Precious Idol

Precious Idol
Amarah Hyuk Jae


__ADS_3

Aku menekan bel rumah berkali-kali, tetap saja tidak ada yang membukakan. Bosan menunggu, aku mendekatkan diri ke arah cctv, berjingkrak-jingkrak sambil berteriak. Tetap saja tidak ada yang membuka. Sial sekali ponselku tinggal, aku jadi tidak bisa menghubungi mereka.


Setelah merasa telapak kakiku pegal, aku duduk bersandar pada pagar. Pikiranku melayang pada wanita tadi. Kalau dia mantan pacar Kwon Won, kenapa marahnya ke kami? Aku berkasusnya dengan Seung Han.


Malah, dengan kasus video itu semakin banyak yang mengenal EVE. Mereka dapat keuntungan tapi kami yang buntung.


Karena bertemu dengan wanita tadi, aku mulai meragukan niat baik Direktur Kim. Bisa sajakan, dengan mengeluarkan kami dari agensi bisa menambah kepopuleran EVE?


Aku meringgis kesakitan sendiri karena memukul kepalaku. Aku terlalu berpikir berlebihan.


Belum usai rasa sakitku hilang, kepalaku kembali lagi terbentur ke semen. Pagar tiba-tiba terbuka. Karena tidak siap, badanku yang bersandar kepagar terjungkal kebelakang. Kepalaku menghantam semen lebih dulu.


"Al tempat tidur dikamar kurang empuk?" Hyo Bin bertanya. Dia menunduk menghalangi sinar matahari. Wajahnya tidak terlihat tapi aku mengenali si pemilik suara.


Dia membantuku berdiri. "Kenapa lama sekali sih membukakan pintunya?" gerutuku sambil menepuk-nepuk bajuku. "Siapa suruh pergi tidak permisi datang tak diundang?" balasnya.


Dari sini aku bisa mendengar suara berat yang berteriak heboh. Teriakannya lebih ke marah. Aku tidak tahu pasti siapa pemilik suara itu. Yang pasti bukan milik wanita.


Aku bertanya pada Hyo Bin. Lihat saja sendiri, katanya. Teriakan itu masih belum berhenti. Kakiku berlari secepat pikiran negatifku berpikir.


"Eh ada apa, ada apa? Aku ketinggalan sesuatu yang menarik?" tanyaku. Ternyata pemilik teriakan itu Hyuk Jae. Kedua tangannya dipegang oleh Hyeri dan Ye Na. Dia memberontak berusaha melepaskan diri. Mereka berdua menahan pergerakan Hyuk Jae.


Jun Soo hanya berdiri gelisah sambil meremas-remas jari-jarinya, namun Jessica bersikap biasa saja.


"Al kau pasti setuju denganku kan?" Hyeri dan Ye Na melepaskan tangan Hyuk Jae. Hyuk Jae langsung berlari menghampiriku.


"Kau pasti setuju denganku, benar kan?" katanya sambil mengguncang-guncang bahuku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Urat-urat lehernya menegang, alis-alisnya hampir bertemu satu sama lain. Dari sorot matanya, aku tahu Hyuk Jae sedang marah besar.


Aku berdeham, binggung mau jawab apa. "Memangnya tentang apa?" tanyaku. Apa dia berkelahi dengan Jun Soo? Atau Jessica?


"Kau lihat ini." Hyuk Jae menarik tanganku, aku bertanya dengan Jessica melalui tatapan mata. Dia hanya menunjuk kearah meja dengan matanya.


"Kau lihat ini!" Hyuk Jae mengangkat sebuah kotak. Aku mencoba mengingat-ingat kotak itu. Rasanya pernah lihat.


"Ada yang mengirim ancaman kesini Al! Tapi mereka terus melarangku untuk lapor polisi!"


"Ini teror Al, teror!" katanya berapi-api. Rahangnya menegang menahan emosi.

__ADS_1


Ancaman? Astaga! Aku baru ingat! Aku lupa buang kotak itu. Serius otakku ini sebodoh apa sih? Gara-gara semangat sekali


mengikuti wanita itu, malah lupa buang barang bukti.


"Tenang saja oke" aku menolehkan kepalaku, tersenyum manis. Tanpa sadar tanganku yang memegang pundaknya mengalirkan sinar hijau.


Tatapannya berubah lebih adem. "Sebenarnya sih, aku lebih dulu yang menemukan kotak itu." Mendengar penjelasanku, semuanya duduk merapat di sofa.


"Kau tidak perlu khawatir Hyuk Jae, Jun Soo" Aku menatap Hyuk Jae dan Jun Soo bergantian.


"Kan aku sudah bilang, ini gak perlu dilebih-lebihkan" Hyeri mengangkat dagunya.


"Tadi kalian terlalu sibuk jadi tidak mendengar suara bel. Nah kebetulan aku yang keluar membukakan pagar. Jadi aku sudah tahu lebih dulu."


"Terus, terus" pinta mereka menatapku penasaran dengan kelanjutan ceritaku.


"Untungnya, aku masih bisa melihat si pengirim. Jadi aku mengikuti dia sampai kerumahnya." Mata mereka melebar terkejut mendengarnya.


"Nah dari situ aku tahu, dia itu tidak berbahaya. Kau tahu Ye Na?" Tatapanku berpindah kearahnya. Mulutnya berbicara membentuk gestur apa tanpa suara.


"Pengirim itu mantan pacarnya Kwon Won"


"Dari mana kau tahu?"


"Tentu saja tahu dari-" hampir saja aku keceplosan.


"Dari aku mengikutinya. Dia membawa buku harian, aku ikut naik bus yang sama dan berdiri didekatnya. Aku bisa membaca tulisan hariannya dengan jarak segitu" kataku berbohong.


Mendengar si pengirim mantan pacarnya Kwon Won saja mereka sudah seterkejut itu. Apalagi ku bilang aku bukan manusia. Bisa-bisa besok aku harus menggelar penguburan masal.


"Jadi dia itu semacam merasa bersalah gitu sama Kwon Won. Dia merasa harus melindungi Kwon Won dari orang yang menganggunya." Mereka ber-oh ria, mengerti.


Mereka tidak bertanya apa alasannya ataupun ingin tahu apa yang terjadi diantara mereka. Inilah yang membuat aku semakin kagum pada mereka. Bahkan pada Jun Soo dan Hyuk Jae.


"Tapi kitakan bermasalahnya pada Seung Han bukan Kwon Won" Mereka membenarkan perkataan Hyeri. Aku juga binggung.


Entahlah mungkin dia hanya takut masalah itu berefek pada Kwon Won juga.

__ADS_1


"Cinta itu kan buta. Dan juga membutakan" kataku tak acuh.


"Jadi kalian yakin ini tidak perlu dilapor polisi?" tanya Hyuk Jae. Dia masih khawatir takut terjadi apa-apa pada kami. Aku menggeleng sambil tersenyum.


"Kalau semua idol melakukan hal itu, polisi tidak akan memiliki jadwal tidurkan?" jawab Jessica.


"Semua orang punya pembenci Hyuk Jae. Dan semakin banyak yang mengenalmu, akan semakin banyak juga potensi pembencimu, well" Jessica berdiri merentangkan kedua tangannya. "Selamat datang di dunia hiburan sesungguhnya Hyuk Jae, Jun Soo."


Kami berdiri mengikuti apa yang diperbuat Jessica.


"Selamat datang di dunia yang kau hanya bernafas saja, ada saja yang mempermasalahkannya" sambung Hyeri.


"Di dunia orang lain tidak akan suka kau tersenyum" sambung Ye Na.


"Di dunia yang menuntut kau harus sempurna" giliran Hyo Bin.


"Dunia yang meskipun kejam, kau tetap bertemu orang yang menyayangi dengan tulus." Aku menutupnya.


"Dunia ini lah yang kau pilih sebagai masa depanmu. Jadi," aku menghampiri mereka berdua. Tanganku yang satunya lagi mengambil kotak itu. Mereka membiarkan aku meletakkan kotak itu diantara tangan mereka.


"Jangan menyerah! Tak peduli bagaimana orang berusaha menjatuhkan, menganggap rendah, semenyakitkan apapun ucapan mereka tentangmu"


Kami membiarkan mereka menatap kotak itu lebih lama. Mungkin hal ini masih asing makanya mereka terkejut.


Tapi, ketika mereka berhasil debut nanti, akan ada banyak rintangan. Jadi lebih baik membangun mental mereka dari sekarang alih-alih terus melatih bakat mereka.


Bakat tanpa disertai mental yang kuat, sia-sia saja.


"Bisakan Jun Soo?" Hyo Bin bertanya. Jun Soo mengangguk dengan semangat. Setiap belajar sesuatu yang baru, Jun Soo selalu bersemangat. Aku yang sering kesal ini belajar banyak semenjak kedatangannya.


"Hyuk Jae?" Hyeri memiringkan kepalanya memastikkan. Hyuk Jae menatap Hyeri kemudian berpindah menatap kami.


Sebuah senyuman terulas diwajah tampannya. Hyuk Jae dan Jun Soo sama-sama memiliki visual yang menarik.


Bakat yang disokong visual mereka, aku yakin, jika mereka tidak menyerah, mereka akan berkilauan.


Kami berlima kembali duduk. Hyuk Jae membawa pergi kotak itu. Tentu saja untuk dibuang.

__ADS_1


"Ehm,...." kami berlima menoleh mendengar gumaman Jun Soo.


"Ngomong-ngomong, Kwon Won itu siapa?"


__ADS_2