
Camera masih menghadap ke arah kami, menangkap setiap adegan ataupun perubahan ekspresi kami.
Beruntung aku bisa menyelip di bagian Hyeri. Jadi mereka hanya berpikir itu bagian aku juga. Bayangin coba, apa yang harus kusampaikan.
Masak iya aku bilang kalau aku adalah malaikat dan bukan manusia. Terus nanti mereka beramai-ramai bawa obor ke asrama kami, terus aku dipasung, terus aku lari, terus ada petir-petir, terus aku mati ditabrak. Terus- oke pikiranku mulai melantur. Kalau itu terjadi, aku tidak teleportasi saja selesai deh.
"Oke tadi itu TheA punya member yang tidak hanya berbakat, tapi juga strong girl. Lalu siapa lagi yang TheA punya ya? tunjukkan dirinya!
Layar yang tadi menunjukkan potret Hyeri menggunakan seragam Juijitsu, sekarang berubah dengan potret Jessica ketika SMA menggunakan medali dan memegang banyak piala.
Kami bersorak heboh melihatnya. Tapi ada yang aneh, berbeda dengan foto, saat ini Jessica tidak tersenyum sama sekali seolah itu hanya dapat nilai seratus di ulangan.
"Iya ini dia si jenius leader TheA, Jessica Park!" Mc berteriak heboh sambil joget-joget tidak jelas membuat seisi panggung tertawa. Aku tidak mood tertawa karena penasaran dengan ekspresi Jessica saat ini. Ada apa dengan masa lalunya?
Jessica Park leader kami yang sangat bertanggung jawab dan peduli. Meski begitu dia amat tertutup tentang masa lalunya.
Apalagi saat aku tak sengaja menemukan dokumen asli permintaan pindah kewarganegaraan semasa kami masih jadi trainee. Sewaktu aku bertanya, itu kali pertamanya aku melihat wajah termuramnya yang pernah ada.
Melihat itu, aku tidak lagi berani bertanya hingga nanti dia yang sudah bersedia menceritakan masa lalunya itu. Karena aku paham banget sakitnya membuka secara paksa luka yang susah payah berusaha kita sembuhkan. Apalagi jika luka itu masih belum sembuh.
"Sebelum itu, Jessica yang belum melakukan tes IQ ini akan diberikan 3 soal ujian SAT. Ujian ini merupakan soal pilihan dimana banyak siswa yang salah menjawab." kami memperhatikan soal yang diberikan. Aku tidak pernah sekolah, jadi tidak tahu itu soal apaan. Dan juga, aku tidak perlu bersusah payah harus mempelajari itu.
"Ohh ini" Jessica menggumam mengangguk-angguk. Wajahnya sangat yakin.
__ADS_1
"Wow! apa kalian tadi dengar ha? Ohh ini. Hahaha itu pembukaan yang bagus. Nah Jessica hanya memiliki waktu 1,5 menit untuk menjawab soal dimana 99% siswa Korea Selatan salah menjawab."
"Ya! itu tidak adil! Soalnya ada tiga masak waktunya dua menit kenapa kita diajarkan untuk mengalahkan waktu. Kenapa? Kenapa?" Hyo Bin marah-marah alay. Hyeri bahkan menjitak kepalanya untuk duduk kembali.
"Ya Hyo Bin, apa kau yang disuruh mengerjakannya? Kami tahu memberi soal pada siapa. Tenang saja. Oke Jessica, ambil spidol dan waktunya dimulai dari sekarang!"
Jessica membaca soal dengan cepat, mulutku menganga melihatnya membaca soal yang dimataku seperti cacing dilingkar-lingkar itu.
Tangannya mulai bergerak menulis, menyusun rumus-rumus singkat hingga angka terakhir yang digaris bawahinya. Berpindah kesoal disebelahnya dengan cepat. Ah! Kenapa aku tidak tahu sama sekali?
Dia meletakkan spidol tanda selesai dan berjalan kembali ke tempat duduknya, waktu yang tersisa masih satu menit lagi. Soal sepanjang itu bisa diselesaikannya dalam waktu satu menit dan rumus yang terlalu singkat. Wah ini mah namanya defenisi ada yang gampang kenapa harus yang sulit.
Meski begitu, kami masih belum tahu apakah jawabannya benar atau tidak. Padahal Jessica yang diuji, kenapa kami yang jantungan? Sementara dia terlihat santai sekali duduk di tempatnya.
"Jessica.." mc menggantung kalimatnya membuat kami semakin gugup. Apa Jessica salah? tapi aku bisa melihat keyakinan diwajahnya.
"Daripada mengikuti jalan orang lain, lebih baik aku berjalan dijalanku sendiri. Dan ternyata, jika kita berani menulis rumus sendiri dan berjalan di jalan sendiri menghasikan hasil yang baik dan tepat waktu" kami manggut-manggut paham. Aku sering mendengar itu dari mulutnya. Dia selalu memperingati kami untuk berjalan dijalan sendiri meskipun jalan yang kita tempuh itu sendirian.
Contohnya, dia selalu mendorong kami untuk menemukan cara yang sendiri untuk menghapal koreografi. Dan itu benar, awalnya sangat sulit. Tapi ketika kami dapat, kami mampu menguasai koreografi baru dalam waktu singkat.
"Jessica, coba ceritakan momen saat itu" mc melihat kelayar.
"Cerita yang mana? Momen akibatnya atau momen saat itu?" Mendengar jawabannya, Mc menggaruk rambutnya tak mengerti. Jangankan mc, kami saja tidak paham apa yang dibilangnya.
__ADS_1
"Hahaha aku hanya bercanda" dia tertawa, di tawanya aku melihat sesuatu yang mengintip dari sana.
"Piala itu juara satu dari lomba fisika, biologi dan musik" kami semua berteriak heboh mendengarnya. Serius, kami baru tahu soal ini sekarang.
"Tiga piala sekaligus itu milikmu? kategorinyakan berbeda"
"Iya benar. Awalnya aku lulus seleksi dan harus dikarantina selama hampir satu tahun. Aku menghabiskan masa kelas dua SMAku disini. Jadi aku tidak merasa asing lagi di Seoul" staff datang membawakan beberapa camilan untuk kami. Sambil makan, Jessica melanjutkan kisahnya.
"Laki-laki yang disebelah kiriku itu namanya Han Gyul. Dia teman sebangku dan setimku dalam setahun" Wajah Han Gyul tampan, dia lebih tinggi daripada Jessica. Berarti dia berkisar 180cm.
"Saat karantina fisika, ternyata ada perwakilan biologi Asia yang tidak bisa ikut karena masa lalunya. Akhirnya penyelenggara membuat ujian seleksi bagi anak fisika Asia untuk melakukan tes biologi"
"Dalam tes itu, nilai aku dan Han Gyul imbang. Kami terpilih untuk olimpiade kategori biologi. Dan untuk musik, aku suka bermain musik. Saat anak musik berlatih, aku juga ikut bermain. Pelatih mereka mengikut sertakan aku juga di posisi drum" orang jenius terus berbakat emang beda ya. Malaikat saja bisa kagum dibuatnya.
"Dalam setahun itu aku berlatih mati-matian untuk perlombaan yang hanya dilakukan dalam seminggu dan puji Tuhan, timku menyabet semua pialanya." kami bertepuk tangan mendengarnya.
"Wah pasti momen itu tidak bisa kau lupakan. Sebagai teman yang terus menemanimu selama masa olimpiade, apa kau rindu bertemu temanmu Han Gyul itu?" mc bertanya. Pertanyaannya aneh tapi masih nyambung sih.
"Tentu saja. Tapi aku bisa apa?" Jessica tersenyum. Melihat senyumnya, kami saling memandang. Sepertinya kami berpikiran sama. Itu bukan senyuman bahagia. Itu senyum kerinduan.
Bagaimana aku tahu? tidak perlu kekuatan super untuk melihat kerinduan dimata seseorang. Karena aku juga tersenyum diam-diam seperti itu saat aku mengingat tentang dia. Jadi, senyum seperti itu tidak terasa asing.
"Seandainya kamu bertemu Han Gyul disini, apa yang ingin kau katakan?"
__ADS_1
"Seandainya saja aku bisa." Jessica tersenyum, tidak ingin melanjutkan lagi. Mc itu sepertinya mengerti kode yang diberikan Jessica.
Mungkin ketika Mc itu lanjut untuk too much informationnya Hyo Bin, cerita itu hanya selesai disitu. Tapi tidak bagi TheA. Itu semua adalah awal dari kisah baru kami semua. Awal yang mungkin, mungkin saja ah sudahlah.