Possesive Psikopat Mine

Possesive Psikopat Mine
Tinggal bersama.


__ADS_3

Seorang pria terbaring di lemah di atas kasur rumah sakit. Di tangan kirinya terdapat infus, kaki kirinya di balut dengan perban, sementara wajahnya bonyok akibat pukulan.


Lelaki itu adalah Bagas, Alfaro tidak benar benar membunuh lelaki itu, tapi ia menyuruh anak buahnya untuk memukuli bagas, setelah bagas tak berdaya barulah para bodyguard itu mengirim bagas ke rumah sakit. Dan menyuruh suster untuk menghubungi keluarganya.


"Kenapa anak kita bisa kaya gini yah" Tanya melinda pada suaminya, sambil melihat anak laki-lakinya terbaring lemah.


"Saya juga ngga tau, kamu harus tau satu hal"Ucap Raka serius. Melinda pun melihat kearah Raka sambil mengerutkan keningnya.


"Tau apa"Tanya melinda.


"Kau masih ingat dengan Alfaro? Lelaki yang mengaku sebagai kekasihnya Alexa?" Tanya Raka dan melinda pun menganggukkan kepalanya.


"Dia kenapa?".


"Dia membawa Alexa pergi dari rumah!".Ucap Raka marah sambil mengepalkan tangannya.


"Lalu?" Tanya melinda.


"Kau.. seharusnya kau menjemput Alexa di rumah anak sialan itu! " Bentak Raka.


Melinda pun mengangkat bahunya acuh"Aku lebih tenang Alexa tinggal bersama lelaki itu, Dari pada ia harus tinggal di rumah".Sahut melinda.


"APA MAKSUDMU HAH!".Nafas Raka memburu mendengar perkataan melinda, ia ingin sekali rasanya menghabisi wanita di depannya ini.


"Kenapa..apa kau takut"Tanya melinda sambil menatap tajam Raka.


"Jaga bicaramu melinda!".


" Tapi itu memang faktanya "Sahut melinda.


PLAKK


Melinda pun memejamkan matanya, saat tamparan Raka terasa ngilu di pipinya. Ia menghela napas lelah tapi ia tak bisa apa apa.


"Jangan bicaramu jika kau tidak ingin mati di tanganku" Ucap Raka dan pergi dari sana.


.............

__ADS_1


"Sakit... "Alexa meringis saat tubuh kecilnya di banting kuat keatas kasur. Air matanya menetes saat Alfaro mulai menjambak rambutnya dengan kasar.


"Aku benci orang bandel!"Ujar Alfaro penuh tekanan. Ia menarik tubuh Alexa agar berdiri, dan mendorongnya dengan kuat hingga membentur dinding.


Rahangnya mengeras saat mengingat aksi Alexa yang mencoba kabur, Tapi aksinya gagal kala Rocky--asistennya, tak sengaja melihat Alexa yang berjalan mengendap endap keluar dari kamar Alfaro.


Alexa benar benar menguji kesabarannya. Andaikan gadis itu menurut, ia pasti memperlakukan Alexa layaknya tuan putri. Gadis itu hanya perlu patuh, maka sifat iblis nya takan keluar.


"Lepasin, sakit".


" Mau di lepas hem.. baiklah tapi harus ada imbalannya".Ucap Alfaro semakin mencengkram tangan gadis itu kuat.


"Apa" Tanya Alexa.


Alfaro mengeluarkan pisaunya dan berbisik di telinga Alexa "Satu goresan, tidak boleh menjerit".


Alexa pun menggelengkan kepalanya, ia semakin menangis tersedu sedu tapi tak membuat Alfaro merasa iba.


Tubuh Alexa menegang saat tangan Alfaro menelusup kedalam kaosnya. Bulu kuduk nya meremang saat tangan Alfaro menempel pada kulit punggungnya.


"Aku ingin mengukir namaku di sini, boleh ya".Pinta Alfaro dengan tersenyum miring, tangannya bergerak mengelus ngelus punggung Alexa. Dengan tak berperasaan Alfaro membalikan tubuhnya hingga memunggungi lelaki itu.


"Sangat cantik" Pujinya sambil mengelus punggung Alexa dan ******* darah yang ada di sana. Ia mengukir dengan nama' Alfaro mine' yang terpampang jelas di sana.


"Akhh.. sakit hiks.."rintih Alexa saat Alfaro terus menjilat darah yang ada di punggungnya." Aku mohon berhenti Al sakit.."Ucap Alexa, ia sungguh tidak kuat jika terus begini ia lebih baik mati saja!.


Setelah beberapa menit Alfaro mengobati luka Alexa, kini mereka berdua sedang tertidur di kasur yang sama, Alexa sempat menolak tapi Alfaro mengancamnya akan melukai punggungnya lagi.Dengan berat hati Alexa pun menuruti perkataan Alfaro.


"Tidurlah! aku mencintaimu" Ucap Alfaro sambil memeluk Alexa dengan erat.


Beberapa menit kemudian Alexa mencoba melepaskan pelukan Alfaro, tatapan Alexa jatuh pada rahang tegas Alfaro, ia bangkit dari kasur dengan hati hati saat pelukan Alfaro terlepas.


Alexa keluar dari kamar Alfaro dan berjalan menelusuri mansion itu, Gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri, Senyum di bibirnya mengembang saat apa yang ia cari ada di depan mata. Langkah kaki kecilnya mulai melangkah kearah sana.


"Mau kemana?" Tanya seseorang yang membuat Alexa membalikan badannya.


Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Eh tante" cicit gadis itu "I-itu Alexa ma-mau bikin susu.

__ADS_1


Jihan pun tersenyum manis kerah Alexa" Panggilnya mommy aja jangan tante, kan kamu calon mantu tante"Tutur jihan ramah sambil mengelus rambut Alexa "Yaudah gih sana, jangan lama lama takut Faro ngamuk kalau tau kamu ga ada di sana" Lanjutnya.


"I-iya tan eh.. mommy,aku ke dapur dulu" Ucap Alexa lalu pergi dari sana.


Keringat dingin membasahi tubuh Alfaro saat melihat Alexa tak ada di sampingnya. Tangannya mengepal dan rahang mengeras matanya menatap tajam. Dengan terburu buru ia bangkit dari sana.


"Sialan" Umpatnya sambil menelusuri mansion itu. Langkah nya terhenti saat melihat seorang gadis mungil yang tengah duduk menatap televisi dengan segelas susu yang tinggal tersisa sedikit di tangannya.


Napas nya memburu dan menghampiri gadis itu. "Gadis nakal".


Alexa pun menoleh saat mendengar suara itu, setelah membuat susu tadi Alexa tidak langsung pergi ke kamar. Gadis itu malah bersantai santai sambil melihat televisi di depannya. Waktu terus berlalu tapi matanya tetap tidak ngantuk padahal gadis itu sudah meminum susu, sampai ia lupa bahwa singa kejam itu bisa bangun kapan saja.


"A-l" Ucapnya sambil bangkit dari duduknya.


Alfaro hanya mantap datar gadis di depannya itu, ia ingin sekali membunuh Alexa malam ini. Tapi dirinya sadar ia tak bisa hidup tanpa Alexa.


"Kau tidak melihat ini jam berapa!" Ujar Alfaro tegas.


"Ma-maaf al, tadi gue belum ngantuk" Cicitnya pelan sambil menunduk.


Sebisa mungkin Alfaro menahan amarahnya, tadi saat tidak melihat Alexa, Alfaro pikir gadis itu kabur lagi darinya. Amarah lelaki itu sudah di ubun-ubun, tapi harus ia redam saat Melihat Alexa. Sial.. padahal sebentar lagi amarahnya meluap tapi harus di tahan mati matian, karena gadisnya ternyata tidak mencoba lari darinya.


"Aku maafkan, tapi tidak dengan kau yang belum tidur di jam segini"Ujar Alfaro sambil melihat jam yang berada di sana.


Alexa pun mengikuti arah pandang Alfaro, matanya membulat ternyata sekarang sudah jam dua pagi. Berarti selama itu dirinya duduk di sini sambil meminum susu.


"Maaf".


"Baiklah jangan di ulangi, sekarang mari kita tidur" kata Alfaro dan mengulurkan tangannya, tanpa paksaan Alexa pun menerima uluran tangan itu.


"Sekarang panggil aku kamu, bukan gue lo lagi!" Kata Alfaro sedikit memaksa.


"Tapi Al gue ga ter.."


"Ga ada penolakan!" Ucap lelaki itu tegas.


Alexa pun menghela napasnya gadis itu mengangguk patuh, dan membuat sudut bibir Alfaro terangkat.

__ADS_1


"Good girl".Ujar Alfaro sambil mengecup pipi Alexa sekilas.


__ADS_2