Possesive Psikopat Mine

Possesive Psikopat Mine
Rumah sakit atau kuburan?


__ADS_3

Melihat Alfaro yang sepertinya akan keluar membuat tomi dan Rizal yang sedang membersihkan ruang tv pun terhenti.


kedua cowok itu berlari menghampiri Alfaro yang akan menekan sandi Apartment.


"Eh mau kaman lo?" Tanya Rizal dengan sapu yang berada di tangannya.


"Bukan urusan lo" Ketus Alfaro.


"Urusan kita lah, Kan kita sahabatan. Berarti urusan lo urusan kita juga" Sahut Tomi sambil memegang serokan.


Alfaro hanya mengacungkan pisau nya kearah Tomi dan Rizal, mereka hanya menghela napas lelah. Tanpa Alfaro berucap pun mereka sudah tau tujuannya.


"Ga cape lo bunuh orang terus?" Tanya Rizal


"G"


"Kita yang cape bersihin mayat mayat nya"


"Bodo"


Rizal dan tomi ingin sekali menghabisi Alfaro sekarang, atau menenggelamkannya ke dasar lautan. Tapi mereka sadar diri, sebelum itu terjadi mereka dulu yang habis di tangan iblis gila itu.


"Gue cakar cakar baru tau rasa lo Al" Gumam Tomi dalam hati.


Alfaro tersenyum miring "Kubur keinginan lo Tom, sebelum gue cakar cakar pake pisau gue".


Tomi yang mendengar itu hanya bisa melongo, ia lupa jika Alfaro bisa mendengar suara hati seseorang. Ia merutuki kebodohannya sendiri.


"I-iya Al, tapi.." ucapannya terpotong karena Alfaro sudah lebih dulu keluar dari sana.


"Dah lah, heran gue ada ya di dunia ini manusia kaya Alfaro. Moga aja ada satu kalo dua udah ga bisa bayangin, bisa bisa gue mati berdiri karena ga tahan sama kelakuannya" Ujar Rizal mengelus dadanya agar sabar lagi menghadapi sahabat seperti Alfaro.


Malam semakin larut, tapi tidak membuat Cowok bertubuh tinggi itu merasa kedinginan. Mata elangnya masih memantau sebuh rumah yang tak jauh dari hadapannya.


Bersembunyi di sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari sana, membuatnya berasa seperti maling. Jika bukan karena mencari petunjuk ia tidak mau melakukan ini, mengendap endap demi menemui target.


Seulas senyum devil tercetak di bibirnya saat melihat target itu baru saja datang ke rumah nya. ia terus menatap lekat motor sports yang memasuki pekarangan rumah cowok itu.


Setelah di rasa cowok itu masuk ke kamar, ia buru-buru berjalan masuk ke pekarangan rumah itu dengan santai tanpa beban. Pisau di tangannya ia kembali masukan kedalam saku hoodie nya.


Bruk


Bagas terlonjak kaget saat sebuah suara terdengar cukup keras di balkon kamar nya. Cowok itu berjalan kearah pintu balkon guna mencari tau suara itu.


Cklek


Bugh

__ADS_1


Baru saja ia membuka pintu balkon, tapi sebuah tinjuan mendarat mulus di pipi kanannya. Badannya terhuyung jatuh kebelakang karena pukulan orang itu begitu keras.


"Bangsa* Lo.. " ucapan bagas terhenti wajahnya seketika terkejut melihat orang di depannya "Al-Alfaro " Ujar bagas gugup, jujur saja ia merasa seluruh tubuhnya bergetar saat melihat Alfaro yang di hadapannya begitu seram.


"Hai kakak ipar, kita ketemu lagi" ujar Alfaro berjalan masuk ke kamar itu.


"Bagaimana kabar mu apakah baik?".


" Ng-ngapain lo di sini, pergi sana" ketus bagas--kakaknya Alexa, cowok itu mencoba kabur ancang- ancang melihat Alfaro menyodorkan pisau kearah wajahnya.


"Ngapain lo, gila lo Al!" Ujar Bagas.


"Karena lo calon kakak ipar gue, jadi gue nanya pake cara baik-baik, di mana Alexa?" Tanya Alfaro tanpa basa basi dan memasukan pisau itu lagi.


"G-gue ga tau!, kan dia sama lo terus. Ngapain nanya ke gue?".


"Gue tanya di mana Alexa!" Desis Alfaro mulai kehilangan kesabarannya.


"Gue ga tau! Ngapain nanya ke gue!, oh jangan-jangan Adek gue ilang ya, ngaku lo sialan!" Jawab bagas.


Alfaro berdecih pelan jangan harap bagas bisa membohonginya " Iya cewek gue kabur, dan di bantu sama abangnya!" Tegas Alfaro menatap Bagas tajam.


Deg


Bagas semakin ketar ketir ia tidak ingin mati secepat itu, dan ia juga tidak ingin memberi tahu keberadaan adiknya.


"Gue tanya sekali lagi, dimana Alexa!? ".


"Gue ga peduli, dimana Alexa sebelum kesabaran gue habis bagas" Geram Alfaro sambil mengeratkan gigi gigi nya.


"Lo egois sat, biarin Alexa bahagia!".


Perkataan bagas membuat Alfaro naik pitam, tanpa basa basi cowok itu mendekat kearah bagas dan mencekiknya.


"Lepas sialan gue ga bisa napas tong " ujar bagas mencoba melepaskan cekikan maut Alfaro.


"Gue tadi nanya baik-baik, dan lo ga mau jawab. Berarti jangan salahin gue kalo lo berakhir di rumah sakit atau kuburan" Ujar Alfaro semakin mencekik leher bagas.


Padahal bisa saja Alfaro menggunakan kekerasan lebih dari ini, menggoreskan pisau kesayangannya pada kulit bagas juga bisa. Cuma ia sadar siapa Bagas dan seberarti apa cowok itu untuk Alexa.


Bugh


Bagas melayangkan tinjuan ke perut Alfaro, karena dirinya sudah benar benar sesak, karena tinjuan itu pula Alfaro melepaskan cekikan nya.


"Sorry bro, tapi gue ga bisa napas kalo lo cekik nya kekencengan" Ujar bagas kelewat santai padahal kini keselamatannya tidak terjamin.


"Jangan salahin gue kalo setelah ini lo terkapar die rumah sakit!" Kata Alfaro tersenyum devil.

__ADS_1


"Hih, lo senyum aja nyeremin bor, apalagi ketawa kaya kun.."


Perkataan Bagas terpotong karena Alfaro melayangkan tinjuan pada wajahnya berkali kali.


**Bugh


Bugh**


"Sialan lo, katanya calon kakak ipar malah lo siksa gini, gue juga bisa!" Ujar bagas


Bugh


Pipi mulus Alfaro terkena bogeman Bagas, tapi tak membuatnya kesakitan. Malahan ia kembali menyerang Bagas dengan berutal dan membabi buta hingga cowok itu terkapar tidak berdaya.


Bugh


Pukulan terakhir Alfaro layangkan lagi, kondisi bagas kini benar benar memprihatinkan. Wajah gantengnya sudah tidak terbentuk lagi, Mukanya bener bener di buat bonyok oleh Alfaro.


Di rasa Bagas sudah benar benar tidak berdaya, Alfaro menyudahi pukulan itu dan bangkit dari tubuh Bagas yang berada di bawah nya. Cowok itu berdecih pelan melihat calon kakak iparnya ternyata lemah!.


"Lemah!, tapi so jagoan" Ujar Alfaro menatap Bagas Remeh.


"Sialan lo! g-gak bakalan gue restuin lo sama Alexa!" Sahut Bagas di sisa sisa kesadarannya.


Duk


Dengan gemas Alfaro menendang perut Bagas cukup kencang hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan.


"Gue ga butuh restu dari lo!" Desis Alfaro dan merampas heandpon bagas dari dalam saku celananya.


"W-woy sini balikin, privat itu" Ujar bagas sewot, andai dia bisa bangkit mungkin sudah menjitak kepala Alfaro. Ia hanya bisa mengaduh kesakitan karena Alfaro benar benar membuatnya tepar.


Dengan mudah nya Alfaro membuka sandi heandpon Bagas, jari jemarinya mencari kontak yang bisa di jadikan petunjuk untuknya. Senyum puas tercetak di bibir cowok itu dan membuat bagas bergidik ngeri.


"Stres" satu kata yang di ucapkan bagas membuat Alfaro kemabli menendang perut cowok itu.


"Mulut lo cerewet juga ya!"


"Bangs** lo, sakit! "


"Gue buat lo biar ga sakit lagi" Ujar Alfaro santai.


**Bugh


Bugh**


Dua pukulan kembali melayang pada wajah Bagas, hingga cowok itu tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Nah kan ga rewel" Ucap Alfaro menatap bagas yang tak sadarkan diri dengan tatapan datar. Cowok itu kembali menyimpan benda pipih itu di saku celana Bagas. Dan setelahnya ia berjalan keluar lewat balkon kamar cowok itu.


entah bagaimana caranya cowok itu bisa sampai dan turun dengan mudah lewat balkon, tapi yang jelas apapun bisa Alfaro lakukan jika dirinya menginginkan sesuatu!.


__ADS_2