
Baru satu video lucu yang diputar, kami semua, member TheA, sudah tertawa terpingkal-pingkal. Aku bahkan harus memegangi perutku yang sakit karena tertawa.
Video selanjutnya diputar, seakan tak terpengaruh dengan suara tawa kami, semua wajah member EVE datar sekali. Jangan-jangan alih-alih menonton mereka malah mengingat beban hidupnya selama ini. Butuh waktu lama membuat mereka kalah, itu pun kami harus menggelitik mereka agar tertawa.
Permainan ini mudah saja melihat pemenangnya. Makanya ini game yang paling kami benci.
Tentu saja Seung Han yang menang. Tidak ada yang mau susah payah menggelitiknya. Sesuai kesepakatan dia berhak menentukan. Aku pikir dia akan memilihku. Ternyata tidak, dia memilih Hyo Bin sebagai teman pasangannya.
Sontak saja Hyo Bin terkejut setengah mati. Dia berteriak mengatakan "APA" yang membuat adegan itu harus dipotong agar tidak menimbulkan spekulasi negatif dari masyarakat. Hyo Bin menatap kami pasrah, ingin sekali aku puas menertawakan wajah menderitanya.
🎶🎶
Sudahlah terlambat satu jam makan siang sekarang kami terpaksa memakan makanan yang tidak bisa ku gambarkan rasanya.
Hari ini giliran pasangan Ye Na dan Kwon Won. Seung Han memilih mereka berpasangan lantaran kekurangan Kwon Won dalam memasak dan dia percaya Ye Na yang
cukup dekat dengan Kwon bisa melakukannya berdua.
Ye Na memang pandai memasak, tapi sesuai misi mereka harus memasak untuk member EVE, TheA serta staff. Tentu saja Ye Na kerepotan membuatnya. Ditambah lagi dia harus berulang kali meneriaki Kwon Won untuk berhenti berteriak-teriak setiap kali minyaknya meletup. Bahkan, Kwon Won sampai bersembunyi di bawah meja. Ye Na sampai harus menghajarnya ke bawah meja sambil membawa sendok goreng.
Aku merasa kasihan melihat Ye Na tapi ini lucu juga. Jarang melihat dia repot teriak-teriak begitu. Dapur sangat berantakan sementara kami sibuk menunggu sambil menertawainya. Hanya dua menu yang bisa kami makan selebihnya anjing saja tidak akan mau memakannya.
"Gigi aku masih lengkap tapi nasi ini. Ini bukan nasi, ini bubur" rengek Ye Na
"Yang masak nasi kan kau. Kau tidak tahu sama sekali memasak nasi" Kwon Won mengejeknya tanpa sadar diri.
"Ya apa kau tak bisa berkaca? Ini semua gara-gara kau. Dan ini juga, daging atau arang? Rasanya pahit sekali" Ye Na balas mengejek sambil melotot.
"Kalian ini harusnya kami yang menggerutu. Kenapa jadi kalian!" aku dongkol melihat mereka berdebat tidak jelas. Staff yang hanya melihat tampilan makanan, langsung memesan makanan cepat saji untuk mereka. Kamilah yang disuruh menikmati dengan ceria.
__ADS_1
Selesai makan, giliran kami yang menyuci piring. Kamera di pasang disekitar wastafel. Baru hanya mengangkati piring, Myung Hee sudah menjatuhkan dua piring sekaligus. Apa boyband kebanggaan banyak orang ini tidak bisa melakukan pekerjaan rumah sedikitpun?
"Bisa miskin kita kalau mereka syuting selama sebulan saja" salah satu staff menggeleng-geleng dan mengelus dada. Lee Myung Hee langsung menyengir tak berdosa.
Kami langsung membagi tugas dan menyelesaikannya secepat mungkin.
Aku mengelap tanganku dan keluar sebentar untuk menenangkan kepalaku.
Syuting akan dimulai dua puluh menit lagi. Tempat ini asri, pohon-pohonnya rindang. Taman di tengah hamparan rumput itu sangat cantik. Aku melangkahkan kakiku menyusuri taman itu.
Bunga-bunga yang tumbuh indah ini membuat stressku berkurang jauh. Aku mengecek keadaan. Suasana disini sepi. Aku mencoba melepaskan sinar ungu. Kata Pak Tua itu, sinar ungu ini tentang cinta.
Bagiku cinta itu tentang keindahan. Aku mengalirkan sinar itu ke kelopak bunga. Benar saja, warna kelopak bunga dan daunnya semakin terang. Bunga yang sudah mati kembali menyembuhkan sel-selnya.
Aku menghentikan eksperimenku. Samar-samar aku mendengar suara pria sedang berteriak. Aku mengikuti asal suara itu. Bukannya itu Seung Han m? Itu sweater yang dipakainya. Penasaran, aku mendekatinya dengan tetap bersembunyi di balik pilar ruang santai yang disediakan.
Aku mendengar dia berkata jangan sampai kehilangan jejak. Siapa yang dicarinya sampai marah-marah begitu? Aku melihatnya lagi, tiba-tiba dia membalikkan badannya.
"Kau lagi" mampus aku ketahuan.
Suaranya terdengar geram sekali. Aku memberanikan diri menoleh. Benar saja, matanya sempurna menatapku dengan tajam.
"Eh, tadi aku hanya berjalan-jalan. Aku tak sengaja bertemu denganmu" kilahku. Aku tak sepenuhnya berbohong. "Kau mencari siapa? Aku coba bantu semampuku"
"Bukan urusanmu, bukannya kau sangat benci padaku? Jangan campuri urusanku lagi" dia melangkah pergi meninggalkan aku.
"Aku tidak membencimu. Kau bisa mengandalkanku" teriakku membuat langkahnya terhenti meski sebentar. Ah kenapa aku tadi tidak teleportasi saja? Benar-benar kemampuanku tidak berguna disaat genting.
Masih ada sepuluh menit lagi, lebih baik aku duduk dibangku ini. Kami tidak boleh masuk secara bersamaan.
__ADS_1
Aku menaruh tanganku ke tanah, aku mencoba merasakan kehidupan dibawah sana. Aku menutup mata merasakan kehangatan dibawah sana. Getaran-getaran kecil akibat pergeseran kecil lempeng. Meskipun kecil, getaran ini nantinya bisa semakin kuat dan menciptakan jurang yang besar. Memisahkan satu sama lain.
Masalah-masalah awalnya terlihat kecil, sehingga sering terabaikan. Tapi suatu saat, masalah kecil itu akan membuat luka yang besar dihati seseorang. Saat itulah mereka mulai memisahkan diri.
Sinar putih tiba-tiba muncul menyilaukan mataku. Aku segera berdiri waspada. Sinar itu membalut tubuh pria pendek tua. Aku lega ternyata dialah yang datang.
"Kenapa kesini pakai baju begituan?"
"Aku datang mendadak. Aku merasakan detak jantung berdebar tidak beres. Aku fikir kau dalam bahaya" ujarnya dengan wajah dingin itu.
"Ya! Apa kau terus datang karena debaran jantungku? Bagaimana kalau aku nanti jatuh cinta, debaran jantungku juga tidak akan normal. Apa kau akan terus mengikutiku?" aku kesal sekali melihatnya. Aku ingin merasakan perasaanku sendiri tanpa harus ku tutupi atau diatur.
"Justru itu lebih berbahaya dari apapun. Kau ingat saat kau kehilangannya? Kau juga hampir menghilangkan dirimu sendiri"
" Lalu kenapa?" aku menyudutkannya.
"Kenapa aku tidak bisa merasakan sedih? kecewa? bahagia?" tanpa sadar aku kembali menangis merasakan sesak ini.
"Aku ingin menangis, kenapa tidak boleh? Aku juga merasakan rindu kenaoa tidak boleh?"
"Jelas itu tidak boleh Aliena! Kau dan manusia berbeda. Perasaan cinta mereka berbeda dengan kita. Perasaan cinta mereka hanya sebatas sampai kematian!" Pak Tua itu mengeluarkan sinar putih lebih terang lagi.
"Lalu kenapa kau mengirim aku kesini? Kenapa kau menyuruhku belajar dari mereka? Kau melarangku sedih, bahagia dan kecewa sekalipun. Tapi kenapa kau mengirimku kesini?"
"Kau akan tahu jawabannya Aliena, ingat tubuh manusia akan kembali menjadi tanah. Kau akan dilupakan oleh orang yang kau cintai. Cepat atau lambat!"
"Pergi! Pergi dari sini! Kau tidak tahu apapun! Aku akan terus mencarinya!" aku mengeluarkan sinar hitam pekat. Pak tua itu menatap lama sinar yang keluar dari tanganku. Dia paham sekali warna itu.
Warna rasa sakit. Semakin pekat, semakin pedih rasa sakit itu.
__ADS_1
"Ingat Aliena, kau sudah dilupakan" kedua kakiku lemas tak sanggup lagi berdiri.