Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Panah Pembawa Pesan


__ADS_3

Jean sangat tidak suka melihat lingkungan di sekitar, bukan hanya di wilayah tempat tinggalnya dulu, tapi bahkan di wilayah pemukiman tanah Margaret, banyak bertebaran kotoran di pinggir jalan.


Banyak orang buang hajat sembarangan.


Mungkin karena tidak ada toilet umum.


Jean asli dulunya juga memakai gentong untuk menampung kotoran, baru setelah hampir penuh kotoran itu akan dibuang ke sungai menjadi makanan ikan.


Itu lebih mending daripada di buang sembarangan di jalan.


Di kota manusia ini mungkin belum ada lubang galian khusus untuk menampung kotoran yang biasa disebut septik tank.


Jean memiliki ide untuk membuat toilet umum di banyak tempat di sekitar pemukiman penduduk.


Selain bisa membersihkan lingkungan dari pemandangan buruk serta bau-bau tidak enak, hal itu juga bisa menjadi solusi untuk mengatasi tanah tandus di tanah tempat Margaret.


Manusia di dunia ini mungkin belum tahu jika kotoran bisa dijadikan pupuk penyubur tanah.


Tapi kotoran tidak bisa langsung di taruh di atas tanah pertanian yang tandus melainkan perlu diolah terlebih dahulu.


Cara mengolahnya sendiri Jean mengetahuinya.


Dia bersyukur masa kecilnya hidup di panti asuhan yang mana mengajari anak-anak untuk bertani dan membuat pupuk alami dari kotoran.


Panti asuhan tempat Jean tumbuh bukan tempat yang besar, saat itu hanya ada tiga puluh dua anak yatim piatu di sana.


Tempat itu termasuk panti yang miskin dan kekurangan dana, sehingga pengurus panti mewajibkan anak-anak panti melakukan kegiatan pertanian di ladang yang tidak terlalu luas, itupun ladang pribadi milik pengurus panti.


Lahan itu dia sumbangkan khusus untuk ditanami sayur dan tumbuhan untuk makan sehari-hari anak-anak panti.


Meskipun makan mereka sederhana lebih banyak sayur, sebulan sekali panti asuhannya juga memberikan lauk daging dari hasil peternakan unggas di kandang yang ada di belakang bangunan panti.


Jean tidak merasa kekurangan atau bahkan sampai kelaparan, yang kurang hanyalah kasih sayang dari sosok ayah dan ibu.


***


"Oh begitu, aku mengerti." Dean mengangguk paham.


Jika tanah tandus bisa menjadi tanah subur dengan kotoran, bukankah itu hal yang sangat menguntungkan dan bisa menaikkan pendapatan di tempat ini.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan memanggilkan Tuan Lay, dia orang yang membantu nyonya Margaret untuk mengelola tanah di sini, kau mungkin membutuhkan bantuannya mengenai masalah toilet umum." Dean menawarkan diri.


"Ya itu bagus, panggil Tuan Lay." Jean setuju dengan cepat, tidak mungkin dia bisa mengelola hal besar seperti itu sendirian, harus ada peran dari petugas pengelola tanah di daerah ini.


Selagi Dean pergi memanggil Tuan Lay, Jean memeriksa bangunan gubuk untuk tempat penanaman Rumput Paila.


Bangunan itu masih setengah jadi, wajar saja karena baru kemarin pembangunan itu dilakukan.


Para tukang terlihat bertelanjang dada, kulit mereka berwarna coklat gelap, mungkin karena pekerjaan mereka yang selalu di bawah terik matahari.


Jean memeriksa pembanguan itu, ada beberapa titik yang dia minta untuk diperbaiki sesuai desain di pikirannya.


Gubuk harus tinggi dan kuat, bagian rangka atap juga dibuat lebih kuat karena bahan yang dipsangkan di atap berbentuk segita itu adalah rumput jerami yang ditata renggang agar cahaya masih bisa masuk sebagian.


Atap jerami yang diminta Jean kemungkinan butuh sering dirapikan ulang karena itu terbuat dari jerami renggang, itulah kenapa rangka atap harus kuat.


"Halo Nona Jean." Jean dikejutkan dengan sapaan dari belakang.


Dia menoleh dan melihat seorang pria tinggi ramping dengan kumis tipis di sampingnya ada Dean yang juga tersenyum padanya.


Dia adalah Tuan Lay pengurus tanah yang dimaksud oleh Dean.


Jean tersenyum, dia lalu menceritakan alasan dan rencananya ke depan untuk menanam rumput Paila.


Tuan Lay sempat menolak dan menghina rencana Jean yang dinilai tidak masuk akal.


"Bagaimana bisa kotoran menyuburkan tanah tandus, aku belum pernah mendengarnya, Nona Jean kau masih terlalu muda, jangan membuat angan-angan yang tidak masuk akal." Tuan Lay menolak dan menatap Jean dengan mata merendahkan.


Jean kesal dengan Tuan Lay yang malah meremehkan idenya.


Tentu saja dia tidak pernah mendengar pupuk kotoran karena hal itu hanya Adi di dunia asal Marrissa.


"Aku tidak peduli kau mau setuju atau tidak dengan rencana atau ideku, yang jelas nyonya Margaret sudah mempercayakannya padaku, jadi Tuan Lay tidak bisa menolak membantuku." Jean membuat Tuan Lay terdiam hanya bisa mengigit lidah.


Setelah itu Jean mengatakana apa saja yang harus disiapkan dan perlu dilakukan oleh Tuan Lay.


Pembicaraan itu berlanjut sampai tengah hari.


Setelah masalah dengan pembangunan gubuk penanaman dan Tuan Lay beres, Jean menghela nafas lega.

__ADS_1


Kali ini yang perlu dia lakukan adalah mencari biji rumput Paila.


Jean pergi ke pasar, dia membeli biji rumput Paila di sana.


Meskipun biji rumput Paila tidak bisa ditanam di kota manusia, tapi bijinya juga memiliki khasiat obat, meski khasiatnya lebih rendah dari daun rumput Paila.


Setidaknya bijinya masih memiliki nilai jual, sehingga biji rumput Paila bisa di cari di pasar.


Itu lebih efisien daripada Jean harus keluar tembok hanya untuk mengumpulkan biji rumput Paila.


Setelah mendapatkan biji rumput Paila, Jean kembali kekediaman Margaret, yang akan dia lakukan adalah menumbuhkan bibit rumput Paila di tangannya.


Menggunakan baskom kotak kayu Jean menaburkan biji rumput Paila di atas tanah dalam baskom kemudian disiram dengan air dan ditutupi dengan kain hitam.


Jean mencoba membuat biji Rumput Paila berkecambah mirip dengan proses pembuatan kecambah kacang hijau.


Tangannya yang putih kini kotor oleh tanah.


Masih ada yang perlu dia lakukan yaitu membuat pupuk dari kotoran agar bisa digunakan setelah pembangunan gubuk selesai.


Jean mencuci tangannya di gentong air dari kayu di luar rumah.


Stukk, bunyi tusukan panah mengagetkan Jean.


Telihat ada panah yang mengancap di pinggiran gentong air tempat Jean mengambil air untuk mencuci tangan.


Jean memperhatikan ternyata ada gulungan kertas terikat di batang panah.


Jean melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda dari orang yang menembakkan panah, dia pun mengambil panah tersebut dan membaca tulisan di gulungan kertas karena ada pesan di sana.


Pesan itu berbunyi,


"Mari bertemu tiga hari lagi di luar tembok, aku menunggumu di sekitaran luar tembok sebelah barat..."


Dia sangat akrab dengan panah yang memiliki ujung daun Cemara hijau yang masih segar.


Panah kayu yang seolah terbentuk langsung dari batang pohon Cemara.


Jean sangat tahu panah itu milik Valir.

__ADS_1


__ADS_2