
"Wah pakaian itu cocok untukmu"
Jelas sekali sinar senang di mata Jun Soo. Wajahnya memerah malu menerima pujian kami. Menggaruk telinga, dia mengucapkan terima kasih. Dia mengambil posisi duduk disamping Hyuk Jae.
"Kalian tahu, kalian terlalu ambisius. Membangun agensi baru itu bukan hal mudah" Ha Joon menyeruput minuman yang disajikan Na Hyun. Gayanya sudah mirip CEO muda yang lagi hitz.
"Lokasi bisnis itu harus strategis, tempat kalian?" Ha Joon bertanya, Jessica langsung mengangguk sebagai jawaban. Aku kurang tau tempat itu strategis atau tidak.
"Ya kau bos mereka?!" Mata melototnya menggemaskan sekali.
"Bukan gitu sayang" Ha Joon menggelayut manja di lengannya Na Hyun di depan kami semua. Merasa malu, Na Hyun menoyor-noyor kepala Ha Joon menjauhkan dari lengannya. Ah pasangan ini menggemaskan sekali.
"Basi banget sih kalian" Kami menutup mulut berusaha menahan tawa mendengar cebikkan Hyeri. Bibirnya sinis terangkat. Ha Joon langsung menegakkan punggungnya kembali keposisi semula. Wajahnya berubah datar
Persahabatan mereka bertiga membuat hatiku menghangat. Dilihat dari segi manapun, Hyeri sangat nyaman didekat mereka. Tidak ada perasaan canggung meskipun dia sering berbicara ngasal kepada mereka.
Hah setidaknya aku tahu Hyeri kami ada yang menjaga meskipun sedang terluka.
"Jessica kamu leader grup ini kan?" Jessica mengangguk. Bibirnya terkatup rapat, tatapannya tak berkedip tanda dia serius mendengarkan pertanyaan Ha Joon.
Tiba-tiba Ha Joon tertawa lepas sendiri. Kami saling menatap tak mengerti. Dia mengusap wajahnya mencoba menahan tawanya.
"Bukannya grup kalian sudah bubar? Jadi kenapa kau masih menganggap kau leadernya?" Ha Joon menyeka matanya yang berair tanpa merasa berdosa.
Na Hyun dan Hyeri mengumpat bersamaan, dengan kuat memukul kepala Ha Joon ke bawah.
Wajahnya memerah menahan sakit. Tapi tentu saja tidak ada yang bisa dilakukannya.
"Mulutmu itu perlu disekolahkan lagi ternyata ya!" Na Hyun mengalungkan lenganya ke leher Ha Joon. Ha Joon lirih memohon ampun kepada pacar sendiri. Kedua tangannya mengatup serasa memohon ampun ke bosnya preman.
"Eh bukannya itu sakit?" tanya Jun Soo hati-hati.
"Tidak, untuk orang yang nyawanya hampir melayang itu bukan apa-apa" Kami melongo mendengar Na Hyun, dia seolah membicarakan mantan pacarnya yang berhasil melupakannya setelah sekian lama.
Ha Joon menolehkan pandangannya pada Hyo Bin. Dia berdiam cukup lama menatapnya. Mataku kebas melihatnya.
"Aku seperti kenal kau" Ha Joon mendekatkan wajahnya ke wajah Hyo Bin. Hyo Bin langsung menjauhkan wajahnya dari Ha Joon. Dia tidak nyaman dilakukan seperti itu.
Na Hyun menarik kerah belakang Ha Joon agar menjauh dari wajah Hyo Bin. Ha Joon tidak mengalihkan pandangannya dari Hyo Bin, jelas sekali Hyo Bin risih mendapat perlakuan itu. Dia tidak mau menatap Ha Joon. Menyembunyikan wajah mungilnya dibalik poni.
"Hyun, aku betul pernah melihatnya." Ha Joon ngotot menunjuk- nunjuk Hyo Bin.
"Kau lihat dimana?"
__ADS_1
"Waktu kecil" Ha Joon memiringkan kepalanya mencoba mengingat sesuatu.
Mataku tak sengaja menangkap Hyo Bin yang menyeka ujung matanya dengan cepat. Apa ini berhubungan dengan masa lalunya? Bahaya kalau dia masih belum sembuh dari luka saat alasan terlukanya dipertanyakan. Aku harus melakukan sesuatu!
"Sudahlah, aku saja tak ingat kalau aku pernah kecil. Sekarang apa lagi?" kataku berusaha mengalihkan perhatiannya. Hyo Bin menyeruput minuman melakukan hal yang sama denganku.
Dia menatap Hyo Bin sejenak, mencoba memahami sesuatu. Mengulas senyum, dia melanjutkan pembicaraannya yang tadi.
"Apa aku harus beli semuanya?" Hyo Bin bertanya memastikan. Kami tertawa kecil melihat kepolosannya.
"Ya karena kau direktur penanggung jawab peralatan, bukan berarti kau yang beli" Jawab Na Hyun tersengal-sengal mengatasi tawanya.
"Perusahaan yang bertanggung jawab dalam hal kebutuhan dana Hyo Bin. Aduh... " tambah Ha Joon memegangi perutnya.
Hyo Bin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nah jadi kalian harus memilih siapa penanggung jawab keuangan perusahaan kalian." Badannya tegak lagi, dari tadi dia sudah membuat gambaran besar.
"Lebih bagus sih dari kalian sendiri, kaliankan sudah saling mengenal cukup lama. Direktur divisi ini tidak hanya bertanggung jawab pengeluaran, tapi juga pengolahan dan pemasokan."
"Sekarang giliran kalian juga memilih direktur penanggung jawab lainnya."
Kami saling memandang satu sama lain. Aku tidak yakin dengan Hyuk Jae dan Jun Soo. Kalau Jessica itu tidak mungkin. Dia menjabat sebagai Direksi, tugasnya sudah berat sekali pastinya. Aku? jelas tidak mau.
"Ye Na," usul Jessica.
"Ah iya Ye Na lebih cocok." Aku menyetujui usulan Jessica. Kami semua melihat Ye Na menunggu jawabannya.
Entah perasaanku saja atau tidak, Ye Na meneguk ludahnya sendiri. Kecemasan jelas tersirat diwajahnya.
Hyeri menggenggam tangannya menenangkan. "Tenang saja kita akan selalu bantu kau, jangan khawatir"
Kaki Ye Na semakin merapat, dia menggenggam gugup tangannya diatas paha.
"Aku kurang yakin, sebaiknya cari satu orang lagi." Kami berunding lagi.
"Baiklah kita akan memilih satu orang lagi yang membantu Ye Na." Ye Na menghembuskan napas lega.
"Hyeri"
"Hyeri iya Hyeri saja"
Hyeri tertawa menanggapi. "Ah kalian pasti sudah gila."
__ADS_1
"Baiklah Hyeri direktur keuangan kedua." Kami memutuskan tanpa menunggu persetujuan yang bersangkutan.
"Ya! Ya! Ya!" Kami terlonjak kaget melihatnya tiba-tiba berdiri sambil berteriak-teriak menolak. Aku menarik tangannya untuk duduk kembali, kurang dramatis apalagi dibuatnya?
"Jangan banyak omong kau terima saja!"
"Dia juga bertanggung jawab sebagai Direktur Personalia!" usul Ye Na. Hyeri menghela napas berat terpaksa menerimanya. Huh! untung saja bukan aku!
"Direktur produksi dan segala macamnya?"
"Hyuk Jae saja. Dia bagus dalam memproduksi lagu!" Hyuk Jae mengangguk menerima tanggung jawabnya.
"Penanggung jawab casting team?"
"Ah iya itu juga penting. Kita harus jeli memilih traine yang tidak hanya punya bakat tapi punya semangat."
"Bagaimana kalau saja Jun Soo?" Jun Soo yang dari tadi hanya menjadi penonton langsung gugup mendapat tanggung jawab.
"Tapi aku masih baru selama ini aku hidup dijalanan" Kakinya bergerak-gerak gugup.
"Tak apa men! Aku juga hidup dijalanan." Hyuk Jae merangkul bahu Jun Soo menyalurkan kepercayaan diri.
"Aku juga hidup dijalanan" Kami melongo terkejut mendengarnya.
"Na Hyun juga. Hyeri juga." Mataku, Hyo Bin, Ye Na, Jun Soo, Hyuk Jae dan Jessica melebar tak percaya.
"Hidup dijalanan justru bagus, kau lebih tahu pahit manisnya. Jadi aku yakin kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik" Na Hyun dan Ha Joon tersenyum lembut ikut menyalurkan rasa percaya diri ke Jun Soo.
"Lalu tugas aku apa?" Hanya aku yang tidak dapat tanggung jawab daritadi.
"Ah kau kurang kerjaan ya? Bersihkan ini saja" Aku manyun mendengar gurauannya Ha Joon.
"Kau serba bisa, jadi kau akan pegang posisi Direktur... " Dia sengaja menjeda. Aku was-was takut diberi tugas berat.
"Utama"
Kaget sekali aku mendengarnya, bukan hanya tugasnya yang berat tapi tanggung jawabnya juga bisa bikin mati muda.
"Iya dia cocok" yang lainnya menyetujuinya dengan semangat.
"Aliena dan Jessica jika bekerja sama, maka tidak akan yang bisa menghentikkan mereka"
Aku tidak bisa menolak lagi. Aku Aliena, jatuh cinta dengan menari tapi juga harus belajar menanyi dan melakukan rap. Aku bukan malaikat, bukan juga manusia. Aku masih mempertanyakan asal-usulku.
__ADS_1
Tapi disinilah aku duduk bersama orang-orang berhati malaikat. Merundingkan masa depan yang masih samar. Aku Aliena, Direktur Utama TheA.