
"Aaaaaaaa.....Tidaaaakkk...." Teriakan membahana mengguncang bumi kini menggelegar memenuhi ruangan.
Orang yang berteriak tidak lain adalah si babi gendut alias Margaret.
Lima menit sebelumnya Margaret siuman, wajahnya mengernyit antara sakit dan kebingungan.
Dia berusaha duduk meski agak kesulitan karena tubuhnya yang besar dan berat,
"Ah, aduh kenapa tubuhku sakit semua, kepalaku pusing." Dia mengeluh sakit, pipjnya juga terasa agak kebas.
Satu tangannya memegang dahi, namun bukannya kulit halus yang dia sentuh melainkan permukaan kasar dan terasa basah, juga ada rasa nyeri.
Margaret melihat tangannya dan wajahnya terkejut, mata sipitnya melebar beberapa inci mendapati tangannya kini tampak kehijauan karena tanaman obat yang dihaluskan.
"Apa ini? hey kau ambilkan aku cermin cepat!" Margaret menunjuk Laura menyuruhnya mengambilkan cermin.
"Cepat, cepat, cepat!" Margaret tidak sabar.
Laura melangkah tergopoh-gopoh dari sudut ruangan tempat meja rias berada membawa cermin bulat dengan bagian belakang cermin berupa besi tipis.
Tangan Margaret merebut cermin dari tangan Laura sangat kasar.
Dari situlah Margaret berteriak lebih keras lagi membuat seisi ruangan itu penuh dengan teriakannya.
"Tidakkk wajahkuu arah hi hi hiks wajahku, kenapa jadi begini?" Setelah berteriak Margaret menangis sedih.
Bagaimana tidak, ketika dia mengaca, wajahnya yang meskipun bulat penuh lemak, setidaknya selalu berkulit mulus, tapi kini dahi dan pipinya menampakkan luka gores.
Bagian dahi lebih parah karena lukanya cukup besar dan tampak kebiruan, tapi penampilannya menjadi lebih menakutkan karena lukanya juga dilaburi salep hijau obat-obatan yang dihaluskan tidak terlalu lembut.
"Itu obat untuk luka nyonya, tolong jangan dihapus." Laura mengingatkan Margaret yang kini mengusap-usap wajahnya yang kehijauan.
Saat itu hanya ada Laura di dalam ruangan kamar, Jean dan Dean berbincang di luar kamar, tapi setelah teriakan menggelegar tadi, mereka berdua segera memasuki kamar.
Mereka mendapati Laura yang diam membisu berdiri di samping ranjang Margaret tidak berani berbicara, sedangkan Margaret kini menganis histeris di atas ranjang sambil memegang cermin.
"Hiks hiks hiiii wajahkuuu, ini pasti karena kau, dasar wanita penyusup! kau membuat wajahku jadi begini. Kau harus mendapat balasanku, aku aku akan merusak wajahmu! Kalian berdua pelayan bodoh jangan diam saja tangkap penyusup itu, wajahnya harus dihancurkan!"
Margaret menunjuk wajah Jean dengan tatapan benci penuh kebencian.
Dean tidak langsung menuruti perintah majikannya, dia maju dan membela Jean,
__ADS_1
"Nyonya, ini bukan salahnya. Apa Nyonya lupa, Anda sendirilah yang terpeleset dan jatuh, sehingga wajah Nyonya terluka. Justru Nona Jean yang membantu kami mengangkat nyonya ke kamar, dia juga membatu mengobati anda Nyonya." Dean menjelaskan dengan rinci.
"Jadi kau menyalahkanku, berani sekali kau menyalahkanku hah!" Emosi Margaret naik, wajahnya memerah.
"Kalian pelayan yang tidak tahu diuntung, aku majikan kalian kenapa kalian membela penyusup yang tidak dikenal?
Aku tahu kalian pasti diam-diam menghinaku sebagai babi, dan kini wajahku seperti ini kalian pasti menganggapku monster bukan?" Margaret melempar cermin di tangannya ke arah Dean.
Sebenarnya Dean bisa menghindar, tapi itu pasti mengundang amarah Margaret lebih tinggi lagi karena dia mengenal betul perangai majikannya.
Jadi dia berdiri diam dan menerima lemparan kaca tersebut, kaca itu mengenai pelipis kanannya, membuat pelipis kanannya terluka dan berdarah saat itu juga.
Cermin itupun jatuh ke lantai dan pecah menjadi banyak bagian yang memantulkan sinar matahari dari jendela ke langit-langit atap.
Jean maju dan memegang bahu Dean, dia menatap pelipis Dean yang berdarah.
"Ya ampun, kau terluka. Pakai ini dulu." Jean memberikan sapu tangan putih untuk menghentikan darah di pelipis Dean.
Setelah Dean menerima saputangan itu, Jean menoleh menatap Margaret dengan mata tajam.
"Nyonya Margaret, aku tahu mereka pelayanmu, tapi Meraka juga manusia, tolong jangan menyakiti mereka seperti ini." Jean berusaha menasehati Margaret agar menjadi majikan yang baik.
"Siapa kau wanita penyusup? Kau tidak punya hak untuk mengomentariku apalagi mengatur sikapku pada pelayanku!" Margaret menyemrot Jean dengan kata-kata pedas.
Jean menatap Margaret dengan pandangan miris.
Dari hasil perbincangannya dengan Dean, dia mengetahui jika Margaret dulunya adalah wanita cantik dengan perangai lembut ketika pertama kali menikah dengan Tuan Tanah menjadi istri keenamnya.
Saat itu memang seluruh perhatian dan kasih Tuan Tanah hanya pada Margaret.
Namun setelah beberapa bulan, dia kehilangan cinta dan perhatian Tuan Tanah karena kemunculan Reha sebagai instri ketujuh.
Dari situ dia terus berseteru dan membuat masalah dengan Reha dilanjut juga dengan Mean yang baru menjadi istri ke delapan suaminya.
Setelah pertengkaran besar dengan Reha yang berakhir dengan kematian Reha sebab kehilangan banyak darah, Margaret dan dua pelayannya di usir dari rumah utama.
Jean menghela nafas, ini hanya kisah harem, istri yang berjuang mendapatkan kembali cinta suaminya namun tidak kesampaian dan kemudian membuatnya menjadi beringas, emosi tidak setabil dan pemarah seperti sekarang.
Semua ini adalah kesalahan Tuan Tanah yang memiliki banyak istri tanpa bisa membuat keseluruh istrinya rukun.
"Siapa bilang wajah Nyonya Margaret tidak bisa mulus lagi, tidak bisa cantik lagi? Nyonya jangan khawatir wajah nyonya bisa sembuh dan mulus kembali." Jean menenangkan Margaret.
__ADS_1
Margaret mendongak, tangisannya berhenti,
"Apa maksudmu wajahku bisa mulus lagi tanpa bekas luka? Bagaimana itu bisa terjadi? Kau ingin membidohiku bukan!"
Margaret tidak mudah percaya, karena dari yang dia tahu selama ini tidak da obat yang bisa menghilangkan bekas luka. Jadi dia dengan mudah menganggap Jean sebagai penipu.
Julukan Jean bertamanbah dari penyusup sekarang penipu.
"Aku tidak berbohong, lihat ini aku adalah seorang pemetik. Aku keluar dari tembok besar mencari tanaman obat.
Aku punya salep yang bisa menghilangkan bekas luka, jika kau mau aku bisa memberikan salep itu padamu." Jean menunjukkan lencana pemetiknya untuk memperkuat kata-katanya meskipun dia hanya pemetik pemula.
Wajah Margaret agak mendingan, rasa curiganya berkurang.
"Apa salepmu memang bisa menghilangkan bekas luka?"
"Tentu saja, aku sudah pernah memakai obat ini dan lukaku dulu bahkan lebih besar dan dalam menjadi lebih cepat sembuh dan bekas lukanya juga hilang." Jean menjawab dengan wajah yang lebih meyakinkan.
Obat di tangan Jean adalah salep pemberian dari Vedis saat terakhir mereka berpisah.
Jean pernah terluka karena sabetan daun tajam di hutan X ketika menghindari binatang buas, dia tidak memberitahu Valir akan lukanya, tapi lebih memilih mengobatinya dengan salep dari Vedis.
Luka itu menjadi lebih cepat sembuh, meski tidak secepat sihir penyembuh Valir, tapi bekas luka juga hilang tidak tampak di kulit Jean yang pernah terluka.
Dari situ Jean mengetahui jika salep obat dari Vedis mampu mempercepat penyembuhan sekaligus menghilangkan bekas luka.
" Hmmm, baiklah kalau begitu berikan salep itu padaku, aku akan memaafkan perbuatanmu sebelumnya lalu kau bisa pergi dari sini."
Margaret akhirnya percaya dan menginginkan salep di tangan Jean.
"Kau bisa memiliki salep ini nyonya." Jean tersenyum dan memberikan salep di tangannya.
Sebenarnya sangat sayang sekali memberikan salep obat itu pada Margaret, dia telah rugi besar, tapi tujuan besar juga butuh kerugian yang tidak kecil.
Sebelum tangan Margaret mendapat salep obat, Tangan Jean ditarik kembali.
Wajah Margaret mengernyit bingung.
"Nyonya Margaret, tapi aku punya penawaran lain, apa kau mau mendengarkan?" Jean memanfaatkan kesempatan.
Wajah Margaret tampak kesal, tapi dia masih menjawab,
__ADS_1
"Katakan. "