Precious Idol

Precious Idol
Mantan yang Menyesal


__ADS_3

"Bahumu jangan melorot ke depan" Aku membantu menegakkan bahu Jun Soo.


"Pokoknya jangan sampai terangkat ke arah telinga ya" Jun Soo mengangguk paham ucapanku.


"Kau lahir dengan suara merdu, tapi suaramu masih mentah" kata Hyeri sambil melakukan peregangan. Sekarang waktu dia yang bertugas melatih Jun Soo.


"Ya kau harus berdiri rileks, kakimu tegakkan mantap." Jun Soo menuruti semua perintah Hyeri.


Hari ini latihan pertama Jun Soo sebagai traine resmi The A&J. Tidak seperti Hyuk Jae, dia tidak tahu teknik bernyanyi dengan baik. Kami harus mengajarinya dari awal.


Wajar sih, selama ini dia hidup dijalanan, daripada memikirkan latihan vokal, lebih baik dia mencari cara bertahan hidup.


Dia juga bilang dia bernyanyi hanya untuk mengusir rasa sepi. Lagu yang dia tahupun tidak banyak.


"Ingat selalu busungkan dadamu, jadi paru-paru memiliki ruang untuk menambah asupan udara."


Aku mengambil bangku didekat Hyuk Jae, melemaskan sendi-sendiku sambil terus memperhatikan latihan Jun Soo.


Hyuk Jae yang disebelahku menyodorkan sebotol air putih. Aku menoleh berterima kasih, lalu meneguknya. Saking hausnya minuman itu langsung habis dalam sekali tarikan nafas.


"Tegakan kepala. Oke bagus posturmu sudah lebih baik" Hyeri bertepuk tangan riang melihat kemajuan Jun Soo. Wajah Jun Soo memerah, aku yakin dia pasti bangga.


"Jun Soo kau harus semangat! Jun Soo yang dulu bukan yang sekarang. Semangat!" Aku mengepalkan tanganku ikut memberinya semangat. Dia mengangguk semangat membalas kepalan tanganku juga.


Bel rumah berbunyi berkali-kali. Aku menyuruh Hyuk Jae untuk membukanya.


Dia bergeming, matanya fokus sekali melihat piano, jari-jarinya menari diatas tuts piano membuat instrumen lagu. Beberapa kali dia menggeleng kepala, kurang puas. Dia pasti tidak mendengar aku.


Ye Na, Jessica dan Hyo Bin sedang ada diruang tari. Mereka sedang berjuang menciptakan koreografi baru dengan power pria. Kalau Hyuk Jae yang hanya duduk saja sudah fokus, apalagi mereka bertiga.


Aku beranjak menuju kearah pintu. Tidak ada seorangpun disitu. Cctv didepan pagar tidak menangkap sesuatu. Apa hanya orang iseng? Tapi belnya dibunyikan berkali-kali. Baiklah, lebih baik aku mengeceknya sendiri.


Aku melihat kebelakang, tidak ada yang menyadari kepergianku. Kalau aku tiba-tiba membuka pagar, takutnya itu adalah jebakan. Dan lebih parah lagi, bagaimana jika ada media disana?


Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Disini tidak ada orang. Saat ini aku bisa menggunakan kekuatanku. Beberapa hari belakangan ini, aku tidak menggunakannya jadi tidak masalah toh.


Aku memejamkan mata berusaha fokus. Dengan sekali tarikan nafas, aku sudah tidak lagi berdiri disamping meja makan.

__ADS_1


Aku memutuskan berteleportasi agak jauh dari luar pagar. Kan tidak lucu kalau tiba-tiba akh muncul disana.


Jalanan sepi, didepan pagar memang tidak ada orang yang menunggu pintu dibukakan. Tapi ada secarik benda persegi.


Setelah melihat sekeliling, aku mendekati benda itu. Secarik amplop berwarna putih. Tidak tertulis siapa pengirimnya. Dari luar aku hanya melihat sebuah persegi panjang didalam amplop.


Tanpa menunggu siapapun lagi, aku membuka amplop itu. Sebuah surat langsung muncul, aku segera membacanya.


Tidak ada yang istimewa didalam isi surat itu, selain tulisan "MATI" yang ditulis besar-besar dengam darah tikus. Dulu tanganku bergetar begitu membacanya, tapi sekarang aku tidak merasakan apa-apa lagi.


Jika si pengirim bermaksud membahayakan nyawa yang lain, dia salah mengajak orang berantam.


Tak sampai situ, terdapat selembar foto berlima kami dengan kepala putus. Ya tentu saja dia yang menguntingnya. Setelah dilihat-lihat, bentuk tubuh kami bagus juga ya.


Foto ini diprint menggunakan kertas foto. Harganyakan lumayan mahal dari kertas biasa.


Apalagi surat ini juga ditulis dengan darah tikus. Usahanya patut diacungi jempol. Kalau tidak salah, aku familiar dengan hadiah seperti ini.


Jejak kakinya juga masih terlihat. Lebih baik aku ikuti saja. Dari segi jejak kaki, sepertinya ini milik telapak kaki perempuan. Firasatku mengatakan dia juga orang yang sama dengan fansnya EVE.


Beruntung, si pengirim masih berdiri menunggu bus. Dugaan aku benar, dia wanita. Tapi dari postur tubuhnya dia bukan orang yang sama dengan waktu itu.


Aku berjalan menyusulnya, berdiri disampingnya. Aku berniat mengikutinya sampai rumah.


Bus sampai, aku menyusul dia yang naik. Karena tidak terlihat dan tidak membayar, aku tahu diri untuk tidak duduk.


Aku mengamatinya sepanjang jalan. Dia memejamkan mata juga sepanjang perjalanan.


Ini sudah setengah jam, aku mati kebosanan menunggunya sampai rumah. Ponselku juga kutinggalkan, semoga saja mereka masih sibuk tugas masing-masing.


Akhirnya, setelah entah menguap berapa kali. Dia beranjak juga dari tempat duduknya. Aku ikut turun juga.


Aku mengikutinya dari belakang. Sepertinya wanita ini punya banyak waktu luang. Astaga! dia ini manusia atau kura-kura?Aku tak sabar mendorongnya kedepan agar berjalan cepat.


Kesabaran sudah habis mengikutinya. Persetanlah! Aku memejamkan mataku, fokus untuk berteleportasi lagi.


Badanku sudah setengah bersiap ketika mendengar lirihan nyanyinya. Badanku langsung jatuh terbanting ke jalan beraspal karena kehilangan fokus. Untung saja tidak terlalu sakit.

__ADS_1


Aku menepuk-nepuk celanaku yang kotor terkenal debu jalan.


Aku mendekatinya masih dengan mode tak terlihat. Pengucapannya kurang jelas, tapi nadanya terdengar sedih. Lagu ini bergenre ballad.


Bisa galau juga seorang wanita yang menyuruh lima gadis yang cuma punya mimpi untuk mati ya.


Udara dingin berhembus kencang, daun-daun banyak berguguran. Sepertinya sebentar lagi masuk musim dingin.


Wanita itu terus berjalan dijalan yang tanjak. Rumah-rumah berdekatan bahkan hampir menempel satu sama lain.


Dia masuk lagi kejalan kecil yang masih menanjak. Akhirnya kakinya berhenti juga di salah satu rumah. Rumahnya tidak besar dan tidak memiliki satupun bunga.


Mungkin dia peminat fashion atau peminat pujian? Banyak orang yang memiliki kehidupan terlihat mewah untuk gengsinya.


Terlalu sibuk menutupi kekurangan.


Dia merogoh tasnya mencari kunci rumah. Aku segera berdiri ke belakangnya. Pintu terbuka, aku ikut masuk bersamanya. Dia tidak sadar ada tamu yang tak diundang datang. Dia langsung menuju ruang yang menurutku kamarnya.


Berbeda dengan orang yang waktu itu. Kamar wanita ini rapi. Poster-poster EVE bertempelan disekeliling dinding. Bahkan dia punya rak untuk meletakkan album dan lightstick EVE.


Usai melepas baju hangatnya, dia duduk didepan meja belajarnya.


Aku memperhatikan dari balik punggungnya. Dia mengambil sebuah buku berwarna abu-abu. Menulis tanggal hari ini di kertasnya.


Kertas itu sama dengan kertas yang dia berikan kepada kami. Buku ini buku hariannya. Mengintip rahasia orang sedikit tidak masalah kan?


Tangannya bergerak lincah menuliskan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf. Aku terkejut batin membaca kalimat-kalimat demi kalimat yang ditulisnya.


Air matanya bahkan jatuh ikut menghiasi tulisannya.


Kwon Won, aku tahu apa yang aku perbuat hari ini tetap saja tak bisa membuatmu kembali lagi. Kesalahan yang kulakukan tak pernah bisa dimaafkan bukan? Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku mencintaimu. Selalu dan selamanya


Dia menutup buku hariannya, menyimpannya kembali dilaci mejanya. Matanya tertuju pada potret Kwon Won EVE yang tersenyum senang dengan seorang gadis.


Tentu saja gadis itu tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih Kwon Won. Sepertinya kasus ini tak perlu dipermasalahkan lagi.


Wanita ini hanya seorang mantan yang menyesal dan tak bisa melupakan kekasihnya yang sudah bahagia dan sukses.

__ADS_1


Aku segera pergi meninggalkannya yang masih bermuram durja. Sebenarnya aku ingin mengalirkan sinar hijau padanya. Tapi rasanya malas sekali.


__ADS_2