
Mata indah nya perlahan terbuka, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. keningnya mengerut saat melihat ruangan yang ia tempati sekarang gelap, hanya ada pencahayaan sinar matahari yang memasuki celah jendela.
Matanya membulat sempurna karena tangannya tidak bisa di gerakan, ia menatap kedua tangannya yang di rantai?.
Gadis itu mencoba bangun dari tidurnya, dan satu hal yang ia tahu, bukan hanya tangannya saja yang di rantai tapi juga kedua kakinya!.
Gadis itu mencoba melepaskan diri dengan terus berontak dari sana, namun nihil usahanya hanya sia sia. Isak kan kecil mulai terdengar dari mulutnya, ketika tidak ada satu orang pun di ruangan itu, di tambah sekelilingnya gelap dan hanya sedikit sinar matahari di sana.
"Hiks.. Bunda, Lexa takut" ujar gadis itu dengan lirih. Ia memiliki trauma tersendiri dengan kegelapan.
Gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri, ia belum pernah melihat ruangan ini, apakah ia di culik?, bukan kah tadi dirinya sedang bersama...
"Alfaro" Gumam Alexa, gadis itu teringat jika tadi ia tertidur di dalam pesawat, apa ini ulah Alfaro? tapi untuk apa ia menyekap dirinya seperti buronan saja.
Pikirannya buyar ketika pintu terbuka dari luar, tubuhnya semakin gemetar ketika cowok dengan badan tinggi itu mulai memasuki ruangan.
"Sayang apa kau sudah bangun hem.." Tanya Alfaro dengan suara lembut, tapi terdengar seperti suara kematian bagi Alexa.
Cowok itu terus berjalan mendekati Alexa dengan langkah pelan. Alexa semakin ketakutan karena Alfaro sambil menyeret kapak di tangan kananya.
"A-al hiks.. "
"Sttt.. jangan nangis sayang" Bisik Alfaro ketika sudah sampai di samping Alexa, cowok itu mengelus rambut Alexa dengan lembut "Ini ga bakalan sakit kok".
Tubuh Alexa semakin bergetar, apa maksud cowok itu?.
"Al, tolong lepasin hiks.. aku ga mau d-di rantai gini"Pinta Alexa dengan bibir bergetar.
"Nanti aku lepasin sayang, tapi tidak sekarang".
Dengan ragu Alexa bertanya lagi " K-kapan?".
__ADS_1
Alfaro tersenyum miring cowok itu mendekatkan mulutnya ke telinga Alexa "Setelah aku memotong kedua kaki nakal mu" Bisik cowok itu dan tertawa keras.
"Ngga, aku ga mau!" Sela Alexa cepat.
"Diam Alexa!, aku harus memotongnya, agar kau tidak bisa lari lagi dari ku!" Tegas Alfaro sambil mencengkram lengan Alexa.
"Hiks.. aku m-minta maaf, aku ga bakalan kaya gitu lagi Al" Mohon Alexa berharap Alfaro mempunyai balas kasih untuknya.
Cowok itu mengecup puncak kepala Alexa dengan sayang "Maaf sayang, hukuman tetap lah hukuman" Sahut Alfaro.
"Ngga, aku ga mau. Nanti gimana aku bisa jalan kalo kakinya di potong" Ujar Alexa frustasi , gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana jika kakinya di potong Alfaro.
"Aku selalu ada untukmu, jika kaki mu tidak ada. Maka aku yang akan menjadi kakimu, aku akan mengantarkan mu kemana pun kamu mau" Ucap Alfaro santai.
Alexa menggelengkan kepalanya kuat "Aku ga mau!.
"Aku tidak meminta persetujuan mu, Lagi pula aku tidak keberatan jika memiliki istri yang tidak mempunyai kaki".
Alfaro menggeram marah, cowok itu tidak suka di bantah! apalagi ini Alexa, gadisnya! berani sekali dia.
"DIAM! INI JUGA KARENA MU" Teriak Alfaro tak kalah nyaring, cowok itu mengelus rambut belakang Alexa dan menariknya secara tiba tiba hingga membuat Alexa mendongakkan kepalanya.
"Jika saja kau tidak lari dari ku, maka kaki mu ini tidak akan ku potong!" Desis Alfaro dan melepaskan Jambak kan nya.
"Hiks.. maaf al, aku ga bakalan ngulangin lagi" Pinta Alexa.
"Maaf mu ku terima, tapi hukuman tetap ada sayang" Sahut Alfaro.
Alexa hanya menggelengkan kepalanya dengan keras, gadis itu hanya bisa menangis. Mungkin jika di sana bukan Alfaro, maka orang itu akan merasa kasihan melihat Alexa menangis dengan tersedu sedu.
Tapi Alfaro tetap lah Alfaro, Cowok kejam tidak berperasaan.
__ADS_1
"jangan terus menangis, itu tidak akan membuat ku merasa iba sedikit pun sayang, jadi simpan saja tangisan mu itu ketika kakimu sudah tidak ada lagi" Ucap Alfaro dan berjalan kearah kaki Alexa.
Gadis itu semakin berontak saat Alfaro mengusap kakinya lembut.
"Aku tidak sabar ingin memotong nya" Ujar Alfaro dan menatap Alexa dengan senyum yang mengembang di bibir cowok itu.
"Aku m-mohon hiks.. ja-ngan".
Tanpa mendengarkan perkataan Alexa, Alfaro mulai mengangkat kapak nya tinggi tinggi dan....
"Arggghhh..."
Darah segar menetes ke bawah lantai, begitu banyak pertanda jika luka itu sedikit dalam.
Alfaro menatap tajam orang yang menusuk pergelangan tangannya dari samping. ia berdecak kesal sambil membanting kapak itu ke bawah lantai.
"Deddy, apa apaan kau ini hah? kenapa selalu menggangguku?" Tanya Alfaro sambil menatap Reyhan datar.
Darah itu adalah darah Alfaro, karena Reyhan menusuk tangannya tiba tiba dengan pisau. Entah sejak kapan pria itu di sana, tapi yang jelas deddy nya selalu saja mengacaukan suasana!.
"Jangan potong kakinya, mommy melarang nya" Ujar Reyhan menatap anak semata wayang nya itu tak kalah datar.
"Lain kali jika ingin memotong kakinya jangan di sini, teriakan kalian terdengar sampai ke kamar ku, dan karena mu.." Tunjuk Reyhan pada Alfaro "Karena mu waktuku yang seharusnya bermanja-manja dengan istriku terbuang sia sia karena harus ke sini".
Alfaro berdecak malas mendengarnya.
"Jangan potong kakinya, jika kau memotong kakinya mommy mu tidak akan menyayangi ku lagi"Lanjut Reyhan dan pergi dari sana setelah mengacaukan kegiatan Alfaro!.
Alfaro mengabaikan darah yang terus mengalir di pergelangan tangan nya, cowok itu hanya bisa menggeram marah di dalam hati. Jika itu bukan deddy nya sudah di pastikan Alfaro akan melenyapkannya sekarang juga!.
Salahnya juga, karena memilih ruangan yang berada di lantai dua, yang hanya terhalang tiga kamar saja dari ruangannya ke kamar suami istri itu. Pantas saja mereka bisa mendengarnya. Arrgghh Alfaro ingin menenggelamkan deddy nya itu ke dasar lautan!.
__ADS_1