Possesive Psikopat Mine

Possesive Psikopat Mine
Menyebalkan


__ADS_3

Hari senin, hari yang paling di benci hampir seluruh murid. Karena hari ini mereka harus berdiri di lapangan dengan matahari yang setia menyinari bumi, membuat tubuh mereka serasa berada di dalam panggangan.


Alfaro sudah melarang gadisnya itu untuk tidak mengikuti upacara, tapi apa daya gadis itu sangat keras kepala. Padahal waktu pagi gadis itu merengek kepalanya pusing, tapi lihatlah sekarang! gadis itu berdiri di tengah lapangan dengan murid murid lainnya.


"Jangan di liatin mulu dong, ga bakalan ilang juga" Ujar tomi yang berada di sebelah Alfaro. lelaki itu melihat arah pandang Alfaro yang menatap Alexa.


"Berisik" Ucapnya sinis.


Rijal yang berada di barisan belakang Alfaro pun menyahut "Eneng juga pengen di perhatiin sama mas faro" Sahut rijal sambil mencolek colek pantat Alfaro.


"Bang**t diem lo!" Kata Alfaro tegas sambil menepis tangan rijal dari sana.


Tomi pun terkekeh dan menengok kearah rijal "Kaya kurang belain aja lo" Ucap tomi pada rijal.


"Dih kan tiap malem gue selalu di belai sama lo"Sahut Rijal sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Tomi merinding sambil kumat kamit kaya baca mantra.


"Buset lama bener si botak ngomongnya" Kata Rijal sambil melihat kearah pak kepala yang sedang memberikan amanat di depan.


"Mana kepalanya nyorot lagi kaya bohlam" Sahut tomi yang melihat kepala pak Sarip--kepala sekolah, kepalanya yang botak memancarkan sinar karena terkena cahaya matahari.


"Hooh kaya cahaya ilahi" Ucap rijal santai.


Sedangkan Alfaro masih setia melihat kearah Alexa tanpa meladeni ucapan rijal dan tomi. Sebenarnya ini kali pertama Alfaro mengikuti upacara di sini, karena lelaki itu selalu berada di ruangan pribadinya yang sudah Reyhan sediakan untuknya. Tak ada yang mengetahui ruangan itu kecuali Tomi dan Rijal.


"Busyet panas bener" kata tomi lebay.


"Udah terima aja, itung-itung latihan biar pas masuk neraka ga kaget" Sahut Rijal santai kaya di pantai.


Plak


Tomi pun dengan gemas menggeplak kepala Rijal. Saking gemasnya membuat Rijal hampir terjengkang kebelakang.


"Diem bang**t, noh liat bu lina ngeliatin kesini mulu"Sahut sala satu siswa di sana, yang memperingati mereka berdua karena beberapa guru melihat kerah mereka dengan tajam.


"Resiko orang ganteng, dimana pun pasti di liatin" Sahut tomi sambil merapikan rambutnya menggunakan tangan.


"Ge'er benerrr" Ucap siswa itu.


Akhirnya upacara selesai, semua siswa siswi kini sedang berada di kantin untuk mengisi perut mereka sebelum bel masuk. Di meja kantin paling pojok sudah ada tomi, rijal, dinda, Alexa dan juga Alfaro.


"Cape" Tanya Alfaro sambil menyeka keringat yang berada di kening Alexa.


"Dikit"jawab gadis itu seadanya.


"Gue ga di tanyain nih" Tanya Rijal kepada Alfaro.


"Mau mati? " Kata Alfaro sambil menatap tajam kerah rijal, lelaki itu kesal karena Rijal mengganggunya.

__ADS_1


"Buset biasa aja ngeliatnya jangan kaya mau keluar mata lo"Sahut Rijal, tapi tak di gubris oleh Alfaro.


" Punya nyawa berapa lo"Bisik Tomi ke arah rijal.


Dinda pun hanya melihat mereka dengan tatapan Aneh, gadis itu yang biasanya cerewet dan tidak bisa diam. Kini mendadak jadi pendiam, ia terlalu takut untuk mengeluarkan suara karena di sini ada pria kejam yang kapan saja bisa memotong lidahnya.


"Eh dugong, sariawan lo dari tadi diem aja"Tanya rijal.


" Gue?"Tunjuk dinda pada dirinya sendiri.


"Bukan, mpok siti noh" Tunjuk Rijal kerah pok siti--sala satu penjual di kantin, yang sibuk melayani pembeli sedari tadi"Ya iyalah lo, siapa lagi"Lanjut Rijal.


"Oh" Sahut Dinda singkat. Rijal pun mendengus mendengar jawaban Dinda.


"Cantik si tapi sayang cuek" Ujar Rijal sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Padahal kata kata itu di tunjukkan untuk dinda.


"Ganteng kagak, jelek iya. Tapi sosoan jadi Playboy". Sahut dinda menimpali perkataan Rijal.


Rijal pun melihat kearah Dinda "Maksud lo, gue?" Tunjuknya sambil mencondongkan badannya ke depan dinda.


"Ngerasa jelek lo?" Tanya tomi pada Rijal sambil terkekeh.


"Bang*e, gue di kerjain" ucapnya sambil duduk ke posisi semula.


"Mau kemana?" Tanya Alfaro saat melihat Alexa yang berdiri dari duduknya.


"Mau aku antar?"Tanya Alfaro


" Ngga usah, Aku bisa sendiri kok, lagian kan ada dinda"Jawab Alexa dan di angguki oleh Alfaro.


"Din ayo!" Ujar Alexa karena dinda masih fokus minum, akhirnya Alexa berjalan di depan.


"Meluncur kawan" Teriak dinda sambil mengejar Alexa yang sedikit jauh darinya.


"Akhhh bang**t" Teriak Rijal karena kakinya di injak dengan sengaja oleh Dinda.


"Mon maaf, sengaja brader" Teriak Gadis itu nyaring sambil membawa Alexa ikut berlari bersamanya. Takut takut Rijal akan mengejar mereka.


......... ...


"Bun" Ucap seorang pria remaja yang sedang duduk di kursi roda sambil menikmati angin sore.


"Apa sayang" Tanya wanita yang di sebut pria itu dengan bunda.


"Bagas kangen sama Lexa bun" Ucapnya sendu sambil menunduk.


Ya, pria itu adalah bagas, lelaki itu masih berada di rumah sakit karena kakinya belum pulih total akibat kena tembak. Melinda--bundanya yang setia menemaninya pun merasakan itu, wanita paru baya itu menghela napas panjang.

__ADS_1


"Bunda juga sama nak, bagaimana kabar dia di sana" Ujar melinda menerawang jauh.


"Kenapa kita ngga susul aja Alexa ke sana bun, kita bawa pulang dia" Kata bagas semangat saat mengatakan itu.


Melinda pun berjongkok di depan putra nya, lalu mengusap rambut pria itu dengan sayang "Tidak bisa nak, bunda jauh lebih tenang jika adikmu tinggal bersama mereka".


Bagas pun mengerutkan keningnya" Maksud bunda apa?"Tanya pria itu.


"Bunda sayang sama Alexa, bunda ingin yang terbaik untuk dia".


"Aku tau, tapi kenapa bunda tadi bilang seperti itu?"Tanya bagas semakin tidak mengerti.


"Pulihkan dulu tubuhmu, setelah kau sembuh bunda janji akan memberi tahukan semuanya" Jawab melinda sambil menyeka air mata nya yang tiba-tiba keluar tanpa di minta.


"Tapi aku rindu pada adikku bun".Ucap bagas lirih


"Bunda akan menelponnya nak, agar kau mendengar suaranya"Sahut melinda.


Alexa yang sedang memakan cemilan pun beralih menatap handphonenya yang berdering, gadis itu melihat nama yang ada di sana.


"Bunda" Gumamnya dan melihat kerah Alfaro yang sedang menatapnya dari samping. Lelaki itu sedang memainkan gitar karena gadisnya ingin melihat ia bermain gitar tapi itu semua harus berhenti di tengah tengah lagu karena telepon Alexa yang berbunyi.


"A-aku angkat ya" Tanya Alexa, sungguh ia merindukan keluarganya, meskipun itu tidak terlihat di hadapan Alfaro. Tapi jauh di lubuk hatinya ia merindukan suasana rumahnya.


"Hem, Lodspeker"Ucap Alfaro dan di turuti oleh Alexa.


"Bunda" Ucap gadis itu dengan suara yang sedikit bergetar.


"Sayang, apa kau di sana baik baik saja" Tanya melinda sambil melihat kearah bagas yang tersenyum ketika mendengar suara Alexa.


"Iya bunda, aku baik baik saja. Bagaimana keadaan kalian di sana? Apa abang sudah sembuh bunda?" Tanya Alexa beruntun.


"Kami baik-baik saja sayang, abang juga sudah membaik" Jawab melinda.


"Halo adik abang" Sahut bagas "Apa lelaki kejam itu tidak menyakitimu di sana?" Tanya bagas.


Alexa pun meringis saat bagas mengatakan itu, tidak tau kah lelaki itu kini sedang bersamanya?"Ah, dia baik bang, dia juga tak menyakitiku" Jawab Alexa sedikit berbohong.


"Bila pria itu menyakitimu katakan saja pada abang mu ini, biar abang hajar dia sampai tak bernapas lagi" Ucap Bagas so iya.


"Betul kah begitu?".


Bukan, bukan Alexa yang menjawab melainkan Alfaro. Bagas yang mendengar suara itu pun ketar ketir.


"Oh hai bro gimana kabar lo,udah lama ngga ketemu" Ujar bagas mengalihkan pembicaraan sambil terkekeh pelan. Padahal di dalam hatinya ia sudah membaca istighfar.


Alexa yang mendengar itupun mendengus sebal, Abangnya ini tak pernah berubah. Selalu saja seperti itu!.

__ADS_1


__ADS_2