
Udara kembali segar setelah hujan mengguyur amat deras, membawa segala sampah dan hal kotor lainnya di wilayah pemukiman tingkat rendah yang bisa dibilang wilayah kumuh.
Jean telah berganti baju kering, hanya saja rambut cokelat gelapnya masih basah dan butuh waktu lebih lama untuk kering.
"Kenapa ayahku mengubah nama lamanya? Kau bilang kau adalah teman ayahku dulu ketika namanya masih belum berubah, apa kau tau alasannya mengubah nama?" Jean bertanya dengan wajah ragu karena dia belum percaya apa yang dikatakan oleh Valir.
" Mungkin dia ingin membuat identitas baru dan membuang identitas lamanya." Valir bersandar di kusen pintu kayu.
Setelah hujan, anehnya langit menjadi sangat cerah seolah tidak pernah ada awan mendung di tempat itu sebelumnya.
Karena cahaya dari luar pintu, membuat sosok Valir terlihat hanya seluet hitam yang begitu rupawan.
Pemandangan indah itu tidak masuk ke otak Jean karena saat ini dia fokus pada ruwetnya masalahnya saat ini dan informasi baru yang dikatakan Valir padanya.
"Kenapa ayahku ingin membuang identitas lamanya, apa kau tahu identitas lama ayahku?" Jean bertanya lagi, karena dia menjadi lebih penasaran dengan harga identitas ayahnya.
Jika diingat-ingat Jean tidak mengingat ayahnya pernah bercerita tentang masa mudanya, yang ada hanya pengalaman tentang hutan, tentang menjadi pemburu, tehnik pedang dan pengalaman yang lain tanpa ada pengalaman masa muda sama sekali.
"Karena ayahmu adalah Elf darah murni yang diusir dari ras Elf." Valir menjawab rasa penasaran Jean.
Mata Jean melebar, dia terkejut bagaimana bisa ayahnya yang dia kenal sebagai manusia ternyata adalah Elf, dan itupun masih Elf yang diusir dari Ras Elf.
"Kau tidak berbicara omong kosong kan Vin? Ayahku manusia, bagaimana dia bisa menjadi Elf?"
Jean semakin penasaran.
Valir menghela nafas.
__ADS_1
"Ini cerita panjang yang menyedihkan, Aku bisa menceritakannya dari awal, tapi tempat ini tidak cocok untuk kita membicarakan hal itu. Aku juga masih memiliki hal lain yang perlu kulakukan di kota manusia. Sepertinya tidak bisa sekarang Jean. " Valir menunda karena memiliki hal lain.
Jean merasa kecewa,
"Yah, jadi tidak bisa sekarang ya, lalu kapan?"
"Lebih baik kita berbicara di luar kota manusia, untuk kapannya mungkin kita bisa bertemu sekitar dua minggu lagi, aku akan mengabarimu." Valir kemudian berjalan mendekati Jean.
Dia memberikan sebuah kayu tabung seukuran jari kelingking, terdapat lubang di dua ujung kayu. Sekilas itu seperti peluit namun dengan bentuk yang agak aneh.
"Jika kau memiliki masalah selama dua minggu ini, tiup saja benda ini sekeras yang kau bisa. Jangan kaget jika benda itu tidak bersuara, teruslah meniup dan aku akan datang secepat mungkin." jelas Valir.
"Jadi kau akan pergi? Bukankah kau bilang kau akan membantuku." Jean merasa tidak rela dengan niat Valir untuk pergi.
"Itu benar, aku akan membantumu, tapi tidak bisa sekarang. Masih ada yang perlu kulakukan, tolong mengerti Jean.
Jangan berbuat sesuatu yang nekat dan gegabah, atau kau akan celaka sendiri." Valir memberi wejangan, takut Jean akan hilang akal dan memutuskan menyerang kediaman Tuan Tanah atau pergi sendiri ke ras Vampire saat dia tidak ada.
"Ya aku mengerti, kau tidak perlu mengingatkanku akan hal seperti itu, aku bukan anak kecil." Jean bermuka sedih, karena Valir akan pergi.
Entahlah setelah kehilangan Juno, Jean sangat mudah rapuh dan tidak ingin menghadapi kehilangan atau perpisahan lagi dengan orang yang dekat dengannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Valir juga memiliki urusan lain.
"Ya, jaga dirimu Jean. Dua minggu lagi kita bertemu di luar tembok besar. Baiklah sampai jumpa lagi, aku pergi." Valir berjalan pergi keluar dari rumah kecil Jean dan menghilang dengan cepat dari pandangan Jean.
Setelah kepergian Valir, rumah Jean menjadi amat sepi, meja yang terguling karena bagian satu kaki hancur sudah berdiri kembali dengan sanggahan kaki kayu baru, mungkin hasil dari reparasi Valir.
Jean duduk di ranjang udangnya sambil menatap lamari tua yang mana di belakanganya terdapat peti tua berisi pedang milik mendiang ayahnya.
__ADS_1
Jean masih bingung dengan perkataan Valir yang mengatakan jika ayahnya memiliki nama lain yaitu Vin, dan dia adalh Elf darah murni yang telah diusir dari ras Elf.
Semua masih misteri yang membuat kepala Jean pusing memikirkan kebenaran dari semua itu.
"Sudahlah, dua minggu lagi semuanya akan menjadi jelas." batin Jean tidak ingin memikirkan masalah itu karena saat ini dia sudah sibuk memikirkan Juno.
Hari berikutnya, memakai jubah bertudung, Jean pergi meninggalkan gubuknya menuju suatu tempat.
Tempat yang dia taju adalah kediaman Istri Kedelapan Tuan Tanah, yah, itu adakah kediaman Mean yang baru menggantikan tempat Rosela.
Kali ini dia lebih pintar tidak seperti kemarin. Jean menunggu di dekat sana, yang dia tunggu adalah kereta dari Mean.
Selang beberapa saat, akhirnya kereta yang sama seperti kemarin kini terlihat keluar dari gerbang rumah.
Jean tidak tinggal dia, begitu kereta itu pergi, Jean menyelinap dari balik pohon, dengan loncatan penuh dia berhasil masuk ke kereta itu.
"Ouch, aaagr sakit juga. " Jean menggeluh.
"Siapa kau!" Suara wanita ketakutan dari samping.
Jean segera membungkam mulut wnita itu menggunakan tangannya.
"Tenanglah nyonya kedelapan, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu." Jean menenangkan Mean agar tidak berteriak.
Mendengar itu dan melihat wajah di dalam tudung itu, Mean merasa lega.
"Apalah ini tentang adikkmu lagi?" Mean bertanya balik.
__ADS_1
"Tidak..."