
Fajar tiba disambut oleh kicauan burung-burung yang bersarang di cabang-cabang pohon.
Karena populasinya melimpah dan beragam jenis, hutan itu senantiasa berisik oleh burung-burung yang saling menyapa dan membangunkan penghuni hutan.
Jean ikut terbangun dengan bunyi berisik kicau burung di luar.
Dia meregangkan diri, menarik tangannya ke atas, kanan dan kiri.
Mata Jean menjelajah dan Vedis tidak terlihat batang hidungnya, bahkan ranjang dari sulur tanaman juga tidak ada lagi.
Jean tidak tahu kapan Vedis pergi, dia membuka jendela dan melihat suasana pagi yang menyegarkan di hutan.
Bunga bermekaran dan buah-buahan tampak berkilau menyegarkan karena dilapisi oleh embun pagi.
Sungguh nyaman bisa tinggal di hutan seperti ini, tapi Jean mengingat adiknya Juno. Dia harus segera kembali karena dua hari lagi sudah tenggak waktunya membayar hutang.
"Nyiiit...." Pintu terbuka, Vedis kembali dengan sekeranjang buah-buahan.
Jean mendekat dan bertanya,
"Vedis, apakah Valir jadi mengantarku kembali? Kapan dia ke mari? "
"Sebentar lagi dia akan datang, makan buah ini dulu." Vedis menjawab setelah menaruh satu keranjang berisi buah-buahan di atas meja.
"Ya, terima kasih, tapi apa kau tau di mana pakaianku? Aku tidak mungkin kembali dengan pakaian seperti ini."
Jean menunjuk pada kain lilit sebatas dadanya sampai lutut.
"Tidak ada, aku sudah membuangnya." Vedis menjawab acuh.
"Kenapa kau membuangnya, lalu aku harus pakai apa?" Jean protes, dia tidak bisa melakukan perjalanan lintas hutang dengan pakaian ala kemben seperti itu.
"Jangan menyalahkanku pakaianmu sudah rusak penuh sobekan, pakai saja ini, " Vedis membuka lemari pakaiannya dan melemparkan Jean satu setel pakaian dengan bahan yang mirip dengan kain lilit di tubuhnya.
Bedanya pakaian itu berupa blouse hijau muda dan celana panjang cokelat tua. Sepertinya pakaian itu bertema seperti pohon, tapi untungnya Vedis juga memberi Jean jubah penutup sepanjang lutut berwarna abu gelap.
Untuk sepatu, Jean masih memakai sepatunya sendiri karena Vedis tidak membuang sepatunya.
Setelah sarapan beberapa buah jenis baru, Valir datang menjemput Jean.
"Apa kau sudah siap Jean?"
"Ya aku siap berangkat." Jean berdiri menjawab dengan cepat.
__ADS_1
"Tunggu dulu, bawa ini juga." Vedis membungkus buah-buahan dia keranjang dengan kain dan mengikatnya lalu memberikannya pada Jean.
Jean menatap Vedis dengan mata rumit, dia kira Vedis orang yang tidak suka padanya dan ingin dia segera pergi, tapi tidak dia sangka dia tidak sejahat itu, dia mau memberinya bekal bahkan pakaian.
Dengan senyum manis Jean menerima bungkusan itu, "Terima kasih, Vedis. Sampai jumpa lagi."
Keluar dari rumah Vedis, Jean merasa pusing.
Dia harus melewati cabang pohon besar tanpa pegangan sama sekali. Dia tidak berani melihat ke bawah atau dia akan kehilangan keseimbangan saat itu juga.
"Tunggu-tunggu Valir, aku tidak bisa mengikuti langkahmu. Aku takut ketinggian." Jean hanya bisa menatap Valir dengan mata panik dan takut.
Valir mengangkat satu alisnya melihat tingkah Jean yang takut dengan ketinggian. Dia ragu apakah Jean benar-benar putra Vin.
Valir mendekati Jean,
"Kalau pegang tanganku lalu tutup matamu, kau hanya perlu mengikuti tarikan dari tanganku." Valir mengulurkan tangannya.
Jean merasa ragu, tapi dia ingat wajah Juno. Dia harus segera kembali.
Meski ragu dan takut Jean terpaksa memegang tangan Valir dan menutup matanya.
Ternyata tangannya lembut dan dingin, tapi perlahan tangan dingin itu juga terasa hangat.
Agar tidak takut Jean hanya membayangkan sedang berjalan di tanah lapang, tapi kemudian dia merasakan pijakan di kakinya sedikit aneh, rasanya pijakan di kakinya seolah bergerak.
Beberapa saat kemudian suara bass Valir terdengar,
"Buka matamu Jean."
Perlahan Jean membuka matanya, dia melihat sekitar dengan wajah bingung, lantaran dia tidak lagi ada di atas batang pohon, kakinya kini sudah menampak di atas tanah.
Seingat Jean dia hanya berjalan beberapa langkah, bagaimana dia bisa menuruni pohon dengan tinggi yang tidak bisa dia bayangkan hanya dengan beberapa langkah.
Meski Jean bingung, tapi dia lega sudah tidak perlu takut seperti sebelumnya.
Melihat Jean baik-baik saja, Valir mengeluarkan sesuatu dari balik jubah hijau tuanya.
"Ini aku kembalikan padamu."
"Belatiku." Jean menerima belatinya kembali.
Sebelumnya dia mengira belatinya telah hilang terjatuh di celah sempit.
__ADS_1
"Terimakasih banyak kau sudah mau membantuku." Sekali lagi Jean berterima kasih pada Valir.
Valir menjawab dengan wajah datar,
"Simpan saja terima kasihmu sampai lima hari ke depan setelah sampai di kota manusia."
Mata Jean melebar penuh tanda tanya,
"Lima hari! Kenapa selama itu? Aku harus kembali dalam waktu tiga hari dari sekarang."
"Tidak bisa secepat itu, kita perlu melewati empat wilayah hutan, waktu lima hari bahkan sudah termasuk cepat." Valir menjelaskan dengan wajah acuh.
"Kenapa kita tidak lewat celah yang pernah kulewati saja?" Jean menyarankan, setelah mengingat celah yang bagai pintu Doraemon.
"Celah apa maksudmu?" Valir bertanya balik.
"Celah di dinding tanah yang ada di dekat posisiku pingsan, ketika kau menyelamatkanku apa kau tidak melihat celah itu?" Jean menjelaskan dengan gerakan kedua tangan menggambarkan ukuran celah.
"Aku tidak melihat celah ataupun dinding tanah, aku menyelamatkanmu di tengah-tengah hutan lebat tanpa ada dinding tanah." Valir menjelaskan dengan mata bingung.
"Hah? Tidak ada dinding tanah? tapi aku hanya dua langkah keluar dari celah itu, bagiamana bisa?" Jean juga kebingungan.
Satu detik kemudian dia mengingat hal yang dia alami ketika memejamkan mata dan hanya dalam beberapa langkah dia sudah menginjakkan kaki di tanah, hal itu juga terlihat mirip dengan celah yang pernah Jean lewati.
Dua hal itu adalah misteri yang tidak bisa dipikirkan dengan logika, jadi Jean tidak ingin pusing dengan hilangnya dinding tanah beserta celah itu.
"Apakah tidak ada jalan lain yang lebih cepat?" Jean bertanya lagi.
Valir mengusap dagunya dengan ibu jari, "Ada jalan lain, jalan tembusan itu bisa ditempuh dalam waktu 3 harian."
"Itu dia, kenapa kita tidak lewat jalan itu saja?" Jean bertanya tidak sabar.
"Masalahnya jalan itu lebih berbahaya dan beresiko, itu adalah wilayah banyak binatang buas yang kuat, jika lewat jalan itu, aku tidak bisa menjamin bisa terus melindungimu, apa kau berani melewatinya?" Valir menjelaskan dengan wajah datar.
Jalan yang memakan waktu lima hari karena jalan itu memutar sehingga lebih lama dari jalan tembusan yang hanya mengambil rute lurus yang mana melewati area wilayah bintang buas berbahaya.
Jean mengeratkan pegangannya pada belati yang di tangan.
Jean harus kembali secepatnya, dia tidak bisa menunda lebih lama, tapi jalan tercepat memiliki resiko bahaya yang lebih besar.
Jean merasa bimbang, tapi mengingat wajah adiknya yang menangis tidak ingin menjadi budak, Jean menghilangkan keraguan di hatinya.
"Ya, mari kita lewat jalan tembusan itu." Jean berkata dengan keyakinan yang kuat.
__ADS_1
"Kalau begitu ikuti aku." Valir memimpin jalan di depan.