
"Kenapa kau membela manusia itu? Apa kau tidak lihat Vin menjadi seperti ini karena dia! lepaskan aku, akan kubunuh manusia itu." Vedis meronta ingin lepas dari kekangan Valir.
Sayang sekali kekuatan elf wanita tidak bisa mengimbangi kekuatan elf laki-laki, jadi Vedis tidak bisa melepaskan diri.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tiba-tiba suara lain membuat ruangan itu menjadi hening sejenak.
Vedis dan Valir menoleh ke arah ranjang, tampak Vin sudah sadar dan kini duduk di ranjang.
"Vin, kau baik-baik saja?" Vedis bertanya dengan wajah khawatir.
"Yah, aku baik-baik saja, kalian tidak perlu menyalahkan Julia." Vin menjawab dengan wajah tenang.
"Vin kau... Apa ku bilang, kenapa kau melakukan hal itu dengan manusia itu? Lihat dirimu!" Vedis tidak paham kenapa sahabatnya begitu tenang dan melarangnya menyalahkan Julia.
Vin menutup mata sejenak dan membukanya lagi, dia menatap Vedis dan Valir dengan tatapan tegas.
"Aku mencintainya."
"Vin!" Vedis berteriak.
"Diamlah, ini jalanku aku yang memilih jalan ini." Wajah Vin masih tenang.
"Tapi, kau tidak akan bisa tinggal di sini lagi." Vedis tidak mau hal itu terjadi karena dia sebenarnya menyimpan sedikit perasaan pada Vin,namun dia tidak berani mengungkapkan.
Karena kejadian hari ini, jika Vin tidak bisa tinggal di hutan Elf lagi, Vedis tidak bisa bertemu dengan Vin karena aturan Elf juga melarang Elf wanita keluar dari hutan Elf.
__ADS_1
Dia tidak mungkin bisa melihat wajah Vin lagi dan dia sangat tidak mau.
"Aku tidak peduli, aku bisa tinggal dimanapun, tinggal di kota manusia itu bukan masalah." Vin menjawab masih dengan wajah yang tenang seolah dia hanya menghadapi masalah sepele.
"Kau sudah gila!" Vedis berteriak dan pergi dari rumah Vin sambil membanting pintu kayu cukup keras.
Setelah hari itu Vedis tidak pernah muncul di sekitaran rumah pohon Vin.
Vin tahu hal yang dia pilih memiliki resiko besar dan banyak merugikan dirinya.
Lantaran Ras Elf memiliki aturan yaitu Elf dilarang memiliki pasangan dari ras lain terutama manusia.
Jika tidak patuh, maka kutukan elf akan menimpa mereka.
Kutukan itu berupa hilangnya kilau dari rambut elf tersebut dan membuat mereka tak lagi bisa merasakan kekuatan bumi, mereka tidak lagi bisa menggunakan sihir.
Valir menatap kepergian Vedis, dia lalu menatap lagi ke arah Vin yang kini sedang berjalan mendekati Julia yang sedang menangis di lantai.
"Apa yang akan kau lakukan?" Valir bertanya.
"Apalagi, Aku akan pergi sebelum yang lainnya mengusirku." Vin memeluk Julia, salah satu tangannya mengelus kepala Julia menenangkan wanita dipelukannya.
"Aku tahu aku sudah tidak bisa tinggal di sini." Vin menambahi.
"Kau akan tinggal di mana? " Valir mengela nafas, dia membuka jendela dan menghirup udara segar dari luar.
__ADS_1
"Kota manusia." Vin menjawab lagi.
"Tapi telingamu?" Valir menanyakan hal itu karena telinga elf berbentuk meruncing dan lebih panjang dari telinga manusia.
Pastinya manusia tidak akan membiarkan Vin tinggal dengan aman di kota manusia swtelah tau identitas Vin adalah dari ras Elf.
Yang harus diketahui, Elf memiliki umur panjang seperti pohon dan diyakini daging dan darah Elf memiliki efek memperpanjang umur bagi siapa yang memakannya.
Itulah salah satu alasan mengapa elf memilih hidup menyendiri dan sulit ditemukan keberadaannya dari ras manapun.
"Tidak masalah, aku akan memotongnya."
Valir dan Julia memandang vin dengan mata terkejut.
Memotong telinga menjadi seperti bentuk telinga manusia pasti sangat menakutkan dan jika hal itu benar-benar dilakukan maka Vin telah sepenuhnya membuang identitasnya sebagai Elf.
Julia tidak setuju dengan hal itu, dia tidak ingin Vin mengorbankan banyak hal demi dirinya.
Sayang sekali Vin sudah bertekad dan tidak bisa diurungkan, akhirnya telinga panjang meruncing khas ras Elf dipotong sendiri oleh Vin.
Sejak telinga runcingnya dipotong, saat itu juga Vin telah tiada.
Itulah cerita kenapa Vin alias ayah Jean memotong telinganya, yaitu untuk melepas segala identitasnya sebagi Elf.
Dia membuka lembaran baru dengan pasangannya Julia dan memiliki nama baru yaitu Ethan dan membaur hidup sebagai manusia biasa di kota manusia.
__ADS_1
"Jadi dulunya ayahku adalah Elf bernama Vin?" Jean tidak percaya dengan cerita luar biasa itu.
Cerita Valir bagai dongeng dan lebih seperti membual di telinga Jean.