Possesive Psikopat Mine

Possesive Psikopat Mine
Apartment


__ADS_3

Alfaro membaringkan Alexa yang tak sadarkan diri, cowok itu sengaja menyuntikan obat tidur karena Alexa terus berontak saat di mobil tadi.


Ya, cowok itu bolos sekolah dengan memaksa Alexa ikut dengannya. Setelah kejadian tadi, Alfaro memaksa Alexa masuk ke dalam mobil, tapi setelah di perjalanan cewek itu terus saja berontak meminta di turunkan. Dengan terpaksa dirinya menyuntikan obat tidur pada tubuh gadis itu.


Alfaro membaringkan tubuh Alexa di kasur, Kini dirinya sedang berada di Apartment yang sudah lama tidak ia tempati.


"Enakan ngukir dimana ya, perut atau punggung?" Gumam Alfaro dengan seringaian semakin lebar. Ia tidak sabar mengukir namanya di tubuh Alexa.


Cklek


Atensi Alfaro teralihkan saat pintu kamar di buka dari luar, ia menatap datar orang itu, sementara yang di tatap hanya menyengir lebar.


"Kita masuk ya" Ujar Tomi dan masuk kedalam kamar itu di ikuti oleh Rizal. Dengan santai nya kedua cowok itu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Alfaro.


"Kita ngikutin lo tadi, pas lo maksa Alexa buat masuk mobil kita udah masuk duluan ke dalem bagasi mobil lo" Ujar Rizal santai saat melihat Alfaro akan berucap.


"Motor lo?"


"Ya, kita tinggalin lah di sana" Sahut Tomi.


Alfaro menatap mereka datar ia tidak habis pikir bisa bisanya ia memiliki sahabat seperti kedua curut itu.


"Eh mau lo apain tuh anak orang" Tanya Rizal yang melihat Alexa tidak sadarkan diri.


"Mengukir lah, apa lagi" katanya dengan mengidikkan bahu acuh. Alfaro kembali menatap Alexa.


Tomi dan Rizal yang mendengar jawaban Alfaro langsung menatap Alexa kasihan. Walaupun mereka bersahabatan dengan Alfaro tapi sikap dan sifat mereka jauh berbeda, Alfaro seperti bukan manusia bahkan ia tidak takut sama sekali menghilangkan nyawa seseorang.


Alfaro tidak segan segan membunuh siapapun bahkan ia pernah membunuh anak kecil, Benar benar tidak berperasaan. Tapi memang itu kenyataannya, Alfaro tidak pernah memandang bulu entah itu Laki laki ataupun perempuan, entah anak kecil maupun orang dewasa.


"Ga usah pake gituan, yang lain aja" Ujar Tomi berusaha menggagalkan aksi Alfaro.


"Iya bener, lagian masalahnya cuma sepele, gue tau lo cemburu al tapi jangan pake cara gila gini dong" Timpal Rizal

__ADS_1


"Ya, mungkin bagi lo semua itu cuma sepele" Jawabnya lalu terkekeh hambar. "gue gila bukan?" Tanya nya " ya, gue memang tergila gila pada gadis ini, hingga gue ga rela orang lain menyentuh kulitnya, dia milikku dan hanya pemiliknya lah yang berhak menyentuhnya".


"Baiklah, tapi jangan terlalu melukainya. Gue takut Alexa malah semakin menjadi jadi, coba lo kurangin lah galaknya, gue yakin suatu saat hati Alexa luluh" Nasehat Tomi bijak.


"Bener, semakin lo menyakiti Alexa semakin Alexa ingin pergi dari lo. Dan sebaliknya" Tambah Rizal.


"Tapi gue harus ngasih pelajaran, biar dia ga kaya gitu lagi" Ujar Alfaro terdengar tidak terima.


"Coba kontrol emosi lo ro, setiap masalah jangan lo selesayin pake pisau dong, gimana Alexa mau ngerasa nyaman sama lo, Kalo lo nya kasar". Ujar Tomi masih mencoba menasehati sahabatnya itu.


Alfaro berdiri, cowok itu berjalan kearah Tomi dan Rizal. Kedua cowok itu meneguk ludahnya kasar, saat Alfaro berjalan dengan pisau di tangan kanannya.


"Mati lah gue" Gumam Rizal ketar ketir.


"Wish.. serem kali pisaunya bah" Cicit Tomi


Cowok itu berdiri di depan sahabatnya, ia menodongkan pisau itu kepada Rizal dan Tomi. Setelah beberapa menit pisau lipat itu ia masukan kembali me dalam saku celana nya.


Setelah itu ia berjalan keluar di ikuti oleh Tomi dan Rizal. Kedua cowok itu bertos bangga karena berhasil menggagalkan aksi Alfaro.


"Bangga lah gue, bisa jadi penyelamat" Bisik Rizal pada Tomi.


"Gue nih, contoh malaikat tak bersayap" Sahut Tomi tak mau kalah "Karena gue Alfaro ga jadi ngukir anak orang".


Rizal berdecih pelan "Gue juga ikut handal kali dalam kasus ini".


Percakapan mereka terhenti saat sudah sampai di ruang Tv, Ketiganya duduk lesahan di atas karpet berbulu yang ada di sana.


"Mabar lah mabar" Ujar Rizal sambil mengeluarkan ponselnya. Di ikuti oleh Tomi dan Alfaro.


"Btw, cowok yang lo tonjok tadi sekarang tepar di rumah sakit" Kata Tomi sambil pokus pada game nya.


"Oh"

__ADS_1


"Ck, harusnya tadi lo buat dia mati aja al" Kata Rizal dan mendapat tendangan maut dari Tomi.


"Ngomongnya" Tegur Tomi dan Rizal hanya menyengir saja.


...........


Alfaro keluar dari kamar mandi dengan bersiul ria, bibirnya menyunggingkan senyum kala melihat Alexa yang sedang duduk di atas kasur sambil memijit pelipisnya.


Alfaro berjalan mendekati Alexa dengan sesekali menyugarkan rambutnya kebelakang.


"Kenapa hem... pusing?" Tanya Alfaro lembut membuat Alexa terlonjak kaget. Sepertinya ia tidak sadar saat Alfaro keluar dari kamar mandi.


"Pusing" Jawabnya, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alfaro yang dingin dan basah. Matanya membulat dan langsung menjauhkan kepalanya dari sana.


"Kok kamu ga pake baju sih?" Tanya Alexa sambil melihat perut Alfaro yang sispek.


"Kan aku habis mandi sayang"Jawabnya sambil membawa kepala Alexa kembali bersandar pada dadanya.


Namun dengan cepat gadis itu menolaknya " Kamu pake baju dulu sana".


Alfaro tersenyum jahil, bukannya pergi keruang ganti malahan cowok itu semakin mendekatkan diri pada Alexa.


"A-al, sana pake baju kamu" Ujar Alexa sambil menahan dada Alfaro karena wajah cowok itu hanya berjarak beberapa inci saja dari wajahnya.


"Iya, kamu sana mandi gih" Ujar Alfaro sambil mengelus rambut Alexa dengan sayang.


"I-iya" Jawabnya dengan gugup.


Cup


Alfaro mencium pipi Alexa dan berlalu dari sana, meninggalkan Alexa yang masih terkejut atas perlakuan cowok itu. Meskipun bukan yang pertama, tapi tetap saja membuat jantung Alexa tidak bisa di kondisikan.


"Gila sexy banget" Gumam Alexa tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2