
"Engh"Lenguhan itu keluar dari mulut seorang gadis yang tengah terbaring di atas brankar UKS.
Usapan lembut ia rasakan di pipinya, mata indahnya membuka sempurna. Gadis itu meringis kecil saat kepalanya masih terasa pusing.
"Mana yang sakit"
Suara dingin seseorang membuat ia menengok kearah samping kanannya, dan mendapatkan Alfaro di sana tengah berdiri sambil menatap tajam kearahnya.
Tadi saat Alexa pingsan rijal tengah berada di sana, ia sedang berakting pura pura tidak tahu soal kejadian yang menimpa riko, itung itung bisa sambil ngegombalin cewe cewe di sana. Dasar ya Rijal ini manusia spesies biawak.
Melihat orang pingsan pun rijal buru buru melihatnya, dan terkejut ternyata itu Alexa! Dengan terburu buru lelaki itu menelpon Alfaro agar cepat kesini, bisa gawat jika ada orang yang menyentuh Alexa, bisa di pastikan orang itu besok tidak bernapas lagi.
Alexa pun menelan ludahnya dengan susah payah, "Al aku.."
"Makan dulu" Sela Alfaro sambil membuka bubur yang ia beli sebelum Alexa siuman.
"ga mau gue masih kenyang" Tolak Alexa sambil menutup mulutnya, gadis itu paling anti dengan bubur, menurutnya itu tidak enak karena bubur itu lembek.
Alfaro pun menghela napasnya, ternyata gadisnya itu sama saja seperti dulu. Dulu?
"Yaudah kalo ga mau, minum teh dulu" Alfaro menyerahkan teh hangat itu ke depan mulut Alexa. Dengan senang hati Alexa menerimanya.
"Dinda.. "
"Di kelas" Sela Alfaro, "Pulang" Lanjutnya sambil bersiap menggendong Alexa.
"Eh al ga usah gue bisa sendiri" Tolak Alexa baik baik tapi tak di dengarkan oleh lelaki kejam itu.
Alexa pun memekik terkejut saat tubuhnya di angkat oleh Alfaro dengan mudahnya.
"Tapi kan ini belum jam pulang"Ucap Alexa dalam gendongan Alfaro, ia berharap tidak ada yang melihat dirinya dengan Alfaro sekarang. Bisa bahaya nanti di jadikan bahan gosipan lagi, ia tak mau itu terjadi!.
"Udah aku izinkan"Ucap Alfaro santai sambil membawa Alexa menuju parkiran.
Sesampainya mereka di dalam mobil, Alfaro pun mulai menjalankan mobil itu meninggalkan parkiran sekolah.
Tiba tiba Alexa ingat dengan riko yang mati dengan tragis, tidak mungkin kan lelaki itu mati bunuh diri, itu pasti sudah jelas bahwa lelaki itu mati karena di buhun.
"Al"
"Hem"Alfaro pun yang tadinya fokus melihat jalan, menengok kearah Alexa sebentar, dan fokus lagi ke depan.
"Kalo gue nanya, Alfaro bakalan marah ngga ya" Gumam Alexa dalam hati.
__ADS_1
"Apa" Tanya lelaki itu.
"kan tadi gue liat mayatnya riko terus..."
"Terus apa" Sela lelaki itu, ia sudah tau arah pembicaraan Alexa, tapi lelaki itu pura pura tidak mengetahuinya.
"Riko mati tragis banget Al, badannya juga ga utuh. Dia tuh kaya di bunuh sama..."Alexa menjeda perkataannya dan melihat kerah Alfaro "Sama psikopat" cicit gadis itu sambil menunduk.
Alfaro pun mengerutkan keningnya sedetik kemudian ia tersenyum miring, ternyata gadisnya mencurigainya.
"Terus" Kata Alfaro pura pura tidak tahu apa apa.
"Dia bukan si yang ngebunuh"
"Iya aku" Jawab Alfaro santai.
Alexa pun menatap Alfaro bingung "Maksudnya".
" Kamu curiga kan, kalo yang ngebunuh riko itu aku?".
Alexa pun masih diam menunggu ucapan Alfaro selanjutnya. Memang benar, ia mencurigai lelaki itu.
"Selamat, kamu benar".
Alexa pun menutup mulutnya ia sungguh tak menyangka" Ke.. kenapa "ucapnya terbata bata.
Alexa pun menggelengkan kepalanya " Lo keterlaluan Al, cuma masalah itu aja lo sampe ngebunuh orang?"Tanya Alexa tak percaya.
"Lo itu egois tau Al, LO EGOIS" jerit Alexa sambil memukul mukul lengan Alfaro, Ia menangis sungguh ia merasa bersalah terhadap riko, karena dirinya riko jadi korban Alfaro si manusia tak punya hati itu.
Memang benar, setelah Alfaro membunuh riko lelaki itu menelpon rijal untuk mengurus mayat itu. Dan akhirnya rijal dan tomi pun menuruti permintaan Alfaro.
Kedua curut itu membuang mayat riko di gudang belakang sekolah, Agar apa.. agar tidak ada yang curiga jika pelakunya Alfaro, kedua curut itupun menghapus jejak Alfaro dari tubuh riko sehingga polisipun tidak akan menemukan sidik jarinya.
Bisa saja mereka membuang mayat itu ke sungai, atau membuang jauh dari kota itu dan tidak akan ketahuan oleh siapapun. Tapi kata mereka tidak akan asik jika tidak ketahuan dan menggemparkan seantero sekolah.
"Ya, aku egois asal kamu tau kamu itu milikku Alexa" Kata Alfaro sambil memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia melihat Alexa dengan datar. "Jangan menangisi lelaki itu! " Sentak Alfaro sambil mencengkram rahangnya.
Alexa pun menepis cengkraman itu dan...
PLAKK
Alfaro pun terdiam merasakan tamparan dari gadisnya yang sedikit membuat pipinya ngilu.
__ADS_1
"DASAR GA PUNYA HATI, MATI AJA LO SIALAN, BERENG**K!!teriak Alexa di depan wajah Alfaro, saat tangan kecilnya ingin membuka pintu mobil, Alfaro lebih dulu mencengkram tangannya.
" Jangan membentak aku Alexa "Ucap Alfaro, semakin mengeratkan cengkraman nya.
" GUE.. AKKHH" Alexa pun menjerit kesakitan karena Alfaro menggores bibirnya menggunakan pisau lipat yang selalu ia bawa kemana mana.
"JANGAN MEMBENTAK, KAU TAK DENGAR HAH!" Alfaro sungguh murka terhadap gadisnya itu, "Biar ku tunjukan bereng**k itu seperti apa"Ucap Alfaro tajam.
"AKHH..hiks.. SAKITTT"jerit Alexa saat Alfaro menusukan pisau itu di pundaknya.
" Sudah ku bilang Alexa, kau milikku apa yang ada padamu adalah milikku!"Kata Alfaro tegas dan semakin menusukan pisau itu.
Baju putih yang di kenakan Alexa pun kini sudah bercampur dengan darah, gadis itu semakin terisak dan terus memohon agar Alfaro menyudahinya.
Daya tahan tubuh Alexa yang masih lemah pun membuat ia tak kuasa menahan sakit itu. Tiba tiba penglihatannya terasa berkunang-kunang selanjutnya gadis itu sudah tak sadarkan diri di dalam dekapan Alfaro.
Alfaro pun panik melihat gadisnya tak sadarkan diri lagi, "Apakah aku terlalu melukainya" Gumamnya pelan.
...........
Tok tok tok
Atensi lelaki itu teralihkan saat pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.
"Masuk" Ucap lelaki itu yang berkutat dengan berbagai berkas di tangannya.
"Permisi tuan" Ucap seorang pria sambil membungkukkan badannya.
"Ada apa Rocky" Sahut lelaki itu sambil melihat kerah Rocky.
Rocky--Asisten atau tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya Alfaro. Meskipun Alfaro masih SMA, tapi ia sudah terjun ke dunia perbisnisan sejak kelas Vll(tuju) SMP. Jadi jangan salah, bila kini Alfaro sudah memegang beberapa perusahaan ayahnya.
"Tuan saya mendapatkan informasi" Ucap rocky sambil menyerahkan berkas kearah Alfaro.
Alfaro pun tersenyum miring "Sudah ku duga" Ucap laki itu sambil tersenyum smirk."Terus awasi dia"Lanjutnya.
"Baik tuan, saya permisi dulu" Ucap rocky dan di balas deheman oleh Alfaro.
Setelah kejadian tadi di dalam mobil, Alfaro membawa Alexa yang tak sadarkan diri ke mension Ayahnya--Reyhan. Lelaki itu panik sampai memanggil dokter pribadi keluarganya, berlebihan memang tapi itu lah Alfaro, selalu berlebihan terhadap orang yang ia cintai.
Dengan berat hati Lelaki itu harus meninggalkan gadisnya, karena pekerjaannya yang terbengkalai, tidak mungkin juga kan ia selalu mengandalkan Rocky, karena ia tau Rocky pun butuh istirahat.
Ruangan kerja dan kamarnya hanya terhalang satu kamar saja, tapi sudah membuat Alfaro uring uringan karena harus jauh dengan gadisnya. Sungguh bucin sekali Alfaro ini ya:v.
__ADS_1
Karena takut Alexa kabur darinya, Alfaro pun dengan sengaja menyuntikkan obat tidur ke tubuh Alexa. Agar gadis itu tidak bisa kemana mana, Apakah Alfaro lupa bahwa di sini banyak para bodyguard yang menjaga mansion itu. Ah entah lah Alfaro ini sungguh keterlaluan.
Yang bucin mh beda ya bund:v