
Pemandangan taman yang tidak terawat tampak tidak terlalu bagus, ditambah dengan adanya wanita gendut yang tengah menikmati kue begitu lahap, tapi dengan wajah yang kusut dan penuh kekesalan.
Margaret begitu kesal mendengar kabar jika suaminya yaitu Tuan Tanah masih lebih sering ke kamar Paula dibandingkan kamar Rosela.
Bukan berarti dia ada di pihak Rosela, tapi dia kesal kenapa sosok yang dikunjungi bukan dirinya.
Margaret berpikir dia dan Paula hanya kalah usia, Paula lebih muda dan lebih besar gantungan buah kembar di dadanya, tapi yah melihat kondisinya saat ini yang bagai babi, Margaret tidak jadi memasukkan kue lagi ke mulutnya.
Dengan satu tangan gemuknya, dia melempar sepiring kue yang masih ada sisa separuh ke samping, menimbulkan bunyi berisik pecahan piring.
Pelayan di belakanganya menutup telinga, dia dengan wajah takut segera membersihkan pecahan piring dan kue yang berserakan di bawah sana.
Margaret sadar, dia gendut, dia tidak mungkin mendapat perhatian dari suaminya lagi.
Namun seharusnya itu bukan salahnya, dia gendut karena merasa depresi diusir dari rumah utama hanya karena membunuh istri ketujuh suaminya, sehingga dia melampiaskan rasa stresnya dengan makan lebih banyak.
Menurutnya itu hanya kesalahan kecil, seharusnya sang suami tidak perlu mengusirnya dan tidak pernah mengunjunginya sekalipun selama satu tahun ini.
Karena masalah ini, dia menjadi istri terbuang dan terjelek dari Tuan Tanah.
Dia muak dengan segala hinaan dari istri-istri lain suaminya ketika beberapa minggu yang lalu mereka berkumpul di rumah utama membahas budak untuk tamu istimewa dari ras Vampire.
Rasanya dia ingin mencekik dan membunuh semua istri suaminya dan menempati tempat Paula tepat di samping sang suami.
Tapi itu hanya pikiran gila yang tidak berani dia lakukan.
"Mereka semua wanita sialan yang merebut cinta suamiku!" Margaret berteriak dan menendang pelayan yang sedang membungkuk membersihkan pecahan piring.
Pelayan itu terdorong ke depan, tangannya menjadi tumpuan tubuh, karena ada pecahan piring di depannya, otomatis telapak tangannya terluka.
Pelayan itu menggigit bibir menahan sakit, dia segera melanjutkan membersihkan pecahan piring dengan tangan berdarah.
Jean memperhatikan dari semak-semak dengan tatapan pedih.
"Aduh, pasti sakit. Jahat sekali wanita ini, tapi aku harus tetap mencoba."
Ketika pelayan pergi membawa pecahan piring ke dapur, taman itu hanya menyisakan Margaret seorang.
Jean memanfaatkan momen itu, dia berjalan mendekati Margaret.
Arah datangnya Jean dari semak-semak di belakang Margaret.
Wanita gendut di depannya tidak menyadari kedatangan Jean, dia saat ini masih memakan kue lain langsung menggunakan tangan tanpa sendok atau garbu, mungkin karena moodnya yang sangat buruk sehingga membuatnya tidak ingin makan dengan garbu agar terlihat elegan, toh suaminya tidak peduli lagi dengan wanita babi seperti dia.
__ADS_1
"Hari yang indah Nyonya Margaret." Sapa Jean dengan suara seramah mungkin.
Sontak Margaret menghentikan makannya, dia menoleh melihat asal suara.
Melihat wajah cantik Jean, muka Margaret menjadi sangat sinis, dia benci wanita berwajah rupawan melebihinya karena wajah-wajah seperti Jean itulah yang diminati oleh suaminya.
"Siapa kau!?" Margaret bertanya ketus. Seingatnya dia tidak pernah menerima tamu selain bawahan dari suaminya ketika melaporkan kondisi ladang dan hasil sewa pemukiman di tanahnya.
Dan juga, jika ada tamupun pasti para pelayan akan melaporkan dulu padanya, apakah dia mau bertemu atau tidak.
Jika dia mau menemui tamu itu, Margaret akan bersiap-siap memakai pakaian bagus dan berdandan rapi. Yah meski tubuhnya gendut bagai babi, tetap saja dia tidak ingin dilihat orang luar dalam penampilan kacau seperti saat ini.
"Nyonya Margaret perkenalkan namaku Jean, aku di sini ingin membantumu memecahkan masalah aku bisa...." Ucapan Jean dipotong oleh Margaret.
"Apa yang kau bisa hah? Wanita lemah seperti kau mana bisa membantuku, siapa yang mengundangmu ke mari hah? Apa kau penyusup?"
Menyadari Jean adalah penyusup, Margaret berteriak, " Penjaga, pelayan usir pernyusup ini dari hadapanku. Penjagaaaaa!!! Pelayannnn!!!"
Sayang teriakannya tidak kunjung mendatangkan pelayan dan penjaga. Itu wajar karena wilayah taman jauh dari dapur tempat kedua pelayannya sekarang berada, dan ditambah lagi letak penjaga rumah lebih jauh lagi di gerbang rumah, dia bahkan masih tidur nyenyak saat ini, tidak mendengar teriakan majikannya.
Karena tidak ada yang datang, Margaret berhenti berteriak dan memaki,
"Dasar bahwahan tidak becus, di saat seperti ini mereka tidak ada huhh, hey kau penyusup jangan melihatku dengan tatapan itu, kau pikir kau akan bisa lolos dariku setelah menatapku begitu hah! " Margaret kesal karena Jean menatapnya dengan tatapan Aneh, dia merasa seperti orang konyol.
Jean menghindar dengan mudah, meski dia tidak menghindarpun dia tidak akan terkena serangan Margaret karena Margaret lebih dulu terpeleset oleh bekas kue di lantai taman yang barusan dia lempar.
"Aaahhhh...." Margaret berteriak.
Alhasil tubuh besar Margaret jatuh terpeleset ke depan, dahinya terkena batu pinggiran di taman itu membuatnya pingsan di tempat.
Tempat itupun menjadi sepi, Jean berdiri diam di sana masih mencerna apa yang terjadi barusan.
Dari arah lain, terdengar teriakan.
"Nyonyaaaa!!!" Dua pelayan berteriak bebarengan dan berlari ke taman.
Mereka mendekati Margaret yang kini tergeletak dalam posisi tengkurap tidak sadarkan diri.
Pelayan yang sebelumnya telapak tangannya terluka pecahan piring kini tangannya sudah diikat dengan kain putih, tampaknya sudah dia obati.
Dia mendekati Margaret dan bertanya sambil mengecek,
"Nyonya, nyonya kau tidak apa-apa? Nyonya?"
__ADS_1
Menyadari sang majikan pingsan, dia segera berdiri dan wajahnya yang khawatir berubah menjadi ekspresi dingin, dia berucap,
"Huh, si babi ini pingsan."
"Benarkah, bagus kalau begitu." Pelayan satunya yang pernah ditampar dengan biskuit oleh Margaret membalas dengan senyum miring seolah senang majikannya pingsan.
Jean tidak merasa heran kenapa sikap dua pelayan itu memiliki dua muka karena mereka memiliki majikan sekejam Margaret.
"Emmn, maaf ini bukan salahku, dia tadi terpeleset sendiri, kalian bisa lihat ada bekas kue di kakinya." Jean menjelaskan agar pelayan itu tidak menuntutnya karena menyebabkan majikan mereka pingsan.
"Oh tidak masalah, jangan khawatir, aku melihat kejadian itu dari jauh tadi. Memang babi ini yang ceroboh dan jatuh sendiri." Pelayan dengan tangan terluka menginjak punggung Margaret dengan wajah dingin.
Jean lega mendengar hal itu dan agak kasihan dengan Margaret yang diinjak pelayannya.
"Tapi, bisakah kau membantu kami membawa babi ini ke kamarnya?" Pelayan itu menambahi.
Jean : "..."
"Oh tentu saja." Jean tersenyum canggung, tapi dia tetap bersedia membantu.
Akhirnya dua pelayan itu dan Jean mengangkat tubuh berat Margaret menuju rumah, sebenarnya tindakan mereka lebih seperti menyeret daripada mengangkat.
Jean memegangi dua kaki Margaret sedangkan dua pelayan mengangkat bahu dan tangan Margaret, karena tubuhnya sangat berat, bagian bokong dan sebagian punggung masih terseret di tanah.
Sampai di dalam rumah, mereka masih harus melewati tangga karena kamar Margaret ada di lantai dua.
Mereka bertiga bekerja sama dengan sudah payah akhirnya behasil membawa tubuh Margaret sampai ke ranjang.
Setelah itu Jean duduk di kursi rias di kamar itu dengan nafas ngos-ngosan, butuh energi besar untuk melakukan aksi tadi.
"Minumlah ini, terima kasih sudah mau membantu kami." Pelayan dengan luka di tangannya memberikan segelas air putih pada Jean.
"Ya sama-sama, perkenalkan namaku Jean." Jean menerima gelas itu dan menyalami pelayan tadi mencoba berkenalan.
Si pelayan tersenyum ramah, wajahnya tidak sedingin sebelumnya ketika menginjak punggung Margaret.
"Ya, namaku Dean dan dia Laura." Dean juga menyebut nama pelayan satunya yang kini masih sibuk mengganti pakaian Margaret.
Dean ikut membantu mengganti pakaian Majikannya, mereka harus membersihkan baju Margaret yang kotor karena terseret di tanah sebelum dia sadar dan mengamuk parah.
Melihat itu Jean ingin menyela, bukankah seharusnya mereka mengobati luka Margaret terlebih dahulu sebelum mengganti pakaian?
Dahi dan pipi Margaret saat ini tampak berdarah mungkin karena terkena batu saat terpeleset sebelumnya.
__ADS_1
Namun Jean menelan lagi kata-katanya, biarakan saja dua pelayan itu yang mengurusi.