Pesona Wanita Modern

Pesona Wanita Modern
Bertemu Kembali


__ADS_3

Pembangunan rumah gubuk pertanian selesai di hari berikutnya, beberapa buruh dipekerjakan untuk membajak tanah, membalik-balik tanah agar menjadi lebih gembur kemudian disirami dengan air.


Jean juga menyuruh para buruh mengumpulkan kotoran-kotoran untuk diproses menjadi pupuk.


Bibir Rumput Paila sudah mulai berkecambah, hal itu membuktikan jika dugaan Jean benar, rumput Paila butuh tempat lembab dan gelap.


Proses itu tidak bisa selesai dalam satu hari, butuh beberapa hari.


Selama waktu itu Jean meninggalkan kediaman Margaret, dia memakai pakaian laki-laki yaitu celana panjang dan memakai penutup kepala seperti tudung.


Jean pergi menuju gerbang tembok besar, dia akan menemui pengirim pesan tiga hari yang lalu yaitu Valir.


Ada hal yang perlu mereka bicarakan karena sebelumnya sempat tertunda sebab Valir punya hal lain harus dilakukan.


Saat itu Valir mengatakan jika ayah Jean memiliki nama lain selain Ethan yaitu Vin.


Jean sangat penasaran mengenai alasan ayahnya menyembunyikan identitas sebelumnya.


Sampai di depan petugas penjaga gerbang, Jean berhasil keluar dengan lancar karena dia memiliki lencana pemetik tingkat rendah.


Yah, dia sudah naik tingkat dari pemula ke tingkat rendah karena barang hasil petikannya cukup banyak dan menyamai hasil dari pemetik tingkat rendah.


Meskipun Jean berhasil keluar dengan lancar, tetap saja dia mendapat tatapan menyelidik dari penjaga gerbang karena Jean keluar seorang diri.


Normalnya pemetik dari tingkat apapun pasti memilih keluar berkelompok karena lebih aman.


Jika menemui binatang buas, dengan bantuan banyak orang akan bisa teratasi dengan lebih mudah.

__ADS_1


Namun Jean hanya sendirian saat ini, itulah yang memancing rasa penasaran dari penjaga gerbang.


"Bodoh sekali, dia cari mati keluar sendirian." Batin penjaga gerbang tidak peduli jika ada orang yang berniat bunuh diri.


Jean pergi ke arah barat di hutan pinggiran, dia berjalan di sekitaran tembok.


Lama berjalan Jean tidak menemukan siapapun, tidak ada sosok Valir sejauh penglihatan pupil coklatnya.


Karena dia berada di hutan Jean menjadi lebih waspada apalagi dia sendirian, yah meski ini masih di dekat gerbang. Bahaya bisa datang kapan saja.


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Jean dari belakang, Jean terkejut, dia berbalik dengan tangan kanannya menyabetkan belati menyerang orang di belakanganya.


Hal yang sangat sial jika Jean bertemu dengan orang yang berniat buruk padanya, itulah kenapa Jean menyerang orang di belakangnya.


Namun gerakan Jean dihentikan sangat mudah karena pergelangan tangannya dipegang oleh tangan kekar yang sangat kuat.


"Valir." Jean menyebut nama orang itu dan bernafas lega karena bukan orang jahat yang dia temui.


"Huh, kenapa kau mengagetkanku, untung saja kau tidak terluka oleh belati ku." Jean menarik tangannya ke bawah menjauh dari sentuhan tangan dingin Valir.


Valir di depan Jean hanya diam, tidak berniat menjawab pertanyaan itu.


Sebenarnya dia sudah dari tadi melihat Jean Keluar dari gerbang pintu tembok besar, hanya saja muncul sebuah rasa jahil ingin membuat Jean mencari keberadaannya terlebih dahulu.


Setelah beberapa waktu berlalu, Valir mengikuti Jean yang terus mencari keberadaannya.


Melihat Jean yang semakin tegang dilihat dari pegangan tangannya yang semakin kuat pada belati, Valir memutuskan menyudahi aksi jahilnya.

__ADS_1


Entah kenapa dia bisa melakukan hal kekanakan seperi itu pada Jean.


Valir hanya diam tidak menceritakan alasan konyolnya pada Jean.


"Ikuti aku, ini bukan tempat yang aman untuk berbicara." Valir mengajak Jean pindah, dia berjalan memimpin ke depan.


Jean segera mengikuti di belakang.


"Mendekatlah, kita akan naik." Valir mengulurkan tangannya.


Jean hafal dengan aksi naik pohon dengan Valir, karena itu dia tidak ragu mendekati dirinya pada pria di depannya.


Pinggang Jean segera diraih oleh Valir, mereka berdua-pun meninggalkan tanah.


Aroma khas seperti pohon Pinus segera tercium lagi oleh Jean.


Beberapa detik kemudian mereka sudah sampai di atas pohon.


Meski pohon di hutan pinggiran tidak terlalu tinggi daripada di hutan dalam, itu tetaplah menjadi tempat yang baik dari pada di tanah.


Setidaknya pembicaraan mereka tidak terdengar sampai tanah, jadi meraka tidak perlu khawatir ada yang menguping.


Karena sudah terbiasa sebelumnya dari pengalaman naik turun pohon. Jean kemudian duduk dan bersandar di batang pohon besar tanpa rasa takut.


"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" Jean sudah tidak sabar mendengar cerita tentang ayahnya.


"Itu terjadi 23 tahun yang lalu." Valir berdiri sambil bersandar di batang pohon tepat di samping Jean.

__ADS_1


__ADS_2