Precious Idol

Precious Idol
The A&J Music Ent


__ADS_3

Usai makan malam, kami semua sibuk dengan tugas masing-masing. Hyeri dan Hyo Bin, duo maut itu sedang mempersiapkan keperluan pemotretan.


Mereka berdua memutuskan menggunakan latar belakang putih dan beberapa icon-icon di rumah Jessica, seperti patung maupun hal-hal yang terlihat bagus dan estetik.


Meskipun ditempat sampah, di tangan handal fotografer Hyo Bin dan Hyeri itu akan terlihat mewah.


Ye Na membiarkan Jessica menyusun surat perizinan sendiri dan mulai mendandani Hyuk Jae. Soal makeup itu memang keahlian Ye Na.


Aku mempersiapkan komputer untuk mengedit dan mencari beberapa konsep, jadi aku tidak mengikuti pemotretan.


Mereka mulai dari jam enam sore pemotretan baru akan selesai jam sepuluh malam. Yang artinya jam 10 malam aku mulai mengeditnya.


Tidak masalah mengorbankan jam tidur malamku untuk beberapa tahun ini. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil


Sementara menunggu selesai, aku segera membuka channel youtube milik agensi kami. Nama sudah kami tentukan dan logo juga.


Aku juga sudah siap mendesain bulan sabit dan nama agensi kami. Karena tidak hanya kami saja, nama Hyuk Jae juga dimasukkan.


Logo bulan sabit dengan latar belakang hitam, menaugi label The A&J Music selesai. Aku bersemangat membuka channelnya.


Tepat hari ini, tanggal 8 Februari, The A&J Music resmi berdiri. Menurut kepercayaan, angka delapan adalah angka keberuntungan dan bulan februari adalah bulan kasih sayang.


Aku berharap kasih sayang kami tidak pernah putus satu sama lain seperti angka delapan.


Usai membuka channel, aku mendaftarkan enam akun pribadi kami. Soal daftar mendaftar itu menjadi tugasku.


Enam ponsel berkumpul di depanku. Aku meregangkan jari-jariku. Menarik nafas, mengambil ponselku terlebih dahulu. Mengisi beberapa data dan selesai. Aku berlanjut ke ponselnya selanjutnya.


Jessica membawakan kami cemilan coklat agar bisa lebih fokus. Tanganku bergerak cepat memilih setiap foto untuk profil dan feed.


"Aku ambil bebas ya!" Aku berteriak tapi tidak ada yang menjawab. Aku mengangkat bahu, diam berarti iya. Memilih foto di ponsel Hyuk Jae sangat sulit. Rasa aku ingin mengunggah semuanya.


Dengan foto-foto seperti ini, kenapa dia tidak mau membuat media sosial? Bisa saja ada yang tertarik dan menjadikannya ambassador mereka.


Hyo Bin menyerahkan beberapa foto yang menurutnya sudah oke untuk diedit lebih dulu.


Hyuk Jae memang luar biasa. Fotonya terlihat profesional meski masih polos. Sepertinya aku harus mempercayainya untuk mencari traine lainnya.


Aku hanya menambah sedikit filter dan membesarkan ujung celananya, mengatur resolusi foto dan selebihnya sempurna. Pekerjaanku lebih cepat selesai dari yang ku kira.


Hyo Bin menyerahkan dokumen yang terakhir. Pemotretan hari ini berhasil sempurna. Mereka duduk istrihat menungguiku. Hyuk Jae kembali kekamarnya berganti baju dan bergabung lagi bersama kami.


Jessica membawakan lagi minuman yang sudah dipesannya secara online.


"Hyuk Jae luar biasa. Aku hanya dua kali memperbaiki make upnya" Ye Na menyeruput lega minumannya.

__ADS_1


"Aku juga tidak terlalu berusaha untuk mengeditnya. Dia terlihat profesional" Aku menggeser komputer, menunjukkan foto-foto hasil editan pada mereka.


"Angel fotonya juga sangat unik, kalian bertiga luar biasa" Aku berbalik badan menghadap Hyo Bin dan Hyeri memberi mereka dua jempol.


"Aku akan menyimpan ini dilaptopku, jadi besok aku langsung bisa mengunggah dan mencari perusahaan iklan"


"Jadi besok kita pergi bersama?" tanya Ye Na.


"Yes. Kita juga perlu ke pasar."


"Terus kita naik apa?" tambah Ye Na lagi.


"Manajerlah" jawab Jessica santai. Kami semua binggung dengan jawabannya. Melihat ekspresi kami, dia baru sadar kalau dia salah bicara.


Jessica menepuk jidatnya. "Ah aku lupa, maaf. Kita naik bus saja. Sayang uangnya kalau dipakai"


"Tapi kita harus punya mobil Je, terlalu sulit kalau kita mengandalkan bus saja" Hyo Bin ada benarnya juga. Kami berpikir cukup lama untuk menentukkan mana yang lebih prioritas.


Hening yang cukup lama, Hyeri berdeham memecah suasana. Aku mematikan komputer untuk menghemat listrik.


"Aku punya sahabat dulu sewaktu SMA. Dia berasal dari keluarga kaya, saat ini menjadi dokter,"


Kami fokus mendengar Hyeri.


"Aku rasa sudah saatnya meminta bantuannya. Besok kalian temani aku kerumahnya ya?" Kami mengangguk. Tapi untuk apa?


"Dia bisa meminjamkan kita mobil sampai kita bisa membelinya sendiri" jawab Hyeri seakan tahu isi otak kami.


"Wow dia baik sekali" Hyeri mengangguk membenarkan perkataanya.


"Dia sahabat baikku selama masih SMA. Tapi kalian harus mempersiapkan diri," Hyeri menyeruput habis minumannya.


"Masa laluku akan datang kembali"


"Tidak masalah, bukan hanya kau yang memiliki masa lalu disini" Hyuk Jae memandangnya sendu. Siapapun yang melihatnya akan merasa tenang.


"Terima kasih" Hyeri tersenyum.


Hyo Bin menggenggam tangannya " Siapapun kau dimasa lalu, kau tetap Hyeri yang" dia terdiam sebentar memandangnya sambil tersenyum bangga.


"Hyeri yang?" Kami penasaran.


"Yang,"


"Yang?"

__ADS_1


"Menyebalkan" Kami kembali keaktifitas masing-masing, puas sekali rasa Hyo Bin tertawa. Ya begitulah tidak ada yang perlu diharapkan dari Hyo Bin.


"Oh iya, kapan kau akan cari traine baru?" aku bertanya pada Hyuk Jae. Semuanya menolah padaku. Aku bertanya "apa" tanpa bersuara.


"Kau sudah yakin padaku?" Aku mengangguk tanpa ragu. Kurasa tidak ada yang perlu diujikan lagi.


"Baiklah! Aku tidak akan mengecewakanku" dia bersemangat persis seperti superman.


"Aku jadi takut kalau kau bicara begitu" Kami tertawa bersama. Entah sejak kapan, akan selalu ada tawa meskipun hari-hari ini.


"Ya sudah ayok tidur! Besok kita kerja keras lagi" Kami langsung berkemas menyusun barang-barang kembali ketempatnya.


"Selamat malam TheA" Hyuk Jae riang sekali. Bukannya naik keatas, dia malah menuju pintu depan.


"Mau kemana?" tanyaku.


"Mengecek kantor, siapa tahu masih ada yang belum terkunci" Dia tersenyum lantas berbalik. Kami saling memandang melempar senyum. Ada yang menghangat, ketika tahu kami ada yang menjaga.


"Menurutmu orang seperti apa yang akan direkrut Hyuk Jae?" Sambil menaiki tangga, Jessica menanyaiku.


"Aku lebih berharap seperti orang yang meminjamkan bajunya untuk Hyuk Jae."


"Iya sih, jarang ada remaja yang masih mau membantu."


"Iya Je, aku bisa melihat sosok sahabatku didiri temannya itu" Hyeri nimbrung dari belakang.


"Oh temanmu yang mau meminjamkan mobil itu?" Hyeri mengangguk.


"Tapi kenapa kau bilang masa lalumu akan datang kembali?" Aku membuka pintu. Kami masuk kedalam, sambil bercerita kami membersihkan diri.


Kami meregangkan badan. Sambil tertidur, kami masih membahasnya. Hyeri menceritakan kisahnya.


Aku sedikit terkejut mendengarnya, tapi melihat kemampuan bela dirinya yang tinggi, rasanya kisahnya benar.


"Jadi kau meninggalkannya karena kau menjadi traine?" Hyeri mengangguk. Matanya menerawang kelangit-langit kamar.


Saat menjadi traine, ada hukum tak terkulis yang menyarankan kami untuk tidak berpacaran.


"Jadi sekarang kau tahu dia dimana sekarang?" Hyeri berdiam sebentar. Dia menutup mata, kami mengikutinya.


"Seandainya aku tahu"


Aku membuka mata, mendengar kalimat Hyeri. "Seandainya aku tahu" itu kalimat yang sering kuucapkan dulu.


Namun, sekarang aku jarang mempertanyakannya.

__ADS_1


__ADS_2