
"Mari kita sambut, girl band yang baru debut, grup yang terdiri dari lima gadis hebat dan berbakat. TheA" Teriakan mc variety show menandakan kami akan segera naik panggung.
Kami melakukan wawancara seputaran debut dan member kami. Yang jadi masalahnya, masih ada sisa kesedihan kemarin. Ye Na tidak bisa menampilkan ekspresi sedih di depan kamera.
Ah, sayangnya kami tak bisa menunda lagi. Aku meraih tanggan Ye Na dan berjalan di sisinya menaiki panggung khusus untuk acara itu. Tangannya dingin dan gemetar, aku semakin mengeratkan genggamanku mengalirkan sinar hijau agar dia merasa lebih baik.
Panggungnya tidak terlalu besar atau kecil.Hanya ada kru kamera yang disana dan beberapa perlengkapan untuk acara. Setidaknya ini membantu mengurangi kecemasan kami.
Setelah memberi salam khas kami, mc mulai menanyakan beberapa pertanyaan pada kami. Beruntung, kami bisa membawa suasana yang nyaman dan membuat kru kameramen ikut tertawa juga. Setidaknya mereka tidak terlalu menyorot wajah kami lebih dekat.
"Aku heran, bagaimana cara Kim Sajangnim menemukan gadis seperti kalian? Kalian lihat ini, grup ini penuh visual" dia menggeleng-geleng melihat kami. Mendengar itu kami tersenyum malu sambil berterima kasih.
"Oh ya, ku dengar Hyeri dan Jessica punya catatan sebagai back dancer grup lain bukan? Bagaimana rasanya berubah dari back dancer menjadi penyanyi yang bisa tampil di depan orang banyak?" salah satu pertanyaan mc pada mereka berdua.
Mereka berdua sepakat bergantian menjawab pertanyaan itu. Jessica sempat mengerucutkan bibirnya tak terima saat kami mengusulkan yang lebih tua lebih dulu.
"Rasanya seperti entahlah, dulu aku hanya melihat ranumnya buah mangga yang ditanam tetanggaku. Tapi, aku tak bisa menyentuhnya."
"Hingga akhirnya aku memutuskan menanam pohon mangga dari biji yang mereka makan. Meskipun susah payah menanamnya, menyiram bahkan menunggunya besar, tapi aku sudah punya pohon sendiri. Hanya soal waktu, pohon itu berbuah." Jessica terdiam sebentar dan melihat keatas.
Matanya berkaca- kaca, aku tahu dia mengambarkan kami sebagai pohon itu. Kau tahu, dia adalah pemimpin yang sangat menyayangi kami. Dia bahkan tak peduli jika dia menderita untuk kami.
"Pertamanya buahnya terasa asam, busuk atau berulat. Pohon itu masih mencoba berbuah, namun akan tiba waktunya buahnya terasa manis dan segar. Siapa pun yang melihat dan merasakannya, akan mengucap syukur atas keberadaan pohon itu." Tutupnya. Air mata mengalir dari matanya, Hyeri mengusap pundak menenangkannya.
"Bagiku, jika kau tanya rasanya, aku sudah lupa. Aku lupa rasanya berjuang sendirian. Saat ini yang kutahu aku berjuang bersama empat orang yang akan membuat pohon mangga itu berbuah manis." giliran Hyeri yang menjawab.
Matanya lurus menatap kamera yang menyorotnya. Ye Na yang dari tadi menunduk mulai menangis sekarang.
"Aku bahagia bersama. Aku bahagia bisa makan bersama Jessica" pandangannya kini beralih pada kami.
"Aku bahagia bisa menari dengan Aliena. Aku bahagia bisa bertengkar dengan Hyo Bin. Aku bahagia bisa menonton bersama Ye Na, mencubiti pipinya" dia berjalan meninggalkan tempat duduknya dan memeluk Ye Na.
Ye Na tak bisa membendung lagi, dia menumpahkan segalanya, menangis dipelukan Hyeri. Kami membiarkan mereka berdua, aku juga tak bisa bohong kalau aku tidak menangis sekarang.
Ye Na, gadis yang terlihat cuek namun sangat peduli detail tentang kami. Dari luar dia terlihat kuat namun sesungguhnya dia rapuh.
Aku menangis bahagia meskipun belum mendapat trofi apapun. Mc juga ikut terdiam, hidung dan matanya merah. Dia kelihatan menahan tangis juga. Ini tidak sesuai skenario, mereka tidak tahu akan terjadi seperti ini.
"Hei, kenapa kalian membuat suasana seperti ini ha? Ini juga air mata kenapa tidak mau berhenti sih?" Jessica sibuk menyeka air matanya dan menggerutu. Kami yang juga masih sibuk menyeka, tertawa karenanya.
"Kalian tahu, sudah lima tahun aku menjadi mc disini, aku tidak pernah menangis selama itu. Tapi, TheA, ah aku tersentuh melihat kalian seperti keluarga padahal kalian debut masih hitungan hari". Dia sudah bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Kalian bisa sangat lucu dan membuat orang lain menangis juga. Aku yakin pasti kalian bisa merajai tangga-tangga lagu" aku melihat kesungguhan dimatanya. Terima kasih, masih ada orang lain yang tulus mempercayai kemampuan kami.
"Ye Na sepertinya tempat dudukmu sudah banjir dari tadi. Apa kau ingin menyampaikan sesuatu?" guraunya pada Ye Na. Ye Na mengangguk, matanya sembap dan merah. Dia masih bergetar.
"Aku tidak banyak bicara, aku juga tidak bisa membuat kalian tertawa terbahak-bahak. Tapi, kalian sungguh mengubah aku. Aku yang pesimis, pendiam, tertutup, kalian bisa mengubah aku."
"Sebelum kesini, kami harus mandi lagi karena dilempari tepung dan telur. Aku bersyukur atas kejadian itu, mataku bisa melihat cinta mereka secara langsung"
"Terima kasih karena membenci kami, tapi kami akan mencintaimu. Itulah cara kerja cinta, terserah kau suka atau tidak. Sekarang aku menemukan tempat bersandarku." Ye Na tersenyum memandangi kami.
"Na, ini kalimat terpanjang yang pernah kami dengar" tutur Hyo Bin membuat tawa kami pecah.
"Kau akan mendengar suaraku tiap detik, bersiap-siaplah"
"Ya ampun tolong jangan, aku kira akan ada orang normal di grup meskipun satu saja" Hyo Bin balas menjawab pura-pura sedih. Sekarang semuanya tertawa terbahak-bahak
.
"Kalian jangan cepat-cepat menikah ya!"
"Aku tidak jamin" celetuk Hyeri membuat kami terpingkal-pingkal.
"Oke kita mulai dari maknae TheA. Maknae angkat tanganmu!" Hyeri mengangkat tangannya semangat.
"Hyeri selain bisa dance kamu juga ternyata pemegang sabuk hitam Jui-jitsu kan?" Hyeri mengangguk.
"Sewaktu aku masih SD, aku hanya ingin berteman dengan laki-laki" Hyeri mulai menceritakan kisahnya.
"Benarkah?" Mc dan member TheA terkejut mendengarnya. Aku baru tahu ternyata hanya aku yang mengetahui cerita ini.
"Iya." dia menahan tawanya.
"Kenapa bisa kau gak mau temanan sama perempuan? padahal masa-masa itukan biasanya paling senang bisa main boneka bareng" kata Mc yang juga disetujui oleh Mc kedua.
"Oh itu, aku berbeda dengan anak perempuan yang lain. Aku tidak suka main boneka. Aku juga suka main sama anak perempuan karena mereka terlalu cengeng" Hyeri tersenyum malu mendengarnya.
"Aku ingin bermain dengan anak laki-laki di kelasku, tapi mereka bilang aku lemah dan cengeng. Tidak kuat lari dan segala macamnya."
"Kesal, aku menarik rambut anak-anak itu dan yah terjadilah perkelahian masal antar aku dengan anak-anak yang jumlahnya tidak kuingat lagi." Mereka semua terkejut mendengarnya, hanya aku yang tertawa membayangkan hal itu.
"Lalu, apa kau terluka? kalau aku jadi ibumu aku pasti akan mendatangi anak-anak itu. Apa yang dilakukan ibumu waktu itu?"
__ADS_1
"Orang tua adalah orang tua. Ketika mereka menjemputku, keadaanku kusut. Rambutku berantakan tapi badanku tidak ada yang terluka"
"Aku didatangi ibu mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka tidak percaya aku berkelahi dengan mereka."
"Ibu mereka bilang seperti ini "Gak mungkin anak seimut ini berkelahi dengan kalian. Ayo jujur kalian yang saling berkelahikan ayo ngaku!" " Hyeri menirukan gaya bicara ibu- ibu anak itu dengan gaya lucu.
"Tentu saja mereka tidak percaya. Melihat foto predebut yang imut kami saja tidak percaya kau dulu sangat bar-bar" ujar Mc yang dari tadi memegang kertas berisikan fakta tentang kami.
"Oh aku jadi kasihan melihat anak-anak laki-laki itu. Masa keciknya menyedihkan pasti karenamu" ujar Hyo Bin pura-pura iba.
"Sewaktu aku pulang sekolah, aku melihat anak SD yang seragamnya sama denganku. Dia seniorku. Dia bergerak-gerak dengan sangat bagus dan keren. Darinya aku tahu kalau itu adalah bela diri Jui-jitsu yang buat kita jadi kuat dan untuk melindungi diri."
"Aku terpesona dengan Jui jitsu itu sampai aku kabur dari rumah dan tidur di taman karena ibuku melarangnya"
"Ah Hyeri memang menakjubkan, usia segitu dia sudah berani kabur dari rumah ya ampun. Sulit percaya melihat kau yang sekarang ini" kami tertawa mengejeknya.
"Dia sangat hebat Jui-jitsuloh" ujarku membuat mereka melongo.
"Kau sudah tahu? padahal member lain tidak tahu" kata Mc itu. Semua mata melihat ke arahku.
"Iya waktu itu kami pulang latihan jam dua pagi. Aku dan Hyeri memakai celana pendek."
"Kami melewati jalan kecil yang lebih cepat. Namun, ternyata disana ada banyak preman yang sedang merokok. Aku terlalu malas memutar jalan"
"Awalnya aku takut tidak bisa melindungi Hyeri, namun ketika melihat dia melemaskan tangannya seperti pro, aku batal khawatir."
"Mereka melihat kami seperti daging empuk"
"Tentu saja, dua gadis cantik cuma jalan berdua didepan preman jam dua pagi siapa yang gak tergoda coba?" kata Mc yang sepertinya terlihat kesal melihat kami seperti itu. Aku tertawa dan bilang tidak apa-apa.
"Hyeri membabat para preman itu"
"Itu juga dibantu Aliena kok. Dia mahir sekali memadukan Muay Thai dan Taekwondo. Para preman itu babak belur ditangan dua gadis yang diremehkannya." jelas Hyeri. Tidak hanya kedua Mc itu, Jessica, Ye Na dan Hyobin serta para kru menatap kami berdua tidak percaya.
"Astaga ada dua strong girl di dalam grup kalian. Ini benar-benar luar biasa!" ujar Mc itu heboh sekali. Dia belum tahu, aku bisa saja mengambil nyawa orang dalam hitungan detik.
"Tapi tidak ada catatan ataupun fotomu dengan seragam kedua bela diri itu Aliena."
"Aku hanya mempelajarinya sendirian untuk mengisi waktu luang saja, jadi aku tidak terikat dengan perguruaan manapun. Tapi ternyata itu berguna juga" aku tertawa melihat tatapan takjub mereka. Bagaimana nanti jika mereka tahu aku yang sebenarnya? ah aku tidak bisa membayangkannya.
"Manajer Hwang, katakan pada Kim Sajangnim kami tidak membutuhkan pengawal lagi. Kami punya dua monster disini" Hyo Bin mengangkat tangan kami, memperlihatkan kedua otot tangan kami dan berpura-pura ketakutan.
__ADS_1