Possesive Psikopat Mine

Possesive Psikopat Mine
Hadiah Buat Riko?


__ADS_3

Gerakan Alexa membuka pintu mobil terhenti, saat Alfaro menarik tangannya hingga kembali duduk. Alexa pun menatap Alfaro dengan bingung


"Jangan tidur malam malam!" Peringat lelaki itu.


Apa? jangan malem malem katanya!, heyy bambang matamu buram ya, ini tuh udah malem!.


Alexa pun mendengus mendengar perkataan Alfaro.Tapi Ia tetap mengangguki perkataan lelaki itu. Lebih baik ia menurut dari pada harus mendapatkan hukuman lagi dari Alfaro.


Tadi saat Alfaro sedang mengobati luka Alexa, gadis itu merengek ingin pulang jelas jelas Alfaro tidak Mengijinkannya. Tapi karena berkat jihan--bundanya Alfaro, akhirnya alfaro pun Mengijinkannya untuk pulang.


Tidak mudah membuat Alfaro mengiyakan perkataan seseorang, tapi setelah jihan membisikan sesuatu di telinga putra semata wayangnya itu, akhirnya Alfaro pun mengiyakan.


Alexa pun bersyukur karena jihan datang ke kamar Alfaro, dan membujuk pria itu agar dirinya di ijinkan pulang. Jika tidak, mungkin malam ini ia masih berada di sana, dan melihat wajah menyebalkan Alfaro sepanjang malam.


"Yaudah sana" Ucap Alfaro dan langsung di angguki Alexa.


"Aku turun dulu".


Alfaro mengangguk, tangannya bergerak mengelus puncak kepala Alexa dengan sayang. " Hati-hati".


Alexa pun tersenyum mengangguk dan segera keluar dari mobil. Alexa pun yang ingin berjalan mengerutkan keningnya saat tiba tiba kaca mobil terbuka. Apa lagi?


"Sini dulu" Ucap Alfaro dan Alexa pun menurutinya.


"Ada a-pa" Ucapnya gugup, sedetik kemudian matanya membola saat Alfaro mengecup pipinya tanpa ijin.


"Aku mencintaimu...dan kau milikku" kata Alfaro kemudian menutup jendelanya, Meninggalkan Alexa dalam keterkejutannya.


Alexa menghela napas, menyaksikan mobil Alfaro yang sudah hilang dari penglihatannya. "Cinta kok kaya obsesi" Gumamnya dan berjalan memasuki rumah dengan menghentak hentakan kakinya.


"Saat berada di ruang tamu, ia berpapasan dengan Bagas--abang nya.


" Woy, pipi lo kenapa"Tanya bagas menatap tajam Alexa. Membuat gadis itu meneguk ludah kasar.


"Jawab, kenapa lo, ada yang jahatin lo. Ayo bilang ke gue biar gue hajar tu orang".Tutur bagas sambil menggulung kan lengan bajunya yang pendek.


" So soan mau hajar orang, sama kecoa aja lo takut "Sahut Alexa sambil mendengus.


Bagas pun menyengir sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal," Ya... yang itu mah beda lagi ah udah lah, cepet ngomong kenapa lo"Lanjutnya sambil bergerak ingin menyentuh luka di pipi adiknya tapi di tepis oleh Alexa.


"Ck jangan di pegang ah, gue tuh tadi jatuh terus kena batu pipinya" Ujar Alexa berbohong. Bisa gawat kalau iya berkata jujur, bisa bisa abangnya ini akan berulah terhadap Alfaro. Bukan takut Alfaro kenapa napa, tapi ia takut abangnya mati di tangan lelaki kejam itu.


Bagas pun memicingkan matanya "Bohong kan lo, masa kena batu lukanya kaya gini" tunjuk bagas kearah luka Alexa, "ini tuh kaya abis di sayat sama pisau" Lanjutnya sambil mengerutkan keningnya menunggu jawaban sang adik.


"Cek serah lo deh mau percaya atau ngga, Awas ah gue mau istirahat".


Tanpa mendengar persetujuan bagas Alexa pun langsung berjalan menaiki tangga, meninggalkan bagas yang melihat nya dengan tatapan heran.


Sedetik kemudian bagas sadar " WOY ABIS DARI MANA LO, KENAPA BARU PULANG!!"Teriak bagas yang melihat Alexa sudah jauh dari sana.

__ADS_1


"RUMAH DINDA"


"Maaf bang, gue bohong lagi" Gumam Alexa pelan sambil berjalan memasuki kamarnya.


Pasalnya gadis itu pulang jam 22:30, huh untung kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah.


.............


"Dimana ini" Ucap seorang lelaki yang baru sadar dari pingsannya. ia pun melihat sekeliling ruangan yang tampak gelap dan hanya di terangi oleh cahaya temaram.


"Di ikat" Gumamnya saat sadar bahwa tangan dan kakinya di ikat menggunakan rantai."Sialan"Lanjutnya sambil mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melepaskan rantai itu.


"Sudah bangun" Suara bariton seseorang terdengar di telinganya, ia pun mendongak menatap orang di depannya yang menggunakan hoodie.


"Siapa lo hah" Ucap lelaki itu.


Bukannya menjawab Pria itu malah menyebutkan namanya.


"Riko Fernando Pramono, Xll IPA 1".Ucap pria di depannya sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku hoodie yang ia pakai. Sedangkan lelaki yang bernama riko yang tak lain adalah tawanannya, mengerutkan kening saat pria di depannya itu mengetahui namanya.


"Lepasin gue, cupu lo bisanya main culik-culikan".


Pria di depannya pun terkekeh senang" Baiklah, orang cupu ini akan menunjukan betapa hebat dirinya" Ucapnya sambil mengeluarkan pisau kesayangannya di dalam saku hoodie.


"Mau apa lo, lepasin gue bang**t, Punya masalah apa lo sama gue hah" Tanya riko sambil berkeringat dingin.


Riko semakin mengerutkan keningnya, ia sungguh tak mengerti apa yang di katakan pria di hadapannya itu.


"Maksud lo?" Tanya Riko sambil mengerutkan keningnya.


"Jangan banyak tanya"Ucap pria itu sambil mendekat kerah riko dengan pisau di tangannya.


"LEPASIN GUE BANG**T" Teriak riko sambil mencoba menjauh dari pria itu, Walaupun hasilnya nihil.


"Lo udah ngedeketin milik gue" Ucap pria itu menatap tajam riko"Jangan sentuh milik gue"Lanjutnya dan semakin mendekat.


"Maksud lo apa hah gue ga paham! dasar gila".


" DIAM ATAU LO MATI"Bentak pria itu.


"GILA, LO SIALA.... AAKKHHH" Ucap riko tergantikan dengan jerit kesakitan saat pria di depannya menusukkan pisau itu di pahanya.


"DIAM GUE BILANG! " Ucap pria itu sambil menekankan pisaunya semakin dalam. "Baiklah kita mulai" Lanjutnya sambil tersenyum smrik.


"Kita mulai dari mana dulu ya" Pikir pria itu sambil menatap Riko dari atas sampai bawah, "Sepertinya dari sini dulu lebih asik" Tunjuk nya kearah bibir riko.


"Jangan gue mohon, gue minta maaf kalo punya salah sama lo".


" Maaf lo gue tolak".Jawab lelaki itu sambil tertawa keras, Sedetik kemudian...

__ADS_1


Srekkk


"AKHH" Teriak riko ketika pria itu memotong bibir bawahnya.


"Ini hadiah buat lo yang udah tertawa sama milik gue" Ucap pria itu. Sementara riko terus menjerit kesakitan karena pria itu terus mengulitinya.


Krekk


Itu adalah suara tulang yang patah, ya pria itu mematahkan tulang lengan riko, keadaan riko pun sudah sangat mengenaskan.


"Sebelum gue cabut nyawa lo, gue mau lo tau siapa gue" Ucap pria itu dan membuka tudung hoodie dan masker yang sedari tadi menutupi kepala dan wajahnya.


Deg


Riko pun tak bisa menutupi rasa terkejut nya saat tau siapa pria di depannya ini, Terlihat dari raut wajahnya yang sedikit pias dan mata yang melotot.


"hahaha kenapa, kaget lo" Ucap pria itu.


"Al..fa..ro" Ucap riko terbata bata.


Ya pria itu adalah Alfaro, dan ia menyiksa riko bukan tanpa alasan, masih ingat dengan lelaki yang tertawa bersama Alexa saat di dalam kelas? lelaki itu adalah riko teman sekelasnya Alexa.


Alfaro bukanlah orang yang mudah melupakan suatu hal, maka dari itu ia menelpon sala satu orang kepercayaannya untuk mencari informasi tentang Riko, atas kekuasaan yang ia punya dan kepintaran orang itu. maka dengan mudahnya ia mendapatkan informasi tentang riko dan keluarganya.


"Udah tau kan, sekarang ucapkan selamat datang pada ajal lo".


" Ja..ngan gue mo..hon."Permintaan maaf terus terucap dari mulut riko, berharap Alfaro tidak jadi membunuhnya walaupun anggota badannya kini sudah tidak lengkap lagi.


"Cek basi".


Tanpa basa basi lagi, Alfaro pun mulai merobek perut riko, di lanjutkan dengan memotong lambungnya terlebih dahulu, ginjal, dan menarik usus lelaki itu. Walaupun riko kini sudah tak bernyawa tapi itu tak membuat Alfaro merasa puas.


Ia pun melanjutkan aksinya dengan mencongkel kedua mata riko, mencabut hati lelaki itu, dan terakhir ia menggunting jantungnya agar terlepas dari sana.


Senyum kepuasan pun tercetak jelas di bibirnya saat ia melihat badan riko sudah tak berbentuk lagi, seperti kebiasaannya ia menyimpan jantung korbannya itu di dalam toples kaca.


"Tikus kecil ini udah musnah"Ucap Alfaro senang.


Alfaro pun merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu dan menempelkannya di telinga, "Bereskan" Ucapnya pada orang yang di sebrang telpon.


"Ck kebiasaan lo ganggu gue tidur aja, kalo mau bunuh orang tu liat jam dong ah. Coba lo liat sekarang jam berapa" Sahut lelaki di sebrang telpon sambil mendengus kasar saat melihat jam yang menunjukan pukul dua pagi.


"Bac*t" setelah mengatakan itu Alfaro pun mematikan panggilan dengan sepihak, karena ia tau walaupun sahabatnya mengatakan itu pasti dia akan tetap datang untuk membersihkan semuanya, termasuk jejaknya agar nanti saat di periksa polisi tidak ada satupun bukti yang mengarah padanya.


Ya orang yang di telepon Alfaro tadi adalah rijal si raja Playboy.


"Si kampret, gue lagi enak enak tidur juga ah." Ucap rijal sambil menaiki motornya, mulutnya tak berhenti misuh misuh mengumpati Alfaro. Ia pun pergi dari pekarangan rumahnya menuju apartment tomi.


Enak saja dirinya sengsara sedangkan tomi bahagia di alam mimpi, seperti itu lah yang berada di dalam otak rijal.

__ADS_1


__ADS_2