Precious Idol

Precious Idol
Debut dan Haters Part I


__ADS_3

Pagi ini terasa sangat sepi, aku masih bisa melihat kesedihan kemarin. Masakan Jessica biasanya sangat enak. Kami selalu bersemangat menyantap makanannya dan membuat meja makan berisik. Tapi, sekarang rasanya hambar dan hanya terdengar suara sendok yang beradu.


Aku tidak bisa begini, jika makanan ini hambar, kamilah yang membuatnya terasa begitu. Sampai kapan kami akan begini terus? Harus ada yang bergerak.


"Aku tahu ini menyakitkan, aku juga tahu kita sudah berusaha yang terbaik. Tapi orang lain itu tidak, dia bisa berkata apapun tentang kita" aku berkata hati-hati.


"Tapi, siapa diri kita hanya kita yang tahu dan kita yang memutuskan. Awal memang berat, tapi jangan berhenti" ya, aku sudah memutuskan, tidak ada laut yang terlalu dalam untuk diselami.


Meja makan tetap lenggang, tidak ada yang mendengarkan menolehpun tidak. Aku menghela nafas pelan, tidak mudah membangunkan hati yang tengah kecewa, karena aku juga begitu.


Satu per satu pergi, meninggalkan aku dan Jessica. Aku bisa mendengar dia menghela nafas berat. Dia menoleh, aku mengangkat alis, sepertinya dia hendak berkata sesuatu.


Aku menunggu, dia langsung mengangkat piringnya meninggalkan aku. Tak sampai lima langkah, dia berbalik kembali duduk. Badannya tegap, menatapku mantap.


"Terima kasih Al, kau benar."


"Kitalah yang memutuskan. Kau menyadarkanku, tak seharusnya aku sebagai leader malah ikut terlarut. Kita harus bangkit!" aku tersenyum untuk pertama kalinya setelah kejadian kemarin.


"Tak apa Ca, kita adalah keluarga, kita akan selalu saling menguatkan" aku menggenggam tangannya.


"Kita akan melewatinya bersama-sama seperti hari kemarin". Jessica balas menggenggam dengan sangat erat.


Kau tahu? Inilah kami. Kami akan selalu berpegangan tangan tak kan ada lagi yang menghentikan kami mulai saat ini.


Kesalahanku dimasa lalu membuatku tidak tahan lagi. Aku selalu ingin pergi namun aku ditahan disini. Semuanya rasa sakit, rasa takut dan kehilangan itu. Semua diizinkan yang diatas untuk kurasakan.


Namun aku tahu, selalu ada penyembuh di balik luka itu. Sama seperti hari ketika Jessica menggenggam tanganku. Hari yang ku pikir aku telah selesai.


Sepanjang perjalanan menuju gedung agensi, hanya suara aku dan Jessica yang terdengar. Kami sibuk bernyayi-nyanyi dan menjahili yang lainya. Manajer Hwang yang sepertinya peka, sesekali ikut menimbrung meramaikan suasana sambil tetap fokus pada jalanan.

__ADS_1


Hanya Ye Na yang sesekali menoleh dan tersenyum mendengar gurauan kami. Melihat perubahan sekecil itu saja, membuat aku dan Jessica menjadi semakin bersemangat dan optimis.


Gedung kami tidak terlalu jauh letaknya dari asrama. Kami bisa melihat kerumunan orang yang menunggu di depan gedung. Mereka sepertinya bukan penggemar kami ataupun artis lainnya.


Mereka tidak membawa spanduk dan hanya membawa kantong plastik hitam. Aku bisa melihat sesuatu didalam plastik itu. Bentuknya butir pasir dari teksturnya itu terlihat lembut.


Para bodyguard langsung sigap mengawal kami setelah turun dari mobil. Kerumunan itu banyak dan menatap tak suka ke arah kami.


"Ayo! Kenapa diam saja. Hei, apa kepalamu tak pegal menunduk terus? Tegakkan! Kita tidak salah!" ujar Ye Na menegakkan kepala Hyo Bin yang disampingnya.


Jessica membantu menegakkan kepala Hyeri. Kami saling bergandengan, aku meraih tangan Jessica yang berdiri disampingku.


"Genggamanku takkan pernah terasa lengkap tanpa tanganmu" aku meraih tangannya dia menoleh menatapku. Diam-diam aku mengalirkan sinar hijau melalui tangan kami yang saling terhubung


"Nah, sekarang baru pas" ujarku tersenyum padanya.


Sama sepertinya, kami membiarkan tubuh kami dihujani telur dan tepung. Setelah suasana cukup reda, barulah dia melepaskan tangannya dan justru berjalan kearah wanita yang teriakannya sangat keras.


Dia mengeluarkan sejumlah uang dan memberinya kepada wanita itu. Tak terima, wanita itu balik melemparkan uang itu pada wajahnya dan kerumunan itu semakin menjadi-jadi memakinya.


Aku berusaha mengendalikan amarahku melihat Hyeri dimaki seperti itu. Kerumunan ini sama saja dengan perempuan kemarin. Mereka menyedihkan. Hanya bisa membenci saja


Dia bergeming tanpa mengindahkannya. Aku ingin kesana namun langkahku dihentikan Ye Na.


"Uang itu untuk membayar tepung dan telur yang kalian lemparkan pada kami. Terima kasih telah mengganggap kami ada. Terima kasih telah tahu kami disini. Jika kalian sangat membenci kami, tolong jadikan saja telur dan tepung itu menjadi kue" dia diam sejenak.


"Bagikan kepada anak di panti asuhan, pasti tak terkira rasa senang mereka. Kalian bisa bayangkan selebar mana senyuman merek bukan?"


"Itu tak berguna untuk kami, karena perlu kalian tahu kami tidak akan tumbang hanya dengan cibiran. Kami memiliki satu sama lain".

__ADS_1


Oi lihatlah, aku sangat bangga dengannya. Dia membungkam mereka dengan perkataannya.


Hyeri membungkukkan badannya sekali lagi dan melangkah mantap sambil tersenyum kearah kami. Dengan tubuh yang dilumuri tepung dan telur, kami melangkah mantap masuk ke dalam gedung.


Hyeri, meskipun dia hobi bermain, tapi dia mood maker di grup kami. Meskipun dia terlihat ceria, aku tahu dia juga bisa hancur. Namun dia memilih untuk bangkit dan mempercayai jalannya.


Aku tidak tahu dimana para pengawal kami. Aku tak peduli, kamilah yang akan saling melindungi.


Direktur Kim begitu terkejut melihat keadaan kami, alih-alih tampil cantik kami malah seperti adonan yang tinggal dimasukkan ke dalam pemanggangan. Beliau memarahi habis-habisan para bodyguard membuat kami tak tega.


"Kim Sajangnim, kami baik-baik saja" ujar Hyo Bin membela


"Benar Sajangnim, anggap saja kami sedang melakukan perawatan kulit. Protein dari putih telur baik untuk melembutkan kulitkan" kami menggangguk setuju.


Direktur Kim menghela napas pasrah, kelihatan benar dia khawatir pada kami.


"Aku sudah melihat respon publik, ada begitu banyak yang memuji kemampuan kalian. Namun tetap saja ada yang tidak menyukai kalian"


"Pembenci akan selalu membenci. Tak peduli sebaik apa kalian"


"Aku tahu, awal memang berat, tapi ingat kalian jangan menyerah"


"Kalian bisa sampai disini karena mimpi kalian, jangan sampai kehilangan mimpi kalian!".


"Baik Sajangnim" jawab kami kompak. Bagi kami Kim Sajangnim tidak hanya seorang bos, melainkan seorang ayah yang peduli pada anak-anaknya.


Sekretaris Song memberikan jadwal kami dalam seminggu pada manajer Hwang. Direktur langsung menyuruh kami mandi dan bersiap kembali. Mendengar kata mandi Hyo Bin langsung menggerutu. Wajah semangatnya langsung hilang entah kenapa.


Malas sekali dia disuruh mandi. Dibanding idol grup lain, grup kamilah yang semua membernya malas mandi dan tentu saja yang terparah disandang oleh Hyo Bin. Aku jadi tertawa menyadari hal itu.

__ADS_1


__ADS_2