Precious Idol

Precious Idol
Disband 2


__ADS_3

Suara lembut dari penyanyi kesayangan kami mengalun menemani kami mengepak barang. Besok kami akan sudah pindah ke rumah Jessica.


Meskipun Direktur Kim memberi kami waktu satu minggu lagi, kami telah sepakat pindah secepatnya. Tidak ada gunanya berlama-lama lagi. Cuma menambah lukanya saja.


Perusahaan sudah menghapus kami dari daftar artisnya. Nama kami masuk kedalam kolom mantan artis. Meski begitu, Direktur tetap memperbolehkan kami menggunakan merk TheA.


Aku melepaskan semua foto-foto dari bingkainya. Foto ini kebanyakan kuambil diam-diam saat kami masih menjadi trainee. Aku ingat setiap momen yang diabadikan ini.


Aku memotretnya saat kami latihan, saat berlatih sampai pagi, wajah-wajah letih bahkan saat kami disituasi tak berpengharapan.


Foto selanjutnya yang kubingkai besar ini, adalah hari dimana kami debut dipanggung. Kami tersenyum, senyum tercerah yang pernah ada. Aku berjanji akan berjuang keras mengembalikan senyuman mereka lagi.


Aku tidak peduli lagi tentang Seung Han, dia orang yang jahat dan tak bertanggung jawab. Meski Jessica mengingatkan untuk tidak melihat internet dulu, aku tetap menonton televisi melihat perkembangannya.


Nama kami masih tetap tercemar, tidak ada pernyataan dari Seung Han. Seandainya dia pria baik, dia akan memberitahu rincinya. Tapi dia itu Seung Han, sekarang bagiku dia hanya gulma di kebun bunga kami.


Jam berdentang keras. Dua jam lagi kami harus sampai di perusahaan untuk pers. Aku segera memasukkan foto ke kotak yang kubawa dan segera mandi. Meskipun aku yakin, tidak ada gunanya mandi atau berdandan sekalipun.


...


Tubuhku dibalut paduan jeans dan kemeja pink yang salah satu lengannya kugulung sampai siku. Terkesan simpel dan tetap sopan.


Aku membiarkan rambutku tergerai, memakai foundation dan memoleskan lipstik. Tidak ada riasan mata. Aku tidak terlalu suka memakainya. Aku mengambil tas putih kecil yang tidak mahal. Merasa tidak terlalu mencolok dan berlebihan, aku segera keluar.


Yang lain juga berpakaian simpel tapi sopan dan sangat natural. Harus kuakui, meski tanpa make up sekalipun visual kami tak perlu diragukan. Ya hitung-hitung hasil dari rajin perawatan selama ini.


"Kalian sudah siap? Manajer akan datang sebentar lagi" Hyo Bin mengambil sepatu sneakers kesayangannya. Mengikuti jejaknya, aku batal memakai sepatu heels.


"Aku kira hanya aku saja yang simpel ternyata kalian juga" tutur Hyeri sambil menenteng sepatu yang sama.


"Ayo kita pakai sneakers yang kita beli sama-sama waktu itu!" Jessica menyarankan dengan penuh semangat.


Kami mengangguk, kembali lagi kekamar menenteng sneakers berwarna biru tua. Sepatu ini kami beli saat jalan-jalan selepas mendapat gaji sebagai penari latar. Kami sama-sama tertarik pada sepatu ini, untung saja ukuran kaki kami berbeda jadi kami mendapat sepatu yang sama.


"Ayo dong Ye Na semangat! Nanti saja lanjutkan patah hatinya oke?" Hyeri berkedip menggodanya. Ye Na berusaha memberikan senyum padanya.


Aku masih belum bicara padanya. Mungkin nanti setelah konferensi pers.


...

__ADS_1


"Jessica tolong katakan alasan kalian melakukan itu pada EVE"


"Jessica apa kalian tidak menyesal setelah melakukan itu?"


"Jessica kalian sangat berbakat tapi karakter kalian buruk. Itu tidak bisa di terima di industri hiburankan?"


"Jessica"


"Jessica"


"Jessica"


Puluhan kilatan kamera menerpa mata kami. Aku melihat Jessica meremas-remas tangannya menghilangkan gugup. Dari tadi, tidak ada satupun pertanyaan yang dijawabnya.


Sebagai leader, dia ngotot agar dia saja yang berbicara. Kami hanya mengangguk patuh. Jelas saja dia tidak ingin kami merasa tertekan untuk menjawab pertanyaan tajam.


Entah ini pertanyaan atau hinaan, aku mati-matian mengontrol emosiku. Dari jauh aku bisa melihat pancaran sinar milik Pak Tua. Dia datang karena bisa merasakan debaran jantungku. Tapi dia hanya menatapku dari jauh dengan tatapan yang membingungkan.


Suasana yang tadinya ricuh mendadak hening. Merasa ada yang aneh, kami mengangkat kepala, binggung mencari-cari alasannya. Semua tatapan wartawan terarah ke sebelah kiri tempat kami duduk.


Serorang pria yang sudah berumur datang gagah dengan stelan jas cokelatnya. Dia Direktur Kim. Wajah tegasnya ditampar dengan puluhan kilat kamera. Apa yang dia lakukan? Jarang sekali dia mau menghadiri konferesi pers seperti ini. Apa dia berubah pikiran?


Jessica kembali meletekkan mikrofon ke meja begitu melihat sekretarisnya memberikan mikrofon pada Direktur. Tanpa basa basi Direktur Kim sendirilah yang mengatakan salam perpisahaan.


"Saya Direktur utama agensi. Seperti yang kalian tahu, saya sangat jarang hadir langsung dalam konferensi pers artis kami." Direktur Kim memandangi seluruh ruangan, memulai pidatonya.


"TheA adalah lima gadis yang sudah kuanggap seperti anak sendiri. Bagiku, mereka bukan hanya girl grup atau sumber uang." Para notulen dengan cepat mencatat semua yang Direktur Kim katakan.


"Aku disisi mereka langsung sejak kali pertama mereka menginjakkan kaki di sini. Aku paham sekali siapa mereka."


"Jessica si leader jenius yang tak cuma berbakat namun tangguh" Pandangan Dirut Kim beralih pada Jessica yang kini menahan tangis.


"Pendirian kuat dan tak takut dengan apa yang didepannya" Dirut Kim tersenyum sambil memberikan jempol padanya. Jessica tak bisa lagi membendung air matanya. Dia sesenggukkan mendengar Dirut Kim.


"Hyeri, seperti kalian tahu, dia mahir banyak bela diri dan suka sekali tidur. Pertama kali dia datang untuk audisi, dia memiliki bekas luka banyak di wajahnya. Dengan keberanian, dia menarikan gerakan bela diri."


"Awalnya aku berpikir jika menerima dia, apa aku akan kena gampar juga karena tidak memberi dia waktu tidur.


"Namun," Dirut kim berhenti, dia tersenyum bangga

__ADS_1


"Makin hari, aku hanya bisa melihat Hyeri yang lembut dan hangat pada sesamanya" Wajah Hyeri memerah. Beberapa kameramen menangkap ekspresi tersipunya.


"Hyo Bin, kelembutan dan kelenturannya menjadi berlian yang masih tersembunyi disamudera sana" Aku bisa merasakan perubahan ekspresi Hyo Bin. Tubuhnya menegang setelah mendengar ucapan Dirut.


"Kalian akan melihat dia semakin bersinar setelah dia menemukkan jawabannya sendiri. Sinar tak kan bisa ditutupi siapapun lagi" Dirut Kim menatap intens Hyo Bin seperti mengirim pesan padanya melalui tatapan.


Pandangan Dirut Kim kini beralih pada Ye Na.


"Sipendiam tapi berhati malaikat, Ye Na. Aku yakin, dia tidak akan pernah meninggalkan saudari-saudarinya." Dirut Kim mengangguk sekali pada Ye Na.


"Dan terakhir," suasana tiba-tiba riuh. Kilatan kamera menerpa aku yang berusaha menyembunyikan wajahku. Aku menggenggam tangganku sendiri.


"Gadis yang menyiram EVE" kepalaku semakin tertunduk. Teriakan demi teriakan saling berhimpitan menyerang gendang telingaku.


"Gadis yang kalian pikir tak sopan, bermasalah, adalah gadis yang amat aku banggakan" aku dan para reporter terdiam. Aku meneggakkan kepalaku dengan keberanian yang tersisa.


"Kalian tidak mengenalnya, apa yang kalian lihat belum tentu itu yang terjadi." Dirut berhenti sejenak. Dia memandang ke seluruh ruangan.


"Kalian melihat dia yang sesungguhnya setelah mereka dinyatakan bubar" Ruangan semakin heboh mendengar pembubaran kami.


"Ya, seperti yang kalian dengar hari ini, TheA dinyatakan bubar. Namun, bukan berarti karena mereka tidak bisa kami selamatkan. Tapi, sudah saatnya aku melepas mereka terbang lebih tinggi setelah aku ajarkan cara mengepak sayap. " Tangan-tangan bergerak menulis setiap ucapan Dirut Kim.


"Suatu hari, mereka akan kembali. Saat mereka kembali lagi, tidak akan ada hal yang bisa menjatuhkan mereka" Wajah Dirut Kim tegas mengatakannya.


"Apa maksudmu mereka akan redebut?" salah satu reporter hiburan bertanya.


"Tidak, mereka sudah bisa terbang sendiri" Dirut Kim menjawab pertanyaannya.


"Tapi, dengan skandal yang menimpa mereka, tidak akan ada agensi yang akan menerima mereka" ujar salah satu reporter wanita.


"Apa kau mau menyogok agensi lain? Citra mereka akan tercoreng menerima grup yang rusak" reporter wanita berkaca mata itu berteriak marah. Kami terkejut mendengarnya, apa dia seorang reporter atau antis?


"Tidak. Jelas saja tidak. Mereka tidak membutuhkan itu!" Tatapan tajam Dirut Kim menusuk reporter tadi.


Para bodyguard saling memberi kode menghapal wajah reporter itu. Ah mungkin sehabis ini, dia akan kehilangan lisensinya atas ketidakprofesionalan dalam bekerja.


"TheA," kami semua menatap Dirut Kim.


"Mungkin kalian pikir masalah sekecil itu bisa menghancurkan reputasi agensi sehingga harus mengeluarkan kalian. Tapi kalian salah besar!" aku fokus mendengar Dirut Kim. Aku kira itu alasan pembubaran kami.

__ADS_1


"Aku mengizinkan kalian bersama untuk terbang lebih tinggi lagi dari yang agensi bisa. Aku tahu kalian lebih dari mampu! Aku tidak pernah salah menilai orang!


__ADS_2