
Kini Alexa sedang berada di kamarnya, gadis itu terus meringis karena Alfaro terlalu dalam melukai bahunya. Setelah ia sadar tadi Alfaro dengan baik hati mengantarkannya pulang, tanpa ia minta.
Gadis itu terus berbohong ke keluarganya bahwa ia baik baik saja, ia sangat takut jika ia mengatakan yang sejujurnya. Keluarganya lah yang akan menjadi sasaran Alfaro.
Gadis itu menghela napas panjang, ia lelah dengan semua ini, kenapa harus dirinya yang mengalami nasib sial seperti ini!.
Ponselnya pun berdering pertanda ada panggilan masuk. Keningnya mengerut saat melihat nama yang tertera di sana. ia pun menggeser ikon hijau dan belum sempat ia berbicara, tapi si empu di sebrang sana sudah mengeluarkan suara toa nya.
"Woy lex, lo udah ngerjain pr belom" Ucap si penelpon di sebrang sana sedikit berteriak.
Alexa pun menggesek gesek kupingnya yang panas, akibat suara cempreng dinda. Ya, yang menelpon nya adalah dinda sahabat terlaknatnya.
"Buset din, slow napa, suara lo ngalahin toa mesjid tau ga" Sahut Alexa.
"Enak aja lo, suara indah gini lo bilang ke toa".
"Cek udah apaan lo nelpon gue malem malem".Kata Alexa sedikit kesal.
"Gue minta contekan, boleh ya.. kan lo itu sahabat gue yang paling baik"
"Kebiasaan lo, yaudah nanti gue fotoin"Jawab Alexa.
"Maksih ya lex hehe... Eh btw lo masih punya hutang cerita sama gue"Kata dinda mulai serius.
"Iya besok deh gue ceritain sama lo"Ucap Alexa sambil menimang nimang ucapannya "Udah dulu gue mau tidur" Lanjutnya, tanpa mendengar persetujuan dari dinda, Alexa pun mematikan panggilan dengan sepihak.
Ia pun mulai memotokan tugasnya, dan mengirimkannya pada dinda.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size, ia mulai menutup matanya mencoba untuk tidur, dan terlelap dengan nyaman.
Krek.. krek.. krek..
Alexa pun sedikit terganggu dengan suara itu, ia menutup selimut ke atas kepalanya berharap suara itu tak terdengar lagi.
Krek.. krekk
Suara itu semakin jelas, Alexa pun duduk di atas kasurnya mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja itu kucing.
Krek.. krek..
Alexa pun melihat jam, ternyata jam satu, ia pun membulatkan matanya, jangan jangan itu hantu.. ia pun berkeringat dingin.
Tapi pikiran itu musnah saat jendela dekat balkon sepertinya mencoba di buka dari luar. apakah itu maling? Pikirnya.
__ADS_1
Karena rasa penasaran Alexa pun mendekati jendela itu walaupun di hati gadis itu sebenarnya sedang ketakutan.
"Alexa, sayang, apa kau di situ?"
Suara itu mengagetkannya, suara itu sangat familiar di telinganya, itu suara Alfaro. Tapi kenapa lelaki itu kerumahnya malam malam seperti ini. Dengan ragu Alexa pun membuka tirai itu.
Di sana sudah ada Alfaro dengan keadaan yang bisa di bilang tidak baik baik saja. Pakaiannya yang acak acakan serta rambut awut awutan. Biasanya lelaki itu selalu terlihat cool, tapi kali ini ia seperti sedang frustasi.
Alexa pun membuka jendela itu, dan Alfaro pun masuk kedalam kamarnya. Tiba tiba lelaki itu langsung memeluknya dengan erat dan menyembunyikan kepalanya di celetuk lehernya.
"Al geli" Ucap Alexa sambil mencoba menyingkirkan Alfaro dari sana.
"Sebentar saja" Ucap lelaki itu, "Aku ga bisa jauh dari kamu Alexa, Baru beberapa Jam aja hampir ngebuat aku gila" Lanjut lelaki itu panjang lebar.
Apa! Lelaki itu frustasi seperti ini karena dirinya? Astaga Alexa tak habis pikir dengan Alfaro. Kenapa lelaki itu bisa sampai segitunya.
"Al lo kaya gini karena gue" Tanya Alexa.
Alfaro pun mengangguk "Aku ga bisa jauh dari kamu, kamu napas aku Alexa, kamu dunia ku" Ujar lelaki itu tulus.
Alexa pun meringis mendengarnya, bagaimana jika Alexa meninggalkannya, apakah lelaki itu akan benar benar gila?.
"Udah sana tidur lagi" Ucap lelaki itu sambil mengelus kepala Alexa. "Aku pergi dulu" Lanjutnya.
"Dasar sialan"Umpatnya sambil menutup jendela yang tadi Alfaro lewati untuk keluar.
.............
Ting
Handphone Alexa berbunyi pertanda ada pesan masuk. Ia pun melihat pesan itu..
...Alfaro Mine ❤...
Aku di bawah
Alexa pun mengerutkan keningnya, bukan.. bukan karena pesan dari Alfaro, tapi karena nama kontak Alfaro yang seperti itu, ia tidak merasa menamai kontak Alfaro dengan nama itu.
Ah sudahlah pasti ini kerjaannya Alfaro. Pikir Alexa.
Gadis itu buru buru keluar kamar, dengan tas dan seragam yang sudah melekat di tubuhnya.
Pagi ini keadaan bahu Alexa sudah mulai membaik dan lukanya sudah mulai kering, entah obat apa yang di berikan oleh Alfaro, tapi Alexa bersyukur obat itu cepat sekali menyembuhkan lukanya.
__ADS_1
"Ga sarapan dulu lo" Tanya bagas yang sudah ada di meja makan yang sedang memakan makanan dengan khidmat.
"Ga" Sahut Alexa cuek.
Karena kedua orang tuanya sedang keluar negri mengurusi bisnis ayahnya di sana untuk beberapa minggu, membuat mood Alexa sedikit buruk hari ini.
"Sewot bener lo" Ucap Bagas
"Bodo"
"E... buset, biasa aje dong" Kata bagas sambil mengunyah makanannya.
Tanpa menjawab perkataan Bagas, Alexa pun pergi dari sana dan menghampiri Alfaro yang setia menunggunya di depan mobil.
"Udah makan?" Tanya lelaki itu, dan di jawab gelengan oleh Alexa.
"Nih" Ucap Alfaro memberikan kotak bekal berwarna pink kearah Alexa, "Dari mommy" Lanjut lelaki itu.
Alexa pun mengangguk dan tersenyum manis"Makasih "Ucapnya dan di balas deheman oleh Alfaro. Setelah mereka masuk dan duduk di dalam mobil, Alfaro pun mulai menjalankan mobilnya.
Kini kedua gadis itu tengah berada di kantin, beruntung sekali Alexa hari ini. Krena Alfaro tidak menjemputnya di jam istirahat, entah kemana perginya lelaki itu Alexa tak peduli.
Sehingga kini ia bisa menghabiskan waktu bersama sang sahabat, karena setelah ia di klaim menjadi milik Alfaro, dirinya tidak ada waktu bersama dinda. karena Alfaro selalu melarangnya berdekatan dengan siapapun salain dirinya.
Alexa hanya memesan minuman karena gadis itu sudah makan bekalnya, yang di kasih oleh Alfaro tadi pagi.
"Gimana" Tanya dinda to the point.
Alexa pun mulai menceritakannya dari awal, tapi tidak tentang Psikopat. Ia tau batasan meskipun dinda sahabatnya tapi mulut dinda itu tidak bisa di rem jika sudah keceplosan. Ia hanya menceritakan Alfaro yang memaksanya menjadikan ia miliknya.
"Buset parah bener, sampe segitunya" Tanya dinda sambil menyuapkan bakso kedalam mulutnya.
Alexa pun mengangguk "Gue harus gimana din?" Tanya Alexa pada dinda.
"Udah jalanin aja, lagian percuma kan lo nolak.. orang modelan Alfaro itu kejam"Sahut dinda.
"Gue yakin kalo lo nurut pasti tu orang baik" Lanjutnya"Coba deh lo nurut apa kata dia, soalnya ni ya.. Alfaro itu baru kali ini mau nyentuh cewe duluan. setau gue dia itu paling anti di sentuh cewe"Papar dinda panjang lebar.
"Tidak termasuk ibunya kali ya, masa ibu sendiri ga mau nyentuh" kekeh dinda sambil menyedot minumannya.
Sementara Alexa masih bingung, memikirkan semua ini. Di lain sisi ia ingin kabur dari Alfaro, tapi di lain sisi juga ia merasa nyaman bila dekat lelaki itu, seperti ada sesuatu tapi ia tak tau itu..
Kadang ia merasa familiar jika melihat jihan--bundanya Alfaro, tapi dimana? Sudahlah mungkin dirinya tak sengaja pernah bertemu sekali. tapi ia lupa dimana.
__ADS_1
"Woy, malah bengong" Ucap dinda yang melihat Alexa hanya bengong, dirinya yang sudah cape berkata kata tapi Alexa malah melamun, sungguh menyebalkan!.