
(Bab menjijikkan tentang topik kotoran, jangan baca sambil makan!)
Toilet umum selesai dibuat, total ada 8 toilet umum, 3 di ladang padi dan 5 di pemukiman penduduk yang ada di wilayah tanah Margaret.
Toilet itu cukup sederhana, hanya dibangun gubuk persegi kecil berisi tong penampung kotoran, untuk alat pembilas hanya daun-daun kering yang biasa dipakai penduduk.
Sistemnya para penduduk di wilayah itu dilarang buang hajat sembarangan dan harus membuangnya di toilet umum.
Awalnya banyak orang protes dengan hal itu, mereka tidak suka diatur harus buang hajat di mana, mereka ingin bebas dalam hal itu.
"Kenapa harus melakukannya di satu tempat?"
"Ya, kenapa? Itu sangat menjijikkan jika harus membuangnya di tempat bekas orang lain."
" Ya ya kami tidak setuju!" Seruan -seruan tidak setuju dan protes para penduduk ketika mendapat informasi harus membuang hajat di toilet.
Jean hanya menepuk jidat mendengar protes tersebut.
"Apa orang-orang di dunia ini tidak sadar justru lebih menjijikkan jika membuang hajat sembarangan, kotoran-kotoran tersebar di jalan, di manapun, ieuw sekali." Batin Jean dengan wajah mengernyit jijik.
Masalah itu bisa diatasi dengan mudah hanya dengan ancaman.
__ADS_1
Jika mereka menolak dan ketahuan membayang hajat sembarangan tidak di toilet, maka mereka harus membayar denda dua keping tembaga.
Jika yang melakukan adalah seorang buruh panen padi, maka gaji mereka akan dipotong dua keping tembaga.
Hal itu berhasil membungkam suara protes penduduk karena kebanyakan orang bekerja sebagai buruh panen padi di ladang padi meski tanah di wilayah itu begitu tandus.
Setelah satu Minggu berlalu, perubahan di lingkungan itu begitu terasa karena tidak lagi tercium bau-bau tidak sedap dari kotoran yang dibuang sembarangan di pinggir jalan.
Pemukiman penduduk kelas rendah itu yang bisa disebut lingkuangan kumuh kini tidak terlalu kumuh karena adanya toilet umum.
Dalam satu Minggu itu juga, sudah terkumpul tiga tong penuh berisi kotoran manusia hasil pengumpulan dari 8 toilet umum yang tersebar.
Jean sebelumnya sudah membuat sedikit pupuk untuk bibit percobaan penanaman rumput Paila.
Dia mencoba menanam bibit baru dengan memakai tanah yang divmcamour dengan pupuk.
Di sini dia mendapat hasil yang memuaskan, bibit rumput Paila lebih cepat berkecambah dengan tanah berpupuk.
Sedangkan untuk bibit pertama yang memakai tanah biasa tanpa pupuk lebih lambat menumbuhkan kecambah rumput Paila.
Meskipun kecambah rumput Paila lebih cepat tumbuh dengan pupuk, tetap saja pertumbuhannya lambat.
__ADS_1
Jadi sambil menunggu Jean menginstruksikan tiga buruh untuk membuat pupuk kotoran dengan tiga tong penuh kotoran manusia.
Kotoran diaduk lalu dicampurkan dengan jerami kering yang telah direndam dengan air selama dua hari.
Dua bahan itu dicampur merata, kemudian didiamkan selama seminggu untuk menghilangkan sifat asam dari kotoran.
Hari-hari Jean begitu sibuk karena dia juga harus mengatur pola makan dan olahraga Margaret.
Margaret sendiri selalu rewel dan mengoceh ini itu kenapa begitu ketika menghadapi pola pengurusan berat badan dari Jean.
Margaret paling sering mengeluh ketika sesi olahraga kardio.
Saat ini Jean menyuruhnya untuk melakukan gerakan loncat ke kanan lalu jongkok dilanjut berdiri dan meloncat ke kiri lalu jongkok lagi, gerakan itu diulangai delapan kali baru kemudian berganti ke gerakan lain.
"Ahhhh, kapan ini selesai? Kakiku sakit untuk loncat-loncat seperti ini. Tidak anggun tidak cantik." Margaret mengeluh ketika masih dalam hitungan ke lima.
"Ayo semangat, tiga hitungan lagi baru kita ganti gerakan yang lain." Jean duduk di kursi melihat gerakan Margaret.
Setalah aktifitas itu, Jean secara diam-diam juga belajar sihir tanaman, masih belum ada perkembangan untuk kemampuan sihirnya, tapi dia tidak menyerah.
(Ini hanya imajinasi penulis.)
__ADS_1