Precious Idol

Precious Idol
Energi Tak Diketahui


__ADS_3

Aku menoleh, menyimaknya dengan seksama. Angin berhembus kencang, tapi aku tidak merasa kedinginan sedikitpun. Begitu juga dengan Ter, dia tidak terusik sedikitpun.


"Aku tidak mau menyebut namanya! Menjijikan sekali. Penghianat yang menjijikan." Tanpa perlu ditanya, sudah jelas seberapa penghinatnya si penghianat itu dari wajah Ter sekarang.


Aku masih diam. Membiarkan Ter menyelesaikan ceritanya.


"Dia sahabat istriku. Sudah bertahun-tahun sejak mereka berteman dari sekolah menengah. Masuk ke universitas yang sama dan bekerja diperusahan teknologi yang sama pula." Ter berhenti lagi, wajahnya memerah menahan amarah. Meski sudah tujuh belas tahun lalu, aku yakin Ter masih menyimpan kebencian pada sahabat istrinya. Ah, lebih tepatnya mantan sahabat. Debur ombak berkali menyentuh telapak kakiku. Membuatnya menjadi pucat dengan jari kaki mengeriput.


"Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan dari seseorang yang sudah bersamamu bertahun-tahun Al. Juga Istriku, curhat tentangku padanya. Sejak awal aku juga tahu sahabatnya menyukaiku, tapi sejak kami menikah dia sadar diri."


"Cinta memang bisa egois Al."


"Mereka bekerja di lahan teknologi, tempat rasa penasaran seakan tak ada habisnya. Sahabatnya itu menceritakan tentangku pada seseorang yang salah Al. Dia berhianat, bilang pada istriku akan menjaga rahasia itu."


"Tapi nyatanya? Rasa penasaran dan ambisi mereka berdua serta kolega licik itu menghabiskan semuanya. Tidak ada yang tersisa. Saat mereka berusaha menyelidiki semuanya dan membuka jalur kesana, dua puluh lebih orang kita menyerangnya."


"Tapi mereka tidak terbunuh, hingga aku berhasil menemukan mereka. Kondisi istriku parah sekali. Darah dan lebam dimana-mana. Peduli amat aku dengan yang dua lagi. Kedua puluh orang itu mengeram marah begitu melihatku. Mereka tidak tahu, kalau aku memiliki hubungan dari salah satu orang yang dipukulnya."


" Aku tidak tahu darimana asal energi itu. Tak terdefenisi, tak pernah kulatih, tapi keluar begitu saja" Ter menatap hamparan pasir.


Pasir-pasir itu bergerak tak tentu arah. Aku melihat sekeliling, cemas jika ada yang melihatnya. Entah bagaimana nanti


menjelaskan pada mereka tentang pasir itu. Beruntung jika mereka tak merekam lalu menyebarkannya lewat media. Ah kekuatan kami disatukanpun tak akan sanggup jika melawan media.


"Ketika aku berlari cemas menggapainya yang terkulai, saat kedua tanganku berhasil memeluknya yang terkulai, saat itu juga, seperti bom, dia menjerit keras sekali. Teriakannya berhenti bersamaan aliran darahnya. Aku membunuhnya hanya dengan memeluknya."


Apa-apan itu?! Apa kami punya kekuatan semacam itu? Ah yang benar saja! Ini membuatku frustasi. "Kau serius kita punya energi itu?" tanyaku.

__ADS_1


Ter menatap kedua tanggannya yang terangkat. Tangan yang telah membunuh istri tersayannya. Menghela napas sebentar.


"Entahlah aku juga tidak tahu pasti. Yang jelas aku merasakan energi itu. Entah bagaimana cara keluarnya."


"Ada terlalu banyak rahasia dari kehidupan kita. Mungkin saja salah satunya bisa mematikan Al, kadang lebih baik tetap merahasiakannya. Biarkan saja hanya kita yang lelah menanggungnya"


"Berarti kita kesini hanya semacam hukuman Ter? Tidak ada harapan?" Hatiku terasa sesak. Burung-burung camar itu terbang lagi, melintas diatas kepala kami. Sibuk bercengkrama, kali ini mereka tidak peduli apa yang kurasakan, sibuk saja berkeliling bertahan hidup.


Bagaimana jika nanti tak sengaja energi itu aktif? Dan salah satu dari TheA atau Jun Soo dan Hyuk Jae ku sentuh? Atau orang lain yang bahkan tak kukenal, tak sengaja bersenggolan? Mereka lihai sekali membuat hukuman. Pedih.


"Tapi tetap saja ada yg spesial dari kita Al" gumamnya.


"Sehitam-hitamnya kita, tetap saja ada warna putih didalamnya" gumamnya lagi. Aku menaikkan alisku, menunggu jawaban. Apanya yang spesial?


"Kau tak pernah mendengar rumor ini sebelumnya di Pansi?" tanyanya. Aku menggeleng sebagai jawaban pertanyaannya.


Pansi adalah sebutan rumah tempat kami berasal dulu. Berbeda dengan bumi, di Pansi kami tinggal di lapangan luas tanpa ada sekat yang membatasi. Tidur bersama, makan bersama hanya saja tempat mandi yang berbeda.


"Aku tidak terlalu peduli dengan rumor. Malas"


"Ya aku tahu itu. Sudah kubilang kau mirip mendiang istriku." Dia tersenyum melihatku. Ah lebih tepatnya melihat mendiang istrinya di diriku.


"Semakin kita mencintai orang lain, jika kita kehilangannya, maka wajah dan kulit kita berubah menua." Aku terkejut mendengar fakta itu. Pantas saja selama ini aku binggung kenapa Ter terlihat menua. Kami bukam produk gagal, kelebihan fisik kami sangat memikat.


"Berarti kau dan Pak Tua itu bisa menua karena orang yang kalian cintai?" Dia mengangguk. Aku terdiam. Aku tidak menua, meskipun aku pernah merasakan kehilangan orang yang kusayangi.


"Apa tidak ada obatnya? Misalnya krim buatan manusia gitu?" Ter menggeleng sekali lagi.

__ADS_1


"Saat kita sampai kesini dan jatuh cinta, separuh hati kita telah menjadi manusia. Dan orang yang kita cintai bisa membuat kita menjadi manusia sepenuhnya, menua atau malah lebih buruk, kematian."


Kali ini bukan sekumpulan burung camar yang melintas. sepasang kepiting keluar dari balik pasir. Capitnya sibuk menyapit udara. Buru-buru bersembunyi begitu menyadari kehadiran kami didekatnya.


"Rasa kemanusiaan kita bergantung dengan orang yang kita sayangi Al. Aku belum seutuhnya menjadi manusia. Jika iya, mungkin saat ini aku tidak bisa berdiri disini. Mati bersama perasaan itu." Aku tidak mengerti. Maksud mati disini, mati jiwa atau mati secara harfiah?


"Mati maksudnya?"


"Mati secara harfiah dan jiwa. Menghilang entah pergi kemana."


Benarkah? Ekspresi wajahkh mengatakan itu. Ter mengangguk lagi. Dia berjalan mendekati laut. Semakin masuk kedalam. Air sudah setinggi pinggangnya. Aku membiarkannya, untuk ukuran orang yang bisa mengendalikan pasir hanya dengan tatapan, kemungkinan dia tenggelam di laut itu kecil.


Tubuhnya mengeluarkan sinar putih, pantulan sinarnya memantul kemana-mana. Aku panik melihat sekitar, untung saja tidak ada orang disana. Air terciprat kemana-mana, ikut membasahi wajah dan bajuku. Padahal dia hanya berdiam diri disana.


Menunggu dia selesai entah apa yang dilakukannya, aku melihat jam di poselku. Masih pukul enam pagi.


Aku meletakkanmya kembali ka sakuku. Mataku fokus menatap kearah pasir-pasir ini. Aku ingin mencoba mengendalikannya. Ter hanya fokus melihatnya saja, jadi aku juga memokuskan pikiranku. Tetap saja, sudah berapa menit berlalu. Mataku terasa kering, jangankan pasir, bakteri di pasir saja enggan melihatku. Aku mencobanya sekali lagi, tetap saja tidak ada perubahan.


Aku menyerah, mengalihkan pandanganku dari pasir. Ter yang ternyata dari tadi melihatku mati-matian menahan tawa sambil memegangi perutnya. Wajahnya memerah. Demi melihat aku manyun, tawanya meledak. Kesal sekali aku menunggunya berhenti tertawa.


"Eh, kau mau pergi kemana?" Aku berbalik badan meninggalkannya dengan tawa menyebalkannya itu.


"Pulang" jawabku ketus.


"Kau yakin tidak mau mendengar kenapa Pak Tua itu menjadi tua?" Demi mendengar ucapannya, aku membungkus lagi harga diriku, berbalik badan. Lebih baik mendengarnya dulu, daripada nanti aku kecacingan berpikir sendiri.


Dia keluar dari air. Dengan cepat pakaiannya mengering sendiri. Kalau yang satu itu bukan karena kekuatan, namun memang kecagihan pakaiannya. Pakaian itu milik kami dia hanya mengubah desainnya mengikuti tren bumi.

__ADS_1


Aku juga punya, tapi aku tidak tahu dimana sekarang pakaianku berada. Mungkin saja ku gadaikan untuk sesuap nasi dibumi? Ah entahlah.


"Pak Tua itu juga sama seperti, bedanya lagi kisah cintanya lebih menyakitkan daripadaku ataupun kau." Ter mengajakku duduk di tepi pantai agak jauh dari ombak dengan sepatu kami sebagai alas.


__ADS_2