuatu yang baru seperti budak manusia berwajah rupawan.


Di rumah tuan kota, Belinda berbaring miring di sofa panjang, tubuh bagian atasnya bersandar pada pinggiran empuk berbantal di sofa tersebut.


Di samping kiri dan kanan sofa ada dua pelayan wanita cantik sedang mengipas-ngipasi Belinda.


Tangan kiri Belinda memegang gelas emas berisi cairan berwarna merah pekat. Entah itu darah atau anggur.


Di dekat sana berdiri seorang pria berpakaian putih rapi berkumis tebal.


Dialah Tuan Kota Manusia.


Tuan Kota menyambut dengan antusias kedatangan Belinda, dia berusaha melayani dan memenuhi permintaan dari wanita cantik namun beda ras di hadapannya.


Mengingat wejangan dari Tuan kota sebelumnya alias ayahnya, meski para ras Vampire mirip dengan manusia, namun mereka sangat jahat dan keji dengan manusia, jadi dia harus berhati-hati dan selalu memenuhi permintaan mereka agar tidak mengundang amarah mereka.


Jadi ketika tahun ini ras Vampire datang dan meminta dicarikan budak rupawan, Tuan Kota buru-buru melepas perintah itu kepada para bawahannya yaitu Tuan-tuan Tanah yang mengelola tanah pemukiman manusia.


Budak-budak itu dikumpulkan di rumah Tuan Kota, mereka secara bersamaan disuruh membentuk barisan rapi di sebuah ruangan besar nan megah.

__ADS_1


Juno ada di barisan belakang karena keretanya datang agak terlambat.


Menghitung jumlah budak dalam ruang itu mungkin berjumlah sekitar 200 orang.


Tuan Kota muncul di hadapan para budak.


"Setelah ini kalian akan maju satu-persatu ke ruang Tamu Istimewa. Kalian tidak boleh berbicara apapun kecuali tamu itu bertanya pada kalian, jangan pernah pernah mendongak menatap balik wajah tamu itu dan jangan melakukan hal bodoh apapun yang bisa memancing kemarahan tamu itu." Tuan Kota menjelaskan rinci apa saja yang tidak boleh dilakukan para budak.


"Kalian masuk secara berurutan, setelah satu orang keluar baru orang lain bisa masuk. Pertama di dalam ruangan, kalian hanya perlu maju 10 langkah maka tamu itu sudah bisa melihat kalian, kemudian kalian perlu berputar pelan 3 kali dan jika Tamu tidak bertanya apapun kalian bisa langsung kembali. Itu saja." Setelah mengatakan intruksi peragaan budak, Tuan Kota menyuruh budak paling depan di barisan kanan untuk masuk lebih dulu diikuti barisan di sampingnya.


Juno paham dengan semua yang dikatakan pria berbaju putih di depan. Hanya saja dia merasa gugup dan takut, dia takut Tamu Istimewa di dalam sana yang dikatakan berasal dari ras lain akan memilihnya sebagai budak.


Dia tidak ingin menjadi budak Roselia atapun Ras lain, Juno tidak ingin menjadi budak siapapun.


Namun apalah dayanya yang hanya bocah berumur 12 tahun. Dia tidak bisa melawan pengawal kekar Roselia.


Sempat terbesit rasa ingin membuat onar di hadapan tamu istimewa untuk memancing kemarahannya, biarkan Berto Tuan tanahnya beserta istrinya Roselia mendapat imbas darinya.


Budak yang masuk secara bergiliran terus berlanjut, entah berapa lama waktu telah berlalu kini sudah hampir dekat dengan giliran Juno.


Di dalam ruangan, Tuan kota berdiri di belakang sofa Belinda.


Belinda masih tampak acuh dan tidak tertarik pada pudak yang baru masuk.


"Kenapa budak-budak yang kau bawa sampai sekarang belum ada yang menarik minatku, aku meminta budak rupawan tapi yang kau bawa biasa-biasa saja." Belinda berkomentar tidak puas.


Tuan Kota merinding mendengar ketidak puasan Belinda.


"Maaf nyonya mereka adalah budak dengan penampilan terbaik yang sudah saya temukan di kota ini. Tenanglah nyonya, masih ada beberapa baris terakhir, mungkin anda akan tertarik pada salah satunya." Tuan kota berbicara diakhiri dengan senyum yang agak kaku karena hatinya sangat ketakutan.


Budak-budak masih bergiliran masuk, ada yang masuk lalu pingsan di dalam ruangan sebelum berputar sebanyak tiga kali, Belinda tidak suka budak seperti itu, dia menyuruh menyingkirkan budak itu.


Ada juga budak yang mendapat lemparan gelas berisi cairan merah dari dari tangan Belinda karena berani mengompol di ruangan itu.

__ADS_1


Budak itu sangat ketakutan dan tidak bisa mengontrol alat kemihnya. Setelah mendapat lemparan gelas emas, tubuh bagian tasnya basah oleh cairan merah yang berbau besi.


Budak itu langsung jatuh terduduk tidak sanggup bergeak atau berteriak menyadari cairan itu adalah darah.


"Kurang ajar! berani sekali kau buang kotoran di sini. Bunuh dia, hukum berat orang yang berhubungan dengannya." Belinda sangat emosi karena merasa terhina oleh kelakuan budak itu.


Tuan kota segera menyuruh pelayan membawa pergi budak itu dan membersihkan tempat itu dengan cepat.


"Maaf Nyonya atas peristiwa yang disebabkan budak tadi. Saya akan menghukum sesuai permintaan Nyonya." Tuan kota berkata sambil menggosok-gosok kedua tangannya meminta maaf.


"Huuuh, jangan sampai terulang lagi!" Belinda berkata ketus.


Mood Belinda menjadi buruk, dia muak dengan budak-budak yang tidak menarik perhatiannya.


Sampai kemudian matanya terpaku pada budak yang baru saja masuk.


Setelah budak itu berputar tiga kali, budak itu akan pergi, namun Belinda menghentikan,


"Tunggu, tetap di situ."


Belinda berjalan menghampiri budak itu, dia mengitari budak sambil mengendus aromanya.


"Hmmn, agak kurus, mata yang indah sekali, hmm ada aroma yang berbeda, sepertinya aku menemukan darah campuran. Menarik sekali. Aku memilihnya." Belinda tersenyum senang akhirnya dia punya mainan baru.


Setelah pilihan Belinda jatuh, wajah Tuan Kota menjadi sumringah, berbeda sekali dengan budak yang telah terpilih.


Wajah budak itu tampak syok dan penuh dengan kesedihan dari matanya.


"Siapa namamu bocah?" Belinda bertanya dengan satu tangan, jari telunjuknya mengangkat dagu budak agar mau mendongak menatapnya.


Budak itu menjawab dengan suara pelan,


"Juno."

__ADS_1


__ADS_2